Keduanya saling berteriak membuat mereka saling terkejut satu sama lain yang dibatasi oleh dinding. Hero segera bertanya pada Jill dengan tubuh yang masih polos. "Jill, ada apa? Kenapa berteriak?" Tanya Hero.
"Aku .... I-itu .... Paket! Ya, paket ku datang!" Jawab Jill membuat Hero paham.
"Dasar wanita." Gumam Hero, tanpa ia sadari wajah Jill yang sudah memerah karena melihat belut keramatnya.
"Jill, apa yang kau lakukan?" Jill bergumam pelan sambil mondar-mandir tak tentu arah.
"Kau sendiri kenapa berteriak?" Tanya Jill dengan tatapan yang tidak berani melihat ke arah kamar Hero lagi.
"Karena mendengar mu berteriak." Jawab Hero. Tak mungkin ia mengatakan apa yang terjadi, bahwasanya ia mendapatkan uang begitu banyak dan tak bisa ia ungkapkan. Nominal ditambah angka yang membuat matanya melotot tentu membuat Hero berteriak kencang.
"Satu milyar! Aku benar-benar kaya! Upss!" Hero menekan suaranya agar tidak keluar karena akan membuat Jill bertanya lagi nanti.
"Aku akan membuat Jill pergi dulu. Baru mengatur uang ku ini!" Hanya menyelesaikan misi menebak gambar dari beberapa lukisan karya seniman terkenal Hero berhasil mendapatkan uang yang begitu membuat ia menjadi orang kaya secepatnya.
Dengan segera Hero berpakaian, ia bahkan langsung mengambil benda segitiga yang menutupi belut keramatnya itu. Tak perduli dengan tubuhnya yang cukup kedinginan karena tidak berpakaian selamat menjalankan misi. Senyuman mengembang saat Hero membuka pintu dan ia mengerutkan keningnya melihat Jill.
"Jill, kenapa kau melihat tembok dapur?" Tanya Hero sambil mendekati sosok Jill yang masih terpaku.
"Hmm, karena .... Aku ingin lihat saja! Desainnya dan warnanya sangat menarik!" Mendengar jawaban Jill Hero semakin mengerutkan keningnya. Bukannya bagaimana, tapi setelah dilihat dengan baik, apa yang begitu menarik dari tembok yang bewarna abu-abu itu dan terlihat polos tanpa hiasan apapun.
"Sepertinya matanya sudah tidak sehat, setelah mendengar paketnya datang."
"Kau sudah selesai ternyata." Jill berujar dengan tatapan yang masih belum lepas dari tembok dapur.
"Iya, kenapa kau masih lihat ke sana? Aku di sini? Aku bukan tembok tuan putri." Hero sedikit kesal sekarang, di saat lawan bicaranya tidak melihat ke arahnya.
'Bagaimana aku bisa melihat mu. Aku masih terbayang belut keramat itu!' Jill berteriak di dalam hatinya. Wajahnya sungguh merona menahan malu sekarang atas pemandangan yang ia dapatkan tadi.
"Hero! Aku akan pulang. Baru saja ada notifikasi dari pengiriman paket ku, aku pulang dulu dah!" Jill langsung pergi tanpa menatap Hero membuat pria itu semakin bingung karenanya.
"Aku tidak mengerti akan sifat wanita." Ujarnya yang melihat mobil kilauan Jill bergerak cepat menghilang dari pandangannya.
"Kenapa aku pikirkan? Bukankah ini yang ku tunggu? Aku akan menyimpan uang ku!" Hero dengan cepat menutup pintu dan segala gorden. Ia akan menghabiskan waktunya bersama uang bewarna merahnya itu. Sebuah kotak brankas ia beli, dan semua barang serta uang berharganya ia letakkan di sana.
"Kemanan nya sepertinya kurang. Aku perlu brankas dengan sistem kemanan yang bagus. Atau .... Aku letakkan di bank? Tidak! Aku harus memikirkan sesuatu di mana aku akan meletakkan kekayaan ku ini. Sungguh ini sangat banyak! Misi yang lain masih menanti, aku akan semakin kaya nanti! Hahahaha! Aku akan datang dan membeli mulut mereka! Mereka yang telah menghina ku!"
Keesokan paginya setelah ada drama bersama ibu kontrakan miliknya. Hero segera menancap gas menuju kediaman ia sebelumnya. Dengan motor mewahnya Hero membuat orang-orang begitu terpukau akan kilauan dan juga tampilan dirinya yang begitu mempesona. Motor itu berhenti di sebuah rumah yang berwarna biru muda dengan halaman yang luas. Sesaat mata Hero memancarkan kerinduan di sana. Itu adalah rumah tempat ia tumbuh dengan kebahagiaan dan kenangan orang tuanya.
Tak lama terlihat sosok wanita paruh baya keluar dari sana yang membuat mata Hero memicing tajam. "Bibi? Apa yang ia lakukan? Bukankah rumah ini disita oleh Bank?" Hero yang penasaran mencoba mendekatkan telinganya ke sana tapi saat ia melangkah tanpa melihat ada seseorang yang ia tabrak dan ....
Bruk! Bruk!
"Hei! Kau buta ya?" Sentak sosok dibawahnya yang membuat Hero segera bangkit.
"Maaf, aku tidak melihat." Ujar Hero yang melihat penampilan sosok dihadapannya sosok berkacamata dengan rambut yang dijuntai ke samping dengan celana jeans dan jaket hitam.
"Dasar! Hei ... Kau penguntit ya?" Tanyanya membuat Hero kelabakan.
"Apa! Jangan asal menuduh ya. Kau .... Apa yang mereka bicarakan??" Hero segera mencuri pandang pada arah bibinya yang membuat wanita itu penasaran dan tak lama ia tersenyum.
"Kalau kau mau, aku bisa membantu mu. Kau ingin mendengar percakapan ondel-ondel itu kan?" Tunjuknya yang membuat Hero terdiam.
Bersambung ......
Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 52 Episodes
Comments
Hiu Kali
muwantabbbb...jooossskeun..
2022-09-17
1