Sebuah Panggilan

Langkah kaki itu diiringi dengan suara mendesis merasa sakit dan juga amarah. Melihat keadaan yang terjadi, seorang pria paruh baya dengan tongkat khas ditangannya langsung menuju sofa. "Apa terjadi terjadi pada mu nak?" Tanyanya dengan raut cemas.

"Ini semua karena ulah si ganda pa!" Balasnya sambil meringis sakit.

"Ganda pembawa si*al itu? Kok bisa?" Tanyanya balik.

"Entahlah! Sekarang ia sudah semakin berani! Aku ingin membalas nya pa! Lakukan sesuatu! Ia membuat ku menjadi begini! Kalau aku tidak membalas pasti ia akan besar kepala dan tidak takut lagi padaku."

"Tenang nak, ayo kita obati dulu matamu dan juga wajahmu. Karena sebentar lagi ada acara besar dan kau harus segera sembuh. Kita akan urus ganda itu segera, jangan khawatir!"

"Baiklah, ia terlihat di sekitar jalan arah kota x. Cari di sana Papa."

"Baik nak." Sebuah senyum kembali terbit dengan perasaan yang menggebu gebu.

"Kau akan lihat ganda, aku tidak akan pernah membuat mu hidup tenang!" Entah apa yang terjadi dan mengakibatkan kebencian begitu mendarah daging padanya.

"Oh ya, Pa. Satu lagi."

"Apa nak?"

"Motor keluaran terbaru itu apa sudah sampai di negara kita pa?" Tanyanya membuat Papanya sedikit berpikir.

"Belum, masih ada di negaranya, kau kan tau. Itu limited edition masih belum diproduksi banyak apalagi sampai disini kalaupun ada pastinya sangat mahal." Jawaban itu membuat ia terdiam seketika rasa ingin balas dendam nya bercampur dengan rasa ingin tau yang tinggi.

"Lalu dari mana si ganda itu mendapatkan nya?" Seolah rasa sakit yang dideritanya telah terselimuti dengan rasa keingintahuan yang tinggi.

Sedangkan pusat pembicaraan tengah membuat rencana besar, dengan gaya santainya. Hero memasuki ruangan berdesain mewah itu, seorang wanita cantik mengantarkannya pada sebuah ruangan.

"Selamat datang!" Sapa sosok di dalam saat melihat kedatangan Hero.

"Terima kasih. Aku tidak menyangka akan disambut seperti ini." Balas Hero sambil mendudukkan bokongnya.

"Tentu saja, karena anda adalah orang yang spesial dan eksklusif." Balasnya membuat senyum Hero terbit.

"Terima kasih atas pujiannya. Jadi, langsung saja bagaimana dengan permintaan ku??" Tanya Hero di sela tuang menuang anggur merah itu.

"Anda sangat tidak suka berbasa-basi ya. Setidaknya minum sebentar, cuaca kota seperti ini sangatlah panas dan membuat kerongkongan menjadi haus."

"Anda bisa saja. Tapi baiklah, aku akan menikmati minuman mahal ini." Hero membiarkan aliran anggur merah itu melewati kerongkongan nya.

"Ini, sesuai permintaan anda. Bagaimana?" Hero melihat rancangan bangunan yang berada dihadapannya saat ini.

"Sempurna! Aku tidak meragukan desain anda." Puji Hero membuat sosok itu terkekeh.

"Aku sangat tersanjung. Kalau ada yang mau ditambahkan silahkan." Hero tampak melihat dengan seksama dan menelisik berbagai desain yang memenuhi bangunan yang ia inginkan.

"Mungkin bagian ini berikan lift khusus, anda tau kan maksudnya?"

"Tentu saja. Ada lagi?"

"Tidak, aku rasa sudah. Dan ngomong-ngomong apa anda tau tempat di mana bisa menemukan ini?" Hero tampak mengeluarkan sesuatu dibalik jaketnya membuat perancang itu terdiam sesaat.

Tangisan mengisi peristiwa bongkar membongkar itu, tampak seorang wanita paruh baya meraung tak terima akan keadaan yang menimpanya. "Tidak mungkin! Ini tidak mungkin terjadi! Aku ini sangat kaya, ini rumahku! Jangan!" Sayangnya tenaga tak seberapa itu tentunya kalah jauh dengan sekelompok pria berbadan kekar.

"Maaf, tapi hutang anda sudah menumpuk dan jatuh tempo. Jadi sesuai kesepakatan rumah ini kami ambil alih!" Setelah menyita rumah itu, tampak wajah frustasi berubah menjadi kemarahan.

"Sudah mati saja masih sangat menyusahkan! Aku akan membalas pada putra kalian! Jika aku hidup miskin, maka dia juga begitu!" Ujarnya dengan mata menyala.

"Bagaimana?" Tanya Hero dibalik telfon genggam nya.

"Beres tuan."

"Bagus. Uangnya sudah ku transfer. Kerja kalian bagus sekali." Dan panggilan langsung terputus.

"Ini baru permulaan Bibi." Hero tersenyum bahagia sambil menatap cermin yang menampilkan wajah tampannya dengan ibu jari gandanya.

Kuas dan kanvas miliknya menyala memberikan notifikasi misi baru dan Hero langsung senam jari sekarang dan bersiap menyambut hadiah lainnya yang tidak akan terduga dan memberikan kekayaan. Misi kali ini adalah membuat lukisan dengan sentuhan modern dari lukisan karya seorang pelukis terkenal dahulu. Hero dengan keahliannya langsung menarikan kuasnya.

Di tengah misi ada sebuah panggilan dan karena merasa terganggu ia pun mengangkat dengan jari lainnya dan ketika mendengar suara dibalik telfon itu ia seketika terhenti.

Bersambung .....

Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!