Anya saat ini sudah sampai ke tempat dimana Dinda sudah menunggunya.
"Aku bingung sama dia. Kenapa nggak minta diantarin ke rumahnya aja. Pakai acara ketemunya di cafe ini lagi. Ketemu sama pak Rangga kan bisa berabe" ucap Anya sambil melihat ke arah Cafe didepannya.
Dia pun memilih untuk memasang maskernya sebagai antisipasi jika Rangga ada di cafe itu lagi.
Sudah beberapa hari ini, dia sering sekali bertemu dengan dosen nya itu. Dia pun sampai bingung kenapa dosen itu ada dimana-mana.
"Nya" ucap Dinda saat melihat Anya baru berdiri di pintu masuk.
"Lah, dia mengenaliku?" ucap Anya bingung karena saat ini dia menggunakan masker di wajahnya.
Dia pun memilih untuk melepas masker tersebut.
"Percuma aku memakainya. Udahlah pasrah saja" ucap Anya kemudian berjalan ke arah tempat duduk Dinda sekarang.
"Udah lama Din?" Tanya Anya.
"Nggak kok" ucap Dinda sambil meminum jus nya.
"Oya, ini buku catatan mu. Aku nggak bisa lama-lama ya. Soalnya banyak banget kerjaan di rumah" ucap Anya asal.
"Lah kok, kamu baru saja Dateng loh Anya. Duduk bentar lah. Temenin aku disini" ucap Dinda.
"Bener-bener ini cewek. Nggak tahu apa gue lagi berusaha menghindari pak Rangga disini" ucap Anya.
"Maaf ya Din. Aku duluan. Banyak banget kerjaan di rumah Soalnya" ucap Anya kemudian langsung pergi meninggalkan meja itu sambil melirik ke kiri dan kanan.
"Ehhh, pak Rangga" ucap Dinda sambil melambaikan tangannya.
"Sial" ucap Anya, dia pun meneruskan langkahnya tanpa melihat ke kiri dan kanan.
Dia berharap pak Rangga tidak melihatnya. Dia terus berjalan menuju ke pintu keluar. Cara berjalannya sudah seperti pinguin hingga membuat nya tampak sangat lucu.
"Anya" ucap Seseorang tiba-tiba, hingga membuat langkahnya terhenti. Namun dia sadar siapa yang sedang memanggilnya. Jadi dia tetap meneruskan langkahnya.
"Anggap saja aku tidak mendengar suaranya" ucap Anya.
Rangga hanya bisa menggeleng melihat tingkah Anya. Dinda mendekati Rangga.
"Ada apa Din?" Tanya Rangga.
"Kebetulan banget ya pak, kita ketemu disini. Bapak ngapain disini?" Tanya Dinda basa basi.
"Ini cafe saya. Jadi tidak ada yang perlu dipertanyakan kenapa saya disini" ucap Rangga.
"Owh ya. Bapak yang punya cafe ini? keren banget sih pak" ucap Dinda sambil mengacungkan jempolnya.
"Kalau tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Saya mau kembali ke ruangan saya. Selamat menikmati makanan disini" ucap Pak Rangga kemudian pergi begitu saja meninggalkan Dinda.
"Nyebelin banget, kenapa dosen itu ada dimana-mana sih" ucap Anya yang begitu sangat kesal sekarang.
"Keseeeeellll Banget" teriak Anya memenuhi mobil tersebut, hingga membuat pak Adi kaget.
"Astaga Nona, untuk saya tidak punya penyakit jantung" ucap pak Adi sambil mengelus dadanya.
"Sumpah ya pak, itu dosen ******, Ada dimana-mana, udah kayak Ren*****" ucap Anya.
"Siapa maksud Nona?" Tanya pak Adi.
"Ahh udah lah pak. Bapak juga nggak tahu orangnya" ucap Anya.
Pak Adi hanya bisa menggaruk kepalanya. Dia juga tidak mengerti harus merespon seperti apa.
"Pak pak, boleh anterin Anya ke taman Anggrek nggak?" Tanya Anya.
"Ngapain Nona? takutnya Nyonya dan Tuan nanti akan marah" ucap Pak Adi.
"Tenang saja pak. Nanti saya yang bertanggung jawab" ucap Anya.
"Saya izin dulu ya Nona?" tanya pak Adi.
Anya menghela nafasnya berat. Pasti lah papa dan mama tidak akan mengizinkannya. Apalagi dia juga sedang dalam masa hukuman.
Dia mulai mencari cara lain.
"Pak-pak, perut aku kok sakit banget ya. Tolong cari toilet umum pak atau nggak berhenti di mall depan deh" ucap Anya.
"Tapi Nona?" Ucap Pak Adi ragu. Karena sebelum-sebelumnya Anya sering menipunya.
"Bapak mau lihat saya BAB disini?" ucap Anya dengan muka menahan sakit perut.
"Baik Non, saya berhenti di depan mall itu ya. Tapi setelah itu, nona balik lagi ya" ucap Pak Adi.
Anya pun mengiyakan. Kemudian langsung pergi saat mobil berhenti.
-Bersambung-
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments