3

Keesokan harinya Sena terbangun dan langsung memeriksa keadaan pria yang di tolongnya semalam. Keadaan pria itu sudah lebih baik, ia sudah bernafas secara normal tapi belum sadarkan diri. Semalam pria itu sempat tersadar sebentar karna kesulitan bernafas tapi setelah tenang ia kembali tertidur. Sena kembali mengganti perban luka pria itu dan tidak lupa mengelap wajahnya dengan kain bersih. Jujur saja wajah pria ini adalah tipe idealnya, di kehidupan sebelumnya Sena telah memiliki tunangan yang mana tunangannya itu adalah teman masa kecilnya. Ia menyayangi nya, dulu ia pikir itu adalah cinta tetapi setelah dipikir kembali mungkin itu hanya kasih sayang terhadap keluarga. Saat tunangannya meninggalkannya dan lebih memilih adik angkatnya ia hanya merasa sedih tapi tidak sesedih itu.

Setelah selesai mengganti perban dan membersihkan wajah pria itu, Sena bersiap untuk ke rumah makan tempat nya bekerja. Saat tiba ia segera melakukan pekerjaannya. Di siang hari Sena melihat ke arah konstruksi tapi tidak melihat ayahnya disana. Ayah seharusnya kecelakaan besok, Sena berharap besok akan terjadi sesuai dengan rencana nya.

Hari sekali lagi berlalu, Sena berjalan menuju penginapannya. Tak lupa ia membeli makanan untuk pria itu. Tadi sebelum berangkat bekerja Sena sebenarnya sudah menyiapkan makanan karna takut jika pria itu sadar dan merasa kelaparan. Saat akan membuka pintu Sena terkejut karna seingatnya ia tadi mengunci pintu sebelum pergi tapi sekarang ini pintu nya tidak terkunci. Sena segera menuju kamar dan melihat pria yang di tolongnya sudah tidak ada. Sena khawatir jika pria itu di culik oleh musuhnya. Tapi tak lama Sena melihat sebuah catatan di sebelah piring kosong di meja makan.

"Terima kasih sudah menolongku nona, aku akan membalas kebaikanmu. Maaf karna aku pergi terburu-buru dan tidak mengucapkan terima kasih secara langsung. Jika anda butuh bantuan silahkan menghubungi nomor ini 08×××××××. Terima kasih juga untuk makanannya, makanannya enak" Sena melihat kertas itu dan merasa lega, ternyata pria itu sudah sadar dan pergi sendiri.

Sena kemudian membersihkan dirinya dan bersiap untuk tidur. Makanan yang di bawa nya tadi akan ia makan besok saja saat sarapan. Malam itu Sena bermimpi tentang kehidupannya sebelumnya. Saat semua orang di sekitarnya mulai menjauh darinya dan saat ia dengan bodohnya melompat untuk bunuh diri. Sena terbangun dengan keringat yang bercucuran di tubuhnya, saat melihat jam menunjukkan pukul 6 pagi ia segera mandi dan bersiap ke lokasi konstruksi. Kecelakaan ayahnya adalah hari ini.

Saat tiba di sana, Sena dapat melihat ayah nya yang sedang memantau para pekerja. Sena sendiri juga mulai melakukan pekerjaannya. Gempa bumi akan terjadi siang hari, saat melihat jam menunjukkan pukul 11, Sena mulai bersiap ke depan pintu wilayah konstruksi, kebetulan di sana ada tempat sampah, maka tidak mencurigakan bagi Sena untuk berkeliaran di sana. Tak lama akhirnya gempa terasa, Sena tidak pernah mengalihkan perhatiannya dari sang ayah, saat gempa berhenti Sena bisa melihat sebuah beton besar terlihat akan jatuh di atas ayahnya. Sena akhirnya berlari menuju ayahnya yang seperti nya belum sadar karna masih syok akan gempa

"Tuan awas!!" Sena mendorong ayahnya dan dia sendiri ikut terjatuh, ia berhasil menghindari beton yang terjatuh itu tapi sialnya kepala nya malah menabrak batu yang ada disana, ia merasakan sakit di kepalanya dan perlahan mulai kehilangan kesadaran.

Disisi lain pria paruh baya itu sangat terkejut melihat beton yang terjatuh, beberapa detik yang lalu ia masih berdiri disana, jika saja gadis ini tidak mendorongnya mungkin saja ia akan benar-benar celaka, entah apakah ia akan selamat atau tidak jika tertimpa beton itu. Saat akan berterima kasih kepada gadis yamg menolongnya, pria itu terkejut saat melihat gadis yang menolongnya berdarah di bagian kepalanya. Banyak darah yang keluar dari kepala gadis itu membuatnya dengan cepat menggendong gadis itu dan membawanya ke mobil dan bergegas menuju rumah sakit.

Di rumah sakit, pria itu segera memanggil dokter dan meminta pertolongan dengan cepat. Gadis itu akhirnya di bawa ke unit gawat darurat. Setelah melihat dokter membawa gadis itu, ia langsung menuju ke kamar mandi untuk membersihkan bekas darah gadis itu yang ada di tubuhnya. Ia kemudian menunggu dengan khawatir di depan pintu UGD, entah kenapa dia merasa sangat takut dan panik. Setelah melihat dokter yang merawat gadis itu keluar dari UGD ia langsung berjalan menuju dokter

"Dokter apakah gadis itu baik-baik saja?"

"Gadis itu kehilangan banyak darah, karna rumah sakit kami ini terpencil, kami kekurangan stok darah untuk di donorkan"

"Apa golongan darah gadis itu?"

"Gadis itu bergolongan darah B"

"Dokter ambil darahku, aku bergolongan darah B, aku sehat dan tidak memiliki penyakit, aku juga rutin melakukan donor darah. Aku tidak minum obat apapun dan aku tidur dengan baik tadi malam" pria itu menyodorkan tangannya ke arah dokter dengan serius

"Baiklah, kami akan segera melakukan donor nya" setelah melakukan prosedur pengambilan darah, pria itu merasa sedikit pusing dan berbaring sebentar. Setelah merasa cukup baik, ia kembali menuju ke ruang tunggu di depan UGD. Dokter yang menolong gadis itu akhirnya kembali keluar

"Tuan, gadis itu sudah stabil, dan sudah bisa di pindahkan ke ruang rawat inap. Tuan bisa mengurus administrasi nya"

"Baik dokter terima kasih" Saat akan berbalik dan mengurus prosedur rawat inap untuk gadis itu suara dokter tiba-tiba menghentikan langkahnya

"Tuan ada yang lupa kukatakan, luka robek di kepala gadis itu memang sudah ditangani dan sudah stabil, tapi tadi saat mengobati luka di kepala nya aku melihat banyak luka lebam di tangan gadis itu, setelah kami periksa lebih lanjut gadis itu juga mengalami pergeseran tulang di pergelangan tangannya yang kemungkinan karna pemukulan benda tumpul dengan sangat keras berkali-kali, di tubuhnya juga banyak bekas luka sayat dan luka bakar. Apakah anda mengenal keluarga gadis itu? Kemungkinan ia mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Kita harus segera melaporkannya ke polisi untuk melindungi gadis itu" pria itu terkejut saat mendengar penjelasan dokter, gadis itu terlihat seumuran dengan putri nya dirumah, ia tak mengira gadis kecil itu memiliki banyak luka seperti itu.

"Aku tak mengenal gadis itu, tadi saat gempa terjadi ia menolongku. Aku akan coba mencari informasi tentang gadis itu. Aku minta tolong kepada dokter untuk merawat dia sebaik mungkin"

"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu"

"Terima kasih dokter" ia kemudian berbalik mengurus prosedur rawat inap gadis itu. Setelah semua nya selesai ia berjalan menuju kamar tempat gadis itu di rawat. Saat membuka pintu ia sedikit terkejut melihat wajah gadis itu. Fitur wajah gadis itu terlihat sangat mirip dengan istrinya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!