Daftar impianku :
Jadi kesayangan ayah ibu seperti Sierra.
Keliling dunia bersama Sierra.
Menjadi sukses dan jadi kebanggaan ibu dan ayah.
Aku ingin dia kembali, dan akan aku berikan semua cintaku untuknya.
Melihat fajar dan senja setiap hari bersamanya.
Punya taman bunga mawar di depan rumah impianku.
Punya keluarga bahagia bersama dia:)
Binar membaca ulang daftar impian konyolnya di dalam buku hariannya.
"Ishh!" dengan kasar ia menyobek bagian kertas itu dan membuangnya kasar.
"Aku benci kalian!" ujar Binar geram, ia menatap dua foto kenangannya yang ia selipkan di buku hariannya, mereka adalah orang tersayangnya.
"Tega!" bentaknya seolah benar-benar ada orang di hadapannya.
"Aku harus ganti impian bodoh ini!" Binar terus mengumpat bahkan melempar barang-barangnya, ia kesal sekali.
Mau di ganti apa impian bodohnya itu, sekarang saja ia tak punya harapan.
Rasanya, ia ingin mati saja dalam 22 tahun hidupnya belum pernah ia merasakan bahagia yang ia impikan.
Binar tahu tidak semua yang kita rencanakan akan terjadi, tidak semua yang kita inginkan di kabulkan oleh Tuhan.
Tapi...
"Dunia selalu berpihak pada kakak ku." lirihnya perih, Binar menatap dirinya di cermin.
Apa dia sejelek itu?
Orang-orang bahkan bilang ia lebih cantik dari kakaknya.
Saat sekolah dia juga lebih pintar dari kakaknya, dia lebih bersabar, dia lebih penurut, tapi kenapa?
Semua orang lebih memilih Sierra daripada Binara.
Saat kecil, sedikit saja kesalahan ia lakukan ayah pasti marah, tapi jika itu Sierra beda lagi ceritanya.
Hanya ibu, yang bisa membagi kasih sayangnya dengan adil, tapi tetap saja ada perbedaan yang kentara lagi.
Sekarang, entah dimana kakaknya pasti Sierra bahagia di atas pengorbanannya.
"Seharusnya, meskipun aku enggak bisa sama dia yang aku cintai, paling tidak aku menemukan lagi seseorang yang mencintaiku dengan benar suatu saat."
Karena harapan terakhir dalam mencari kasih sayang adalah pasangannya kelak.
Ya, Binar haus kasih sayang!
Binar ingin kebahagiaan yang sesungguhnya !
Selesai menangis, ia membereskan semua yang ia buat berantakan, gawat kalau ketahuan Dera.
"Sebenarnya ini memalukan!" ketusnya pada dirinya sendiri.
"Yah lipstik ini jadi patah karena aku buang terlalu kasar tadi." ujarnya kecewa saat menutur sebuah lipstik kesayangannya.
Sungguh bodoh sekali.
"Aku bosan sekali." keluhnya.
Tentu saja bosan ia benar-benar pengangguran tidak bisa apa-apa juga kemanapun, seperti tahanan.
Disisi lain diam-diam Dera masih tetap menggali informasi tentang Sierra dan keberadaannya, namun kekuasaannya ternyata tidak berguna sama sekali.
Tak satupun utusannya mengendus keberadaan gadis itu.
"Arghh! Sialan!" umpatnya.
"Anda masih mencintainya, Tuan?" tanya Bram hati-hati.
"Jika tidak mana mungkin Tuan muda meminta kita mencari perempuan itu." sahut Ken.
"Diam!" bentak Dera yang membuat keduanya menutup mulut mereka, hingga ruangan CEO itu hening seketika.
"Aku ingin bicara sebagai teman!" tukas Ken tanpa ragu dan takut sama sekali padahal aura Dera sekarang sangat membunuh.
"Aku sedang tidak butuh nasihatmu, Ken!" ketus Dera.
"Tapi kau sepertinya kau harus mendengarkan pendapat seorang teman, Sam." saran Bram yang kini mulai memanggil tuannya dengan namanya saja.
"Bram ingat kau ini di kantor." Dera mengingatkan.
"Tapi situasinya kau tidak membutuhkan pengawal ataupun asisten pribadi tapi butuh siraman rohani!" celetuk Ken asal saja.
"Kalau gitu kenapa kalian tidak memanggil penceramah sekalian!" tantang Dera yang membuat keduanya hampir tak bisa menahan tawa.
Sebenarnya mereka berteman sejak sekolah menengah atas, berada di kasta yang berbeda membuat Dera membawa mereka berdua di sisinya untuk menjadi orang kepercayaannya sekaligus membantu keduanya agar mendapatkan kehidupan yang lebih layak dari sebelumnya.
"Oke sebentar!" Ken yang tadinya berdiri saja di depan sang tuan muda kini mulai duduk santai di sofa yang ada di ruangan itu.
"Apa kau masih mencintainya,bisa jawab aku?"
"Bukan urusanmu, Ken!"
"Tentu saja bukan, tapi itu urusan kita semua saat ini aku bukan bawahan tapi teman!" tekan Ken.
Dera memutar bola matanya malas, ia harus bersiap mendengar ceramah Ken dan Bram.
"Sam, kami tidak pernah mencampuri urusanmu sejak kau menikah dan memperlakukan perempuan itu tidak baik." Bram mulai membuka suara.
"Lalu?"
"Sekarang aku ingin berpendapat tentu saja!" tukas Bram disusul anggukan dari Ken.
"Aku tidak butuh pendapat kalian." jawabnya sombong.
"Oh, jadi begitu..." dengan nada remeh Ken menjawab.
"Daripada masih mengurusi Sierra yang bahkan tidak peduli denganmu lebih baik kau mencoba fokus pada istrimu sendiri." saran Bram, namun masih tidak Dera pedulikan.
"Sam, perempuan itu tidak salah jangan bersikap buruk pada dia, kau -
"Tapi aku tidak menyukainya, Bram!"
"Tapi apa salahnya dalam hal ini?" Ken menimpali.
"Dia adiknya Sierra!" tegas Dera dengan mata berapi-api.
"Lalu kenapa? Dia menyelamatkan keluargamu dari rasa malu!"
"Dia mencurigakan asal kalian tau, dia adiknya Sierra dia pasti -
"Kecurigaanmu tidak berdasar!" tukas Ken tegas.
"Tentu saja berdasar, dia itu sangat di sayangi oleh Sierra, dia tidak mungkin tidak tau kenapa Sierra pergi dan kemana dia sekarang."
"Jika dia tau, harusnya dia takkan mau ada disini, di sisimu, menggantikan Sierra." ucap Bram yakin dengan intuisinya.
"Kau sendiri yang menyuruh aku mengawasi dia, aku tidak menemukan bahwa ia mencurigakan,aku malah merasa kasihan, dia sering menangis." kini Ken ikut menimpali.
Ucapan Ken, membuat Dera membisu sejenak, "Sudah ku bilang aku tidak butuh pendapat kalian, keluar!" usir Dera namun mereka berdua masih setia disana.
"Kalian tuli ya?!" tegas Dera membuka keduanya langsung keluar saat itu juga karena merasakan Samudera benar-benar akan mengamuk.
Huh!
Entah harus bagaimana menyadarkan Dera yang selalu terbutakan oleh prasangka nya sendiri.
"Aku rasa dia masih terlalu mencintai Sierra, Ken." ucap Bram tak habis pikir.
"Biarkan saja dialah!" Ken pasrah mengacak rambutnya kesal, sejak dulu Samudera itu sangat menyukai Sierra secara diam-diam.
Entah bagaimana, Sierra sangat bersinar di mata seorang Samudera yang selama ini hidupnya begitu membosankan.
Sierra yang lembut dan sikapnya yang dewasa benar-benar luar biasa di matanya.
Apalagi saat ia melihat sendiri bagaimana Sierra seorang gadis penyayang yang sangat sayang dengan adiknya.
Samudera mulai berani mendekatinya saat sudah mapan dan mendapatkan jabatan seperti sekarang, ia mulai mendekati sebagai teman.
Merasa Sierra menyambutnya, Dera memutuskan untuk mengutarakan cintanya, sempat di tolak namun akhirnya Sierra menerima.
Saat itu Dera sangat senang.
Mereka bahkan sepakat untuk menikah, tapi entah apa yang terjadi Sierra tidak muncul di hari pernikahan.
"Apa kamu mengkhianati aku, Sierra?" lirih Dera menatap sebuah foto dengan Sierra tersenyum lebar disana bersamanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments