Sementara kepala pelayan keluarga Yoru yang sudah setia sejak papi Yoru kecil mendengar teriakan tuan kecilnya dan segera menghampiri tuan kecilnya itu.
"Tuan kecil, anda jangan lari-lari, Anda jangan terlalu tergesa-gesa," ucap kepala pelayan dengan nada khawatir.
"maaf Paman, maafkan Yoru yang sedikit berlari mencari Paman," ucap Yori menyesal dengan nada imutnya sambil menggos-mengos karena kecapekan di hadapan kepala pelayan yang ikut merawatnya sejak dirinya baru saja dilahirkan.
"Iya, iya, Paman hanya mengingatkan tuan kecil agar selalu berhati-hati. Tuan kecil ada apa mencari saya?" tanya kepala pelayan tersebut.
"Apakah Paman melihat papi dan mami?" tanya Yoru dengan nada penasaran.
"Tuan dan nyonya? Mungkin masih mandi karena nyonya pagi ini mengeluh tubuhnya ada yang sakit," jawab kepala pelayan dengan raut khawatir akan nyonyanya.
"Apa mami sakit?" tanya Yoru dengan cemas.
"Hanya kecapean saja tuan kecil dan saya harap Aanda jangan terlalu berlebihan," ucap kepala pelayannya menenangkan tuan kecilnya yang takut dan khawatir jika penyakit tuan kecilnya akan kambuh karena mencemaskan nyonyanya.
Kepala pelayan mengetahui jika tuan kecilnya mencemaskan nyonya karena tuan dan nyonya juga mencemaskan tuan kecil. Namun terkadang kecemasan tuan kecil sangat berlebihan jika menyangkut kesehatan tuan dan nyonya.
Setelah Yoru mendengar kabar maminya jika maminya kecapean, dirinya segera pergi meninggalkan kepala pelayan dan lari ke kamar utama kedua orangtuanya sambil mencemaskan sang maminya.
"Mami,Mami, apakah kamu sakit?" cemas Yoru sambil berteriak di depan pintu kamar kedua orangtuanya sesudah dia sampai ke kamar kedua orangtuanya.
Maminya mendengar dari dalam pada saat anaknya berteriak mencemaskan dirinya.
"Sayang, lepaskan aku, udah selesai mandinya dong," rengek sang istrinya karena suaminya belum selesai memandikannya.
"Belum sayang, belum selesai memandikanmu," ucap sang suaminya sambil memandikan istrinya karena istrinya kesakitan akibat kemarin malam yang disebabkan oleh pembuatannya.
"tetapi anak kita udah berteriak cemas, apakah kamu tidak kasihan kepadanya" ucap maminya Yoru memohon kepada suaminya agar suaminya melepaskan dirinya agar dirinya bisa bertemu dengan anak semata wayangnya yang amat dia sayangi.
"Baiklah sayang, tetapi aku cemburu kepada anak kita karena kau sangat mementingkannya ketimbang diriku ini," ucap sang suaminya sambil berdiri keluar dari bathub dan mengendong sang istri keluar dari bathub dan membawa ke kasur dan mengeringkan dengan handuk.
"Cemburu apa sih kamu, sayang, dia anak kita. Masa iya kamu cemburu in anak kecil, apalagi anak kita," ucap sang istri yang tidak percaya jika suaminya mencemburuin anak mereka yang menggemaskan.
"Hhm, sedikit karena perhatianmu teralihkan kepada anak kita," ucap sang suami yang masih telaten memakaikan baju kepada sang istri dengan lembut dan berhati-hati.
"Ish kamu seperti anak kecil, mudah sekali cemburu bahkan sama anak sendiri," ucap istrinya sambil menggelengkan kepalanya karena heran dengan sikap suaminya yang menurutnya aneh karena cemburu pada anak sendiri.
Sementara itu Yoru masih mengetok cemas karena kekhawatiran keadaan maminya tersebut.
"Papi, Mami apakah berada di kamar?" tanya Yoru cemas
"Tuh kan anak kita sangat mencemaskan kamu, sayang," ucap papi Yoru sedikit cemburu di dalam kamarnya.
"Baguslah itu berarti tandanya dia sangat sayang kepadaku," ucap maminya.
"Papi...Papi.. bukakan pintunya, Yoru ingin melihat Mami," ucap Yori dengan suara cemasnya.
Papinya menyadari jika Yoru mengidap kecemasan yang berlebihan sejak kecil. Sehingga dia membukakan pintu kamarnya agar putra semata wayangnya tidak terjadi apa-apa karena mencemaskan maminya begitu tinggi melebihi dirinya dan itu akan menimbulkan kambuhnya penyakit langkahnya yang sudah putranya derita sejak masa dia dilahirkan.
Pada saat papinya membukakan pintu kamarnya, papinya sangat terkejut melihat wajah anaknya yang memerah dan sudah tersengal-sengal. Membuat sang papi sangat panik terhadap penyakit anaknya yang kambuh. Namun berbeda dengan Yoru, dia tidak peduli lagi dengan keadaan dirinya yang sudah hampir pingsan akibat efek kecemasan yang akut.
"Papi... huhhff.... Mami apakah ba...baik.. baik-baik sa..saja?" ucap Yori sambil tersengal-sengal.
Sementara maminya punya firasat buruk segera keluar dan menuju pintu kamarnya dan sangat terkejut melihat penyakit anaknya kambuh akibat kecemasan berlebihan jika keluarga mereka atau salah satu dari mereka yang jatuh sakit maka penyakit putra kesayanganya akan kambuh.
"Sayang kecil Mama, mengapa kamu?" ucap maminya cemas.
"Mami, apakah Mami sudah enakan?" tanya Yoru tanpa menjawab pertanyaan dari sang mami.
Papinya yang menyesal karena tidak segera membuka pintu kamar tidurnya mengakibatkan putra kesayangannya mengalami penyakitnya yang kambuh. dahulu pada saat sang istri sempat kecelakaan, Yoru pada saat itu berusia 5 tahun dan harus koma akibat mencemaskan dirinya secara berlebihan. Dan ini kejadiannya terulang kembali. Membuat papinya sambil menangis mengelus putra kesayangannya dengan menyesal.
"Maafkan Papi Yoru, Papi tidak segera membukakan pintu untukmu. Papi tahu kau sangat mencemaskan Mami," ucap papi Yoru dengan nada menyesalnya sambil mengelus rambut putra kesayangannya.
"Tidak apa-apa, Papi, Yoru tahu Papi juga khawatir sama Mami," ucap Yoru malah memberikan jawaban yang membuat papinya merasa bersalah.
Setelah menjawab seperti itu, napas Yoru makin tidak terkendali dan membuat dirinya kesulitan bernafas. Wajahnya sudah memerah karena kesulitan bernafas dan pusing kepalanya sudah menderanya. Sehingga Yoru hanya bisa menahannya karena tidak ingin membuat papi maminya khawatir dan cemas terhadapnya.
"Mami...mami... bawa Yoru ke kamar saja. Papi..ini sesak sekallii…" ucap Yori tersengal.
Kepala pelayan yang baru saja tiba sangat terkejut melihat tuan kecilnya yang penyakitnya sudah kambuh lagi.
"Tuan dan Nyonya, kita bawakan tuan muda ke rumah sakit milik Tuan." ucap sang kepala pelayan.
"Kau benar. Sayangku bertahanlah, jagoan Papi dan Mami," ucap papi Yoru ketakutan akan kesalamatan putra kesayangannya.
"Sayang kau di rumah saja dahulu, kau belum sehat benar. Biar aku menjaga Yoru terlebih dahulu," ucap papinya yang melihat wajah istrinya menahan sakit akibat kemarin malam dia menggempur hingga subuh.
"Tidak, aku tidak mau meninggalkan Yoru, sayang. Aku juga ingin ikut menjaga Yoru," tolak maminya.
"Yang patuh sayang, kau masih tidak sehat. Aku tidak ingin kau mengapa-mengapa. Cukup anak kita sudah menderita. Aku tidak ingin kehilangan keduanya," ucap papinya kembali.
"Baiklah, kalian berdua jaga Yoru. Sayang, berikan Yoru kesembuhan, ya," ucap maminya menangis melihat putra kesayangannya kesakitan sudah pingsan pada saat Yoru digendong oleh papinya.
"Baiklah sayang, aku janji Yoru akan diselamatkan," ucap papinya dengan nada lembut.
Papi dan kepala pelayan dengan cepat membawakan Yoru menuju ambulansrumah sakit tempat miliknya yang sudah dia suruh datang dengan cepat. Dia juga membawa beberapa bodyguard yang mengikuti ambulans dari belakang. Sementara suster dan dokter yang dikerahkan langsung menangani putra semata wayangnya karena kondisi tubuhnya sudah tidak stabil.
"Dokter kalian harus menyelamatkan anak saya. Dia sudah seperti ini sejak kecil," ucap papinya sangat mencemaskan sambil menggegam tangan yang masih berukuran mungil anaknya.
"Kami akan memberikan yang terbaik Tuan. Tetapi tuan muda jika dilihat kondisinya. Paling terbaik adalah dia bisa bertahan hidup tetapi koma. Jika tidak sudah tidak ada harapan lagi," ucap sang dokter sedikit ketakutan akibat melihat tuan muda mereka kondisinya sangat menghawatirkan.
Beri like, vote, rate, favorit dan comment ya. Terima kasih dari Auhtor kepada kalian semua.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments