"Gila kamu ya? Kamu baru saja mengotori mobilku! Awas kamu!"
........................................................
"Dasar bodoh! Lane tengah dibanjiri musuh. Seharusnya kau cepat datang dan membantuku! Kenapa kau malah main-main? Kau bisa baca situasi, tidak?"
Sambil duduk di sofa, mata Luis menatap ponselnya tanpa berkedip, jari-jarinya menekan layar dengan penuh nafsu untuk mengontrol karakter game-nya yang terus bergerak maju.
"Berani-beraninya kau menyalahkanku? Biar aku beri tahu! Walaupun peringkatku masih Berlian di game ini, peringkatku sudah Master kalau soal memprotes! Akan kutunjukkan! Kalau menurutmu tidak adil, kita main satu lawan satu! Akan kubiarkan kau bermain dengan satu tangan," semburnya.
Luis berhenti sejenak lalu melanjutkan bicara, "Dan berani-beraninya kau menyebutku bodoh?! Aku punya saran. Naik ke atas gedung dan lompatlah. Lalu sampaikan salamku untuk keluargamu. Jangan kira aku takut padamu!"
Dia melanjutkan omelannya selagi audionya menyala. Di saat yang sama, jemarinya tidak berhenti bergerak.
Dalam dua hari belakangan, Luis tidak melakukan hal lain selain bermain game di sofa. Saat lapar, ia tinggal memesan makanan dan minum minuman ding in. Yang perlu ia lakukan hanya menunggu uang datang.
Gedung No. 5 di Menara Adipati sudah direnovasi dengan gaya mewah dan siap disewakan kapan saja. Karena itulah, banyak orang yang tertarik. Sudah barang tentu orang-orang yang ingin menyewa unit di lokasi ini punya kondisi finansial yang kuat, sehingga biaya sewanya cukup mahal. Dalam beberapa hari, tabungan Luis sudah bertambah dua digit dan terus naik secara signifikan.
Dengan jumlah tabungannya sekarang, Luis bisa dianggap sebagai salah satu jutawan yang masih terbilang muda.
"Mbek-mbek, kambing hitam..."
Tepat saat dia hendak menyerang tempat yang lebih tinggi dalam game, ponselnya berdering dan layar beralih ke panggilan masuk. Dia pun otomatis keluar dari game.
Luis tertegun sejenak sebelum mengangkat telepon. Dia meraung, "Sebaiknya ini urusan penting. Kalau tidak, aku akan menghajarmu habis-habisan!"
Ronde yang ia mainkan tadi bisa menentukan peringkat barunya di game. Kalau dia kalah, peringkatnya akan turun dari Berlian ke Platinum, dan dia tidak akan lagi menjadi legenda di game itu.
"Halo, Tuan Nardo. Ini Lula. Apakah saya mengganggu?" tanya Lula embut.
"Kedengarannya dia sangat marah. Apa aku mengganggunya saat dia sedang..Tapi ini 'kan masih siang! Apa dia melakukannya di siang bolong? Aku sungguh tidak mengerti pola pikir orang kaya..." Lula berujar dalam hati.
"Oh, Nona Veyron rupanya."
Amarah Luis mereda karena ia tidak mungkin mengomeli wanita secantik Lula tanpa alasan. "Ada berita apa? Gara-gara telepon Anda, jangan-jangan saya kehilangan.."
"Kehilangan sekian juta? Maafkan saya!" Lula dengan cepat meminta maaf karena mengira bahwa Luis melakukan sesuatu yang tak bisa ia sebutkan.
Konon laki-laki tidak boleh diganggu saat tengah melakukan hal itu, atau mereka tidak akan bisa melakukannya lagi selamanya.
"Kehilangan sekian juta? Maksudnya apa?" Luis tercengang.
Namun, seketika ia pun paham. "Nona Veyron, tak disangka Anda bisa berpikir seperti itu! Saya pikir Anda gadis manis yang lugu, tetapi Anda sebenarnya tahu banyak hal, bukan?" pikirnya.
Sambil menarik napas dalam-dalam, dengan tegas ia berkata, "Begini, tadi saya sedang bermain game, dan peringkat saya mungkin turun ke Platinum karena Anda menelepon saya."
"Oh... mungkin lain kali kita bisa bermain bersama. Saya bisa membantu Anda," jawab Lula. Dia merasa lega karena tak tahu harus berkata apa jika Luis benar-benar melakukan hal yang dia bayangkan.
"Tidak usah, terima kasih. Saya khawatir Anda malah akan mengacaukannya." Luis langsung menolak tawarannya. Menurutnya, perempuan hanya akan merusak permainan.
Dulu, agar bisa naik peringkat di dalam game, dia menemukan seorang gadis di media sosial untuk bermain bersama. Namun, gadis itu tak bisa apa-apa selain memanggilnya tam pan selama bermain game. Pada akhirnya, dia sampai rugi seratus koin dan kehilangan sepuluh bintangnya. Gara-gara itu, Luis susah hati.
Gadis itu lalu meminta kontak WhatsApp-nya dan berniat untuk mendiskusikan game bersama. Tanpa ragu, Luis menolak sambil membatin, "Jangan konyol! Kau kelewat payah dalam bermain game. Kau pikir aku sudi bermain denganmu lagi?!"
Sejak saat itu, Luis berprasangka buruk terhadap gadis-gadis yang bermain game. Dia berasumsi bahwa gadis-gadis yang punya peringkat tinggi dalam game tidak mendapatkannya seorang diri. Kemungkinan besar mereka menyebut laki-laki dengan sebutan tampan selama bermain agar mereka mau membantu menaikkan peringkatnya.
"Peringkat saya Master," ujar Lula dengan percaya diri.
Dia mungkin tidak pandai bermain game lain, tetapi dia sangat percaya diri kalau sudah menyangkut "Aliansi Hero".
"Berapa banyak pria yang Anda sebut tampan untuk mendapatkan peringkat Master?" tanya Luis dengan datar.
"Gara-gara orang seperti Anda, saya jadi kesulitan untuk rank up! Level kita tidak sama tetapi kita terpaksa bermain bersama. Sungguh menjengkelkan! Anda seharusnya bermain dengan peringkat Perunggu jika Anda tidak semahir itu, paham?" Dia mengerang pelan-pelan.
Bahkan di papan pengumuman pernah ada seorang pemain wanita yang menjadikan tubuhnya sebagai hadiah jika ada yang mau membantu menaikkan peringkatnya menjadi Master. "Konyol! Zaman sekarang, orang-orang sudah miskin adat dan moral!" teriak Luis dalam hati saat melihatnya.
Lula yang sedang minum hampir mati tersedak saat mendengarnya.
"Apa maksud ucapannya? Apakah aku terlihat seperti tipe perempuan yang senang memanggil laki-laki tampan dengan suara menjijikkan? Aku ini pemain game sungguhan!" pikirnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 111 Episodes
Comments
Claire
women is beban , haha
Women☕
2022-10-04
1