Keesokan harinya Sena dan Lisya berangkat sekolah diantar oleh Ray. Semalam Ray menginap dirumah keluarga Kinsley dan setelah makan malam ia tak melihat Sena lagi karena ia berbincang tentang bisnis dengan ayah Sena dan Brian
"Sena apakah kau tidak sedih kita berpisah seperti ini saja?"
"Kak Ray sebenarnya apa yang salah denganmu akhir-akhir ini, tiba-tiba kau menjadi semakin tak tau malu seperti ini" walaupun Sena mengatakan ini, Ray bisa melihat wajah memerah Sena.
Ia kemudian mengelus pipi Sena dan setelah itu memegang tangannya. Ia menggenggam tangan Sena sambil tetap menyetir. Posisi duduk mereka memang sebelahan dan Lisya duduk dibelakang
"Kak apa kau tidak menganggapku ada? Huh sungguh ini masih pagi dan aku sudah melihat pemandangan seperti ini"
"Yah kau kuanggap sebagai penganggu" Lisya menatap sinis kakaknya kemudian kembali melihat ponselnya.
Disisi lain Sena berusaha mengontrol detak jantungnya, Sena tidak pernah berpegangan dengan pria walaupun ia memiliki tunangan di dunia sebelumnya, tapi mereka lebih seperti adik kakak daripada pasangan. Ray menyadari jika Sena sedang tegang karena berpegangan tangan dengannya tetapi ia tidak berniat melepaskan tangan gadis itu.
Tak lama mereka sudah sampai disekolah
"Lisya, aku mau bicara berdua sebentar dengan Sena bisakah kau keluar duluan?"
"Iya iya, kak jangan macam-macam dengan Sena ingat dia masih dibawah umur!"
"Jangan khawatirkan hal seperti itu, aku cukup percaya diri dengan pengendalian diriku"
"Baiklah terserah kau saja, Sena aku akan menunggumu di gerbang"
"Kau duluan saja takutnya kau lama menungguku"
"Aku akan menunggumu" Lisya akhirnya keluar dari mobil duluan.
"Ada apa kak Ray?"
"Aku akan keluar negeri untuk waktu yang lumayan lama, bukan hanya satu negara tapi beberapa, sebenarnya tadi malam aku ingin berpamitan karena pagi ini aku sudah berangkat. Tapi kita tidak memiliki banyak waktu semalam" Belum sempat Sena menjawab Ray langsung menarik Sena dalam pelukannya
"Kak Ray?" Jujur saja detak jantung Sena saat ini sangat keras ia akan malu jika Ray merasakannya
"Biarkan sebentar seperti ini, kita tidak akan bertemu untuk waktu yang lama" Sena akhirnya bisa lebih rileks berada di pelukan Ray
"Sena kau tau?" Tanya Ray yang masih berada di pelukan Sena
"Hmm?"
"Seperti yang ku katakan kepada Lisya, aku cukup percaya diri dengan pengendalian diriku, tapi saat ini aku benar-benar ingin menyerangmu" Suara Ray yang serak membisik ditelinga Sena.
Tak lama Sena merasakan Ray menghirup dalam bagian lehernya dan mengeratkan pelukannya. Yiyi menjadi tegang lagi, Ray kemudian agak mengendurkan pelukannya dan beralih menatap Sena
"Sena, bolehkah?" Ray mengelus pipi Sena kemudian beralih ke bibir mungilnya sambil terus menatap mata Sena.
Sena tentu paham apa yang dimaksud Ray. ia tak sepolos itu. Tapi apakah boleh ia membiarkan first kiss nya untuk pria didepannya ini? Ia bahkan belum pernah berciuman selama 2 kehidupan ini. Sena merasakan bibirnya masih terus dielus oleh Ray, ia tau jika ia menolak Ray tentu menghargai pilihannya, tapi ia juga merasa ingin karrna bagaimanapun ia sudah sadar bahwa ia juga menyukai Ray dan tidak ada alasan baginya untuk menolak karena bagaimanapun mereka sudah bertunangan.
Sena akhirnya mengangguk sebagai jawaban untuk pertanyaan Ray, tanpa menunggu lama Ray langsung mencium bibir Sena, awalnya hanya kecupan tapi lama-lama Ray semakin memperdalam ciumannya.
"Sena sini sebentar" Ray melepas ciumannya untuk membiarkan Sena bernapas terlebih dahulu kemudian menarik Sena untuk naik kepangkuannya. Sekali lagi ia mencium bibir Sena dan Sena hanya diam menerima ciuman Ray ia tidak membalasnya karna jujur saat ini ia tidak tau bagaimana harus mambalasnya, ia menyukai ciuman mereka bahkan ia tanoa sadar mengangkat tangannya dan memeluk leher Ray
"Sena buka mulutmu kemudian balas ciumanku" Sekali lagi Ray melepas ciuman mereka, Sena yang mendengar suara serak Ray mengikuti perintahnya dan membuka sedikit mulutnya.
Langsung saja Ray mencium Sena kembali dan sekarang lidahnya mulai masuk kedalam rongga mulut Sena. Sena mulai membalas ciuman itu walaupun ia sendiri tidak tau apakah sudah melakukannya dengan benar atau tidak. Ray tersenyum saat merasa Sena mulai membalas ciumannya, ia semakin memperdalam ciuman itu, ia menghisap lidah Yiyi, menelusuri tiap sudut mulutnya dan mengabsen tiap gigi Sena dengan lihainya. Ia benar-benar di mabukkan oleh manisnya ciuman ini, jika bisa ia tak ingin melepaskan ciuman itu.
Ray tidak menyangka ciuman akan membuatnya merasa seperti ini, ia bersyukur karna ciuman pertamanya ia lakukan dengan Sena dan sepertinya untuk Sena ini juga yang pertama kalinya. Mereka berciuman cukup lama untuk kali ini dan akhirnya melepaskan ciuman mereka karena kehabisan napas.
"hahhh.. Hhh.. Kak Ray" napas Sena terengah, Tubuh Sena terasa panas. Ray telah melepaskan ******* pada bibirnya, lidahnya sedikit terulur menampakkan benang saliva tipis yang terhubung di antara mereka
"Ini sangat manis Sena, aku sudah mengiranya tapi tak kusangka akan semanis ini" Ray mengelap bibir Sena menggunakan jarinya. Sena hanya menunduk malu. Ray kemudian menarik Sena dalam pelukannya. Dan saat ini Sena baru menyadari seberapa intim posisi mereka.
"Jaga dirimu saat aku pergi, jangan lupa menjawab telponku dan ingat jangan membuatku khawatir. Dan satu lagi, jangan terlalu baik dan dekat dengan laki-laki lain, mereka akan mengira kau memberinya kesempatan untuk mendekatimu" Sena hanya mengangguk sambil menyembunyikan wajahnya di dada Ray. Tak lama Ray akhirnya melepaskan pelukannya dan memberikan kecupan singkat kepada Sena, Sena akhirnya keluar dari mobil setelah Ray memperbaiki penampilan gadisnya itu
Disaat yang bersamaan saat Sena dan Ray berciuman di dalam mobil, Lisya sedang menunggu di depan gerbang sekolahnya, beberapa teman kelasnya menyapa Lisya
"Lisya selamat pagi" Lily bersama dengan Ana menyapa Lisya
"Pagi Lily pagi Ana"
"Ohya kau sedang apa berdiri disini? Kau tidak masuk?"
"Oh itu, aku sedang menunggu Sena"
"Ohiya aku baru saja ingin menanyakannya. Dimana Sena?" Lily melihat sekeliling untuk mencari Sena
"Kakakku sedang berbicara dengannya di dalam mobil"
"Ohh.. Jadi kau belum ingin masuk?"
"Iya, aku sudah bilang ke Sena kalau aku akan menunggunya"
"Kalau begitu kami berdua juga ikut menunggu Sena bersamamu disini" Lily berbicara sambil tersenyum
"Tidak apa?"
"Tentu saja, kita kan teman Sena juga. Dan kami tidak tega melihatmu menunggu sendirian disini"
"Terima kasih" Lisya sangat bersyukur memiliki teman seperti mereka.
Mereka menunggu sambil sesekali bercerita tentang kejadian lucu. Dan tak lama kemudian Ana melihat Sena yang berlari kecil kearah mereka
"Lisya apakah kau menunggu lama? Maafkan aku" tanya Sena sambil mengatur nafas nya karena telah berlari tadi
"Aku tidak menunggu lama, bahkan tak terasa karena Lily dan Ana menemaniku"
"Selamat pagi Sena" Lily menyapa Sena yang sepertinya belum menyadari kehadirannya bersama Ana
"Ahh, aku tak melihat kalian. Selamat pagi Lily, Ana"
"Pagi, ohya apakah kau sakit Sena? Wajahmu memerah" Lily memperhatikan wajah Sena yang memerah sejak turun dari mobil tadi
"Ahh ituu, tidak. Aku hanya kepanasan karena berlari" Lisya memperhatikan tingkah Sena, ia yakin kakaknya telah berbuat sesuatu kepada Sena.
"Sudahlah, ayo kita masuk. Tak lama lagi bel akan berbunyi" ajak Sena sebelum mereka memberikan banyak pertanyaan
"Ayo"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments
Yuni
bagus thor ceritanya ... semangat up nya thor 😁😁
2023-11-04
1