PART 4 : Kebohongan

Binar menerima telepon dari ibunya, mungkin ibunya mendengar kabar bahwa ia sakit.

Sambil memakan makan siangnya Binar mendengarkan ibunya berbicara.

'Na, minum obat jangan telat makan, kamu kebiasaan kan kalau makan sedikit banget.'

Binar hanya berdehem sambil mengunyah makan siangnya.

'Kamu banyak pikiran atau capek? Nar, kalau ibunya nanya itu di jawab!'

"Iya, ibu. Kenapa sih, emang udah waktunya sakit ya jadi sakit." jawabnya, sekenanya saja.

'Kamu, gimana disana bahagia kan? Dari cara nyonya Anna bicara soal kamu sepertinya dia sayang sama kamu.'

Binar terdiam, bingung mau jawab apa pada ibunya,tidak mungkin dia menjawab dirinya tekanan batin.

Binar dengan susah payah menelan makanannya.

"Kamu ya, kebiasaan!" bentak ibunya kesal karena Binar tak juga menjawab. Arini hafal dengan sikap putrinya yang suka malas bicara itu, tapi mau bagaimana lagi itu menurun darinya.

"Iya-iya, Bu. Aku senang disini mama Anna sayang sama aku, terus-

"Suami kamu juga kan? Ibu takut, karena kan awalnya dia mau nikahin Sierra." cerca Arini, padahal Binar belum selesai bicara

"Iya, Bu suamiku baik, baik banget malah."

"Kamu bahagia sama dia?" tanya ibunya dengan nada khawatir.

"Tenang, ibu aku bahagia, kami pengantin baru tentu saja bahagia, kami mencoba saling mengenal juga, sepertinya dia mulai menyukai aku, udah dulu ya, aku sayang ibu!" ujarnya buru-buru menutup telepon dadanya sesak, kalau ia terus bicara ia takut akan menangis dan ibunya akan tahu jika ia menangis.

'Hey, nanti dulu, Nar!' cegah Arini tapi tidak ia pedulikan cegahan sang ibu.

Tuh kan!

Akhirnya air mata sialan itu keluar juga.

Binar takut ibunya khawatir akan keadaannya.

Ingin sekali ia jujur bahwa ia tidak betah disini, menjadi tumbal karena kesalahan saudarinya.

Ia mendorong piring makanannya,ia tak selera untuk makan lagi padahal, Lia sudah membuat makanan kesukaannya.

Melihat, Binar mendorong piringnya, membuat Lia bingung, "Maaf, apa ada yang salah dengan makanannya, Nona?" tanyanya khawatir, ia takut membuat kesalahan dan di marahi oleh tuan mudanya yang sekarang ini berdiri memperhatikan mereka tanpa Binar ketahui.

"Nggak, saya sudah kenyang!" ujarnya dengan bibir bergetar lalu berdiri ingin kembali ke kamarnya menangis sepuasnya.

Ia menunduk menyembunyikan air matanya dan berlari tanpa tahu ada Dera disana.

Dera memperhatikan Binar yang buru-buru pergi, Dera tahu, Dera mendengar kebohongan istrinya kepada mertuanya.

...****************...

Binar melihat dirinya di cermin, wajahnya sedikit pucat, sepertinya juga berat badannya turun.

Masih dengan air mata yang menggenang di pelupuk matanya ia bertanya pada dirinya, kesalahan apa yang ia perbuat sampai harus merasakan rasanya tertawan di rumah ini.

Tiba-tiba ia mendengar suara pintu kamarnya terbuka, ia kaget segera menoleh ke sumber suara dan bangkit.

Dera?

"Kamu?" Binar bingung tumben sekali Dera pulang saat waktu menunjukkan masih siang.

Biasanya lelaki itu akan pulang menjelang malam atau bahkan tengah malam.

"Maaf, aku tidak tahu, biasanya kan tuan belum pulang ?"

Dera diam saja sambil melepas setelan jasnya dan melemparkannya sembarang ke arah tempat tidur.

"Apa kau buta?" tanyanya dingin pada sang istri.

"Seharusnya kau jujur pada ibumu, agar keluargamu tau betapa menderitanya kau menikah denganku sampai mereka juga ikut merasakan sakitnya." lanjut Dera tanpa berperasaan.

"Apa?"

Astaga jadi, Dera mendengar perbincangan dia dan ibunya?

Binar mendelik kaget mendengar perkataan Dera, bisa-bisanya lelaki itu begitu kejam pada dia dan keluarganya.

"Kau tidak terima?!" ucap Dera menantang saat melihat mata Binar yang menajam memandang dirinya.

"Keterlaluan." lirih Binar, Dera hanya tersenyum kecut sambil menggulung lengan kemejanya.

"Menjijikkan."

"Apa maksudmu?!"

"Tukang sandiwara!" tukas Dera, ia menarik tangan Binar, menyeretnya kembali menghadap cermin.

Tangan kekar lelaki itu menelusuri wajah Binar, "Cantik, tapi sayang suka berbohong."

ia rasanya sangat takut saat berhadapan dengan Dera setiap harinya, termasuk hari ini.

"Kau bahagia menikah denganku? Apa jangan-jangan semua ini rencanamu?"

bisik Dera di telinga Binar, Binar memejamkan matanya karena takut sekaligus menahan emosi dalam hatinya.

"Aku, aku tidak seburuk yang kamu bicarakan." katanya agak tergagap.

Dera memindahkan tangannya pada kepala, Binar

Perlahan menelusuri rambut hitam lembut itu hingga akhirnya, ia menarik rambut Binar, "Aku mulai menyukaimu dan kau sangat bahagia, itu yang kau ucapkan dengan ibu mertuaku,bukan?"

"Kalau begitu ayo kita bersandiwara bersama-sama agar lebih sempurna, bagaimana ?" tawar Dera dengan nada suara yang mengerikan untuk Binar dengar sekarang.

Ia hanya bisa memejamkan matanya, harap-harap cemas, jika saja Dera akan menarik rambutnya lebih kuat.

"Aku suka rambutmu, boleh aku menyentuhnya?"

"Oh, bibirmu seperti milik Sierra, tapi...

Binar membuang wajah saat Dera akan mencium bibirnya.

Dera semakin bengis melihat ke arah Binar, beraninya gadis itu.

"Kau mulai berani ya?"

"Aku mohon, jangan begini aku masih belum terlalu sehat, tolong..." pintanya saat melihat kilat kemarahan di mata Dera, tentu saja lelaki itu marah harga dirinya terluka saat Binar menolak di dekati.

Tanpa peduli dengan permohonan istrinya, Dera malah menarik pinggang Binar mendekat pada tubuhnya.

"Ngomong-ngomong, mama sudah sangat menantikan kehamilanmu." bisik Dera pada Binar yang semakin takut.

"Bukankah kau bilang, kau sangat bahagia? Kalau begitu ayo wujudkan saja kebahagiaan layaknya suami istri yang seperti kau ucapkan pada ibu mertuaku."

Ia tidak mau, tidak!

Binar tidak pernah ingin melakukan semua ini karena paksaan, ia selalu bermimpi akan melakukan saat pertamanya dengan cinta dan ketulusan bukan dengan dendam dan kemarahan seperti saat ini.

"Kita pengantin baru kan, harusnya kita melakukan apa yang pengantin baru lakukan, benar kan?"

Binar menggeleng kuat dengan tatapan ngeri ke arah Dera.

Kemudian, Dera menarik leher perempuan itu agar mendekat pada dirinya dengan cepat bibirnya sudah sampai pada bibir manis istrinya.

Sedangkan, Binar tidak berdaya karena Dera menahan kepalanya.

Binar dengan tangannya yang berusaha mendorong Dera, namun segera di cengkram kuat oleh lelaki itu.

Ia tidak bisa berbuat apapun selain menangis saat bibir Dera memaksa memiliki bibirnya.

Dera yang merasakan air mata istrinya, langsung tersadar dan mendorong kasar Binar.

Matanya menatap tajam perempuan itu sebelum akhirnya ia meninggalkan istrinya itu sendirian.

Dera menyesal, bisa-bisanya ia memaksa perempuan untuk itu.

"Aku tidak serendah itu!" batinnya geram pada dirinya sendiri.

Ia memasuki ruang kerjanya dan mengunci diri disana.

Duduk dengan gusar, entah apa yang terjadi pada dirinya.

Tak seharusnya ia memaksa seorang gadis untuk hal itu, benar-benar rendah!

"Argghh!"

Dera berteriak kesal, ia mengambil sebuah bingkai foto di meja kerjanya, menatap foto itu haru namun tersirat pula kemarahan dimatanya.

"Andai kau tidak meninggalkan aku, Sierra!" teriaknya lalu membanting bingkai foto itu.

"Aku benci setiap melihat adikmu, aku seperti melihatmu, kadang aku ingin memilikinya sebagai gantimu tapi aku bahkan sangat membencimu sekarang!"

Dera menumpahkan kemarahannya, kekecewaannya, kesedihannya pula.

"Lihatlah, kau akan menyesal karena meninggalkan aku, kau akan menyesal saat tahu adikmu menderita karena ulahmu sendiri!"

Dera tidak tau arah, hatinya masih mencintai Sierra tapi pikirannya sangat membenci perempuan itu atas semua yang telah terjadi.

Saat mendengar Binar berbohong akan keadaannya, hatinya merasa bersalah tapi pikirannya menolak perasaan bersalah itu.

Sialan!

Episodes
1 PART 1 : Albinara
2 PART 2 : Izinnya
3 PART 3 : Sakit
4 PART 4 : Kebohongan
5 PART 5 : Berbeda
6 PART 6 : Kebebasan
7 PART 7 : Khawatir
8 PART 8 : Berharap
9 Sedang Revisi
10 PART 9 : Diary
11 PART 10 : Samudera
12 PART 11 : Permintaan
13 PART 12 : Sierra
14 PART 13 : Pulang
15 PART 14 : Pura-pura sayang
16 PART 15 : Pelukan
17 PART 16 : Sleep Kiss
18 PART 17 : Sleep Talk
19 PART 18 : Dipta
20 PART 19 : Tujuan lain
21 PART 20 : Pekerjaan yang sesungguhnya
22 PART 21 : Hurt
23 PART 22 : Teman Hidup
24 PART 23 : Cerita
25 PART 24 : Sebenarnya siapa yang salah?
26 PART 25 : Makan Bersama
27 PART 26 : Jadilah Milikku!
28 PART 27 : Maaf
29 PART 28 : Binara-ku
30 PART 29 : Perhatian Kecil
31 PART 30 : Sweet Morning
32 PART 31 : Sulk
33 PART 32 : Shy
34 PART 33 : Rain and I Love You
35 PART 34 : Rindu
36 PART 35 : Secret
37 PART 36 : Hukuman
38 PART 37 : Bimbang
39 The Cold CEO and His Naughty Wife
40 Part 38 : Di atas kebohongan
41 Part 39 : Terperangkap cintanya
42 Part 40 : Hari kita
43 Part 41 : Accident
44 Part 42 : Pelampiasan
45 Part 43 : Sierra or Dipta
46 maap
47 Part 44 : Ayla
48 Part 45 : Aku salah apa?
49 Part 46 : Terima Kenyataannya
50 Part 47 : Sendirian
51 Part 48 : War
52 Part 49 : Quarrel
53 Part 50 : Yakin?
54 Part 51 : Kamu hamil?!
55 Part 52 : Nasib Sierra
56 Part 53 : Cerai
57 Part 54 : Badai
58 Part 55 : Feud
59 Part 56 : Feud #2
60 Part 57 : Tentang Masa Lalu
61 Part 58 : Masih Masa Lalu
62 Part 59 : secured
63 Part 60 : quarrel
64 PART 61 : Dera's Explanation
65 PART 62 : Your Birthday
66 PART 63 : Happy Family
67 PART 63 : Hot Day, Sweet Day
68 PART 64 : Sister Destiny
69 PART 65 : Midnight Baby
70 PART 66 : 경과된 시간
71 PART 67 : Dissapointed
72 PART 68 : Baby is Yours!
73 PART 69 : Persuade
74 PART 70 : Make peace
75 PART 71 : baby girl
76 PART 72: Aceline Andressa Nayanika
77 PART 73 : baby blues
78 PART 74 : open his heart
79 PART 75 : Obsession
80 PART 76 : Little Secret
81 PART 77 : Akhir Bahagia
82 New
83 PART 78 : Extra Part
84 Special Chapter : Be Mine!
Episodes

Updated 84 Episodes

1
PART 1 : Albinara
2
PART 2 : Izinnya
3
PART 3 : Sakit
4
PART 4 : Kebohongan
5
PART 5 : Berbeda
6
PART 6 : Kebebasan
7
PART 7 : Khawatir
8
PART 8 : Berharap
9
Sedang Revisi
10
PART 9 : Diary
11
PART 10 : Samudera
12
PART 11 : Permintaan
13
PART 12 : Sierra
14
PART 13 : Pulang
15
PART 14 : Pura-pura sayang
16
PART 15 : Pelukan
17
PART 16 : Sleep Kiss
18
PART 17 : Sleep Talk
19
PART 18 : Dipta
20
PART 19 : Tujuan lain
21
PART 20 : Pekerjaan yang sesungguhnya
22
PART 21 : Hurt
23
PART 22 : Teman Hidup
24
PART 23 : Cerita
25
PART 24 : Sebenarnya siapa yang salah?
26
PART 25 : Makan Bersama
27
PART 26 : Jadilah Milikku!
28
PART 27 : Maaf
29
PART 28 : Binara-ku
30
PART 29 : Perhatian Kecil
31
PART 30 : Sweet Morning
32
PART 31 : Sulk
33
PART 32 : Shy
34
PART 33 : Rain and I Love You
35
PART 34 : Rindu
36
PART 35 : Secret
37
PART 36 : Hukuman
38
PART 37 : Bimbang
39
The Cold CEO and His Naughty Wife
40
Part 38 : Di atas kebohongan
41
Part 39 : Terperangkap cintanya
42
Part 40 : Hari kita
43
Part 41 : Accident
44
Part 42 : Pelampiasan
45
Part 43 : Sierra or Dipta
46
maap
47
Part 44 : Ayla
48
Part 45 : Aku salah apa?
49
Part 46 : Terima Kenyataannya
50
Part 47 : Sendirian
51
Part 48 : War
52
Part 49 : Quarrel
53
Part 50 : Yakin?
54
Part 51 : Kamu hamil?!
55
Part 52 : Nasib Sierra
56
Part 53 : Cerai
57
Part 54 : Badai
58
Part 55 : Feud
59
Part 56 : Feud #2
60
Part 57 : Tentang Masa Lalu
61
Part 58 : Masih Masa Lalu
62
Part 59 : secured
63
Part 60 : quarrel
64
PART 61 : Dera's Explanation
65
PART 62 : Your Birthday
66
PART 63 : Happy Family
67
PART 63 : Hot Day, Sweet Day
68
PART 64 : Sister Destiny
69
PART 65 : Midnight Baby
70
PART 66 : 경과된 시간
71
PART 67 : Dissapointed
72
PART 68 : Baby is Yours!
73
PART 69 : Persuade
74
PART 70 : Make peace
75
PART 71 : baby girl
76
PART 72: Aceline Andressa Nayanika
77
PART 73 : baby blues
78
PART 74 : open his heart
79
PART 75 : Obsession
80
PART 76 : Little Secret
81
PART 77 : Akhir Bahagia
82
New
83
PART 78 : Extra Part
84
Special Chapter : Be Mine!

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!