"Kenapa buru-buru?" tanyanya pada sang suami karena suaminya tiba-tiba menjemputnya.
"Ada perlu, aku harus ke luar kota." jawab Dera singkat tanpa menatap istrinya.
"Terus? Tinggal aku disini gak apa-apa." ucapnya sambil sesekali mengumbar senyum pada orang yang berpapasan dengannya.
"Kamu ikut." tukas Dera dingin.
"Harus banget? Aku kan bisa kamu tinggal disini." ucapan Binar yang sukses membuat Dera berhenti berjalan dan menatapnya.
"Berani padaku sekarang?" tanya Dera pelan namun menekan. Sikap yang hampir tiga hari tidak pernah ia temui kini ia rasakan lagi.
"Eh, Binar sama suaminya ya?" sapa seseorang yang membuyarkan suasana tegang mereka berdua.
Tampak dua orang ibu-ibu yang berpapasan pada mereka itu berhenti di depan mereka.
"Iya, Bu." jawabnya sekenanya berharap orang itu segera pergi dan berhenti bertanya lagi.
"Kirain yang nikah Sierra ya, kok jadi kamu?"
Sialan! Ibu-ibu ini, sepertinya kepo sekali.
Binar bingung mau menjawab apa.
"Ibu denger kemarin kakakmu pulang sama laki-laki, itu yang kabur sama dia ya, duh kasian ya kamu jadi korban kakakmu yang egois."
Orang itu terus berbicara, sampai pada pembicaraan yang sensitif yang membuatnya bahkan Dera jadi kaget.
"Iya yah, Bu. Masnya juga yang sabar ya.." ibu-ibu satunya ikut menimpali.
"Maaf itu bukan urusan ibu, untuk mencampuri urusan pribadi kami." sahut Dera lalu mengajak sang istri cepat-cepat pergi dari sana.
Sedangkan,kedua ibu-ibu itu melirik licik pada keduanya.
Dera menarik tangan istrinya, masuk ke dalam kamar mereka tanpa perduli pada Arini yang penasaran ada apa pada mereka.
Apalagi, Arini melihat wajah emosi dari menantunya.
"Kita pulang sekarang! Lagipula ibu sudah sembuh." tegas Dera sambil mengemasi pakaiannya ke dalam koper.
"Tapi...
"Aku tidak mau mendengar penolakan apapun, kau ikut aku pulang sekarang dan jelaskan semuanya!" desis Dera menatap tajam pada sang istri.
"Tapi jelaskan apa?" tidak perduli, Dera hanya mengemasi barangnya lalu keluar menghadap ibu mertuanya untuk pamit.
"Kenapa tiba-tiba, bukannya kalian mau pulang besok?" tanya Arini.
"Maaf, Ibu aku ada pekerjaan di luar kota mendadak dan aku ingin dia menemani aku." jawab Dera, lalu pergi setelah bersalaman pada mertuanya.
...****************...
Dari rumah ibunya hingga sekarang sampai di kota tujuan Dera hanya diam tidak berbicara sama sekali padanya.
Jujur itu membuat Binar jadi merasa sepi, tapi Binar sadar yang kemarin hanya formalitas saja, ia tidak boleh kepedean.
Namun, ia penasaran pekerjaan apa hingga sang suami sampai harus membawanya.
Ia ingin bertanya tapi ragu, apalagi suaminya dari tadi sibuk berbincang pada Bram yang menjadi asistennya.
Binar terpesona pada apa yang ia lihat, ia melewati perjalanan yang melewati danau, hutan yang asri dan perkampungan yang asri pula, ia lebih terkejut lagi saat mobil mereka berhenti di depan sebuah villa dekat danau dan hutan pinus.
Binar yang sangat kagum dengan pemandangan itu hanya bisa menganga tak percaya, ia suka dan sangat suka ini!
"Kau suka? Kita akan tinggal disini selama beberapa waktu." ujar lelaki itu, lalu mereka keluar dari mobil dan segera memasuki villa.
Mereka disambut oleh penjaga villa yang memang di pekerjakan oleh Dera.
"Apa ini milik keluargamu?" tanya Binar masih dengan mata yang mengelilingi setiap sudut ruangan.
Villa yang bernuansa vintage itu benar-benar menarik perhatiannya.
"Ini villa pribadiku." sahutnya datar, namun berhasil membuat Binar kembali kagum.
"Tapi pekerjaan apa sampai kau harus membawaku dan kenapa kita harus disini?" tanyanya saat rasa penasaran dalam hatinya kembali bergejolak.
"Aku butuh kamu dalam pekerjaan ini." jawab Dera, mereka masih berdiri di tengah ruangan sambil bicara sedangkan penjaga villa itu mulai merapihkan bawaan mereka.
"Tapi pekerjaan apa?"
"Banyak bertanya, nanti kamu juga akan tau." sahut Dera lalu masuk ke kamar yang sudah di siapkan.
"Pak Bram?" tanyanya beralih pada Bram yang sekarang jadi bingung mau jawab apa.
"Kamu tau kan?" desak Binar yang sangat kepo sekali, dia bisa tidak tenang jika rasa penasarannya tidak terjawab.
Bram menggeleng pelan, "Seperti kata tuan muda,nanti nona akan tahu sendiri lebih baik sekarang anda beristirahat." jawab Bram yang membuatnya tak puas mendengus kesal, menghentakkan kaki lalu menyusul suaminya masuk ke kamar dengan wajah kesal dan bibir yang mengerucut.
"Bos dan bawahan sama saja!" gumamnya kesal, ia duduk di atas kasur dengan perasaan jengkel karena rasa penasarannya tidak terobati.
"Ngomong-ngomong kemana dia, bukannya tadi masuk kesini?"
Binar memilih menghampiri jendela untuk melihat pemandangan luar biasa apa yang ia dapatkan dari sini.
Ia beralih pada pintu yang menghubungkannya dengan balkon, menggeser pintu kaca itu dan benar saja ia menemukan danau hijau di dekat hutan pinus yang sangat indah.
Tanpa ia sadari bibirnya tersenyum lembut merasakan ketenangan suasana yang ia dapatkan dari sebuah pemandangan yang indah dan udara yang sejuk.
Hembusan angin yang menyambutnya menerbangkan helaian rambut panjangnya juga dress putih yang ia kenakan.
Dera yang baru selesai membersihkan diri, terdiam melihat istrinya dari dalam ruangan.
Ia tersenyum tipis, "Manis." gumamnya.
Namun, senyumannya pudar saat ia mengingat untuk apa dirinya mengajak perempuan itu kemari.
Masih banyak hal yang mengganjal di hatinya, kepulangan Sierra yang ia dengar dari tetangga dan siapa Dipta, ia harus tanyakan pada istrinya itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments