"Hey, anak Mama kenapa cemberut gitu sih. Capek ya larinya? ucap Nadin menggoda anaknya.
"Anya itu lagi kesel tahu Ma. Punya dosen nyebelin banget tahu. Rasanya ya, Anya ingin pelintir kepalanya" ucap Anya sambil memasang wajah cemberut.
"Lah lah, kok jadi dosen. Kenapa sayang?" Tanya Nadin.
"Tadi Anya ketemu dosen di rumah sakit Ma. Anya nggak sengaja tabrak dia pas lari. Anya minta maaf dong. Ehh dianya malah bilang mau kasi Anya tugas besok" ucap Anya.
"Lah kok Gitu sih. Kamu buat masalah ya di kampus?" Tanya Nadin.
"Nggak ada Ma. Paling cuma ketiduran sama telat saja Ma. Dan itupun Anya udah dapat hukuman. Tapi emang dosennya saja yang pendendam" ucap Anya.
"Tittt tiitttt" suara kelakson mobil membuat mereka mengehentikan percakapan nya. Fokus mereka langsung teralih pada kemacetan di depan.
Mereka saat ini sedang di mobil. Perjalanan menuju ke kantor papanya.
"Lah, ada apa ini Adi" Tanya Nadin pada supir nya itu.
"Macet Nyonya. Sepertinya ada tabrakan di depan" ucap pak Adi.
Anya yang penasaran langsung berniat untuk keluar. Namun Nadin langsung memegang tangannya.
"Mau kemana kamu?" Tanya Nadin.
"Anya mau lihat itu Ma" ucap Anya.
"Diam disini. Mama nggak mau ya lihat kamu buat masalah disana" ucap Nadin.
Anya pun langsung menurut begitu saja dan memasang wajah kesalnya.
Mobil pun langsung berjalan kembali ketika mobil didepannya mulai jalan.
Anya melihat dari kaca mobilnya.
Benar ada tabrakan, dan mereka saat ini sedang bersiteru membahas siapa yang salah dan benar.
Anya bisa menghela nafasnya berat.
Selang beberapa lama, Meraka sudah sampai di kantor papanya.
Mereka langsung masuk, kemudian naik ke ruangan Presdir.
"Papa" teriak Anya saat melihat Papanya sedang berdiri tidak jauh dari tempatnya.
Alex langsung tersenyum dan mendekati anak dan istrinya itu.
"Kalian sudah sampai. Ayo masuk" ucap Alex kemudian mengajak istri dan anaknya ke ruangannya.
"Jadi bagaimana pertemuan kalian tadi?" tanya Alex.
"Pertemuan apa pa? orang kami cuma jenguk kakek Aprilio saja. Maksudnya papa kakek Aprilio kan?" Tanya Anya.
Alex mengangguk.
"Ma jelasin" ucap Anya.
Dia pun memilih memakan buah di depannya.
Nadin hanya bisa menggeleng melihat tingkah anaknya.
"Di luar ekspektasi, dia bisa langsung dekat dengan Tuan Aprilio. Mereka bahkan janjian buat mancing bareng" ucap Nadin.
"Serius? Wah anak Papa hebat ya" ucap Alex.
"Apaan sih pa. Kayak orang mau ngapain saja. Kenalan saja mah, semua orang bisa Ma" ucap Anya.
"Tapi susah loh buat bisa Deket sama orang nomor satu di negeri ini" ucap Alex.
"Semua orang itu sama Pa. Oya, Anya seperti nya nggak bisa lama Pa Ma. Soalnya tadi teman Anya Dinda mau minta buku catatan nya" ucap Anya.
"Buku catatan apa?" Tanya Alex.
"Hehe, Buku catatan kuliah Pa. Anya kesini mau anter Mama saja niatnya. Jadi Anya pergi dulu ya" ucap nya.
"Ya sudah, kamu hati-hati. Diantar pak Adi ya" ucap Nadin.
"Iya Ma. Bye Ma Pa" ucap Anya kemudian mencium pipi Mama dan Papanya bergantian.
Setelah kepergian Anya. Alex dan Nadin langsung berbicara serius.
"Ma, apa kau yakin?" Tanya Alex.
"Nggak Pa. Lihat sendiri anak kita seperti apa. Dia masih kekanakan. Aku tidak yakin. Nanti aku bilang saja sama Rudi. Kita tidak bisa menerima permintaannya" ucap Nadin.
Alex hanya mengangguk.
-Bersambung-
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments