Binar kesal dengan kejadian tadi pagi, kesal dengan Dera yang seolah lupa bagaimana sikapnya selama ini membuatnya takut.
Tapi sekarang, mertuanya malah nampak seperti ingin membuat mereka berdua dekat.
Sekarang saja, mertuanya memaksanya menyiapkan makan siang untuk suaminya, lalu mengantarkannya sendiri ke kantor lelaki itu.
"Ayo dong, Nar... Mama naruh harapan banget sama kamu." mohon Anna padanya.
Lalu, tanpa lama-lama Anna menggandeng tangannya ke dapur.
"Nar, mama itu gak jago masak tapi mama tahu masakan kesukaan anak-anak mama. Oya, mama kasih tau Dera itu suka banget ayam goreng lengkuas, perkedel kentang, terus dia suka makanan yang manis-manis juga." jelas Anna, dengan terpaksa Binar memperhatikan, ya mau bagaimana lagi?
Menolak?
Binar tak enak hati, pastinya.
Ngomong-ngomong, ia tidak menyangka bahwa laki-laki sedingin es seperti suaminya itu suka makanan manis.
"Ma, mama gak arisan?" tanya Binar, mengalihkan pembicaraan, soalnya Binar belum siap jadi istri yang seperti itu untuk Dera yang super dingin, juga membencinya.
"Nggak, mulai sekarang mama mau fokus ke kamu bisa kamu bisa ambil hati anak mama, terus anak mama jadi gak kaya orang depresi lagi." tukas mama dengan nada tegas.
"Sudah, jangan beralasan,mama sudah minta tolong sekali sama kamu, Nar."
"Iya maa, tapi Binar takut."
"Takut apa?" dahi Anna mengernyit penuh tanya.
"Tuan, ah maaf maksudnya Dera sangat benci sama aku, aku sendiri juga takut dan benci sama perlakuan dia ke aku, jadi-
Binar berhenti bicara saat mendengar hembusan napas pasrah dari mertuanya.
"Ya sudah terserah kalian saja." Anna berbalik dengan perasaan kecewa dan raut wajah kesedihan.
Istri anaknya kan cuma Binar, jadi dirinya berharap Binar bisa mengobati luka hati Dera seperti Binar menyelamatkan reputasi keluarganya.
"Mama, maafin Binar." ujar Binar khawatir, lalu menghadang Anna.
"Yaudah, Binar bakal masak makanan kesukaannya dia, Binar bakal berusaha melakukan tugas Binar sebagai istri." putusnya, tiba-tiba Anna langsung memeluk Binar.
"Makasih ya sayang. Walaupun kalian nikah dengan cara yang tidak seharusnya, tapi mama harap kalian bahagia tidak ada dendam."
'Tapi anak mama sendiri saja dendam sama aku.' batin Binar.
...****************...
Setelah selesai masak makanan kesukaan Dera, mama menyuruh dirinya sendiri yang mengantarkan ke kantor Angkasa Group.
Sebenarnya, Binar agak gugup karena ia baru sekali ini datang ke kantor suaminya.
Kata mertuanya, ruangan suaminya ada di lantai paling atas, ia segera menuju tempat itu, mencari-cari ruangan Dera.
Namun, Bram sudah lebih dulu menghampiri.
"Ada yang bisa saya bantu, Nona?"
"Kebetulan, aku ingin mengantar makan siang untuk dia." mengerti, Bram mengantarkan Binar ke ruangan Dera.
"Tuan, Nona datang." lapor Bram sebelum masuk ke dalam ruangan.
Harap cemas, Binar takut laki-laki itu mengusir dirinya.
"Suruh dia masuk." mata Binar membulat mendengar jawaban yang tidak ia sangka.
Bram membukakan pintu untuknya.
"Ada apa?" tanya Dera to the point, ia tak mau banyak omong meski hatinya bertanya untuk apa perempuan itu kemari dan kenapa tiba-tiba mau kemari.
"Aku di suruh mama antar makan siang." jawab Binar menunduk tanpa melihat ke arah suaminya.
Dera cuma diam, membuat Binar jadi kebingungan.
"Maaf kalau kamu enggak suka, aku cuma di suruh, maaf kalau aku mengganggu, aku taruh makanannya disini aku pergi saja." ujar Binar buru-buru menaruh bekal berisi makan siang itu di atas meja.
"Siapa yang menyuruhmu pulang sebelum menyiapkan semuanya?" cegah Dera dingin.
"Maaf?"
"Siapkan itu semua untukku, kebetulan aku belum sempat makan siang." tukas Dera menatap layar komputernya.
Dengan hati-hati, Binar membuka kotak bekal menyendok nasi dan lauk menatanya di atas piring yang baru di bawa oleh Bram.
"Sudah. Bisa aku pergi?"
"Terserah." jawab Dera dingin.
Binar pergi dengan perasaan yang tidak bisa di artikan, jantungnya berdegup kencang karena takut bukan jatuh cinta.
"Bahkan dia tidak menatapku sama sekali. Bagaimana bisa aku mengobati luka hatinya seperti yang mama minta?"
Sedangkan di ruangannya, Dera menatap makanan yang di bawa istrinya, semua itu adalah makanan kesukaannya. Ia yakin pasti mama yang menyuruh perempuan itu masak makanan ini.
Mamanya benar-benar berusaha untuk hubungan mereka.
Tapi hatinya masih luka, meski amarahnya perlahan bisa padam, namun lukanya belum sembuh, jika ia memaksa akhirnya juga hanya akan menyakiti Binar.
Hatinya masih tertawan oleh Sierra.
Berniat menghargai Binar, ia memakan makanan itu, "Aku tidak tahu bahwa dia bisa masak seenak ini." Dera memakannya dengan lahap, sudah lama ia tidak makan dengan baik setelah kejadian itu.
...****************...
"Sierra kamu kemana saja?!" bentak Arini pada putrinya yang pulang ke rumah dengan diam-diam.
Arini, menarik putrinya masuk ke dalam rumah diikuti seorang lelaki di belakangnya.
"Dia? Dipta?!" Arini terkejut sebab Sierra bersama orang yang di kenalnya, Dipta pacar Binar dulu.
"Kenapa kamu bisa sama dia?" cecar Arini, wajar karena sudah satu bulan lebih anaknya itu menghilang.
"Bu, ayo Sierra jelasin." Sierra mengajak ibunya untuk duduk.
"Kenapa kamu bisa sama, Dipta?!" ulang Arini mulai meninggikan suaranya.
"Bu sebenarnya,
"Ibu bertanya sama Sierra, bukan kamu!" sedangkan Dipta hanya pasrah dengan sikap wanita di depannya kini.
"Sierra sama Dipta saling cinta,Bu." ucap Sierra menggenggam tangan sang ibu.
"Sierra!" bentak Arini yang mulai tersulut emosi.
"Kita gak tahu apa adik kamu benar-benar di perlakukan dengan baik disana sama suaminya, terus ternyata kamu kabur sama Dipta laki-laki yang di cintai adik kamu, Ra!" Arini memegangi kepalanya yang terasa berdenyut karena mengetahui fakta ini.
"Tapi asal ibu tahu, Sierra lebih dulu cinta Dipta, ibu juga tahu Sierra gak pernah mau menikahi Tuan muda dari keluarga Bagaskara."
"Apapun alasannya, Sierra itu tidak benar! Ibu selalu lebih membanggakan kamu di banding Binar tapi kenapa?" Arini meneteskan air mata kecewanya.
"Bu, Sierra gak salah dalam hal ini Dipta mengaku salah karena tidak bisa mengerti perasaan sendiri." Arini menatap tajam ke arah pemuda yang ada di dekat putrinya.
"Sejak kapan?"
"Lama, Sierra dulu menyukai Dipta tapi ternyata dia memilih Binar, lalu ternyata Dipta sadar bahwa yang dia cinta itu aku. Jadi, daripada aku menikah dengan Samudera yang tidak aku cintai, aku memilih pergi untuk bersama dia." jelas Sierra tanpa ragu.
"Kami harap ibu merestui hubungan kami." lanjut Dipta terus terang.
Tapi, Arini tidak menanggapi dan memilih berdiri menyeret pemuda itu.
"Pergi dari sini dan kamu Sierra jangan coba pergi lagi dari rumah!"
"Bu jangan gitu!" Sierra mencoba mencegah ibunya mengusir Dipta.
"Aku mohon aku cinta dia, Bu!" mohon Sierra, namun di abaikan, "Bu, bahkan Binar tau kalau aku mencintai Dipta!" teriaknya yang membuat Arini berhenti dengan tatapan kosong. Anak-anaknya sudah dewasa ternyata,sudah bisa mempermainkan ibunya, pikirnya kecewa.
Arini kemudian pergi begitu saja meninggalkan mereka berdua di teras rumah sambil berkata,
"Terserah kalian, jangan lupa kalian bahagia di atas penderitaan adikmu, Sierra!"
Arini tak habis pikir, kenapa di antara banyak pria Sierra malah memilih Dipta ?!
Dan Binar,kenapa mau mengorbankan dirinya, walaupun putrinya itu berkata ia bahagia dan sikap Nyonya Bagaskara terlihat memperhatikan putrinya.
Tapi Arini yakin tetap ada yang tidak beres dalam pernikahan Binar dan Dera.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments