PART 8 : Berharap

Tengah malam, Dera menuju kamarnya ternyata Binar sudah tertidur pulas.

Ia berdiri di samping tempat tidur, memandang wajah Binar di bawahnya.

Seulas senyum tipis tersungging saat melihat, wajah polos itu tertidur.

"Manis." gumamnya tanpa sadar.

Ia duduk di sisi ranjang, menaikkan selimut sampai ke leher Binar, lalu memeriksa kening perempuan itu.

"Baguslah demamnya sudah turun." batinnya.

Astaga, apa-apaan ini kenapa dirinya jadi memperhatikan perempuan itu?!

Sadar, ia langsung meninggalkan posisinya memilih untuk membersihkan dirinya sebelum tidur.

Besoknya, Binar terbangun namun ia masih betah memejamkan matanya, rasanya tubuhnya masih tidak enak.

Namun ia merasa sangat hangat, ia mendengar gemericik air hujan, sepertinya di luar hujan.

Ia berniat membuka mata karena ingin melihat indahnya mendung dan hujan di pagi hari dari jendela kamarnya.

Ia membalik posisinya menyamping ke kiri.

Namun, yang ia dapati adalah wajah tampan suaminya yang sangat dekat dengan wajahnya dan juga dada bidang suaminya yang dulu sempat ia kagumi setiap kali melihatnya.

Pantas ia merasa hangat, ternyata Dera memeluknya dalam tidurnya.

Sepertinya, hujan menjaga tidur Dera tetap nyenyak.

Rasanya, seperti menjadi istri sungguhan.

Bolehkah ia egois? Ia ingin merasakan pelukan ini lebih lama lagi, setidaknya ia merasa bahwa ia beruntung pagi ini saja, karena ada seseorang di sampingnya.

Dengan perlahan tangannya balas memeluk sang suami, semoga saja lelaki ini tidak terbangun dan memarahinya karena lancang memeluk tubuhnya itu.

Ia semakin mendekatkan tubuhnya pada Dera, mendengarkan irama detak jantung yang membuat paginya menjadi damai.

"Jika ini kesempatan terakhirku, biarkan aku merasa bahagia dengan yang aku miliki sekarang, Tuhan. Kalau memang ini takdirmu membiarkan aku hidup bersama dia, maka buka pintu hatinya untukku." pintanya dalam hati dengan sungguh-sungguh.

Tak ada lagi yang ia mau untuk sekarang, jika memang ini nasibnya harus hidup bersama Dera ia harap suatu saat lelaki itu akan menerimanya.

Dan jika bukan, maka semoga semua ini segera berakhir karena pernikahan tanpa cinta ini hanya membuang waktu hidupnya yang berharga tiap detiknya.

Detik terus berjalan, tak terasa hujan sudah berhenti, Dera belum terbangun tumben sekali, terus ia juga jadi malas mau bangun.

Sampai akhirnya, terdengar ketukan pintu dari luar, " Tuan, Nona?" segera dengan agak terpaksa Sienna turun dari ranjang lalu membuka pintu kamarnya.

Ternyata, "Ada apa mbak?" tanyanya pada Lia si pengganggu waktu malasnya.

"Maaf, nona. Saya cuma mau memberi tahu bahwa Tuan Bram, asisten pribadi Tuan sudah menunggu di bawah." terang Lia, mata Sienna memblalak kaget.

"Oh ya ampun, jam berapa ini aku lupa hari libur sudah berakhir!" sesalnya lalu segera masuk kembali ke dalam kamarnya, melirik jam dinding menunjukkan pukul delapan pagi, Albinara bodoh, mungkin saja Dera akan marah karena ia tidak membangunkan lelaki itu.

"Tuan Dera, bangun ini sudah siang." dengan nada panik ia membangunkan Dera, namun yang di bangunkan malah hanya menggeliatkan tubuhnya saja tanpa berniat membuka mata.

"Tuan Dera, asisten anda sudah menunggu bukannya kamu harus bekerja." kali ini Binar mengguncang pelan tubuh Dera.

Lagi-lagi, Dera tidak mendengarkan istrinya, ia dengar hanya saja ia masih ingin tidur.

Tapi istrinya ini malah semakin semangat mengguncang tubuhnya.

Dera menangkap tangan pengganggu itu, "Diam jangan ganggu aku." ucapnya dengan mata masih terpejam.

Binar terdiam, karena suara serak khas bangun tidurnya Dera, sangat sopan masuk ke Indra pendengarannya.

Astaga, Albinara apa yang kau pikirkan !

"Tuan ini sudah jam delapan lebih tiga puluh menit." terangnya, namun tidak ada tanda lelaki itu kaget atau apa mendengar waktu yang sudah siang.

"Aku bilang diam!" dengan satu sentakan ia menarik tangan dalam genggamannya hingga Binar terjatuh di atas tubuhnya.

Deg!

Jantung, Binar berdebar kencang sekarang.

Ia sangat dekat dengan Dera.

Dan apa ini?

Tangan kekar itu sekarang memeluk tubuhnya.

"Diamlah, aku masih mengantuk." jelas Dera.

"T-tapi kamu sudah di tunggu --

"Biarkan saja dia."

"Kamu akan terlambat." ujarnya lagi.

"Itu kantorku aku bosnya, terserahku."

"Tapi-

Ssstt...

Dera membuka matanya yang sayu karena kantuk, jari telunjuknya mendarat pada bibir manis Albinara.

Ya Tuhan...

tatapannya membuat jantung Binar tak tenang.

Dera yang tersadar segera menggulingkan tubuh Binar ke sampingnya.

Kesempatan itu, Binar gunakan untuk pergi dari sisi Dera berlama-lama terlalu dekat dengan lelaki itu membuatnya jadi kehilangan akal.

Selama ini mereka memang tidur satu ranjang namun tetap berjarak, Dera juga tidak selalu tidur bersamanya.

Dera benar-benar tertidur lagi,apa suaminya selelah itu apa yang ia lakukan memangnya?

"Suruh siapa gila kerja." batin Binar ternyata Dera bisa lelah juga.

Menatap lagi pada Dera yang tertidur, bisakah ia menaruh harapan pada hubungan ini agar tidak terus merasa menderita dengan takdir yang terus menerus terjadi tanpa kehendaknya.

"Aku akan mencoba." dengan ulas senyum tipis ia bertekad.

Merasa tubuhnya lebih baik, walau masih agak demam dan flu, Binar memutuskan untuk memasak sarapan.

Walaupun seperti yang ia duga akan ada drama.

"Jangan, Nona. Kami akan di marahi nanti apalagi nona sedang sakit." mohon Lia, kenapa majikannya satu ini sangat bandel sih !

"Cuma masak satu saja!" elaknya.

"Saya mohon, Nona. Ya Tuhan, bagaimana ini." keluh Lia lagi.

"Jangan berlebihan deh mbak." ledek Binar sambil membaluri adonan perkedel dengan telur, kemudian menggorengnya dalam minyak panas.

Hmm baunya enak sekali.

Sebenarnya mereka semua sudah masak, tapi Binar tidak ingin makan itu, ia sedang ingin sekali makanan kesukaannya.

Dera turun ke bawah pukul sepuluh pagi, sudah siap dengan pakaiannya yang rapih yang menambah ketampanannya.

Entah kemana istrinya itu, padahal perempuan itu sedang tidak enak badan.

Bram yang sudah lama menunggu di ruang tamu bernapas lega, "Saya menunda rapat karena anda." lapor Bram yang nampaknya kesal namun ia tetap pandai mengatur ekspresi.

"Kau tahu dimana perempuan itu?" tanya Dera tanpa peduli dengan apa yang di katakan asistennya.

"Tuan, kita harus memulai rapat 45 menit lagi, apa saya harus menundanya lagi?"

"Kenapa tiba-tiba kau menjadi cerewet?" dengan nada mencemooh ia menuju meja makan.

Dera tidak berniat makan, tapi ia berharap menemukan perempuan itu disini.

Dan benar saja, Binar muncul dengan satu piring perkedel kentang di tangannya dari arah dapur menuju ke meja makan.

"Apa yang kau lakukan,hm?" tanya Dera dingin.

Binar diam sejenak, sepertinya berpikir.

Sedangkan, Lia? Pasti sangat waspada sekarang.

"Aku... aku mau makan." jawabnya.

"Apa kamu juga mau makan?" Dera menggeleng lalu memutari tubuh Binar.

"Apa yang kau lakukan ?" ulang Dera.

"Aku mau makan." sahut Binar semakin yakin, supaya Dera juga yakin.

"Siapa yang menyuruhmu memasak?!" suara Dera menggema di dalam ruangan yang membuat Lia dan kawan-kawan ketar-ketir di dapur sana.

"Aku tidak,

"Jangan berbohong, kau ini sakit kenapa kau melakukan pekerjaan pelayan?!" tegas Dera.

"Kau mau membuatku terlihat jadi suami yang buruk? Aku seorang CEO dengan banyak pelayan di rumahku namun istriku tetap memasak sendiri."

"Bukan begitu!" elaknya.

"Ingat ! Kau sudah berjanji untuk menuruti semua perintahku."

Binar jadi merutuki dirinya yang sembarangan mengucapkan janji pada Dera. Huh!

"Tapi wajar kan jika istri memasak untuk suaminya." balas Binar kali ini tak mau kalah.

"Oh begitu ya, sekarang sudah berani melawan? Mereka akan mendapatkan hukumannya karenamu." ancam Dera.

"Bukan begitu!" tegas Sienna cemas ia tak mau juga kalau Lia dan kawan-kawan jadi kena batunya gara-gara dia.

"Lalu?"

ia bingung menjawab, "Sudahlah, Bram kau tahu harus melakukan apa?"

Bram hanya mengangguk.

"Tunggu, aku minta maaf jangan hukum mereka aku yang memaksa karena aku tidak suka dengan sarapan pagi ini. Maaf!"

mata bulat itu menatap Dera harap-harap cemas, menunggu keputusan pria itu.

Dera tersenyum miring, "Benar-benar nyonya Samudera Bagaskara." ujar Dera yang terdengar seperti sindiran bagi Binar

Mungkin, Dera berpikir sekarang dirinya mulai berlagak, pikir Binar.

"Lain kali kau bisa mengatakan pada mereka apa yang kau mau dan duduk saja!" setelah itu Dera memilih meninggalkannya

"Eh, tunggu kamu gak hukum mereka kan?" tapi Dera tidak peduli dengan pertanyaan Binar, perempuan itu berlari kecil mengejar langkah panjang kedua lelaki itu.

Tiba-tiba muncul ide di otak Binar untuk menghentikan Dera.

"Tunggu, kamu bahkan belum mencicipi masakan istrimu, hey!" benar saja, seketika itu, langkah Dera terhenti.

"Wah, menarik sekali." cibir Dera, "Sekarang kau seperti istri sungguhan ya?" pertanyaan yang membuat hatinya mencelos.

Namun, ia ingin sedikit berusaha mewujudkan harapannya.

"Kalau bisa aku harus menjadi istri sungguhan bukan pengganti." sahutnya dengan senyum lebar, namun membuat Dera terdiam dengan ekspresi dingin .

Lalu pergi begitu saja.

Lemas.

Ekspresi yang membuat harapan yang baru tumbuh langsung layu seketika.

"Memang salah, harusnya aku tak pernah mencoba berharap untuk kisahku saat ini. Aku takkan bisa merubahnya." gumamnya kecewa.

Binar tidak mau selalu jadi yang tidak beruntung, jika mereka bisa bahagia dengan apa yang sudah mereka lakukan, kenapa dirinya tidak bisa menjadi lebih bahagia dengan yang ia miliki dan membuat mereka menyesal karena telah melakukan ini padanya.

Dera yang ia miliki sekarang adalah sesuatu yang bisa di banggakan.

Episodes
1 PART 1 : Albinara
2 PART 2 : Izinnya
3 PART 3 : Sakit
4 PART 4 : Kebohongan
5 PART 5 : Berbeda
6 PART 6 : Kebebasan
7 PART 7 : Khawatir
8 PART 8 : Berharap
9 Sedang Revisi
10 PART 9 : Diary
11 PART 10 : Samudera
12 PART 11 : Permintaan
13 PART 12 : Sierra
14 PART 13 : Pulang
15 PART 14 : Pura-pura sayang
16 PART 15 : Pelukan
17 PART 16 : Sleep Kiss
18 PART 17 : Sleep Talk
19 PART 18 : Dipta
20 PART 19 : Tujuan lain
21 PART 20 : Pekerjaan yang sesungguhnya
22 PART 21 : Hurt
23 PART 22 : Teman Hidup
24 PART 23 : Cerita
25 PART 24 : Sebenarnya siapa yang salah?
26 PART 25 : Makan Bersama
27 PART 26 : Jadilah Milikku!
28 PART 27 : Maaf
29 PART 28 : Binara-ku
30 PART 29 : Perhatian Kecil
31 PART 30 : Sweet Morning
32 PART 31 : Sulk
33 PART 32 : Shy
34 PART 33 : Rain and I Love You
35 PART 34 : Rindu
36 PART 35 : Secret
37 PART 36 : Hukuman
38 PART 37 : Bimbang
39 The Cold CEO and His Naughty Wife
40 Part 38 : Di atas kebohongan
41 Part 39 : Terperangkap cintanya
42 Part 40 : Hari kita
43 Part 41 : Accident
44 Part 42 : Pelampiasan
45 Part 43 : Sierra or Dipta
46 maap
47 Part 44 : Ayla
48 Part 45 : Aku salah apa?
49 Part 46 : Terima Kenyataannya
50 Part 47 : Sendirian
51 Part 48 : War
52 Part 49 : Quarrel
53 Part 50 : Yakin?
54 Part 51 : Kamu hamil?!
55 Part 52 : Nasib Sierra
56 Part 53 : Cerai
57 Part 54 : Badai
58 Part 55 : Feud
59 Part 56 : Feud #2
60 Part 57 : Tentang Masa Lalu
61 Part 58 : Masih Masa Lalu
62 Part 59 : secured
63 Part 60 : quarrel
64 PART 61 : Dera's Explanation
65 PART 62 : Your Birthday
66 PART 63 : Happy Family
67 PART 63 : Hot Day, Sweet Day
68 PART 64 : Sister Destiny
69 PART 65 : Midnight Baby
70 PART 66 : 경과된 시간
71 PART 67 : Dissapointed
72 PART 68 : Baby is Yours!
73 PART 69 : Persuade
74 PART 70 : Make peace
75 PART 71 : baby girl
76 PART 72: Aceline Andressa Nayanika
77 PART 73 : baby blues
78 PART 74 : open his heart
79 PART 75 : Obsession
80 PART 76 : Little Secret
81 PART 77 : Akhir Bahagia
82 New
83 PART 78 : Extra Part
84 Special Chapter : Be Mine!
Episodes

Updated 84 Episodes

1
PART 1 : Albinara
2
PART 2 : Izinnya
3
PART 3 : Sakit
4
PART 4 : Kebohongan
5
PART 5 : Berbeda
6
PART 6 : Kebebasan
7
PART 7 : Khawatir
8
PART 8 : Berharap
9
Sedang Revisi
10
PART 9 : Diary
11
PART 10 : Samudera
12
PART 11 : Permintaan
13
PART 12 : Sierra
14
PART 13 : Pulang
15
PART 14 : Pura-pura sayang
16
PART 15 : Pelukan
17
PART 16 : Sleep Kiss
18
PART 17 : Sleep Talk
19
PART 18 : Dipta
20
PART 19 : Tujuan lain
21
PART 20 : Pekerjaan yang sesungguhnya
22
PART 21 : Hurt
23
PART 22 : Teman Hidup
24
PART 23 : Cerita
25
PART 24 : Sebenarnya siapa yang salah?
26
PART 25 : Makan Bersama
27
PART 26 : Jadilah Milikku!
28
PART 27 : Maaf
29
PART 28 : Binara-ku
30
PART 29 : Perhatian Kecil
31
PART 30 : Sweet Morning
32
PART 31 : Sulk
33
PART 32 : Shy
34
PART 33 : Rain and I Love You
35
PART 34 : Rindu
36
PART 35 : Secret
37
PART 36 : Hukuman
38
PART 37 : Bimbang
39
The Cold CEO and His Naughty Wife
40
Part 38 : Di atas kebohongan
41
Part 39 : Terperangkap cintanya
42
Part 40 : Hari kita
43
Part 41 : Accident
44
Part 42 : Pelampiasan
45
Part 43 : Sierra or Dipta
46
maap
47
Part 44 : Ayla
48
Part 45 : Aku salah apa?
49
Part 46 : Terima Kenyataannya
50
Part 47 : Sendirian
51
Part 48 : War
52
Part 49 : Quarrel
53
Part 50 : Yakin?
54
Part 51 : Kamu hamil?!
55
Part 52 : Nasib Sierra
56
Part 53 : Cerai
57
Part 54 : Badai
58
Part 55 : Feud
59
Part 56 : Feud #2
60
Part 57 : Tentang Masa Lalu
61
Part 58 : Masih Masa Lalu
62
Part 59 : secured
63
Part 60 : quarrel
64
PART 61 : Dera's Explanation
65
PART 62 : Your Birthday
66
PART 63 : Happy Family
67
PART 63 : Hot Day, Sweet Day
68
PART 64 : Sister Destiny
69
PART 65 : Midnight Baby
70
PART 66 : 경과된 시간
71
PART 67 : Dissapointed
72
PART 68 : Baby is Yours!
73
PART 69 : Persuade
74
PART 70 : Make peace
75
PART 71 : baby girl
76
PART 72: Aceline Andressa Nayanika
77
PART 73 : baby blues
78
PART 74 : open his heart
79
PART 75 : Obsession
80
PART 76 : Little Secret
81
PART 77 : Akhir Bahagia
82
New
83
PART 78 : Extra Part
84
Special Chapter : Be Mine!

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!