Samuel melihat foto-foto yang Hana berikan, foto yang memperlihatkan seolah-olah Hana dan Galvin sedang berhubungan badan, padahal Hana tidak melepas celananya, posisi juga ditutupi selimut, hanya bagian atas yang terlihat.
Entah mengapa Samuel tidak suka melihat foto-foto itu, padahal dia sendiri yang merencanakan semua ini.
Hana tau dari raut wajahnya, Samuel pasti sedang cemburu melihatnya, dia memeluk Samuel dari belakang, "Kenapa? Kamu cemburu hm?"
Samuel tidak ingin menjawab iya atau tidak, dia tidak ingin mengakui dirinya sedang cemburu. "Walaupun nanti sudah menikah, jangan pernah biarkan dia menyentuh kamu. Apalagi kalau sampai berhubungan s3x."
"Ya nggak lah, aku gak akan membiarkan itu terjadi. Aku tidak mungkin memberikan harta yang paling berharga untukku padanya. Malah dia bilang sendiri tidak akan pernah menyentuh aku."
Samuel merasa lega mendengarnya, "Baguslah."
Samuel membalikan badan, ingin mencium bibir Hana, namun dia tidak jadi melakukannya, dia merasa ada perasaan yang aneh pada wanita itu. Ada sesuatu yang bergejolak di dalam dirinya, apalagi saat Hana memeluknya.
Samuel menelan saliva memperhatikan penampilan Hana, dia tidak boleh melakukannya bersama Hana, dia takut dia akan jatuh cinta padanya. Membuat rencananya kacau.
Wajah Samuel tiba-tiba memerah, dia mundur sedikit menjauhi Hana, "Emm... aku, aku rasa lebih baik segera pulang."
"Loh kok gitu? Bukannya kita mau nonton film?"
"Lain kali saja." Samuel mencium kening Hana, "Aku pulang dulu ya, masih banyak pekerjaan."
Rupanya Samuel bukan pulang ke rumahnya, dia datang ke apartemen Pingkan, setiap dia ingin melakukannya dengan Hana, dia harus cari pelampiasan. Dia sama sekali tidak ingin mengakui dirinya jatuh cinta pada Hana.
Ting-Tong...
Samuel beberapa kali menekan bel apartemen Pingkan.
Saat itu Pingkan sedang melihat ponsel milik Anya dan juga voice recorder miliknya.
Flashback On...
Rupanya selama ini Anya mencurigai hubungan Pingkan dan Samuel, karena saat itu dia pernah melihat Samuel dan Pingkan berciuman mesra.
Sebenarnya Anya ingin bilang soal itu pada Hana waktu mereka bervideocallan untuk terakhir kalinya, namun Anya takut kakaknya tidak mempercayai ucapannya jika tidak ada bukti, apalagi dia tau Hana sangat mencintai Samuel.
Makanya Anya mengikuti Pingkan dan Samuel ke hotel, dia sengaja memakai topi dan menutupi wajahnya dengan masker agar mereka tidak mencurigainya.
Saat itu Anya berada didalam satu lift bersama Samuel dan Pingkan. Mereka berciuman mesra di dalam lift sana tanpa mempedulikan siapapun yang ada di sekitarnya. Padahal di lift ada Anya dan beberapa orang lainnya.
Sampai orang lain itu sangat merasa risih, segera keluar dari lift. Kini tinggal Samuel dan Pingkan berada di depan, dia sama sekali tidak menoleh ke belakang, tidak menyadari ada Anya di belakang. Karena sibuk bermesraan.
"Setiap aku melihat kesuksesan Galvin, aku selalu ingin marah. Aku tidak ingin dia hidup bahagia." ucap Samuel sambil memeluk Pingkan dari belakang, dia menciumi pipi Pingkan.
"Lalu apa yang ingin kamu lakukan padanya?"
"Tentu saja sesuai rencana aku, aku ingin membuat Hana menghancurkan hidup Galvin. Aku ingin melihat Galvin hancur sehancurnya hatiku saat kehilangan Mitha. Bisa saja aku membunuhnya, tapi aku ingin dia bisa merasakan bagaimana rasanya itu sakit hati sampai membuat dia terpuruk seperti Mitha."
"Bagaimana caranya?"
Samuel terdiam sejenak, dia menekan tombol lift karena akan keluar, "Tentu saja menghilang nyawa orang yang paling berarti untuk Hana dan mengkambing hitamkan Galvin sebagai penyebabnya."
Anya yang sedang merekam pembicaraan diantara mereka, tiba-tiba ponselnya terjatuh begitu mengetahui rencana jahatnya Samuel yang ingin melenyapkannya, dia awalnya berpikir Samuel hanya berselingkuh saja, namun ternyata dia juga memiliki rencana jahat terhadap kakaknya.
Sontak membuat Samuel dan Pingkan menoleh ke belakang. Mereka terkejut saat melihat Anya dibelakangnya.
Saat itu Anya sangat ketakutan, dia memilih berlari karena kebetulan pintu lift sudah terbuka. Samuel segera mengejarnya. "Sial, anak kurang ajar!"
Pingkan melihat ponsel Anya tergeletak di dalam lift itu, dia melihat rekaman suara yang masih menyala, Pingkan segera menutup aplikasi itu dan menyimpan ponsel Anya ke dalam saku celana. Dia memang mencintai Samuel , membuatnya cinta buta, dengan mengkhianati kakak dari sahabatnya sendiri, namun dia juga harus hati-hati pada pria macam Samuel.
Rupanya Anya malah berlari ke rooftop, membuat dia kelimpungan karena tidak ada tempat persembunyian disana.
"Hahaha... rupanya kamu sengaja datang untuk menyerahkan diri menjadi umpan hm?"
"Mengapa kak Samuel tega menyelingkuhi kak Hana? Kak Hana tulus cinta sama kak Samuel. Dan kenapa ingin membunuhku?" Anya terus mundur.
Sementara Samuel telah memakai sarung tangannya yang selalu dibawa, "Karena orang tua kamu yang sudah membuat ayahku sakit-sakitan sampai dia meninggal. Anggap saja itu hukuman untuk kamu dan Hana untuk mengikuti permainan yang akan aku ciptakan."
"Jadi apa selama ini kak Samuel hanya bersandiwara saja di depan kami?"
"Ya, aku pura-pura jadi pahlawannya seorang Hana. Hahaha... bahkan kakakmu tergila-gila padaku."
Anya tidak bisa belari lagi saat dia mentok di benteng rooftop itu, benteng disana tidak tinggi, hanya sedada Hana saja. Anya sangat ketakutan sekali.
"Tega sekali kamu kak, apa mungkin kak Samuel yang sudah membuat rumah kami kebakaran?"
"Hahaha... iya, aku yang membunuh orang tua kamu." Kini Samuel memperlihatkan wajah psikopatnya.
Anya sangat ketakutan sekali, dia ingin meraih ponselnya untuk menelpon polisi, dia baru sadar ponselnya terjatuh tadi di dalam lift. Anya ingin berlari lagi, namun Samuel berhasil menangkapnya.
Tolong aku kak...
Samuel mengangkat tubuh Anya dan melemparnya ke bawah hotel yang memiliki 15 lantai itu, membuat Anya terjun dari rooftop sana ke bawah dan mati seketika.
Tentu saja CCTV langsung Samuel lenyapkan karena hotel itu milik ayah tirinya. Dan Hana tidak tau soal hotel itu. Dan Samuel juga yang meletakkan foto Galvin di dalam genggaman tangan Hana, agar seolah-olah Galvin yang telah menyebabkan Anya mati.
Flashback off...
Pingkan segera menyimpan kembali voice recorder dan ponsel Anya itu di dalam lemari di kamarnya, dia segera membuka pintu apartemen begitu mendengar bell apartemennya berbunyi.
Pingkan pura-pura tersenyum pada Samuel begitu dia membuka pintu.
Tanpa basa basi Samuel masuk ke dalam dan langsung menyambar bibir Pingkan, dia berimajinasi seolah-olah Pingkan itu Hana.
"Cepat puaskan aku!" katanya dengan nafas berat, dia segera membawa Pingkan ke dalam kamar.
Beberapa menit kemudian, terdengar suara rintihan dan erangan di dalam kamar sana.
...****************...
...Jangan lupa like, komen, vote dan beri hadiah yah kawan 🙏 😁...
...Dan terimakasih banyak buat yang sudah memberi itu semua, semakin membuat saya semangat!...
...Mohon maaf belum bisa balas komen satu persatu, tapi saya selalu baca komen dari kalian....
...Jangan lupa simak terus ke bab-bab berikutnya....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 108 Episodes
Comments
Alexandra Juliana
Tp bagus lah Sam g mau nyentuh Hana jd Hana ttp terjaga..
Emang bagusnya lampiaskan aja tuh sama si Pingkan..
2025-02-20
0
Alexandra Juliana
Sok'2 an melarang kamu aja nananinu sama Pingkan..Dasar psikopat gila..
2025-02-20
0
Hafifah Hafifah
nahkan bener tuh ulah si sam
2025-01-29
1