Daniel menggeliatkan badan dengan malas saat mendengar istrinya berteriak. Jujur matanya masih sangat mengantuk, semalam dia banyak tugas kuliah dan baru memejamkan mata pukul dua pagi, tapi sekarang tidurnya harus terganggu oleh teriakan Vanye.
Ingin sekali dia tak menghiraukan teriakan istrinya itu, tapi lama-lama Daniel mencium aroma gosong yang sangat menyengat. Matanya terbuka lebar, dia mendudukkan dirinya dan berusaha mencerna keadaan saat ini.
"Astaga! Jangan bilang dia sedang membakar dapurku!"
Daniel langsung loncat dari atas tempat tidur, dia berlari seperti orang kesetanan. Bahkan kakinya terus menabrak benda-benda di depannya, karena terlalu cepat berlari. Dalam otaknya saat ini sangat kacau, dia takut terjadi sesuatu pada dapurnya. Ditambah, Vanye terus berteriak minta tolong.
"Ada apa, Mbak!" seru Daniel ketika melihat Vanye menangis di belakang lemari es.
Kesadarannya belum genap 100℅ saat ini. Jelas-jelas di depannya ada api yang berkobar-kobar sekaligus asap hitam, tapi Daniel malah bertanya pada Vanye.
"Dan-Daniel, dapurnya terbakar." Vanye menunjuk ke arah kompor.
Kepala Daniel pun segera menoleh ke arah dapur, matanya melotot lebar melihat api berkobar dan asap mengelilingi. "ASTAGA! RUMAHKU KEBAKARAN!"
Daniel sangat panik, dia langsung berlari ke arah dapur dan mencoba memadamkan apinya tapi tak bisa. Karena terlalu panik, dia sampai menyiramkan air ke atas kompor. Bukannya mati, yang ada makin membesar.
"Daniel hati-hati!" teriak Vanye ketika melihat api semakin menjadi.
"Menjauhlah! Uhuk ..., uhuk ..., keluar dari sini!" titah Daniel. Dia tak mau istrinya menghirup asap dan berakhir sesak nafas, dirinya saja sudah merasa kehabisan oksigen.
"Ini nggak bisa seperti ini, harus pakai kain basah!" Daniel mencari-cari kain tapi tak menemukannya, merasa semakin darurat dia melepaskan baju dan langsung mencelupkan baju itu ke dalam air, setelah selesai barulah Daniel melemparkannya ke atas kompor.
Blup!
"Akhirnya padam juga." Daniel mengusap keringatnya. "Eh tapi asapnya masih banyak, aku harus buka seluruh jendela," ujarnya lagi.
Tanpa menunda-nunda, Daniel membuka seluruh jendela dan setelah itu dia menghampiri istrinya yang masih ketakutan di pojok lemari es.
"Mbak, apa yang kamu lakukan! Ini sangat berbahaya, jika telat sedikit saja pasti terbakar habis rumah ini!" bentak Daniel.
Vanye tersentak kaget, baru kali ini Daniel marah padanya. Dia tak menyangka kalau Daniel akan semarah ini akibat ulahnya. Vanye benar-benar menyesal telah membuat rumah Daniel berantakan dan hampir ludes dimakan api.
"Maafkan aku Daniel." Vanye menundukkan kepala sambil memainkan jemari-jemarinya.
"Aku hanya ingin belajar memasak saja nggak lebih. Aku juga nggak mengira ikannya akan meletus-letus sampai minyaknya keluar dari penggorengan," sesal Vanye.
Daniel menghembuskan napas kasar, dia raih tubuh istrinya dan memeluknya erat. Daniel tak menyangka istrinya masih mempermasalahkan hal sekecil ini, padahal dia tak pernah menuntut Vanye harus bisa memasak.
Bagi Daniel Vanye sangat sempurna, tak memiliki kekurangan apapun. Akan tetapi, istrinya selalu minder ketika dia bisa membuat makanan enak, ditambah Vanye selalu mendapat sindiran ibu-ibu komplek saat belanja.
"Mbak, sudah aku bilang dari awal kan kalau nggak bisa jangan dipaksakan dan aku juga nggak pernah menuntut untuk harus bisa masak kan? Jadi stop untuk coba-coba," kata Daniel.
Daniel berharap ucapannya ini bisa dimengerti oleh Vanye, bukan dia sayang rumah, tapi Daniel sayang nyawa istrinya. Iya kalau ada dirinya, kalau pas nggak ada bagaimana? Dan Daniel juga sudah bersumpah, akan menjaga Vanye di depan papa mertuanya.
"Aku hanya ingin jadi istri yang baik, Daniel. Aku ingin menyiapkan makanan untukmu dan merasakan masakanku, apa itu salah?" tanya Vanye sambil menangis, dia benar-benar merasa gagal menjadi wanita.
"Nggak ada yang salah. Wajar jika ingin membahagiakan suami, tapi harus melihat situasi dan kondisi. Mampu atau tidaknya mbak Vanye dalam hal ini, jika nggak mampu kita harus melatihnya bukan langsung memulai sesuatu sendiri."
Daniel menghapus air mata istrinya, setelah itu dia mencium mata Vanye. Entah ini reflek atau bagaimana Daniel tak tau. Yang dia tau, saat ini ingin mencium istrinya agar tenang.
"Aku nggak becus jadi istri, aku juga nggak becus melakukan hal sekecil ini, pasti kamu menganggap aku seperti anak kecil yang tak bisa apa-apa," ucap Vanye lirih. Tangisannya semakin kencang karena malu, sekaligus kecewa pada diri sendiri.
Dia tak peduli tangisannya ini akan didengar tetangga atau tidak, yang jelas Vanye ingin mengeluarkan semua kekesalan hatinya dengan cara menangis.
"Umurku lebih tua darimu, tapi aku tak bisa melakukan apa pun dan kamu yang lebih muda dariku malah bisa melakukan semua sendiri. Aku malu sama kamu, Daniel," ucapnya semakin mengeratkan pelukannya.
Daniel sangat mengerti perasaan Vanye saat ini, tapi Daniel tak suka jika istrinya terlalu menyalahkan diri sendiri. Daniel ingin semua mengalir apa adanya, perlahan-lahan tapi pasti. Semua butuh proses dan tak bisa seperti mie instan, yang tinggal rebus langsung jadi.
"Mbak, berhenti menyalahkan diri sendiri. Mama, Papa selalu memanjakanmu dan tak membiarkan melakukan sesuatu. Jadi Mbak jangan menyalahkan diri sendiri, aku terima Mbak apa adanya jadi nggak perlu berusaha menjadi sempurna, karena sejatinya manusia tak ada yang sempurna," sahutnya sangat lembut.
Bukan dia menyalahkan mertuanya, tapi dari awal memang Vanye terlalu dimanjakan sehingga dia tak boleh melakukan hal-hal kecil seperti memasak dan lain-lainnya. Jadi, saat Vanye mulai berumah tangga istrinya belum memiliki pengalaman dalam hal rumah tangga.
"Tapi aku ingin bisa memasak, Daniel!Aku ingin menyiapkan sarapan dan makan bersama denganmu, yang terpenting ingin kamu kecanduan makan masakanku." Rengek Vanye.
Sumpah, Daniel ingin sekali tertawa mendengar ucapan istrinya. Hanya karena ingin dia kecanduan makan masakannya, Vanye rela melakukan hal yang tak pernah dia bisa. Meski lucu, tapi hatinya juga berbunga-bunga. Setidaknya Vanye mulai menerima jika dia adalah suaminya.
"Apa Mbak Vanye ingin ikut kursus memasak? Jika mau akan aku daftarkan ke kelas memasak, jadi nanti dibimbing dengan orang profesional," kata Daniel. Daripada dapurnya kebakaran lagi, lebih baik mencari tempat kursus untuk Vanye.
Sebenarnya dia bisa saja mengajari Vanye, tapi waktunya tak banyak. Pagi-pagi dia harus ke rumah makan, siang sampai sore kuliah dan kembali lagi ke rumah makan. Dia baru bisa pulang sekitar jam delapan malam.
"Apa kamu serius, Daniel?" Vanye terlihat sangat bersemangat.
"Iya, aku serius. Jika Mbak mau, akan ku carikan kelas memasak. Jadi mbak juga nggak bosan di rumah, bagaimana mau nggak?"
Vanye mengangguk semangat dan langsung menghapus air matanya. "Aku mau Daniel, aku mau. Terima kasih kamu mau menerimaku apa adanya, aku janji akan jadi yang terbaik untukmu," ucap Vanye sambil mencium pipi Daniel.
Tubuh Daniel seketika tegang saat mendapatkan ciuman dadakan dari Vanye. Sebisa mungkin Daniel menetralkan perasaannya, dia tak mau terlihat salah tingkah apalagi sampai tau kalau jantungnya langsung berdebar-debar.
"Ka-kalau begitu bersiaplah, kita berangkat sekarang sekaligus mencari sarapan," ucapnya sangat gugup.
Baru kali ini Daniel merasa gugup diciumm seorang wanita, dulu dengan Lifta dia tak pernah merasa gugup. Bahkan Daniel baru sadar, jika rasa sakit hati karena dikhianati Lifta telah hilang.
'Sungguh dia berpengaruh besar dalam hidupku, buktinya aku sampai melupakan Lifta dan tak mengingatnya lagi. Semoga ini menjadi awal yang baik,'
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Blurb :
Zara Adelia, gadis cantik dan juga seorang Nona muda yang masih duduk di kelas 12 SMA, terpaksa menjalani pernikahan rahasia dengan seorang pria yang lebih dewasa darinya. Ia dijodohkan oleh kedua orang tuanya dengan seorang pria dari kalangan sederhana, kedua orang tua Zara sangat yakin jika pria tersebut bisa membuat Zara bahagia. Pria tersebut tak lain adalah guru olahraga sekaligus guru BP nya di sekolah. Sedari dulu Zara sangat tidak menyukai guru olahraga nya itu.
Akankah Zara bisa hidup bahagia bersama pria yang bukan pilihannya? Nyatanya sehari-hari Zara harus berhadapan dengan suami sekaligus guru olahraga nya di sekolah. Mungkinkah cinta mulai bersemi di antara mereka?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 64 Episodes
Comments
𝓐𝔂𝔂🖤
mas daniel baru ditiyum pipi udh kesetrum ajee😁😁
2022-12-14
3
Chacha Nunuy Chasanah
so sweet bgt sihhh mas Daniel ini....❤❤
2022-11-18
0
Tiahsutiah
lanjuttt
2022-11-15
0