Sepulangnya di rumah. Anya langsung di teriaki oleh Nadin.
"Anyaaaaaa" teriak Nadin yang saat ini tengah berdiri dengan tangan dipinggang.
"Apa yang kau lakukan hari ini?" Tanya Nadin penuh intimidasi.
"A-apa maksud mama?" Tanya Anya.
"Jangan pura-pura tidak tahu. Mama sudah lihat kelakuanmu. Kalau kau terluka bagaimana huh. Siapa yang akan khawatir. Mama Anya. Kau ini, berapa kali harus mama bilang. Jangan berantam-berantam lagi. Kau ini perempuan" ucap Nadin yang terlihat begitu khawatir.
"Ma, Anya bisa jelasin. Itu semua bukan kemauan mama. Kakeknya kasian Ma. Kalau mama di posisi Anya, mama pasti melakukan hal yang sama" ucap Anya.
"Tapi sayang. Itu berbahaya. Intinya mama tidak mau kamu kayak gitu lagi. Satu lagi, mama dengar kamu sering tidur di kelas. Kamu ini mau jadi apa sayang? Kapan kamu berubahnya" ucap Nadin.
"Lah. Mama tahu darimana?" Tanya Anya kaget.
"Tidak penting Mama tahu darimana. Yang terpenting mama ingin kamu merubah sikapmu. Sudah cukup ya mama dipanggil setiap hari karena kelakuanmu saat SMA dulu" ucap Nadin.
"Ma, kan Anya sudah bilang. Anya nggak mau jurusan ekonomi. Kenapa maksa Anya disana. Gini deh jadinya" ucap Anya.
"Hmmm, Mama tidak peduli. Intinya kamu harus jaga sikapmu. Sekarang masuk ke kamarnya. Mama ngelarang kamu keluar rumah selama seminggu" ucap Nadin.
"Lah kuliah Anya gimana Ma?" Tanya Anya.
"Kecuali kuliah" ucap Nadin meralat.
"Kalau ada Tugas kelompok bagaimana Ma?" Tanya Anya lagi.
"Kerjakan disini. Sudah, ganti baju sana dan turun ke bawah makan" ucap Nadin.
"Oke Ma. Mama jangan marah-marah lagi ya. Serem" ucap Anya kemudian mencium pipi Mamanya.
Dia sudah terbiasa mendengar celotehan Mamanya. Awalnya sih kesal, tapi lama-lama kelamaan dia sadar bahwa apa yang mamanya lakukan karena dia menyayanginya.
"Hmmm, punya anak perempuan kalah-kalah punya anak laki-laki" ucap Nadin.
"I Love You Ma" teriak Anya lagi.
***
Rangga saat ini tengah di rumah sakit. Dia menemani kakeknya yang sedang sakit.
"Rangga" ucap Kakek Aprilio.
"Hmm, kenapa kek?" Tanya Rangga yang saat ini tengah duduk di sofa.
"Kau kapan menikah sih, huk huk. Kalau nanti kakek meninggal, siapa yang akan mengurusmu dan menemani. Menikahlah, carilah istri, huk huk" ucap Kakek Aprilio.
"Aku bisa hidup sendiri. Tanpa kakek pun aku bisa" ucap Rangga dengan wajah dinginnya.
"Huh. kata-katamu seperti meminta ku untuk mati cepat. Memang cucu kurang ajar" ucap Kakek Aprilio.
"Jangan minta aku menikah kek. Aku tidak percaya dengan wanita. Kakek tahu sendiri" ucap Rangga.
"Tidak semua wanita seperti ibumu Rangga" ucap Kakek Aprilio.
"Semua wanita itu sama. Aku tidak akan percaya" ucap Rangga.
"Aku cari makan dulu. Kakek istirahat lah" ucapnya lagi.
Rangga pun keluar meninggalkan kakek Aprilio. Kakek Aprilio terlihat frustasi menghadapi cucu satu-satunya itu.
"hmmm. Apa yang harus aku lakukan sekarang" ucap Kakek Aprilio. Tiba-tiba air matanya menetes mengingat bagaimana kejadian beberapa tahun lalu.
"Aku tidak tahu sampai kapan aku bertahan dengan penyakit ini. Tapi aku juga tidak bisa meninggalkan Rangga sendiri" ucap Kakek Aprilio sambil menghapus air matanya.
Disisi lain, Rangga saat ini sedang menyetir. Dia keluar untuk mencari angin segar. Pikirannya mumet, wajahnya terlihat pucat dan kelelahan.
Dia banyak kerjaan hari ini. Dia menghandle semua pekerjaan kakeknya sekaligus mengurus semua bisnisnya. Belum lagi dia juga mengajar. Ditambah lagi dia harus mengurus Mahasiswi yang selalu bermasalah.
"Huh" Rangga hanya bisa menghela nafasnya berat.
-Bersambung-
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments