Makan Malam

"Oke, saya ambil." Luis mengangguk tanpa ragu lagi. Dia tahu dia bisa memotong biaya lebih banyak lagi jika mau, tetapi dia sudah tidak peduli lagi. Bagaimanapun, dia sekarang adalah seorang pemilik aset bernilai jutaan, walaupun saldo rekening banknya tidak sampai 8.000 dolar.

.................................................

"Baiklah. Silakan duduk. Saya akan meminta rekan kerja saya menyiapkan dokumen-dokumennya," jawab Lula. Jika berhasil, ini akan menjadi pencapaian terbesar baginya.

Kantor tiba-tiba menjadi sibuk saat mereka menyiapkan kontrak. Sementara itu, Luis duduk di sofa, tanpa berpikir panjang memainkan game di ponselnya.

Saat semua kontrak selesai ditandatangani, hari sudah gelap di luar, dan sebagian besar karyawan telah meninggalkan kantor.

"Terima kasih atas kerja keras Anda hari ini, Nona Hayes karena sudah gelap, apakah Anda ingin makan malam? Saya akan traktir," kata Luis saat mereka berjalan keluar dari perusahaan real estate.

Lula terkekeh. "Tentu, saya akan merasa terhormat."

Luis tiba-tiba menjadi canggung karena dia hanya berbasa-basi dan mengira Lula akan menolak tawarannya.

Sementara Lula tidak menyadarinya karena dia selalu mendapat undangan makan bersama dari banyak orang. Namun, dia jarang menerima tawaran mereka. Jika bukan karena kesepakatan besar yang baru saja ditandatangani Luis, dia tidak akan pernah setuju untuk makan dengannya.

"'Silakan, Tuan Nardo."

Begitu mereka tiba di tempat parkir, Lula mengeluarkan kuncinya, membuka BMW merahnya.

"Apakah aku harus menunjukkan jalan ke sana dengan naik bus? Aku ragu apakah cara ini akan berhasil." Luis memutar bola matanya dan berpikir, "Atau haruskah aku berlari saja sambil menunjukkan jalan padanya? Apakah dia tidak berpikir?"

"Hah? Anda tidak membawa mobil hari ini?" Lula tercengang.

"Saya belum punya mobil," kata Luis acuh tak acuh.

"Sepertinya aku akan mendapatkan tumpangan gratis dengan BMW hari ini dan menghemat uang taksi," pikir Luis.

Lula dengan canggung tersenyum dan melompat ke dalam mobil. Dia masih tidak percaya apa yang dikatakan Luia. "Untuk seseorang yang baru saja membeli satu gedung seharga jutaan dolar atas nama sendiri, dia bilang tidak punya mobil?" Lula merenung.

Bagaimanapun, Lula tidak akan pernah tahu bahwa Luis hanya membayar 150 dolar untuk membeli satu gedung.

Luis memandangi langit kota yang penuh lampu saat mereka melewati kemacetan lalu lintas di Jamarta. Dia pun menghela nafas. "Banyak yang berubah, ya? Sudah lama sekali sejak teralkhir kali saya melihat Jamarta di malam hari."

Lula tertawa kecil. "Benarkah? Bagi saya rasanya sama saja setiap hari. Oh ya, apa maksud Anda dengan sudah lama?"

"Bukankah pemandangannya selalu sama?" dia bertanya-tanya. "Saya melihat hal yang sama setiap hari sepulang kerja."

"Saya sudah lama tidak keluar," kata Luis.

Dia hampir tidak bisa keluar di siang hari, apalagi di malam hari. Biasanya, dia akan bermain game pada jam ini.

Lula terkejut, tapi dia tetap diam dan fokus mengemudi. Mereka segera tiba di kawasan tua, sesuai arahan Luis.

Lingkungan itu ramai pada malam hari ketika para pedagang mulai mendirikan kios mereka, dan kerumunan orang berbaur dengan aroma makanan jalanan.

"Makan di sini?" Lula tercengang.

Dia selalu diundang untuk makan di hotel bintang lima atau restoran kelas atas. Ini adalah pertama kalinya dia diajak makan ke tempat seperti itu.

Dia hampir tidak ingat kapan terakhir kali menyantap makanan dari pedagang kaki lima. Sejak mulai bekerja, dia lambat laun terbiasa dengan santapan mewah dan tidak pernah melihat ke masa lalu.

"Ada apa? Kurang cocok untuk Anda?" Luis turun dari mobil dan berkata, "Jika Anda tidak terbiasa makan di tempat seperti ini, saya akan makan malam sendiri saja."

Ada dua alasan Luiis memilih makan di sana: Pertama, harganya terjangkau, dan rasanya enak. Kedua, karena dekat rumah. Dia bisa pulang jalan kaki setelah makan malam.

Lula agu-ragu sejenak sebelum turun dari mobil. Dia memutuskan untuk menunjukkan rasa hormat kepada Luis agar tidak dipandang buruk.

Luis langsung pergi mencari warung kaki lima favoritnya dan duduk. "Tuan Santiago, saya pesan dua, seperti biasa," teriak Luis.

"Segera datang." Tuan Santiago seorang pria paruh baya yang tinggi dan ramping. Dia memandang Lula, yang duduk di sebelah Luis dan terkekeh sendiri. "Pasti pacarnya," pikirnya.

Setelah beberapa saat, dua mangkuk sup daging sapi disajikan kepada mereka, dengan delapan lumpia di sampingnya.

Sup daging sapi yang harum itu disajikan dengan wortel dan kentang, sedangkan lumpia digoreng hingga keemasan.

Luis, yang sudah kelaparan, langsung mengambil sesendok sup daging sapi dan sepotong lumpia daging sapi.

Lumpianya garing di luar tapi lembut di dalam. Satu gigitan, dan rasa daging giling meledak di mulutnya. Dipadukan dengan sup daging sapi jadi makin nikmat.

Dia menelan makanan seperti belum makan selama berhari-hari. "Sulit dipercaya orang sekaya dia makan seperti orang biadab," pikir Lula.

Sesaat kemudian, Luis menyadari Lula belum makan dan bertanya, "Kenapa Anda tidak makan?"

"Oh, saya mau makan. Anda membuatnya terlihat sangat lezat sehingga saya hampir lupa memakannya sendiri." Lula tertawa canggung saat dia mengambil sendok dan membungkus salah satu lumpia daging sapi yang renyah dengan kertas tisu.

Dia menggigit lumpia daging sapi dan menyeruput sup daging sapi panas lalu berpikir, "Rasanya jauh lebih enak daripada semua santapan mewah yang pernah aku coba."

Terpopuler

Comments

Hades Riyadi

Hades Riyadi

always Like 💪👍👍

2022-09-25

0

lihat semua
Episodes
1 Membeli Gedung
2 Kamu Membeli Gedung?
3 Tidak Ada Yang Percaya
4 Kopi
5 Disewakan
6 Makan Malam
7 Sangat Kaya?
8 Kehilangan Sekian Juta?
9 Sisakan 1 unit untukku
10 Semuanya Tidak Penting
11 Bisa Membeli Kapan Saja
12 Dasar Orang Kaya
13 Tipikal Pecandu Game
14 Tidak Suka Gigolo
15 Batas Belanja Harian
16 Membeli 10% Saham
17 Pantas Saja Dia Jomblo
18 Belanja
19 Lia Wijaya
20 Lia Wijaya
21 Prioritas Dalam Pernikahan
22 Terlalu Sedikit
23 Tapi Itu Benar
24 Kamu Rasa?
25 Kamu kan Sangat Kaya!
26 Tabrak Lari
27 Kamu Sudah Gila?
28 Mengumpulkan Uang
29 Meminjam Uang
30 Dokter Spesialis
31 Hadiah Langka
32 Kamu Cemburu?
33 Liontin Giok
34 Kamu Terlalu Banyak Minum
35 Aku Dimana?
36 Gurami Goreng
37 Ginseng Liar
38 Dimana Alamat Restoranmu?
39 Membeli Restoran
40 Perpisahan
41 Sungguh Menakutkan
42 Negoisasi
43 Jauh Melampaui Dugaan
44 Ginseng Itu Mirip Wortel
45 Awas Kau
46 Pelanggan Tetap
47 Cinta atau Kekayaan
48 Hazel
49 Dia Direktur?
50 Kunjungan Keluarga
51 Tidak Terlalu Mahal
52 Kontribusi Pada Garis Keturunan
53 Sahabat?
54 Mengacaukan
55 55
56 56
57 57
58 58
59 59
60 60
61 61
62 62
63 63
64 64
65 65
66 66
67 67
68 68
69 69
70 70
71 71
72 72
73 73
74 74
75 75
76 76
77 77
78 78
79 79
80 80
81 81
82 82
83 83
84 84
85 85
86 86
87 87
88 88
89 89
90 90
91 91
92 92
93 93
94 94
95 95
96 96
97 97
98 98
99 99
100 100
101 101
102 102
103 103
104 104
105 105
106 106
107 107
108 108
109 109
110 110
111 111
Episodes

Updated 111 Episodes

1
Membeli Gedung
2
Kamu Membeli Gedung?
3
Tidak Ada Yang Percaya
4
Kopi
5
Disewakan
6
Makan Malam
7
Sangat Kaya?
8
Kehilangan Sekian Juta?
9
Sisakan 1 unit untukku
10
Semuanya Tidak Penting
11
Bisa Membeli Kapan Saja
12
Dasar Orang Kaya
13
Tipikal Pecandu Game
14
Tidak Suka Gigolo
15
Batas Belanja Harian
16
Membeli 10% Saham
17
Pantas Saja Dia Jomblo
18
Belanja
19
Lia Wijaya
20
Lia Wijaya
21
Prioritas Dalam Pernikahan
22
Terlalu Sedikit
23
Tapi Itu Benar
24
Kamu Rasa?
25
Kamu kan Sangat Kaya!
26
Tabrak Lari
27
Kamu Sudah Gila?
28
Mengumpulkan Uang
29
Meminjam Uang
30
Dokter Spesialis
31
Hadiah Langka
32
Kamu Cemburu?
33
Liontin Giok
34
Kamu Terlalu Banyak Minum
35
Aku Dimana?
36
Gurami Goreng
37
Ginseng Liar
38
Dimana Alamat Restoranmu?
39
Membeli Restoran
40
Perpisahan
41
Sungguh Menakutkan
42
Negoisasi
43
Jauh Melampaui Dugaan
44
Ginseng Itu Mirip Wortel
45
Awas Kau
46
Pelanggan Tetap
47
Cinta atau Kekayaan
48
Hazel
49
Dia Direktur?
50
Kunjungan Keluarga
51
Tidak Terlalu Mahal
52
Kontribusi Pada Garis Keturunan
53
Sahabat?
54
Mengacaukan
55
55
56
56
57
57
58
58
59
59
60
60
61
61
62
62
63
63
64
64
65
65
66
66
67
67
68
68
69
69
70
70
71
71
72
72
73
73
74
74
75
75
76
76
77
77
78
78
79
79
80
80
81
81
82
82
83
83
84
84
85
85
86
86
87
87
88
88
89
89
90
90
91
91
92
92
93
93
94
94
95
95
96
96
97
97
98
98
99
99
100
100
101
101
102
102
103
103
104
104
105
105
106
106
107
107
108
108
109
109
110
110
111
111

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!