Tidak Suka Gigolo

Dia sudah muak dengan lagu-lagu perpisahan yang bahagia. "Tidak mungkin aku putus sebelum jatuh cinta, 'kan?" pikirnya.

............................................

Si pelayan tidak berkata apa-apa lagi. Di tempat seperti ini, uang adalah raja. Selain itu, para pelanggan yang sudah memberi tip sebaiknya tetap dibuat senang.

Begitu lagu-lagu permintaan Luis diputar, bar yang semula ramai mendadak menjadi damai.

Namun, suasana kembali meriah ketika sebuah lagu cinta dimainkan.

Uhuk! Luis yang baru saja menyesap bir langsung tersedak.

"Apa-apaan itu?" Lula memutar bola matanya.

"Kalau kamu tidak mau mendengarkan lagu-lagu seperti itu, tidur saja sana.

"Sulit dipercaya," ujar Luis kesal. Bagaimanapun, dia harus terlihat baik di depan seorang wanita cantik. Jadi, dia melambaikan tangannya untuk memberi isyarat kepada pelayan. "Pub ini tutup jam berapa?"

"Jam 3 pagi, Tuan," pelayan itu menjawab dengan sopan.

Luis memberinya beberapa ratus dolar dan meminta diputarkan sepuluh lagu sampai-sampai pelayan itu terpesona.

"Pilihkan lagu perpisahan bahagia yang bisa diputar terus-menerus sampai jam 3 pagi," kata Luis sambil mengeluarkan kartu dan melemparkannya ke atas meja.

"Kamu yakin ini sepadan? Menghabiskan begitu banyak uang demi lagu. Lula terheran-heran karena ia merasa seperti sedang menghadapi anak kecil. Anak orang kaya pula.

Dengan ribuan dolar, ada cukup lagu yang bisa diputar berulang-ulang sampai tempat itu tutup. Bahkan manajer di perusahaan real estate tempat Lula bekerja hanya digaji 6.000 dolar sebulan.

"Bagiku, ini menyenangkan." Luis menyeringai lebar. Ribuan dolar tidak berarti apa-apa baginya.

"Bawakan bir ke semua meja. Biar saya yang bayar."

"Baik, Tuan." Pelayan itu mengangguk dengan cekatan.

Mungkin karena kemurahan hati Luis, beberapa orang datang untuk memulai percakapan.

Terlihat dua wanita dan seorang pria. Kedua wanita itu bertubuh tinggi dan tetap terbilang cantik meskipun tidak semenawan Lula. Yang pria mengenakan pakaian kasual berwarna hitam. Rambutnya dicat kelabu, dan dia tampak jauh lebih tampan daripada Luis.

Ketiga orang itu melirik ke arah bilik dan seketika mengabaikan Luis yang berpakaian lusuh. Mereka memusatkan perhatian pada Lula karena mengira dialah yang mentraktir mereka. Seorang pemuda lekas bertanya, "Hai cantik, kalian berdua Saja?"

"Duduklah lebih jauh."

Melihat pria tampan itu semakin mendekat, ekspresi wajah Lula seketika menjadi dingin. Sejak awal, dia memang bukan tipe orang yang suka berbicara. "Selain itu, saya juga tidak suka gigolo."

"Nona, tidakkah itu sedikit berlebihan?"

Nada bicara Anton Wilis juga berubah menjadi dingin. Memang benar bahwa mereka Sering mengunjungi bar, tetapi mereka bukanlah gigolo ataupun pria hidung belang. Mereka umumnya di sana hanya sebagai teman minum, dan mereka mendapatkan komisi dari pekerjaan tersebut. Biasanya, semakin banyak minuman keras yang dibeli di kamar pribadi, semakin banyak komisi yang mereka peroleh.

Adapun mengenai apa yang terjadi di luar itu, itu tergantung pada situasinya. Apa ada ketertarikan atau tidak, apakah pelanggan berpenampilan menarik atau tidak, apakah obrolan mereka berlangsung baik atau tidak. Tentu saja, yang terpenting adalah seberapa tebal dompet si pelanggan.

Jadi di mata mereka, mereka bukan gigolo atau semacamnya. Mereka tidak bergantung pada penjualan tubuh mereka untuk mendapatkan uang.

Dua gadis lainnya ragu-ragu sejenak sebelum mereka duduk di samping kiri dan kanan Luis, tapi mereka tidak mendekat. Bagaimanapun juga, Luis tampak biasa saja. Dia tidak terlihat seperti orang kaya.

"Jadi, Anda ingin saya mengatakan apa?" Lula menyipitkan matanya, sekilas terlihat kilatan dingin.

Meskipun dia tidak punya pacar, Lula tidak kesulitan mendapatkan teman pria. Ada berbagai jenis pria di sekitarnya yang tertarik padanya. Hanya dengan jentikan jarinya, dia mampu membuat mereka semua mengantre untuknya. Jika dia benar-benar menginginkan teman pria, dia tidak perlu mencari gigolo.

"Anton, Nona ini adalah teman Nona Keysia." Salah seorang pelayan muncul entah dari mana dan berbicara padanya.

"Nona Keysia" yang dia maksud adalah Keysia Oscar, pemilik bar ini. Fakta bahwa dia bisa membuka bar kelas atas di kota yang mahal ini adalah bukti koneksinya yang luas dan kemahiran berbisnisnya.

Anton tertegun untuk beberapa saat. Tentu saja dia tahu siapa Keysia. Semua orang tahu Keysia. Namun, Anton bukanlah siapa-siapa baginya, dan dia tidak menyangka bahwa Lula adalah temannya.

Tidak heran cara berbicara Lula begitu tegas.

"Tuan." Pelayan itu tersenyum. Tanpa banyak bicara, dia mengembalikan kartu Luis padanya. Secara tidak langsung, dia mengisyaratkan kepada Anton dan yang lainnya bahwa mereka telah salah mengidentifikasi pelanggan kaya. Pemuda yang terlihat biasa ini adalah pelanggan mereka yang sebenarnya.

Meskipun tempat ini adalah bar mewah, tidak banyak orang yang bisa menghabiskan uang sebanyak yang dihabiskan oleh Luis dalam satu malam dengan begitu santainya.

Anton menarik diri dari kamar pribadi itu sambil tertawa canggung. Dia paham bahwa karena Luis adalah pelanggan kelas kakap, Lula mungkin menghibur Luis menggantikan dia.

Sementara itu, kedua gadis yang menemani Francis menatap Luis dengan ekspresi berseri-seri, seolah ingin menelannya bulat-bulat. Anton tidak percaya bahwa pria yang tampak biasa-biasa saja ini sebenarnya sangat luar biasa.

"Tuan, ayolah. Bagaimana kalau minum segelas?"

Salah seorang gadis jangkung berdiri dan mengambil sebotol red wine dari meja. Tatapan matanya genit.

Dia pasti punya rencana sendiri. Luis tidak kekurangan uang. Asalkan mereka bisa menahannya di sini semalaman, mereka akan bisa mendapatkan komisi yang tinggi.

Episodes
1 Membeli Gedung
2 Kamu Membeli Gedung?
3 Tidak Ada Yang Percaya
4 Kopi
5 Disewakan
6 Makan Malam
7 Sangat Kaya?
8 Kehilangan Sekian Juta?
9 Sisakan 1 unit untukku
10 Semuanya Tidak Penting
11 Bisa Membeli Kapan Saja
12 Dasar Orang Kaya
13 Tipikal Pecandu Game
14 Tidak Suka Gigolo
15 Batas Belanja Harian
16 Membeli 10% Saham
17 Pantas Saja Dia Jomblo
18 Belanja
19 Lia Wijaya
20 Lia Wijaya
21 Prioritas Dalam Pernikahan
22 Terlalu Sedikit
23 Tapi Itu Benar
24 Kamu Rasa?
25 Kamu kan Sangat Kaya!
26 Tabrak Lari
27 Kamu Sudah Gila?
28 Mengumpulkan Uang
29 Meminjam Uang
30 Dokter Spesialis
31 Hadiah Langka
32 Kamu Cemburu?
33 Liontin Giok
34 Kamu Terlalu Banyak Minum
35 Aku Dimana?
36 Gurami Goreng
37 Ginseng Liar
38 Dimana Alamat Restoranmu?
39 Membeli Restoran
40 Perpisahan
41 Sungguh Menakutkan
42 Negoisasi
43 Jauh Melampaui Dugaan
44 Ginseng Itu Mirip Wortel
45 Awas Kau
46 Pelanggan Tetap
47 Cinta atau Kekayaan
48 Hazel
49 Dia Direktur?
50 Kunjungan Keluarga
51 Tidak Terlalu Mahal
52 Kontribusi Pada Garis Keturunan
53 Sahabat?
54 Mengacaukan
55 55
56 56
57 57
58 58
59 59
60 60
61 61
62 62
63 63
64 64
65 65
66 66
67 67
68 68
69 69
70 70
71 71
72 72
73 73
74 74
75 75
76 76
77 77
78 78
79 79
80 80
81 81
82 82
83 83
84 84
85 85
86 86
87 87
88 88
89 89
90 90
91 91
92 92
93 93
94 94
95 95
96 96
97 97
98 98
99 99
100 100
101 101
102 102
103 103
104 104
105 105
106 106
107 107
108 108
109 109
110 110
111 111
Episodes

Updated 111 Episodes

1
Membeli Gedung
2
Kamu Membeli Gedung?
3
Tidak Ada Yang Percaya
4
Kopi
5
Disewakan
6
Makan Malam
7
Sangat Kaya?
8
Kehilangan Sekian Juta?
9
Sisakan 1 unit untukku
10
Semuanya Tidak Penting
11
Bisa Membeli Kapan Saja
12
Dasar Orang Kaya
13
Tipikal Pecandu Game
14
Tidak Suka Gigolo
15
Batas Belanja Harian
16
Membeli 10% Saham
17
Pantas Saja Dia Jomblo
18
Belanja
19
Lia Wijaya
20
Lia Wijaya
21
Prioritas Dalam Pernikahan
22
Terlalu Sedikit
23
Tapi Itu Benar
24
Kamu Rasa?
25
Kamu kan Sangat Kaya!
26
Tabrak Lari
27
Kamu Sudah Gila?
28
Mengumpulkan Uang
29
Meminjam Uang
30
Dokter Spesialis
31
Hadiah Langka
32
Kamu Cemburu?
33
Liontin Giok
34
Kamu Terlalu Banyak Minum
35
Aku Dimana?
36
Gurami Goreng
37
Ginseng Liar
38
Dimana Alamat Restoranmu?
39
Membeli Restoran
40
Perpisahan
41
Sungguh Menakutkan
42
Negoisasi
43
Jauh Melampaui Dugaan
44
Ginseng Itu Mirip Wortel
45
Awas Kau
46
Pelanggan Tetap
47
Cinta atau Kekayaan
48
Hazel
49
Dia Direktur?
50
Kunjungan Keluarga
51
Tidak Terlalu Mahal
52
Kontribusi Pada Garis Keturunan
53
Sahabat?
54
Mengacaukan
55
55
56
56
57
57
58
58
59
59
60
60
61
61
62
62
63
63
64
64
65
65
66
66
67
67
68
68
69
69
70
70
71
71
72
72
73
73
74
74
75
75
76
76
77
77
78
78
79
79
80
80
81
81
82
82
83
83
84
84
85
85
86
86
87
87
88
88
89
89
90
90
91
91
92
92
93
93
94
94
95
95
96
96
97
97
98
98
99
99
100
100
101
101
102
102
103
103
104
104
105
105
106
106
107
107
108
108
109
109
110
110
111
111

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!