Sungguh Hero memaki dalam hatinya, entah kenapa sosok ini kembali muncul ditambah dengan suasana yang tidak memungkinkan. Bagaimana tidak, keadaan emas batangan miliknya sedang tela*njang tak berbalut apapun. Tas usang nya tak mampu lagi menerima para kilauan itu. Hanya senyum manis yang Hero keluarkan, dibalas juga oleh sosok itu, yang merupakan pemilik kontrakannya.
"Ada apa Bu?" Tanya Hero.
"Kok ibu sih? Tante dong!" Balasnya membuat Hero cengengesan.
"Eumhhh... Ya ..."
"Tante ke sini, mau kasih tau. Kalau uang kontrakannya sangat banyak seperti 2 tahun mengontrak." Jawabnya membuat Hero terdiam sejenak. Ia memang langsung mengambil uang itu tanpa menghitungnya.
"Lalu? Apa ada masalah?" Tanya Hero lagi.
"Tidak, tapi Tante berpikir kenapa tidak membeli rumah saja?" Apa-apaan ini, pikir Hero. Kenapa wanita paruh baya itu yang mengatur keuangannya.
"Bu .... Maksudnya Tante." Hero segera mengubah panggilannya menyadari bahwa wajah itu berubah.
"Uangnya satu amplop tadi. Jadi saya tidak hitung. Dan untuk masalah kontrak atau tidak saya punya alasan sendiri. Saya harap, Ibu maksudnya Tante tidak KEPO. Karena jujur saja, saya sangat nyaman di sini jangan sampai menjadi bintang satu karena hal lain, pastinya Tante mengerti." Hero berujar cukup panjang berharap wanita itu mengerti.
"Oh, ya. Tante hanya penasaran saja, siapa tau tampan lupa."
"Tidak, jadi Tante ada yang lain lagi? Karena saya ada urusan." Mendengar kata urusan membuat jiwa ibu-ibu rempong itu kembali menggelora dan mencoba melihat ke dalam membuat Hero segera bertindak.
"Memangnya ada apa? Kan baru pindah. Dan tidak ada barang-barang. Kenapa sepertinya sibuk sekali?" Tanyanya sungguh Hero ingin meminta kepada kuasnya menjadi sapu dan segera mendepak sosok yang menyebalkan ini sekarang juga.
"Itu masalahnya Tante. Saya ada urusan di luar, dan tentunya akan sibuk dengan berbagai macam pembelian nantinya."
"Ohhhh.. kalau begitu Tante bisa bantu."
"Mati aku! Hero sungguh sudah kesal sekali sekarang.
"Tidak perlu Tante. Karena saya akan pergi dengan ...." Hero terdiam sejenak sambil berpikir alasan yang tepat. Sekarang wajah wanita paruh baya itu seolah semakin penasaran.
"Karena saya akan pergi dengan pacar saya!" Entah dari mana kata dan pikiran itu Hero langsung mengatakannya membuat wanita paruh baya itu langsung mengangguk.
"Hmmmm begitu, bilang dong tampan. Aduh, Tante pikir masih sendiri." Soetrisno ia tampak kecewa, dan Hero menjadi berpikir apa wanita itu tidak memiliki suami, kenapa ia sangat genit.
"Iya. Jadi sekarang, saya harus bersiap bukan?"
"Iya. Kalau begitu, Tante pulang dulu ya." Hero hanya mengangguk setelah melihat sepasang kaki itu pergi, ia segera menutup pintu dengan cepat.
"Astaga! Rasanya seperti nano-nano! Untung saja ia pergi, sebaiknya aku perlu ganti kunci pintunya dan menambahkan tirai di jendela. Siapa yang tau nanti." Hero bergedik ngeri membayangkan nya.
Sepasang kaki miliknya segera melangkah dengan cepat, dan tepat di pintu kamar miliknya ia melihat sekelompok benda kilauan miliknya masih berserakan. "Sekarang, aku harus mencarikan kalian tempat tidur. Supaya tidak membuat mata orang menjadi silau karena sinar kalian! Untung saja aku menutup pintu kamar, kalau tidak. Entah apa yang terjadi." Hero segera melihat berbagai sudut ruangan dan matanya menangkap sebuah bed cover.
"Nah! Ini dia! Untuk sementara kalian disini dulu! Aku akan membelikan tempat tidur untuk kalian!" Seolah emas batangan miliknya bisa bicara ia masukkan ke dalam bed cover itu dan meletakkannya di bawah tempat tidur.
"Ok, aman! Untuk sementara ... Sebaiknya sekarang aku bersiap untuk pergi." Baju pun tidak ada lagi. Hmmm! Sudah bau!" Hero bersungut-sungut mencium aroma bajunya sendiri.
"Sekalian beli baju dan celana." Hero segera mandi dan setelah segar ia langsung menuju keluar, tak lupa ia menambahkan gembok di pintu rumahnya menghindari kejadian yang tidak diinginkan. Untung saja gembok itu terdapat di tas kecil miliknya. Karena tas usang nya sudah rusak pria itu hanya membawa uang satu amplop yang tentunya dengan nominal besar dengan kantong plastik hitam di rumah.
"Ok, berangkat!" Hero segera melajukan motornya meninggalkan kediaman barunya. Hal itu tentu saja tidak luput dari pandangan sekitar.
"Tengok tu bang! Ada saingan kayaknya!" Ujar seorang pria dengan rambut merah yang memiliki tindik di telinganya.
"Wah! Motornya ... Anak orang kaya kayaknya!" Tebaknya.
"Mangsa baru ngga tuh bang? Kayaknya bisa dihabisi langsung." Ujar yang lainnya.
"Boleh juga, kita beraksi nanti malam." Balasnya dengan seringai sambil melihat Hero yang tengah melaju.
Sedangkan Hero melihat pasar tradisional, dengan segera ia berhenti dan mulai mencari berbagai barang kebutuhan yang ia butuhkan. Beberapa barang ia dapatkan dan dengan memberikan alamat barunya barang yang ia beli akan diantarkan dengan mobil pick up. "Tidak sia-sia aku ikut ibu belanja. Sekarang aku jadi bisa menego harga! Hahahaha." Ujarnya sambil menenteng barang belanjaannya.
Kediaman mewah itu langsung terbuka tak lama mobil berwarna silver segera meluncur dari sana dengan pemiliknya berkaca mata gelap dan wajah yang cantik tak lupa dengan senyuman manisnya. "Hero, aku datang!"
Saat ini Hero tengah memilih perabotan masak, ditengah hiruk pikuk di pasar, sebuah rumah juga terjadi hiruk pikuk lebih tepatnya keramaian karena sesuatu. "Wah! Lihat! Apa itu! Sangat menyilaukan!" Ujar mereka sambil memandangi rumah itu.
Bersambung......
Hayo, silauan apa itu?
Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 52 Episodes
Comments
Hiu Kali
dahlah males nebak thor.. nunggu ajaah apdetanmuuh wes...
2022-09-14
2