Dera merasa hatinya luluh saat melihat kebersamaan keluarga ini dan merasakan kasih sayang dari ibu mertuanya.
Keluarga yang sederhana tapi sangat hangat, batinnya bertanya kenapa dulu Binar sedih karena perbedaan perlakuan yang ia alami oleh orangtuanya ?
"Gimana enak kan masakan ibu aku?" tanya Binar dengan tatapannya yang berbinar sama seperti namanya.
"Iya enak, enak sekali." jawabnya yang sukses membuat Arini tersenyum.
"Hari ini ibu masak banyak untuk menantu ibu, di makan ya." ujar Arini sambil menyodorkan ayam kecap ke arah menantunya.
"Sudah, Bu. Suamiku pasti bingung mau makan yang mana, ibu kasih dia makanan banyak-banyak, mending kasih aku aja."
"Ah kamu kaya gak pernah makan masakan ibu aja, kamu udah sering kan." sahut Arini sambil menoel pipi chubby anak perempuannya.
"Kami akan lakukan yang kami bisa, anggap saja sebagai penebus kesalahan salah satu putri kami. Kami benar-benar merasa bersalah." ucap Dirga tiba-tiba.
"Tidak perlu berlebihan, ayah. Sepertinya, Binar sudah sangat cukup sebagai bahan penebusan." jawab Dera dingin, merubah suasana di meja makan.
Jantung, Binar berdebar kencang, ia takut laki-laki ini mengungkapkan bagaimana menderita dirinya di rumah itu.
Ia tidak mau ibunya tahu lalu jatuh sakit lagi, mengingat kesehatan ibunya yang lemah.
"Maksud saya, saya sudah cukup bahagia dengan Binar jadi tidak perlu di ingat lagi yang telah berlalu." ralat Dera yang membuat semuanya bernapas lega setelah tadinya memasang wajah tegang.
Binar menatap mata suaminya, dengan tatapan khawatir, namun tanpa di duga, tangan hangat Dera menggenggam tangannya, "Saya akan menerima, Binar sebagai takdir saya."
Arini tersenyum lega, "Terimakasih, kamu sangat baik."
Namun, Binar tidak bisa percaya begitu saja.
Binar tahu ini cuma sandiwara.
"Ibu lega ,jika kamu benar-benar bahagia dengan suami kamu, tadinya ibu khawatir tentang keadaan kamu apakah kamu baik-baik saja, apa suami kamu menerima kamu, tapi kekhawatiran ibu ternyata cuma sia-sia." cerocos Arini.
"Iya, Nak. Bahkan ibunya, Binar sampai sakit karena terus memikirkan hal ini." timpal Dirga.
Dera jadi merasa bersalah, karena telah berbohong pada kedua orangtuanya, Binar.
Mengingat, apa yang di khawatirkan oleh ibu mertuanya benar terjadi, ia tak memperlakukan Binar dengan baik.
Bahkan perempuan itu tertekan bersamanya, terkurung,tertawan, menderita tanpa senyum secuil pun dari bibirnya.
...****************...
Dera duduk di teras belakang rumah, ia memperhatikan betapa rumah sederhana ini sangat sejuk ia rasakan.
Ada banyak tanaman, bunga dan pohon.
"Lihat, itu bunga yang di tanam Binar, gak gede-gede." ujar Arini yang ternyata berdiri di dekatnya ikut memperhatikan suasana rumahnya.
"Binar suka sekali bunga, apalagi mawar. Cuma setiap dia tanam bunga gak pernah hidup." jelas Arini sambil terkekeh pelan, Dera hanya ikut tersenyum mendengarnya.
"Kalian menikah tiba-tiba, kamu pasti belum mengenal baik anak ibu."
"Kalau begitu apa ibu mau memberi tahu aku tentangnya?" tanya Dera yang seolah tertarik dengan cerita yang di tawarkan mertuanya.
Arini ikut duduk di kursi sebelah menantunya, menceritakan tentang sang putri sambil sesekali tertawa, begitupun Dera yang tak ayal ikut tertawa karena cerita lucu tentang Binar.
"Dia berbeda sekali saat bersamaku. Aku tidak tahu jika aslinya dia sangat-sangat jahil dan manja seperti itu." celetuk Dera saat mendengarkan cerita kejahilan istrinya.
"Tapi di balik sikap nakalnya, jahil dan cerianya itu dia menyembunyikan fakta bahwa hatinya itu sakit, karena ayahnya selalu membandingkan dia dengan Sierra." mendengar nama itu Dera langsung berhenti tersenyum.
Arini yang menyadari itu langsung mencoba mengalihkan pembicaraan, "Astaga, kemana ya anak itu. Sibuk ngomongin tentang dia, eh anaknya gak tahu kemana." lalu Arini beranjak meninggalkan Dera untuk mencari putrinya.
Dera hanya tersenyum pahit setelahnya.
Rumah dimana ada kenangan lucu istrinya juga ada kenangan tentang wanita yang menyakitinya.
Dera memasuki kamar yang sangat bernuansa feminim itu.
Tidak sulit untuk langsung menemukan sosok Binar yang sedang tertidur dalam ruangan yang tidak besar.
"Nak, bangunin Binar ya jangan boleh tidur pas Maghrib." teriak Arini dari jauh.
Perasaannya terasa aneh saat melihat perempuan itu tertidur tenang, perempuan yang belum bisa ia pahami sama sekali yang hanya bisa ia salahkan tanpa alasan.
Matanya terpana pada Binar yang tertidur menyamping dengan hoodie oversize dan hotpants saja, memperlihatkan paha mulusnya yang menggoda hasratnya sebagai lelaki.
Ia perlahan berjongkok di dekat Binar yang tengah tertidur, ia menelan ludahnya saat melihat bibir kecil yang imut milik istrinya.
Hidungnya mancung semakin membuatnya cantik.
'Kendalikan kewarasanmu, Samudera.' batin Dera memperingati dirinya sendiri.
"Eunghh."
Binar melenguh dalam tidurnya berpindah posisi menjadi terlentang dengan rambutnya berantakan menutupi pipinya.
'Sialan, suaranya kenapa bisa sangat menggoda di telingaku!' umpatnya dalam hati.
Dera mulai tergoda oleh bibir manis istrinya, biar bagaimanapun ia juga seorang lelaki normal.
Perlahan, ia mendekatkan wajahnya pada wajah Binar yang tertidur.
Bibir tebalnya mulai mengecup bibir yang menggodanya sejak tadi.
Cukup lama, hingga membuat sang pemilik terbangun dengan mata terbelalak kaget.
"Kammmphh." kata yang baru akan Binar lontarkan terbungkam oleh bibir sang suami yang mulai menguasai bibirnya.
Dera di kuasai hasratnya, yang selama ini tak pernah ia salurkan bahkan pada istrinya sendiri, setelah ia puas memainkan bibir Binar, ia melepaskannya dengan napas terengah-engah, begitu juga dengan Binar di tambah jantung perempuan itu kini berdebar amat kencang.
Dera menatap Binar yang ada di bawah kungkungan nya, Dera hampir kembali mendekati bibirnya lagi, tapi Binar malah mengalihkan wajah dan pandangannya.
Binar menolak ciumannya!
"Ibu menyuruhmu bangun." ucap Dera kemudian untuk menutupi perasaannya yang tak karuan, lalu ia pergi keluar meninggalkan Binar sendirian.
......................
Binar muncul dengan keadaan seadanya seperti tadi, belum mandi sore.
Padahal ibu, ayah dan suaminya sudah ada di meja makan untuk makan malam.
"Heh, kamu ini perempuan bersuami malah kaya gitu." tegur Dirga saat melihat kemunculan anak perempuannya.
"Kaya nggak tau, Binar dari dulu aja ayah ini." timpal Arini sambil menaruh lauk di piring suaminya.
"Ibu masak apa?" tanyanya tanpa dosa dengan wajah bantalnya.
"Liat aja sendiri, pake nanya." Binar hanya mendesis kesal.
"Suaminya di layani dulu, Nar." Arini memeringati saat Binar malah mengambil nasi untuk dirinya sendiri, jantung Binar mulai berdegup kencang, gugup menyerangnya saat ia ingat kejadian tadi.
"Emm, kan bisa ambil sendiri." kilahnya.
"Iya, saya bisa ambil sendiri kok,Bu." sahut Dera.
"Dasar kamu ini, untung suami kamu baik, yang sabar sama sikap Binar ya, Nak." kata Arini, sedangkan Dera hanya mengangguk, Binar meliriknya sinis seolah tak terima apalagi ayah ibunya lebih sayang dengan menantu kayanya daripada anaknya.
'Ibu gak tahu saja.' batin Binar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments