Semua orang yang dihibur Yoru tidak ada satu pun yang mendengarkan membuat Yoru sangat cemas dan menambahkan beban tubuhnya dan memengaruhi kesehatan di dunia nyata.
Sehingga alat-alat medis berbunyi semua dan membuat dokter-dokter yang berada di ruangan operasi menjadi panik karena kondisi tuan kecil mereka benar-benar sangat kritis dan memungkinkan akan pergi begitu cepat.
"Bawakan pemompa jantung," ucap salah satu dokter kepada salah satu suster yang di dekatnya.
"Baik, dokter, segera saya bawakan pemompa jantung," ucap suster tersebut dan memberikan alat pompa jantung kepada dokter yang memintanya.
Suster tersebut bergegas mencari alat pemompa jantung yang ada di lemariruangan operasi. Sementara itu dokter spesialis lainnya berusaha mengembalikan kondisi tuan mudanya kembali normal.
Namun apa daya di alam mimpi Yoru, Yoru sangat sesak napas karena kecemasannya yang berlebihan.
"Sesak...sesak... Mami....Papi... Yoru tidak bisa napas," senggal Yoru karena tidak bisa bernafas dengan normal.
Perlahan-lahan tubuh Yoru tumbang sementara dia alam bawah sadarnya dan membuat dokter yang di ruangan operasi memutuskan jika tuan muda mereka mengalami koma yang akan berkepanjangan. Sehingga salah satu dokter memberi tahu kondisi sebenarnya kepada tuannya agar mereka tidak disalahkan atas kondisi tuan kecil mereka.
Pintu terbuka dan papa Yoru berharap jika putra semata wayangnya yang amat dia sayangi dapat diselamatkan. Segera papa Yoru berdiri setelah melihat salah satu dokter yang ikut dalam operasi putranya.
"Dokter, bagaimana dengan putra saya? Apakah dia selamat dari operasinya?" berharap agar Yoru bisa kembali sadar.
Sebelum berbicara, dokter tersebut menghela nafasnya dengan kasar ketika mendengar pertanyaan dari pemilik rumah sakit terbesar di Indonesia. Dia memilah kata-kata yang terbaik agar papa Yoru tidak marah ketika mendengar berita tersebut.
"Maafkan saya, Tuan, tuan kecil sudah..." ucap dokter tersebut.
Belum menyelesaikan perkataannya, dokter tersebut dipegang kerah kemejanya oleh papa Yoru yang mukanya sangat menyeramkan jika dirinya marah membuat dokter tersebut ketakutan akan karirnya segera berakhir.
"Apa katamu?!! Kau tidak bisa menyelamatkan nyawa putraku?!" ucap papa Yoru dengan nada membentak.
"Maafkan saya dan tim saya, Tuan. Kami sebagai dokter sudah berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkan kondisi tuan kecil. Namun siapa sangka jika tuan kecil mengalami penurunan kondisinya karena di alam bawah sadarnya tuan kecil juga mengalami gangguan kecemasan yang berlebihan, sehingga memperburuk keadaannya dan sekarang tuan kecil mengalami koma sehingga tim saya memastikan jika tuan kecil akan mengalami koma yang cukup panjang," ucap dokter tersebut dengan keringat dingin yang sudah menetes di sekitar kemeja praktiknya.
Setelah mendengar jika anaknya koma maka harapan papa Yoru bangkit kembali walau tidak sebesar awalnya.
"Maksud kalian adalah anakku masih bisa diselamatkan?" ucapnya untuk memastikannya.
"Saya rasa begitu, Tuan. Ini semua tergantung dengan mental tuan kecil," ucap dokter tersebut.
"tetapi kami juga tidak menjamin apakah dia akan tetap koma atau berusaha untuk bangun, kamu hanya berharap dengan mukjizat," ucap dokter tersebut.
Setelah dokter itu membicarakan kondisi tuan kecil mereka, papa Yoru hanya bisa berdiam saja dan merasa bersalah, jika saja dia tidak terlalu cemburu dan mementingkan keegoisannya maka putra kesayangannya tidak akan menderita dan mengalami koma yang berkepanjangan. Namun dia ingat akan perkataan dokternya dan tidak ingin membuat anaknya merasa cemas jika melihat dirinya yang sudah tidak berdaya ini.
Sementara itu firasat mama Yoru merasa tidak enak dan segera dia menelepon suaminya untuk menemui Yoru. Dia sangat ingin mengetahui kondisi putra kesayangannya.
Kring.. kring...
Terdengar suara panggilan yang masuk ke nomor handphonenya. Dengan malas dia mengambil dari sakunya dan betapa kagetnya jika nama panggilannya adalah istri tersayangnya. Mau tidak mau dia mengangkat telepon tersebut.
"Halo, yang, ada apa kau meneleponku?" tanya sang suami di tengah kepedihannya melihat anak semata wayangnya yang terbaring lemah yang tidak tahu kapan dia bangun.
"Sayang, bagaimana kabar anak kita, Yoru. Apakah dia baik-baik saja?" tanya sang istirnya menahan tangisnya. Mama Yoru yang sudah menangis karena khawatir akan keselamatan Yoru menahan diri untuk tidak menangis kembali ketika dirinya memantapkan hati menelepon suaminya untuk mendengar kabar anaknya itu.
Sementara suaminya yang hanya bisa menelan salivanya dengan susah karena dia tidak memiliki keberanian untuk menyatakan kebenaran mengenai keselamatan putra mereka. Sehingga papa Yoru hanya bisa terdiam pasrah dan memikirkan kata-kata agar istrinya bisa menerima dengan tabah.
"Sayang, aku minta kau tabah, ya," ucap suaminya terakhir setelah hampir lama membisu.
"Baik aku akan tabah," ucap istirnya yang sangat tahu akan kondisi putranya yang pasti memburuk.
"Yoru koma dan tidak tahu kapan dia bangun," ucap papi Yoru menahan air matanya mengalir sehingga suaranya terdengar serak. Sementara sang istrinya yang mendengarkan sudah menangis karena mendengarkan kabar yang buruk mengenai kondisi putra tercintanya dari suaminya. Dia menangis karena dirinya menyesal sudah membuat Yoru kambuh penyakitnya.
Sementara itu tubuh Yoru sudah dipindahkan ke ruangan rawat inap VIP dengan slang yang menancap di tangannya dan alat-alat medis guna untuk mendengarkan kondisi detak jantungnya yang berdetak dengan sangat lemah. Matanya yang biasanya menatap dengan antusias dan bersemangat kali ini tidak membuka entah sampai kapan. Bibir mungil anaknya yang tampan dan chubby ini juga menutup tidak mengeluarkan celotehan yang riang dan manis. Seolah-olah tubuh putranya itu tidak akan pernah bangun kembali yang di mana membuat papa Yoru hanya bisa menangis sambil menggegam erat tangan putranya yang tidak diinfus. Dia meluapkan kesedihannya karena sudah melukai putra semata wayangnya yang amat dia cintai.
Butuh berapa lama dirinya menangisi putra semata wayangnya sehingga jatuh tertidur di badan anaknya tersebut sambil menggegam erat tangan mungil putranya. Sedangkan istrinya itu mau tidak mau dirinya mendoakan keselamatan putranya tanpa henti dalam waktunya karena dia tidak diijinkan untuk datang menemui putra semata wayangnya terlebih dahulu. Sedangkan orang-orang yang bekerja di rumah Yoru sangat sedih ketika mendengar tuan kecilnya mengalami kondisi koma yang tidak tahu sampai kapan tuan kecilnya tersadar kembali. Begitu juga paman kepala pelayan yang dengan telaten merawat Yoru dari kecil juga diam-diam menangis di luar ruangan rawat inap Yoru. Dia memandang wajah polos dan chubby tuan kecilnya yang tidak pernah berubah pada saat Yoru masih bayi.
"Tuan kecil mengapa kau yang terkena penyakit langka," batin kepala pelayan menatap wajah polos dan chubby tuan kecilnya yang keliatan seperti orang tertidur lelap.
"Bagaimana bisa tega menaruh penyakit langka di tubuh anak kecil yang sangat polos dan imut seperti tuan kecil," batinnya membiarkan air matanya mengalir deras ketika menatap tubuh lemah tuan kecilnya yang ditempel alat-alat medis untuk menunjang kehidupannya agar tubuhnya tetap terus membaik walaupun dalam kondisi koma.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments