Hari yang cerah suasana yang menyenangkan dan hati yang tenang, benar-benar baru ia rasakan.
Tapi ada rasa aneh juga sih.
Karena baru kali ini Dera membiarkannya pergi tanpa batasan.
Ia hanya di antar sopir saja, tidak dengan pengawasan seperti biasanya.
Ia bahkan pulang menjelang sore saking ia lupa waktu, karena seharian itu rasanya tidak cukup.
Bertemu malam di jalan, ia agak takut.
"Pak, apa tuan muda bertanya sesuatu pada anda?" tanyanya pada sopirnya.
"Tidak ada, Nona." jawaban sopir itu malah membuatnya jadi was-was,Dera tenang bukan berarti dia aman.
Binar memandangi jalanan dari jendela mobil, tanpa sengaja ia melihat pedagang kaki lima yang menjual makanan kesukaannya.
"Pak berhenti dulu!" segera setelah mobil itu berhenti ia menghampiri gerobak siomay dan mulai memesan.
"Bang siomaynya satu porsi bungkus aja, jangan pakai kecap." pesannya antusias, rasanya lama sekali tidak makan makanan dari kalangannya ini, hahaha.
"Siap,mbak!" sahut si tukang siomay.
Setelah pesanannya beres ia segera kembali masuk ke mobil, baru saja ia akan masuk sejenak ia berhenti.
"Kaya kenal sama yang duduk disana deh." gumamnya, lalu ia menoleh ke arah kirinya dimana disitu ada warung nasi goreng.
Matanya menangkap dua orang yang tidak asing yang membuat suasana hatinya tidak enak sama sekali.
Merasa di perhatikan, orang itu menoleh ke arah Binar tapi dengan cepat ia membuang muka dan langsung masuk ke dalam mobil dengan keadaan dongkol.
"Ayo pulang, Pak!"
...****************...
Jujur saja karena pemandangan tadi, ia jadi tidak napsu memakan jajanan yang ia rindukan, Sienna jadi kepikiran berat.
Ia bahkan tidak kepikiran lagi soal kecurigaannya pada suaminya.
"Beruntungnya mereka." lirihnya sembari menatap langit-langit kamarnya.
"Andai aku masih sama kamu, pasti aku bakal bahagia banget,tapi malah apa?" Sienna tertawa masam, air matanya jatuh.
"Aku kira karena aku tersakiti, suatu saat aku akan bahagia, tapi selamanya aku tetap tersakiti." ujarnya lirih lalu langsung menenggelamkan wajahnya ke dalam bantal.
Binar ini... gak ada kerjaan lain apa selain menangis?
Binar menangis sungguh menangis sampai bersuara sampai kemudian ia diam saat mendengar pintu kamarnya terbuka.
Ia segera terduduk dan mengusap kasar air matanya, turun dari ranjang dan "Apa yang kau lakukan?" tanya Dera dingin.
"Aku...
"Sudahlah,aku mau mandi siapkan air hangat!" titah Dera sembari melepas jasnya dan melemparkannya ke atas kasur.
Setelah sekian lama, Dera masuk juga ke kamar ini dan tidur bersamanya lagi.
Sienna menatap wajah Dera yang tertidur, sangat tampan dan damai, berbeda lagi jika mata itu terbuka dan bibir itu mulai berulah, jadi sangat menakutkan.
"Andai kamu baik." ia menatap nanar suaminya.
"Aku cuma mau bahagia." lanjutnya lagi berbisik.
"Dera, Samudera. Nama kamu bagus tapi aku gak bisa menempatkan harapan aku ke kamu. Ayah Ibu lebih sayang Sierra, kamu cinta Sierra, terus dia juga sekarang cinta Sierra." dan Binar mulai menangis dalam diam karena takut menggangu tidur suaminya.
Ia bangkit dari tidurnya, pelan-pelan Binar membuka laci dan mengambil sebuah buku, dimana disitu ia mencurahkan segalanya.
Dera membuka mata, lalu menatap punggung istrinya yang sibuk menulis entah apa.
Ya, Dera tidak benar-benar tidur.
Dera mendengar bisikan istrinya.
Paginya, saat mata indah itu terbuka.
Kosong. Sisi sampingnya kosong, apa dia bangun kesiangan?
Ia langsung melihat jam dinding.
"Hah?! Jam delapan?!" Binar langsung turun dari tempat tidur.
Ini pasti karena semalam ia kebanyakan galau sambil curhat di buku, huh!
"Mati aku, Tuan Dera itu pasti sudah bangun duluan." batinnya.
Ia langsung turun ke bawah tanpa memperhatikan pakaiannya yang masih memakai piyama.
Dibawah juga sepi.
"Dimana semua orang?" tanyanya pada seorang pelayan yang sedang membersihkan piring bekas makanan meja makan.
"Ini akhir pekan, semuanya pergi berlibur dan Tuan muda sedang pergi berolahraga." terangnya yang membuat dirinya lega.
Benar juga, ini akhir pekan bagaimana ia bisa lupa, tapi biasanya walaupun akhir pekan suaminya tetap sibuk.
"Apa nona ingin sarapan, biar saya siapkan." tawar pelayan itu.
"Tidak aku mau mandi dulu." dan segera ia kembali ke atas bersiap mandi.
Lumayan, setidaknya ia tak akan menemukan Rayna yang nyinyir padanya setiap saat.
Tidak tahu saja dia bahwa ibu mertuanya sengaja meninggalkan dirinya berdua dengan Dera.
Sampai memaksa anak dan suaminya pergi liburan.
Bahkan sekarang Dera kesal sekali saat mengingat apa kata ibunya tadi pagi.
#flashback
Dera mendapati Binar belum bangun, ia tidak tertarik membangunkan perempuan itu dengan kasar seperti biasanya.
Ia memilih mengganti pakaiannya dengan pakaian olahraga dan langsung turun ke bawah.
"Eh, anak mama yang paling tampan baru bangun ya, istrinya mana?" tanya Anna iseng, sambil mengurus perlengkapan entah apa.
Dera tidak perduli!
"Masih tidur." jawabnya dingin.
"Tumben, biasanya dia bangun awal, main sampai jam berapa kalian semalam, huh?" goda Anna.
"Apa sih, Ma!"
"Yasudahlah ya, mama sama papa, Rayna juga Ayla mau liburan, selamat berduaan ya pengantin baru."
Sedangkan, Rayna hanya melengos tidak suka dengan ucapan mamanya.
"Apaan sih, mama. Kakak mana mau sama perempuan kampung kaya Sienna itu." siriknya.
"Alah, Rayna sirik aja!" balas Ayla.
"Heh, yang sopan ya tua aku dari pada kamu bocah!"
Sedangkan Dera langsung angkat tangan tak habis pikir dengan mama dan adik-adiknya yang berisik, ia langsung meninggalkan mereka begitu saja.
#end
Kalau menuruti hasratnya ia pasti sudah menyentuh Binar, tapi Dera bukan lelaki menjijikkan seperti itu yang menyentuh seorang wanita tanpa persetujuannya.
Apalagi, Dera sudah meninggalkan kesan kebencian pada perempuan itu sejak awal.
Dera akui, istrinya sekarang bahkan lebih menarik dari Sierra jika Sierra cantik maka istrinya itu cantik dan manis, lesung pipi gadis itu membuatnya semakin manis.
Binar tidak tinggi semampai seperti Sierra tetapi dengan tubuhnya yang tak begitu tinggi dan cukup berisi, Binar juga cukup seksi namun manis dan menggemaskan.
Dulu saat ia menemui Sierra di rumahnya, ia pernah melihat Binar yang seperti itu, lucu dan menggemaskan.
Tanpa ia sadari ia tersenyum tipis saat membayangkan istrinya itu
"Sudah gila aku!" rutuknya pada dirinya sendiri karena dari tadi ia malah membayangkan Binar.
Ia menghentikan lari paginya dan duduk sebentar di kursi taman.
"Tapi sekarang Binar sangat ketakutan dan penuh kesedihan." ujarnya tanpa sadar.
"Jangan salahkan aku, ini karena Sierra." gumamnya.
...****************...
Dera pulang, ia menaiki tangga dan mulai memasuki kamarnya tubuhnya sudah sangat berkeringat.
Dera menemukan istrinya yang sedang bercermin mengeringkan rambutnya dan hanya menggunakan handuk.
Dera menatap tubuh itu dari belakang, bayangannya tadi tidak salah sama sekali.
"Astaga!" teriaknya kaget saat ia melihat bayangan suaminya di cermin sedang menatapnya.
Binar berbalik dengan mata membulat karena kaget ia panik karena penampilannya sekarang sangat terbuka.
Sedangkan, Dera masih mematung melihat Binar seperti ini untuk pertama kalinya.
Sadar, "Cepat pakai bajumu!" kemudian ia berbalik badan.
Binar sangat menarik sekarang,dengan rambut basah, kulit yang terkespos,dan tetesan air yang mengalir di leher putihnya.
Gila kau Dera!
Binar segera mengambil bajunya di lemari dan menggantinya di kamar mandi.
"Astaga masalah apalagi ini." rutuknya saat ia tak berhasil menarik resleting bajunya.
Ia terus berusaha namun tetap tidak bisa, "Kenapa kau lama sekali, aku mau mandi!" terdengar peringatan Dera dari luar.
Binar jadi bingung mau keluar bajunya belum selesai di pakai.
"Ish, kenapa tadi aku harus pakai baju ini sih!" omelnya pada dirinya sendiri.
Binar masih terus berusaha, resleting bajunya baru mencapai setengah dan macet.
Sedangkan Dera mulai mengetuk pintunya, membuat Binar jadi panik.
"Iya-iya." jawabnya.
Akhirnya,karena takut pada Dera ia memutuskan untuk keluar tanpa menyelesaikan bajunya.
Ia akan menggantinya setelah Dera masuk kamar mandi.
"Sebenarnya apa yang kau lakukan di dalam hah?!" kesal Dera lalu langsung menerobos masuk, namun saat ia akan menutup pintunya.
Sekilas ia melihat, punggung istrinya yang terekspos.
Ia keluar lagi, lalu mulai mencoba menaikkan resletingnya secara tiba-tiba membuat Binar kaget.
"Apa yang tuan lakukan?!" tanyanya tanpa jawaban Dera.
"Biarkan saja itu tadi sepertinya macet." ujarnya gugup namun tidak Dera pedulikan.
Dera dengan perlahan mencoba menaikkan resleting baju yang katanya macet, ternyata karena tersangkut benang pakaiannya.
"Sudah!" lalu berbalik cepat memasuki kemar mandi, tanpa mendengarkan ucapan terimakasih dari istrinya yang menggemaskan itu dengan pipinya yang memerah.
Di dalam kamar mandi Dera sama malunya, tangannya tadi sedikit bersentuhan dengan punggung halus istrinya.
Entah kenapa tadi ia tergugah untuk membantu menutup punggung indah itu.
"Sepertinya aku sudah benar-benar gila, ah tidak mulai bodoh sepertinya!" rutuknya pada dirinya sendiri.
Tanpa di sadari olehnya sendiri kemarahan tak beralasannya pada Binar mulai memudar,namun gengsinya terlalu tinggi.
Di tambah ia punya kecurigaan baru, saat mendengar bisikan Binar semalam, siapa yang Binar maksud dengan dia?
Apalagi 'dia' itu mencintai Sierra juga.
Binar pasti tahu sesuatu tentang sebab Sierra kabur dari pernikahan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments