Keadaan Darurat

Masih di ruangan yang bercat putih dengan masih kosong yang menjadi saksi bisu aksi tatap-tatapan itu.

"Aku tau aku cantik. Terpesona ya?" Hero segera memalingkan wajahnya dengan cepat.

"Tidak, GeEr sekali." Balas Hero.

"Tidak mau mengaku." Jill duduk di sebuah kursi plastik yang tersedia di sana sambil melihat Hero yang sedang membereskan peralatan dapurnya.

Jill mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan dan ketika akan melihat ke arah ruangan yang diyakini adalah kamar Hero .....

Brak! Brak! Brak!

Terdengar bunyi bersahutan antar lantai dengan benda aluminium itu membuat Jill segera menuju dapur dan melihat yang terjadi. Ternyata Hero sedang memaku dinding.

"Kenapa tidak panggil aku?" Tanya Jill sambil mengambil wajan yang terjatuh.

"Aku bisa sendiri." Balas Hero sambil kembali memaku.

"Bisa? Ini yang kau sebut bisa?" Ejek Jill sambil melihat tangan yang cukup kekar itu memukul dinding untuk menancapkan paku.

"Memangnya Tuan putri seperti mu bisa melakukannya? Kau mungkin tidak pernah ke dapur untuk mengambil makanan." Balas Hero di sela pekerjaan nya.

"Kau ini. Suka sekali menebak." Jill membalas sambil memberikan wajan pada Hero untuk digantungkan di dinding.

Saat Hero baru saja turun, terdengar suara mobil yang membuat ia segera melihat ke jendela dan langsung menuju keluar. "Apa dia menunggu seseorang?" Gumam Jill yang ikut menyusul Hero.

Saat sampai di halaman, hal yang Jill lihat adalah para pria yang berseragam toko menurunkan dan memasukkan berbagai barang seperti lemari, kursi dan meja serta yang lainnya. "Wah, kau belanja seperti habis menikah saja." Ujar Jill di samping Hero yang sibuk mengarahkan para pria itu.

"Terima kasih pak." Hero kembali masuk dan mendekati Jill yang sibuk menatap barang belanjaan nya.

"Memangnya hanya yang menikah saja membeli semua ini?" Tanya Hero balik.

"Tidak juga, tapi aku berpikiran seperti itu." Balas Jill. Karena rasa penasarannya, wanita cantik itu melangkah ke sebuah kardus yang menarik perhatiannya dan saat dibuka.

"Aaaaaa! Astaga!" Jill terperanjat saat tanpa sadar membuka kaleng kecil yang berisi warna melihat hal itu Hero segera bertindak tapi beberapa semprotan mengenai dirinya.

"Ohh, sh*it!" Ujar Hero saat melihat dirinya yang terkena cat berwarna biru.

"Maafkan aku. Aku pikir ...."

"Tidak apa, aku akan mandi. Kau duduk saja." Hero dengan cepat meninggalkan Jill dan masuk ke kamarnya. Jill merasa bersalah tetapi juga kesal pada kardus yang tak bernyawa itu.

"Siapa suruh meletakkan kaleng cat di sana!" Kesal Jill, ia kembali melihat beberapa barang yang dibeli Hero, dan juga meletakan barang yang ia rasa sesuai diletakkan di ruangan itu.

Merasa terlalu lama, wanita itu segera mengedarkan pandangannya ke kamar Hero. "Kenapa lama sekali? Bagaimana kalau aku lihat." Jill menembus dinding kamar Hero dan ia melihat sosok Hero yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan balutan handuk yang menutupi area keramatnya saja.

"Aaa ... Uuupsss!" Jill langsung menutup mulutnya segera agar tidak berteriak. Sungguh pemandangan yang menyegarkan mata Jill, tubuh Hero yang bagus meskipun tidak begitu kekar dipadukan dengan warna kulit Hero serta wajah tampannya membuat Jill ingin meledak.

"Astaga Jill, mimpi apa aku semalam. Aku mendapat hadiah jackpot!" Jill Mariah mengamati Hero yaitu perlahan mendekati rak bajunya dan bisa ditebak apa yang terjadi berikutnya. Jill langsung membalikkan badannya agar tidak melihat tubuh toples pria idamannya itu.

"Aku tidak bisa! Aku bisa gila! Jill! Kau seperti penjahat!" Gerutunya sambil menatap kulkas mini dihadapannya.

Sedangkan Hero yang asyik bersenandung tiba-tiba dikagetkan dengan sinar dari kuas dan kanvas nya. Belum sempat benda segitiga yang berfungsi menutupi belut keramatnya ia dibuat panik dengan sistem yang tiba-tiba muncul.

"Hei? Kenapa dia aktif?" Tanya Hero tanpa di sadari tubuhnya tidak berbalut apapun dan ia segera menatap kanvas miliknya yang tengah bersinar dengan tulisan Misi dadakan!

"Wah! Ada misi!" Bak anak kecil yang terhipnotis akan hadiah di sebuah game, Hero menekan tombol next dan langsung membaca misi yang akan ia jalankan. Sedangkan Jill yang berpikir Hero sudah berpakaian mencoba memanggil pria itu, tapi tidak ada sahutan karena terlena dengan sistem.

"Hero?" Panggil Jill, merasa kesal ia berbalik dan kembali memindai tapi yang ia terpaku dengan mata melotot dan ....

"Aaaaaaaa!!!!!!"

"Aaaaaaaa!!!!!"

Bersambung .....

Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!