"Maaaaaaaaaaaaaaaa, buku Anya yang di meja kemana?" Teriak Anya dari dalam kamarnya.
Namun tidak ada jawaban sama sekali dari mamanya. Dia sudah mencari kemana-mana buku diary nya. Tapi dia tidak menemukannya.
Seingatnya dia taruh taruh di meja belajarnya. Tapi siapa yang memindahkan nya. Itu masih menjadi teka teki besar untuk Anya hari ini.
Dia pun keluar untuk mencari mamanya.
"Ma, maamaaa" teriak Anya mencari mamanya.
"Ada apa sih sayang Teriak" ucap Nadin yang saat ini tengah di ruang tamu.
Mendengar suara Mamanya yang ada di ruang tamu. Anya langsung kesana.
"Maam" Baru saja dia ingin memanggil mamanya, dia langsung diam seketika. Dia melihat orang yang tidak asing sedang duduk di sofa bersama mamanya.
"Eh, ada Om Rudi. Tumben kesini om" ucap Anya kemudian mencium tangan Om nya itu.
"Iya nih. Om ada yang mau dibicarakan sama mamamu" ucap Rudi.
"Owalah. Lanjut-lanjut. Anya balik ke kamar dulu kalau begitu. Maaf Anya ganggu ya" ucap Anya kemudian permisi pergi.
Namun dia tidak benar-benar pergi. Dia malah diam di dekat pintu ruang tamu. Berusaha menguping pembicaraan mama dan om nya itu.
Karena Om Rudi sangat jarang ke rumahnya. Palingan kalau ke rumah kalau ada yang penting-penting saja.
Ini adalah hal yang sangat langka bisa melihat Om Rudi datang kerumahnya. Kalau dia datang pasti ada hal yang sangat penting.
"Jadi bagaimana Nad, Apa kau bersedia?" Tanya Rudi.
"Kalau masalah itu, aku nggak bisa iyakan dulu Rud. Itu bukan wewenang ku. Apa lagi ini masalah anak-anak. Aku harus bicarakan dengan Alex dan mereka" ucap Nadin.
"Begitu ya. Aku harap kamu mau Nad. Ini juga akan menjadi hal yang baik untuk kemajuan perusahaan Alexandra Nantinya" ucap Rudi.
"Kami pikirkan dulu ya Rud" ucap Nadin.
"Baiklah kalau begitu. Kalau sudah ada jawaban, kamu bisa menghubungiku ya" ucap Rudi.
Nadin hanya mengangguk.
Rudi pun langsung pamit untuk pulang.
Setelah kepulangan Omnya, Anya langsung berlari mendekati Mamanya.
"Ma, ma, tadi Om Rudi ngomongin apa. Kok serius banget?" Tanya Anya antusias.
"Ada deh. Anak kecil nggak usah tahu. Oya kamu tadi nyari Mama buat apa?" Tanya Nadin mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Buku diary Anya Ma. Mama pernah lihat nggak? Anya cariin nggak nemu-nemu. Padahal Anya taruh di meja terus loh" ucap Anya.
"Udah cari di dalam lemari nggak? Kamu kan biasanya taruh disana juga" ucap Nadin.
"Oya bener. Anya lupa. Makasi Ma" ucap Anya yang langsung berlari ke kamarnya. Seketika dia melupakan rasa penasarannya. Sangat mudah untuk mengalihkan fokusnya.
Nadin hanya menggeleng melihat anak perempuan satu-satunya itu. Namun wajahnya langsung berubah ketika mengingat ucapan Rudi tadi.
"Aku bicarakan pada papa dulu saja" ucap Nadin.
Disisi lain, Anya langsung tersenyum saat melihat Diarynya. Dia langsung memeluknya kemudian meletakkannya kembali di tempat yang aman.
Dia sangat sayang pada diary tersebut. Karena itu pemberian dari Alm. Neneknya. Dia menulis banyak hal disana, jadi kenangan diary tersebut sangatlah banyak.
"Oya, aku harus kirim tugas ya" ucap Anya. Dia pun langsung mencari Hpnya.
"Kak Reza udah buatin aku nggak ya. Semoga sudah" ucapnya.
"Alhamdulillah" ucapnya saat melihat sebuah pesan dari Reza. Dia mengirimkan file tugas Anya.
"Makasi banyak kak. Tunggu traktirannya ya" balas Anya.
Dia pun beralih membuka email, kemudian mengirimkan tugasnya ke email Rangga.
"Done" ucapnya kemudian menghempaskan badannya ke kasurnya.
"Ngomong-ngomong, tadi mereka omongin apa ya. Kok aku kepo sih. Kayaknya serius banget" ucap Anya.
-Bersambung-
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments