Luiis dengan santai menjawab, "Biasanya, saya minum kopi biasa di kedai kopi."
..........................................................
Baginya, kopi yang disajikan di kedai kopi itu harganya terjangkau. Dia tidak akan keberatan selama rasa kopinya tidak parah.
Lula tercengang mendengar jawaban yang tak terduga. Untuk sesaat, dia terdiam.
"Nona Veyron."
Saat itu, seseorang mengetuk pintu, memecahkan suasana canggung.
"Masuk," jawabnya cepat.
"Untungnya, aku punya penyelamat! Kalau tidak, aku tidak tahu lagi bagaimana melanjutkan percakapan! " Lula merenung.
Seorang wanita dalam setelan bisnis formal memasuki ruangan, tampak sedikit khawatir. Dia adalah Kelly. "Nona Veyron, Anda ingin bertemu dengan saya?"
"Perkenalkan, ini Tuan Nardo. Dia adalah pemilik yang tadi bicara denganmu Ada yang ingin kamu sampaikan kepadanya?" Kemudian, Lula berhenti dan menoleh ke Nardo. "Tuan Nardo, ini Kelly. Sebelumnya, dia yang berbicara dengan Anda di telepon. Tolong jangan dimasukkan ke hati."
Mata Kelly langsung memerah. Dia membungkuk dan meminta maaf, "Saya sangat menyesal!"
Kelly berpikir dia mungkin kehilangan pekerjaannya karena menyinggung Luis, pemilik gedung di Menara Adipati. Apalagi, Lula mengatakan pria itu berhubungan dengan kantor pusat.
Luis sengaja memasang ekspresi bingung di wajahnya "Hah? Kapan dia menyinggung saya? Saya tidak ingat hal yang seperti itu."
Secara teknis, itu memang hanya insiden kecil. Luis tidak terlalu mempermasalahkannya. Apalagi dia tidak ingin keluhannya membuat Kelly kehilangan pekerjaan. Tidak diragukan lagi, perusahaan ini pasti akan memprioritaskan pelanggan utama seperti dia daripada seorang karyawan junior.
Dunia memang tidak permah adil dan tidak akan pernah adil.
Terkejut dengan tanggapannya, Kelly dengan cepat menjawab, "Terima kasih banyak, Tuan Nardo!"
"Kamu bisa pergi sekarang," kata Lula lega.
Awalnya, dia khawatir Luis tidak akan membiarkan insiden itu berlalu. Jika itu terjadi, segalanya bisa menjadi buruk.
Begitu Kelly meninggalkan ruangan, Lula berkata, "Anda betul-betul seorang pemaaf, Tuan Nardo."
Lula pernah mengalami insiden serupa di masa lalu. Namun, biasanya kejadian seperti ini tidak berakhir dengan baik.
Karena itu, dia mengira Luis akan marah. Yang mengejutkannya, dia bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Luis tersenyum. "Semua orang berjuang untuk mencari nafkah. Saya tidak tertarik untuk menempatkannya dalam posisi yang sulit." Kemudian, dia mengambil cangkir yang baru saja disi ulang Lula dan menghabiskan kopinya.
Setelah sedikit basa-basi, Lula akhirnya bertanya, "Tuan Nardo, Anda tadi mengatakan bahwa ada yang perlu didiskusikan. Apa itu?"
"Benar. Saya ingin menyewakan properti saya. Lagi pula, ada lebih dari 60 unit. Tidak mungkin bagi saya untuk menempati semuanya."
"Menyewakan?" Lula bingung. "Maafkan saya. Boleh saya tahu alasan Anda membeli seluruh blok jika tidak berniat menggunakannya?"
Awalnya, dia mengira Luis akan mengubah menara itu menjadi asrama karyawan. Asumsi itu konyol, tapi mungkin saja.
Luis mengusap kepalanya dan menjawab, "Sepertinya saya tidak berpikir jernih."
Sebenarnya, itu memang kesalahan besar baginya. Dia tidak menyangka akan benar-benar mendapatkan menara itu hanya dengan mengetuk teleponnya. Jika bisa kembali ke masa lalu, Luis tidak akan pernah membeli gedung ini, bahkan hanya dengan 150 dolar. Rupanya, pilihan itu adalah yang terburuk dibandingkan dengan dua gedung lain di Menara Adipati.
Terkejut dengan jawabannya, Lula berpikir, "Apa? Saya tidak pernah bisa memahami pikiran orang kaya!"
Lula menjawab tanpa daya, "Kami dapat membantu Anda dalam menyewakan properti Anda. Itu bisa dilakukan dalam waktu singkat."
Menara Adipati adalah area pemukiman yang populer. Banyak orang tertarik untuk menyewa apartemen. Namun, tidak ada unit yang tersedia karena orang-orang yang mampu membeli properti di sini tidak peduli dengan sewa-menyewa.
Untungnya, Luis ada di sini untuk menyewakan seluruh menara Dengan cara ini, dia bisa dengan mudah menyelesaikan masalahnya.
Luis menyeringai dan bertanya, "Oh ya, apakah ada insentif jika kita berkolaborasi?"
Jelas, Luis tidak perlu datang jauh-jauh ke sini jika dia benar-benar ingin menyewakan menara. Dia bisa melakukannya melalui iklan online.
Lula merenung, "Dia mampu membeli gedung itu, tapi dia masih peduli dengan uang receh?"
Tetap saja, dia tersenyum dan menjelaskan, "Saya perlu meminta izin dari kantor pusat mengenai insentif. Bagaimanapun, ini menyangkut seluruh gedung"
Lula bisa membuat keputusan jika berkaitan dengan beberapa unit. Namun, jumlah uangnya terlalu besar jika mencapai lebih dari 60 unit.
Lula menutup telepon saat dia berjalan keluar dari ruangannya, tersenyum lebar. "Tuan Nardo, saya sudah bernegosiasi dengan kantor pusat, dan mereka bisa memberi Anda potongan 50 persen dari biaya real estate jika Anda mau membelinya dari kami."
Jantung Luis berdetak kencang. Dia tahu biaya untuk properti bergengsi seperti ini akan mahal, terutama jika dia memiliki 64 unit.
"Potongan 50 persen dari biaya real estate untuk 64 unit akan membuatku berhemat 15 ribu dolar. Sungguh bisnis yang royal," pikirnya.
Padahal, sebagian besar disebabkan oleh status Luis sebagai pemilik gedung. Perusahaan real estate itu ingin mempertahankan klien kaya seperti dirinya, dan tertarik untuk terlibat dalam transaksi-transaksi lain di masa depan.
Oleh karena itu, kehilangan 15 rilbu dolar bukanlah masalah besar bagi mereka walaupun hanya untuk membuat klien mereka senang.
"Oke, saya ambil." Luis mengangguk tanpa ragu lagi. Dia tahu dia bisa memotong biaya lebih banyak lagi jika mau, tetapi dia sudah tidak peduli lagi. Bagaimanapun, dia sekarang adalah seorang pemilik aset bernilai jutaan, walaupun saldo rekening banknya tidak sampai 8.000 dolar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 111 Episodes
Comments
Hades Riyadi
Like 💪👍👍
2022-09-25
0