Hari ini, Anna mengajak menantunya pergi berbelanja kebutuhan bulanan, awalnya dia menolak tapi ibu mertuanya itu memaksa.
"Nar, kamu suka makanan apa?" tanya Anna sembari memilih minyak goreng merk apa yang akan di belinya kali ini.
Binar nampak berpikir,karena ia tidak pernah terlalu tidak suka pada makanan tertentu.
"Emm.. apa ya aku suka banyak sih, tapi aku suka banget masakan dari kentang."
"Oh ya? Wah sama banget kaya Ayla, kalau Dera sih cuma suka perkedel aja, Rayna gak begitu suka." cerocos Anna.
Beralih ke tempat peralatan mandi, Anna mengambil beberapa keperluan untuk mandi dan mencuci, memasukkan ke troli.
"Mama selalu belanja kebutuhan bulanan sendiri?" tanya Binar.
"Nggak dong, kadang-kadang aja, ini juga karena pengen jalan sama menantu baru." jawab Anna tertawa kecil.
Binar hanya mengangguk mengerti dengan senyum tipis.
"Apalagi ya yang belum di beli?" tanya Anna mengingat-ingat.
"Kayanya udah semua deh, yuk pulang!"
Setelah dirasa semua sudah dibeli, Anna dan Binar menuju kasir dan membayar.
"Nar, kesitu yuk!" ajak Anna saat melihat ke toko pakaian.
Binar hanya bisa mengikuti kemana mertuanya itu pergi.
"Menurut kamu bagus yang mana?" tanya Anna menunjukkan dua dress yang mungkin hanya selutut panjangnya, yang satu warna kuning muda polos dan yang satu cokelat susu dengan motif bunga-bunga kecil.
Binar nampak serius melihat keduanya, cukup lama, "Nggak ada yang bagus ya, Nar? Gimana kalau yang ini?" Anna mengambil satu lagi, kali ini berwarna biru muda polos dengan mutiara kecil di pinggang.
"Ini bagus sih, daripada yang tadi." ujarnya langsung.
"Oke, kita ambil yang ini buat kamu." kata Anna dengan senyum lebar.
"Kok aku, Ma?"
"Iya kamu, buat menantu kesayangan mama." jawab Anna senang, suasana hatinya memang lagi bahagia karena bisa jalan-jalan dengan menantunya.
"Tapi
"Eh, gak ada tapi-tapi, dari sejak kamu datang mama belum pernah kasih kamu apa-apa, bahkan pas kamu nikah, bukan pernikahan yang kamu atur sendiri, cincinnya bahkan gaunnya mungkin bukan yang kamu impikan, maaf ya sayang.." ujarnya haru.
"Aduh mama, gak apa-apa kok, beneran." sahutnya meyakinkan.
"Menantu mama memang baik banget, dulu mama tuh kurang setuju sama kakak kamu, karena kita dari keluarga yang berbeda, tapi kamu tenang aja, mama suka kamu karena kamu baik, nanti perlahan-lahan pasti Rayna sama papa juga suka kok dengan kehadiran kamu dan Dera pasti bakal cinta sama kamu, mama bakal bantu." cerocos Anna sembari melihat-lihat baju-baju yang di pajang.
"Makasih ya ma."
Binar beruntung setidaknya ibu mertuanya baik padanya, karena perbedaan kasta mereka terlalu jelas.
Bahkan, ia ingat betapa takutnya keluarganya pada mereka saat Sierra tiba-tiba kabur dari pernikahan.
"Iya sayang, coba lihat!" Anna menunjuk gaun tidur yang cukup seksi.
"Kalau kamu pakai itu pasti Dera bakal-
"Hah?! Nggak mau mama!" tolak Binar mentah-mentah.
Mertuanya ini, baik sih baik, cuma masa Binar suruh pakai pakaian seperti itu.
"Ayolah, mama bakal beliin buat kamu." paksa Anna dan benar saja mertuanya itu membawanya ke kasir dan membayarnya bersama dengan baju-baju lainnya.
Akhirnya setelah selesai menuruti Anna mereka pulang, 'Akhirnya, aku udah capek banget.' batin Binar lega, ia merebahkan tubuhnya di atas kasur empuknya.
"Seneng belanjanya?" tanya Dera yang tiba-tiba masuk ke kamar mereka.
Membuatnya kaget saja.
"Terimakasih." jawab Binar, sambil bergegas duduk, ia tersenyum manis saat mengucapkan itu pada suaminya.
"Untuk?"
"Bolehin aku jalan-jalan keluar rumah." jelasnya karena tau sendiri selama ini ia hampir seperti tahanan.
"Itu karena mama dan tergantung seberapa patuhnya diri kamu." tukas Dera, sambil melepaskan jasnya, hari ini ia pulang lebih cepat, sekarang baru jam lima sore dan dia sudah di rumah.
Huh!
Binar sudah tersenyum manis tapi Dera tetap sedingin air di lautan terdalam.
Binar menatap punggung tegap itu yang perlahan hilang di balik pintu kamar mandi.
"Binar!" tiba-tiba Anna memanggil dari luar ruangan, dengan cepat-cepat Binar membuka pintunya.
"Ada apa, Ma?"
"Nar, tadi ayah kamu telepon katanya ibu kamu sakit dan pengen ketemu kamu." jelas Anna.
"Apa?! Kenapa gak telepon ke Binar?" Binar panik sekarang, ia langsung ingin pulang ke rumahnya.
"Katanya sudah coba hubungi kamu tapi gak bisa." jelas Anna, lalu ia mengecek ponsel di sakunya yang ternyata habis baterai.
"Ma, boleh aku pulang?"
Anna menghela napas,
"Kalau mama si boleh-boleh saja, tapi kamu kan ada suami tanya sama suami kamu, yaudah mama pergi dulu." lalu meninggalkan kamar anak dan menantunya.
Binar harap cemas, menunggu suaminya keluar dari kamar mandi, ia mau meminta izin untuk pulang.
Semoga, Dera bermurah hati memberikan dia izin, ia juga sangat rindu ibunya, rindu rumahnya,rindu masakan ibunya juga.
Kalau dilihat dari perubahannya, harusnya Dera memberikan dia izin, ngomong-ngomong pria itu sudah tidak marah saat Binar tidak tahu dan tak menyambutnya saat pulang kerja.
Binar bersiap mengemasi pakaiannya dan saat itu juga, ia melihat suaminya yang sudah selesai dengan urusannya.
"Untuk apa kau mengemasi pakaianmu? Mau keluar dari sini?!" tanya Dera salah paham.
"Jangan harap!" tegas lelaki itu dingin.
"Aku mohon izinkan aku pulang, mama bilang tadi, ibuku sakit, aku ingin menginap di rumah beberapa hari saja." pintanya dengan mata berkaca-kaca.
"Tidak bisa."
Dingin, nada bicaranya yang dingin membuat Binar terpaku, namun ia langsung kembali mengutarakan keinginannya.
"Aku mohon, setidaknya kasihani aku untuk sekarang, jika bertemu temanku kau mengijinkan kenapa bertemu ibuku yang sakit tidak boleh?! Apa se dendam itu kamu?!"
Binar terjatuh pasrah di lantai dingin kamar itu, kenapa Dera begitu kejam?
Dera menatap dingin pada Binar, "Tidak bisa jika kita tidak pergi bersama." putus Dera, Binar menegakkan kepalanya menatap tak percaya.
"Apa maksudmu kita akan pulang?" Binar berdiri mendekati sang suami yang masih diam dengan tatapan dinginnya.
"Jangan banyak bertanya atau aku akan berubah pikiran." sahutnya masih dengan nada dingin.
Binar tersenyum senang, ia sangat bahagia hingga menghamburkan dirinya ke dalam pelukan Dera.
"Terimakasih, terimakasih!" ungkapnya, sedangkan Dera hanya diam mematung merasakan pelukan Binar untuk pertama kalinya.
Hangat, jantungnya berdebar tak karuan, apa-apaan ini?!
Huh! Semoga gadis itu tidak mendengar debaran bodoh jantungnya itu !
Binar yang mulai sadar langsung melepaskan dirinya, "Maaf, aku tidak sengaja, kamu enggak berubah pikiran kan?!" tanyanya serius ia sangat takut jika lelaki itu berubah pikiran karena kelancangan yang ia lakukan barusan.
Dera menggelengkan kepalanya, tanpa menatap Binar, "Suatu saat kau harus membayar pelukan ini." kata Dera datar.
Hah?!
'Apa aku harus membayar pelukan barusan? dia kaya tapi perhitungan sekali.'
"Apa kau mengutukku dalam hatimu?! Siapkan keperluanku untuk dua hari, ingat hanya dua hari tidak lebih."
Binar melotot kaget, 'Apa dia bisa mendengar isi hatiku? Jangan-jangan dia indigo.' batinnya lagi.
"Kenapa diam saja, jadi atau tidak?!" sentak Dera.
"Iya-iya, siap tuan." jawab Binar semangat, walaupun dua hari yang penting dia bertemu ibunya.
'Dia bersemangat untuk hal seperti ini, lucu sekali, apa dia terlalu rindu pada ibunya ya?" batin Dera memperhatikan gerak-gerik istrinya yang sedang mengemasi pakaiannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments