2 - Masalah Besar

Negeri Nirwana Bumi terletak di tengah-tengah Negeri Elang Bulan dan Negeri Rubah Merah. Setiap Negeri memiliki segel pelindung sendiri untuk keamanan dan memiliki ciri khas masing-masing. Bukan hanya itu, bahkan di masing-masing Negara memiliki organisasi Aliran Putih dan Hitam. Namun, kebanyakan organisasi hitam berada di Negeri Rubah Merah. Tidak heran jika Negeri Rubah Merah mendapat julukan Negeri Manusia Darah Merah. Sementara kedua Negeri lainnya kebanyakan dari Aliran Putih. Ketiga Negeri tidak jarang berselisih dan melakukan perang, tetapi akhir-akhir ini mereka cukup tenang, tidak ada perang. Bukan tanpa alasan mereka tidak melakukannya, sebab ada suatu peristiwa di mana ketiga Negeri harus bekerja sama untuk melenyapkan makhluk dari dunia lain.

Negeri Nirwana Bumi, Negeri yang terkenal dengan kekuatan alam murni. Jika dibandingkan kekuatan menyerap kekuatan dari alam, maka orang-orang Negeri Nirwana Bumi lah yang dengan mudah melakukan. Jadi orang-orang dari Negeri tersebut cukup diwaspadai.

Untuk mendidik para pemuda, setiap negeri memiliki tempat belajar kekuatan. Termasuk di kota Awan Langit di Negeri Nirwana Bumi, ada satu sekolah paling besar di antara sekolah kota lainnya. Bukan hanya sekolahnya yang besar, tetapi para murid-muridnya juga berbakat.

Para Tetua dan Guru Sekolah Akademik Magic Awan Langit sangat telaten mendidik para murid. Walaupun begitu, tetap saja masih ada murid yang memberontak dan nakal.

Di gedung paling tinggi sekolah Akademi Magic Awan Langit, seorang murid berseragam khas sekolah tersebut

baru saja mendarat dengan napas tersenggal-senggal di depan ruangan para guru. Murid laki-laki itu ditanya oleh Murid Penjaga.

"Hei, kau kenapa?"

Murid dengan napas ngos-ngosan itu menarik napas dan menghembuskannya perlahan sebelum mengatakan masalahnya.

"S-senior, di lapangan latihan ada dua orang yang bertarung."

Murid Penjaga menaikkan sebelah alisnya. Tempat lapangan latihan memang diperuntukkan untuk melakukan latihan pertarungan. Lalu mengapa juniornya ini malah melaporkan hal biasa?

Melihat raut wajah seniornya, murid itu mengatakan bahwa yang bertarung bukanlah salah satu murid dari sekolah Akademi Magic Awan Langit. Mendengarnya membuat murid penjaga tersentak. Bagaimana bisa ada orang yang tidak tahu malu nya bertarung di sekolah ini?!

"Kau pergilah, aku akan mengatakan hal ini pada guru."

Murid yang mengantarkan informasi langsung memberi hormat, kemudian pergi keluar untuk kembali melihat pertarungan dua orang asing.

BAAM!

Suara debaman keras terdengar, bahkan sampai membuat tanah retak besar. Satu perempuan berumur sekitar 14 tahun yang menggunakan rambutnya baru saja menghantam tanah dengan tatapan yang kesal karena lawan terus menghindar.

Para murid sekolah Magic Awan Langit tidak bisa melakukan apa pun karena mereka merasa tidak mampu mengimbangi kekuatan kedua orang asing itu. Para senior di sini tengah melakukan misi, sementara yang sekarang melihat pertarungan sengit itu hanyalah junior yang baru memasuki Tingkat Dasar. Mereka melihat dari jarak cukup jauh, walaupun begitu efek serangan masih mengenai mereka.

"Hei, apa kau sudah melaporkan ini pada guru?!"

Murid perempuan yang melihat murid melaporkan hal ini baru saja sampai. Dia mengangguk sebagai jawaban. Tatapannya tertuju pada angin yang semula kecil malah semakin membesar, apalagi dengan abu dari pepohonan turut menjadi penghalang pandangan mereka.

"Menghindar ...!"

Angin beserta abu dari pepohonan semakin membesar, berdampak pada pepohonan yang tertancap kuat di tanah malah turut terbang terbawa angin yang seperti mengelilingi bocah perempuan yang sekarang tengah melindungi diri dengan rambut panjang mengelilingi dirinya bagai tembok penghalang angin.

Blaar!

Angin tersebut tiba-tiba saja menyebar ke segala arah, membuat para murid yang tidak kuat membuat segel pelindung langsung terpental sejauh lima belas meter. Bahkan salah satu gedung bergetar hebat membuat penghuninya tersentak dan segera keluar mecari tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Tetua Haki, dan Guru Kawi yang baru saja melihat kekuatan besar tersebut terkejut bukan main. Mereka segera membuat segel pelindung ketika angin dahsyat hampir mengenai mereka. Abu dari pepohonan yang berterbangan membuat sekeliling tidak terlihat dengan jelas.

Tetua Haki dapat merasakan kekuatan dahsyat ini. Dia penasaran dengan orang yang menggunakan angin sebagai jurus hebat. Mungkinkah ada murid berbakat yang tersembunyi di antara murid berbakat lainnya?

"Siapakah gerangan yang membuat pandangan kabur~?

Langit tak mungkin membuat angin abu~

Dahsyat sekali~

Sampai membuat hati merasa tersentuh~"

Perkataan Guru Kawi yang menggunakan nada barusan membuat Tetua Haki mengedutkan bibir atas. Entah ini sebuah keahlian Guru Kawi atau memang dia suka menadakan kalimat yang kadang sama sekali tidak dimengerti.

Lingkungan sekitar nampak berantakan. Banyak pepohonan hangus, keretakkan luas pada tanah, di tambah lagi satu gedung retak, tetapi untunglah tidak sampai fatal.

Keadaan sekitar mulai normal, tetapi suara omelan bocah perempuan membuat orang-orang yang melihatnya tersentak melihat seorang gadis kecil yang menarik telinga bocah laki-laki. Bukankah mereka musuh?! Melakukan pertarungan sengit barusan, dan hampir melenyapkan satu sama lain. Lalu mengapa dua orang itu malah seperti saling kenal dan akrab?!

Guru Kawi seketika menutup mulut dengan kipas bulu yang dipegang, dia nampak mengedip-edipkan mata hampir tidak percaya. Sementara Tetua Haki menggelengkan kepala pelan melihat dua orang itu yang tidak jauh darinya.

Bukan hanya Tetua Haki dan Guru Kawi, bahkan murid-murid yang melihatnya juga nampak tidak percaya.

"Mereka bukannya musuh?!"

"Yah, padahal kekuatan Kakak Tampan itu sangat hebat."

"Huh, menyebalkan sekali. Siapa mereka berani membuat lapangan kita jadi hancur?!"

Beberapa murid mulai angkat bicara. Tetua Haki bersama Guru Kawi melayang mendekati dua orang yang baru saja bertarung.

Setelah dekat dengan dua bocah yang berumur kisaran 13 tahun, Tetua Haki berdehem agar kedua bocah ini menyadari keberadaannya.

"Kepekaan mereka sangat buruk."

Baru setelah Tetua Haki berdehem, bocah perempuan berambut ungu kehitaman dengan wajah polosnya menatap dengan kebingungan. Apalagi melihat penampilan pria yang berumur sekitar 40an, yang memegang kipas bulu. Berambut ungu tua pendek yang dipangkas sedemikian rupa. Bukan hanya itu, bahkan pria ini memiliki bulu mata panjang dan lentik. Inay sampai menahan napas sejenak melihat penampilan orang ini.

Sementara bocah yang terlihat seperti laki-laki dengan rambut putih diikat nampak terkejut karena dia tidak menyadari keberadaan orang lain di sekitarnya.

Kedua bocah ini tidak lain dan tidak bukan adalah Inay dan Amdara yang baru saja merusak lapangan latihan Akademi Magic Awan Langit.

Amdara langsung memberi hormat dengan membungkukkan tubuh, merasa dua pria ini jauh lebih kuat dan yang jelas lebih dewasa.

"Siapa kalian?"

Pertanyaan pertama muncul dari Guru Kawi. Melihat pakaian dua orang di depannya, dia merasa mereka bukan dari Negeri Nirwana Bumi. Ada kemungkinan dua orang ini dari negeri lain. Namun, jika dipikirkan lagi bagaimana bisa dua bocah ini mudah melewati pembatas Negeri Nirwana Bumi? Dan ditambah lagi kota Awan Langit juga memiliki segel. Apa mungkin ada model pakaian baru yang meniru dari negeri lain?

Inay menoleh ke arah Amdara, meminta adik seperguruan yang menjawab. Namun, Amdara malah menoleh ke arahnya dan menaikkan sebelah alis melihat raut wajah Inay. Jelas sekali Amdara tidak mengerti arti tatapan Inay, membuat Inay ingin sekali menarik telinga Amdara.

"Guru Kawi, sebaiknya kita bicarakan masalah ini di ruang Tetua."

Tetua Haki dapat merasakan aura misterius pada tubuh bocah laki-laki di hadapannya walaupun auranya tipis. Sebagai Tetua yang dijuluki Tetua Spiritual, tentu bukan hal aneh ketika dia dapat merasakan kekuatan misterius. Tentu dia tidak ingin gegabah dalam menyimpulkan sesuatu, jadi lebih baik dibicarakan di ruang tertutup.

Guru Kawi mengangguk setuju.

"Mn? Sejak kapan mereka berada di sini?"

Inay mengedarkan pandangan ke sekeliling yang ternyata cukup kacau, dan lagi ada banyak orang berpakaian sama dengan berbagai usia.

Amdara juga sama halnya, mereka seperti memandang ke arahnya dengan tatapan tidak suka. Amdara juga baru menyadari bahwa pertarungan barusan membuat kacau sekitar. Perasaan Amdara mengatakan, dia dan Inay akan segera mendapat masalah besar.

"Nak, mari ikut kami."

Inay dan Amdara tersentak mendengar pria yang menggunakan jubah putih dengan corak awan, dan di bahu jubahnya memiliki bulu putih yang sangat halus.

Inay mengeluarkan suara 'pfft' sambil melirik Amdara yang hanya bisa mengembuskan napas. Melihat tingkah kedua bocah ini, membuat Guru Kawi menaikkan sebelah alisnya.

"Hujan akan terganti dengan angin

Sementara bumantara cerah ini akan lunglai

Jika melihat dua makhluk berbaswara ini

Memandang sekitar penuh buntara~"

Inay tersedak napasnya sendiri mendengar ucapan aneh pria yang dia kagumi barusan. Rasanya perut Inay seperti tergelitik sesuatu. Hampir saja Inay tertawa jika dia tidak melihat raut wajah pria yang memiliki bulu di jubahnya itu yang menatap dingin seperti ingin menelannya hidup-hidup.

Amdara menaikkan sebelah alisnya. Dia berpikir pria ini memiliki ciri khas sendiri, jadi ada kemungkinan jika Amdara berkata normal, maka pria ini tidak akan mengerti. Alhasil Amdara melakukan hal yang sama.

"Baskara nampak memunculkan diri

Membuat buana yang bercahaya

Andai kau bisa mengucapkan ucapan biasa

Tak mungkin bibir mungil ini melakukan hal yang sama."

Inay kembali tersentak, dia melihat Amdara yang berucap seperti pria itu. Kali ini Inay tidak bisa menahan tawanya, bahkan dia menepuk-nepuk bahu Amdara dengan keras.

"Pffttt, hahaha. Kau bisa berbicara seperti ini? Kupikir kau manusia batu. Haha ...!"

Bukan hanya Inay yang tersentak, bahkan Tetua Haki hampir tersedak napasnya sendiri. Tetua Haki tidak menyangka ada orang yang bisa membalas ucapan aneh Guru Kawi. Sementara Guru Kawi sendiri tersenyum bangga, selama ini dia tidak melakukan kesalahan dengan menadakan kalimat. Benar-benar belahan jiwa Guru Kawi yang selama ini pergi!

"Haha, kau bisa berbicara sepertiku ternyata. Tapi kalimatmu masih kurang."

Amdara terkejut, ternyata pria itu bisa berbicara normal. Hah, jika Amdara tahu sebelumnya dia tidak akan berbicara memalukan seperti barusan! Ya ampun, rasanya Amdara ingin segera pergi mencari lubang untuk bersembunyi.

"Nak, sebaiknya ikut kami ke ruang Tetua."

Tetua Haki berucap sopan, membuat Amdara dan Inay kembali berpandangan.

"Maaf, Tuan. Karena kami telah membuat kekacauan di tempat kalian."

Amdara membungkukkan tubuh yang langsung diikuti Inay yang diam seketika. Perasaan Inay mengatakan akan ada masalah jika mereka ikut dengan dua pria ini.

"Kami sungguh tidak bermaksud membuat kekacauan. Tolong maafkan kami." Inay menambah perkataan Amdara.

Tetua Haki mengangguk. "Tapi mau bagaimana pun, kalian harus bertanggung jawab atas kerusakan lapangan latihan ini."

Amdara dan Inay tentu mengerti. Tidak akan mudah keluar dari tempat ini, jika mereka memutuskan melarikan diri, maka bukan tidak mungkin dua pria di depan mereka akan langsung melenyapkan Amdara dan Inay dengan mudah.

"Maaf, Tuan. Tapi kami tidak memiliki banyak emas untuk mengganti kerusakan. Kami juga sudah meminta maaf, bisakah kalian membiarkan kami pergi?"

Inay menyodorkan sekantung emas pada Tetua Haki, tetapi malah mendapatkan tatapan dingin yang menusuk.

Amdara mengangguk menyetujui perkataan Inay, tetapi bukannya dua pria ini senang mendapat emas malah menatap dingin. Aiya, rasa-rasanya Amdara akan ditelah hidup-hidup oleh orang ini.

Guru Kawi hampir saja tertawa mendengar dua bocah polos ini berbicara. Benar-benar bocah yang menarik.

"Dengar, Nak. Memangnya sekantong emas itu akan cukup memperbaiki kerusakan ini? Kami tidak akan mengambil emas kalian."

Tetua Haki menghela napas sebelum kembali berbicara. Dia harus mengatakan kalimat-kalimat yang jelas agar dapat dipahami oleh dua bocah ini.

"Sekolah ini memiliki segel pelindung, jika ada orang yang bukan bagian dari murid sekolah bisa masuk tanpa diketahui oleh para Tetua, maka hal ini harus dipertanyakan."

Guru Kawi mengangguk-angguk. Di Akademi Magic Awan Langit memang memiliki segel pelindung khusus. Jika ada orang yang bukan dari bagian murid dan Tetua sekolah, maka dapat dideksi dengan cepat. Segel pelindung ini jelas digunakan sebagai keamanan sekolah dari bahaya besar yang kemungkinan akan terjadi. Jika ada orang yang bisa masuk ke wilayah Akademi Magic Awan Langit tanpa diketahui siapapun, maka ada kemungkinan orang itu memiliki kekuatan yang sangat besar atau yang paling memiliki kemungkinan lainnya adalah orang tersebut dapat membuat portal dengan kekuatan besar.

Guru Kawi juga mengatakan bahwa dua bocah ini mau tidak mau harus ikut bersama mereka ke ruang Tetua.

Amdara dan Inay akhirnya menyerah. Mereka mengikuti dua pria itu berjalan menuju ruang yang disebut, sebab memang tidak ada pilihan lain.

"Dara, apa menurutmu kita akan dihukum?"

Inay berbisik pada Amdara. Mereka berjalan di belakang. Sedangkan para murid akademi masih memerhatikan mereka dari kejauhan, tidak berani mendekat karena ada Tetua Haki dan Guru Kawi.

"Mungkin."

Amdara menjawab seadanya. Dia baru saja menyadari bahwa portal yang dibuatnya asal malah sampai di Akademi Magic di negeri yang amat asing bagi mereka.

Seseorang bisa membuat portal sesuka hati, tetapi masih tergantung kekuatan dan keterampilan membuatnya. Biasanya portal dibuat dengan membayangkan tempat yang akan dituju dengan kefokusan tinggi. Jika ada orang yang dapat membuat portal tanpa membayangkan tempatnya, maka orang tersebut bisa disebut jenius.

"Hah, ini semua salahmu! Jika kau tidak menggunakan kekuatan itu, kita tidak akan terjebak di tempat ini."

Inay menggelembungkan pipi, dia sangat kesal pada Amdara. Haih, andai saja Amdara tidak mengeluarkan portalnya, maka Inay sudah berkenalan dengan anak laki-laki tampan itu.

"Kita tidak terjebak."

Inay mengedutkan alis. Dia ingin sekali memakan hidup-hidup adik seperguruannya yang sama sekali tidak merasa bersalah.

"Aiya, kau membuatku kesal."

Sepanjang jalan, baik Tetua Haki maupun Guru Kawi masih diam dengan pikiran masing-masing. Mereka mulai berpikir bahwa dua bocah di belakang mereka adalah mata-mata dari sekolah lain. Namun, segel pelindung di sekolah inilah yang terkuat. Jadi bagaimana mungkin bisa ditembus begitu saja tanpa terdeteksi?!

Tetua Haki menoleh ke belakang, melihat dua bocah itu masih berbicara tanpa memedulikan sekitar.

"Kita akan sekolah di sini."

Amdara berucap dengan santai. Dia memang sudah memikirkan hal ini sejak mengetahui bahwa tempat ini merupakan Akademi Magic. Inay yang mendengar perkataan Amdara tersentak dan seketika menghentikan langkah.

"Hei, yang benar saja! Aku tidak mau. Kita akan mencari sekolah lain. Mau bagaimana pun, sepertinya kita tidak akan hidup lagi setelah mendapat hukuman dari dua pria itu, dan lagi kau lihat para murid itu? Mereka sangat disiplin. Aku tidak akan betah berada di lingkungan sekolah seperti ini!"

Amdara juga menghentikan langkah dan menatap Inay datar. Bukankah lingkungan seperti ini sangat bagus untuk pendidikan? Apalagi orang seperti Inay yang jarang menaati aturan!

"Kak Inay, kau ...."

*

*

*

Mau bagaimana pun juga, Amdara dan Inay harus mendapatkan sekolah. Walaupun Inay menolak mentah-mentah, tetapi Amdara berhasil membujuk dengan mengatakan bahwa akademi ini cukup bagus dan jika pun Inay kekeuh tidak mau, maka Amdara menyuruh Inay untuk pulang ke Negeri Elang Bulan sendiri tanpa bantuan darinya. Bukan hanya itu, bahkan Amdara mengancam akan melaporkan kelakuan Inay pada Tetua Bram agar mendapat hukuman pengasingan. Jelas Inay kalah telak dari ancaman Amdara yang kelewat kejam menurutnya.

Ruangan penuh dengan aura agung menyeruak. Dinding yang menjulang tinggi yang terbuat dari giok warna putih dan emas membuat ruangan ini sungguh membuat kagum. Di tambah sepuluh singgasana yang mengelilingi ruangan tersebut, dan juga ukiran bangau putih di tengah-tengah ruangan sangat mendominasi bahwa ruangan tersebut sangatlah agung.

Dua orang pria yang salah satunya mengipas-ipas wajah dengan kipas bulu tengah menatap ke arah depan di mana dua orang yang berdiri dengan wajah gugup sekaligus gelisah.

"Sebenarnya siapa kalian dan apa tujuan kalian kemari?"

Pertanyaan dingin itu keluar dari mulut orang yang bermata tajam dan memiliki bulu di jubah. Orang tersebut tidak lain adalah Tetua Haki. Sementara orang di samping tempat singgasana adalah Guru Kawi.

"Kami dari Negeri Elang Bulan."

Seorang bocah berambut putih membungkuk sebagai tanda sopan. Sementara teman satunya malah terlihat tidak suka dengan pertanyaan barusan.

"Tujuan? Tujuanku hanya menemani bocah ini mencari orangtuanya. Huh, jika aku bukan orang baik hati, mana mungkin aku mau pergi jauh dari rumah!"

Bocah perempuan dengan rambut keunguan itu melibaskan rambut dan melirik sinis ke arah temannya. Dia memang tidak memiliki tujuan lain selain ini.

"Kau tidak sedang membual 'kan?"

Guru Kawi bertanya yang diangguki yakin oleh bocah perempuan itu yang tidak bukan adalah Inay dan orang di sebelahnya berambut putih adalah Amdara.

"Untuk apa aku membual? Cih, jika kalian sudah mengetahui tujuan kami, maka biarkan kami pergi."

Inay sudah tidak tahan dengan atmosfer yang mulai terasa panas. Walaupun dia nampak tidak sopan, sejujurnya dia sangat gugup. Untuk menghilangkan kegugupannya itu dia bersikap demikian.

Tetua Haki menaikkan sebelah alisnya. Dia bahkan belum bertanya mengenai bagaimana bisa mereka masuk ke sekolah ini tanpa terdeteksi, tetapi malah bocah itu ingin segera pergi, yang benar saja!

Awalnya Tetua Haki dan Guru Kawi berniat memb*nuh mereka karena menganggap mereka sebuah ancaman tetapi melihat tingkah kedua bocah itu mengurungkan niat mereka.

"Kakek Baba mengatakan bahwa orangtuaku berada di Negeri ini."

Hampir saja Inay kehilangan napasnya ketika mendengar ucapan Amdara. Apa sungguh pendengaran Inay ini rusak? Atau memang Amdara yang mengatakan bahwa Tetua Bram adalah 'Kakek Baba'?! Ya ampun, rasanya Inay ingin tertawa dan mengatai Amdara sangat menggemaskan.

Sekilas Amdara melirik Inay yang terdengar bunyi 'pfft' walaupun samar. Mau bagaimana lagi? Tidak mungkin Amdara menggunakan kata 'Tetua' pada orang asing. Identitas mereka yang murid dari sebuah organisasi putih tidak boleh terungkap.

Tetua Haki dan Guru Kawi saling pandang. Sebenarnya mereka cukup tidak begitu yakin bahwa dua anak ini adalah murid dari salah satu sekolah jika dilihat dari kemampuan kekuatan mereka.

"Siapa namamu?"

Guru Kawi bertanya sambil menatap Amdara. Amdara nampak tersentak, dia ingat dengan perkataan Tetua Bram.

"Namaku ... Luffy"

Lagi-lagi Inay tersentak, dia menyipitkan mata sambil melirik Amdara. "Hei, sejak kapan kau mengganti nama?"

"Itu nama kecilku."

Amdara mendengus kesal. Dia mengepalkan tangan, Inay benar-benar tidak bisa diajak kerja sama.

Tetua Haki dan Guru Kawi nampak saling memandang, mau bagaimana pun dua anak ini harus mendapat hukuman karena telah menerobos masuk akademi mereka. Ini akan menjadi masalah besar jika para Tetua lain mengetahui kejadian ini.

Perasaan Amdara mendadak tidak enak melihat raut wajah kedua pria di depan mereka. Ini memang bukan masalah sepele hingga mereka dapat keluar dengan keadaan baik.

Episodes
1 1 Misi Rahasia
2 2 - Masalah Besar
3 3 Tetua Haki
4 4 Bunga Teratai Penghisap Nyawa
5 5 Roh Hitam
6 6 Hukuman
7 7 Mengikuti Kelas Pertama
8 8 Murid-murid yang Aneh
9 9 Latihan Malam
10 10 Kekuatan Asing
11 11 Mengambil Masalah
12 12 Penindas Kecil
13 13 Berburu Roh Hitam
14 14 Ketua Kelas Dirgan
15 15 Pertandingan
16 16 Pertandingan 2
17 17 Pertandingan 3
18 18 Bocah Berambut Putih
19 19 Guru Aneh
20 20 Permainan
21 21 Permainan 2
22 22 Permainan 3
23 23 Permintaan
24 24 Raja Roh
25 25 Bocah Bertopeng
26 26 Perbincangan Para Tetua
27 27 Penarik Perhatian
28 28 Misi Pertama
29 29 Kejadian Tak Terduga
30 30 Kejadian di Penginapan
31 31 Nenek Penjual Jepit Rambut
32 32 Tawaran
33 33 Latihan
34 Pengumuman
35 34 Selendang Hitam
36 35 Pertemuan Tak Terduga
37 Pengenalan Tokoh
38 36 Krisis
39 37 Pengobatan
40 38 Di Awal Fajar
41 39 Mengambil Masalah 2
42 40 Satu Kesepakatan
43 41 - Malam Yang Terasa Panjang
44 42 - Menuju Ke Desa Bumi Selatan
45 43 - Desa Terpencil Tanah Mati
46 44 - Kejadian Tak Terduga (2)
47 45 - Makhluk Mengerikan
48 46 - Malam Mencekam
49 47 - Cerita Dari Kepala Desa
50 48 - Desa Bumi Selatan
51 48 - Desa Bumi Selatan
52 49 - Fakta Tersembunyi
53 50 - Kejanggalan
54 51 - Mayat Hidup
55 52 - Irama Kematian
56 53 - Kisah Yang Terkuak
57 54 - Teman Baru
58 55 - Kembali ke Akademi
59 56 - Sampai dengan Selamat
60 57 - Kembali ke Akademi (2)
61 58 - Persiapan Pertandingan Antar Kelas
62 59 - Pertandingan Antar Kelas Dimulai!
63 60 - Pertandingan Pertama
64 61 - Kedatangan Yang Ditunggu
65 62 - Kerja Sama Tim
66 63 - Awal Perubahan
67 64 - Dipagi-pagi Buta
68 65 - Mencari Tanaman Herbal
69 66 - Pertanyaan Tak Terduga
70 67 - Hutan Arwah
71 68 - Kekhawatiran
72 69 - Dua Makhluk Penghuni Hutan Arwah
73 70 - Dunia Lain
74 71 - Dunia Lain (2)
75 72 - Dunia Lain (3)
76 73 - Dark World
77 74 - Aray
78 75 - Atma
79 76 - Atma (2)
80 77 - Tatapan Meremehkan
81 78 - Kelinci Percobaan
82 79 - Ramuan Aneh
83 80 - Perubahan Kecil yang Tidak Disadari
84 81 - Hutang yang Harus Dibayar
85 82 - Malam Menenangkan
86 83 - Membuat Penawar
87 84 - Panggilan Dari Tetua
88 85 - Kejadian di Balai Istirahat
89 86 - Keadaan yang Mengkhawatirkan
90 87 - Kelompok Kelas Satu C
91 88 - Ujian Tertulis
92 89 - Bentang Alam Mimpi Amdara
93 90 - Bentang Alam Mimpi Amdara (2)
94 91 - Membuat Penawar (2)
95 92 - Membuat Penawar (3)
96 93 - Pil Aneh
97 94 - Pertandingan Antar Kelas (2)
98 95 - Arena Pertandingan
99 96 - Arena Pertandingan (2)
100 97 - Dua Pengendali Angin
101 98 - Keputusan
102 99 - Nada
103 100 - Arena Pertandingan (3)
104 101 - Arena Pertandingan (4)
105 102 - Arena Pertandingan (5)
106 103 - Saling Bantu
107 104 - Kejadian Di Balai Istirahat (2)
108 105 - Nada (2)
109 106 - Ketakutan
110 107 - Arena Pertandingan (6)
111 108 - Kekuatan Inay
112 109 - Tiga Kali Lolos
113 110 - Guru Aneh (2)
114 111 - Membuat Strategi
115 112 - Pertandingan Antar Kelompok
116 113 - Menjalankan Strategi Awal
117 114 - Serangan Dari Lawan
118 115 - Alam Bawah Sadar Milik Lasi
119 116 - Perlawanan Sengit
120 117 - Serangan Tidak Terduga
121 118 - Akhir Pertandingan
122 119 - Menganalisa Kekuatan Lawan
123 120 - Strategi Dirgan
124 121 - Sebelum Pertandingan
125 122 - Serangan Awal
126 123 - Babak Final
127 124 - Rencana Penyerangan
128 125 - Memainkan Strategi
129 126 - Kecurigaan
130 127 - Roh Hitam (2)
131 128 - Roh Hitam (3)
132 129 - Kedatangan Yang Ditunggu
133 130 - Menyerang Raja Roh Hitam
134 131 - Keinginan
135 132 - Merayakan Kemenangan
136 133 - Nenek Nian
137 134 - Mengubah Penampilan
138 135 - Sebuah Kebanggaan
139 136 - Menemui Tetua
140 137 - Keputusan
141 138 - Perjalanan Menuju Kediaman Tentu Haki
142 139 - Siluman Harimau Api
143 140 - Kekuatan Gabungan
144 141 - Teknik Penyerapan Kekuatan
145 141 - Melanjutkan Perjalanan
146 142 - Hutan
147 143 - Roh Hitam (4)
148 144 - Kondisi yang Mengkhawatirkan
149 145 - Shi
150 146 - Perjalanan Di Hutan (2)
151 147 - Tabir
152 148 - Teman-teman Amdara
153 149 - Bertemu Siluman Ular
154 150 - Irama Ketenangan
155 151 - Pengendali Jiwa Makhluk
156 152 - Akhirnya Sampai!
157 153 - Kebenaran yang Baru Terungkap
158 154 - Latihan Pertama
159 155 - Pemusatan Kekuatan
160 156 - Pertemuan Kedua
161 157 - Kemampuan Luar Biasa
162 158 - Kabar
163 159 - Di Hutan
164 160 - Daerah Barat
165 161 - Burung Phoenix
166 162 - Serangan Spiritual
167 163 - Sosok Misterius
168 164 - Siluman Rubah Merah
169 165 - Pelatihan Keras dari Dua Siluman
170 166 - Kekuatan Baru
171 167 - Berburu Bersama
172 168 - Pengetaman Permata Siluman
173 169 - Kembali
174 170 - Perubahan
175 171 - Perubahan II
176 172 - Pelatihan Tertutup
177 173 - Daerah Roh Hitam
178 174 - Daerah Roh Hitam II
179 175 - Daerah Roh Hitam III
180 176 - Daerah Roh Hitam IV
181 177 - Pelatihan Tertutup II
182 178 - Pelatihan Tertutup III
183 179 - Tetua Widya
184 180 - Penginapan
185 181 - Transaksi
186 182 - Melanjutkan Perjalanan
187 183 - Desa Igir
188 184 - Melawan Orang-orang Aliran Hitam
189 185 - Penyerangan
190 186 - Misi Selesai
191 187 - Mencari Informasi
192 188 - Seluring Putih
193 189 - Bocah Pengemis
194 190 - Bocah Pengemis (2)
195 191 - Negosiasi
196 192 - Transaksi II
197 193 - Penginapan II
198 194 - Raja Roh Hitam
199 195 - Raja Roh Hitam II
200 196 - Lima Belas Bintang Malam
201 197 - Pengendali Jiwa Makhluk II
202 198 - Irama Ketenangan II
203 199 - Dark World II
204 200 - Pengungkapan
205 201 - Penyerangan
206 202 - Penyerangan II
207 203 - Penyerangan III
208 204 - Yang Tidak Terduga
209 205 - Perasaan Sesal
210 206 - Pertemuan Teman Lama
211 207 - Yang Tidak Pernah Diharapkan
212 208 - Sesuatu Yang Tidak Terduga
213 209 - Aura Tidak Biasa
214 210 - Pertanyaan
215 211 - Tabir II
216 212 - Kita Teman
217 213 - Kita Teman II
218 214 - Sebuah Ikatan Erat
219 215 - Menuju Klan Ang
220 216 - Serangan Kejutan
221 217 - Sesepuh Klan Ang
222 218 - Kekuatan Klan Ang
223 219 - Kekuatan Mengerikan
224 220 - Kedatangan Tetua Haki
225 221 - Kesedihan Amdara
226 222 - Kepergian
227 223 - Kepergian II
228 224 - Dalam Perjalanan
229 225 - Sesuatu yang Tidak Terduga II
230 226 - Mimpi
231 227 - Melanjutkan Perjalanan
232 228 - Melewati Gunung
233 229 - Melewati Gunung II
234 230 - Melewati Gunung III
235 231 - Bukan Sosoknya
236 232 - Menyeberangi Laut Hitam
237 233 - Menyeberangi Laut Hitam II
238 234 - Siluman Naga Air
239 235 - Siluman Naga Air II
240 236 - Siapa Kau Sebenarnya?
241 237 - Sebuah Kabar
242 238 - Cerita Dari Naga Air
243 239 - Bukan Tanpa Alasan
244 240 - Mengambil Masalah III
245 241 - Sampai di Tempat Tujuan
246 242 - Kota Ujung Bumi
247 243 - Cerita dari Amdara
248 244 - Gadis Berambut Merah
249 245 - Serangan Tidak Terduga
250 246 - Pertandingan Dadakan
251 247 - Pertarungan
252 248 - Pertarungan II
253 249 - Pertarungan III
254 250 - Pertarungan IV
255 251 - Perubahan III
256 252 - Serangan Bayang Pencakar Jiwa
257 253 - Kekuatan Asing II
258 254 - Keberadaan Amdara
259 255 - Ketu
260 256 - Kekhawatiran
261 257 - Syarat
262 258 - Roh Hitam V
263 259 - Air Terjun
264 260 - Ai
265 261 - Ungkapan
266 262 - Kita Sama
267 263 - Permata Air
268 264 - Pencabutan Benang Merah
269 265 - Pencabutan Benang Merah
270 266 - Rencana Mereka
271 267 - Pencabutan Benang Merah III
272 268 - Aura Kegelapan
273 269 - Awal Mula
274 270 - Perang Dunia
275 271 - Perang Dunia II
276 272 - Perang Dunia III
277 273 - Perang Dunia IV
278 274 - Penyebab Kebangkitan Roh Hitam
279 275 - Dunia Manusia dalam Kehancuran
280 276 - Bentang Alam Mimpi Amdara III
281 277 - Kebahagian Sesaat
282 278 - Gadis Berambut Putih
283 279 - Ketidaktahuan Amdara
284 280 - Aura Mengerikan
285 281 - Aray II
286 282 - Pertemuan Tidak Terduga
287 283 - Pertanyaan
288 284 - Anak Iblis
289 285 - Pertemuan
290 286 - Jati Diri
291 287 - Bukan Luffy
292 288 - Serangan
293 289 - Hubungan
294 290 - Identitas
295 291 - Akhir
296 292 - Tidak Ada Kata Teman
297 293 - Cahaya Merah
298 294 - Kebenaran
299 295 - Dua Pilihan
300 296 - Hubungan
301 297 - Fakta
302 298 - Diluluhlantakkan
303 299 - Kehancuran
304 300 - Dunia Roh Hitam
305 301 - Dunia Roh Hitam II
306 302 - Berakhir
Episodes

Updated 306 Episodes

1
1 Misi Rahasia
2
2 - Masalah Besar
3
3 Tetua Haki
4
4 Bunga Teratai Penghisap Nyawa
5
5 Roh Hitam
6
6 Hukuman
7
7 Mengikuti Kelas Pertama
8
8 Murid-murid yang Aneh
9
9 Latihan Malam
10
10 Kekuatan Asing
11
11 Mengambil Masalah
12
12 Penindas Kecil
13
13 Berburu Roh Hitam
14
14 Ketua Kelas Dirgan
15
15 Pertandingan
16
16 Pertandingan 2
17
17 Pertandingan 3
18
18 Bocah Berambut Putih
19
19 Guru Aneh
20
20 Permainan
21
21 Permainan 2
22
22 Permainan 3
23
23 Permintaan
24
24 Raja Roh
25
25 Bocah Bertopeng
26
26 Perbincangan Para Tetua
27
27 Penarik Perhatian
28
28 Misi Pertama
29
29 Kejadian Tak Terduga
30
30 Kejadian di Penginapan
31
31 Nenek Penjual Jepit Rambut
32
32 Tawaran
33
33 Latihan
34
Pengumuman
35
34 Selendang Hitam
36
35 Pertemuan Tak Terduga
37
Pengenalan Tokoh
38
36 Krisis
39
37 Pengobatan
40
38 Di Awal Fajar
41
39 Mengambil Masalah 2
42
40 Satu Kesepakatan
43
41 - Malam Yang Terasa Panjang
44
42 - Menuju Ke Desa Bumi Selatan
45
43 - Desa Terpencil Tanah Mati
46
44 - Kejadian Tak Terduga (2)
47
45 - Makhluk Mengerikan
48
46 - Malam Mencekam
49
47 - Cerita Dari Kepala Desa
50
48 - Desa Bumi Selatan
51
48 - Desa Bumi Selatan
52
49 - Fakta Tersembunyi
53
50 - Kejanggalan
54
51 - Mayat Hidup
55
52 - Irama Kematian
56
53 - Kisah Yang Terkuak
57
54 - Teman Baru
58
55 - Kembali ke Akademi
59
56 - Sampai dengan Selamat
60
57 - Kembali ke Akademi (2)
61
58 - Persiapan Pertandingan Antar Kelas
62
59 - Pertandingan Antar Kelas Dimulai!
63
60 - Pertandingan Pertama
64
61 - Kedatangan Yang Ditunggu
65
62 - Kerja Sama Tim
66
63 - Awal Perubahan
67
64 - Dipagi-pagi Buta
68
65 - Mencari Tanaman Herbal
69
66 - Pertanyaan Tak Terduga
70
67 - Hutan Arwah
71
68 - Kekhawatiran
72
69 - Dua Makhluk Penghuni Hutan Arwah
73
70 - Dunia Lain
74
71 - Dunia Lain (2)
75
72 - Dunia Lain (3)
76
73 - Dark World
77
74 - Aray
78
75 - Atma
79
76 - Atma (2)
80
77 - Tatapan Meremehkan
81
78 - Kelinci Percobaan
82
79 - Ramuan Aneh
83
80 - Perubahan Kecil yang Tidak Disadari
84
81 - Hutang yang Harus Dibayar
85
82 - Malam Menenangkan
86
83 - Membuat Penawar
87
84 - Panggilan Dari Tetua
88
85 - Kejadian di Balai Istirahat
89
86 - Keadaan yang Mengkhawatirkan
90
87 - Kelompok Kelas Satu C
91
88 - Ujian Tertulis
92
89 - Bentang Alam Mimpi Amdara
93
90 - Bentang Alam Mimpi Amdara (2)
94
91 - Membuat Penawar (2)
95
92 - Membuat Penawar (3)
96
93 - Pil Aneh
97
94 - Pertandingan Antar Kelas (2)
98
95 - Arena Pertandingan
99
96 - Arena Pertandingan (2)
100
97 - Dua Pengendali Angin
101
98 - Keputusan
102
99 - Nada
103
100 - Arena Pertandingan (3)
104
101 - Arena Pertandingan (4)
105
102 - Arena Pertandingan (5)
106
103 - Saling Bantu
107
104 - Kejadian Di Balai Istirahat (2)
108
105 - Nada (2)
109
106 - Ketakutan
110
107 - Arena Pertandingan (6)
111
108 - Kekuatan Inay
112
109 - Tiga Kali Lolos
113
110 - Guru Aneh (2)
114
111 - Membuat Strategi
115
112 - Pertandingan Antar Kelompok
116
113 - Menjalankan Strategi Awal
117
114 - Serangan Dari Lawan
118
115 - Alam Bawah Sadar Milik Lasi
119
116 - Perlawanan Sengit
120
117 - Serangan Tidak Terduga
121
118 - Akhir Pertandingan
122
119 - Menganalisa Kekuatan Lawan
123
120 - Strategi Dirgan
124
121 - Sebelum Pertandingan
125
122 - Serangan Awal
126
123 - Babak Final
127
124 - Rencana Penyerangan
128
125 - Memainkan Strategi
129
126 - Kecurigaan
130
127 - Roh Hitam (2)
131
128 - Roh Hitam (3)
132
129 - Kedatangan Yang Ditunggu
133
130 - Menyerang Raja Roh Hitam
134
131 - Keinginan
135
132 - Merayakan Kemenangan
136
133 - Nenek Nian
137
134 - Mengubah Penampilan
138
135 - Sebuah Kebanggaan
139
136 - Menemui Tetua
140
137 - Keputusan
141
138 - Perjalanan Menuju Kediaman Tentu Haki
142
139 - Siluman Harimau Api
143
140 - Kekuatan Gabungan
144
141 - Teknik Penyerapan Kekuatan
145
141 - Melanjutkan Perjalanan
146
142 - Hutan
147
143 - Roh Hitam (4)
148
144 - Kondisi yang Mengkhawatirkan
149
145 - Shi
150
146 - Perjalanan Di Hutan (2)
151
147 - Tabir
152
148 - Teman-teman Amdara
153
149 - Bertemu Siluman Ular
154
150 - Irama Ketenangan
155
151 - Pengendali Jiwa Makhluk
156
152 - Akhirnya Sampai!
157
153 - Kebenaran yang Baru Terungkap
158
154 - Latihan Pertama
159
155 - Pemusatan Kekuatan
160
156 - Pertemuan Kedua
161
157 - Kemampuan Luar Biasa
162
158 - Kabar
163
159 - Di Hutan
164
160 - Daerah Barat
165
161 - Burung Phoenix
166
162 - Serangan Spiritual
167
163 - Sosok Misterius
168
164 - Siluman Rubah Merah
169
165 - Pelatihan Keras dari Dua Siluman
170
166 - Kekuatan Baru
171
167 - Berburu Bersama
172
168 - Pengetaman Permata Siluman
173
169 - Kembali
174
170 - Perubahan
175
171 - Perubahan II
176
172 - Pelatihan Tertutup
177
173 - Daerah Roh Hitam
178
174 - Daerah Roh Hitam II
179
175 - Daerah Roh Hitam III
180
176 - Daerah Roh Hitam IV
181
177 - Pelatihan Tertutup II
182
178 - Pelatihan Tertutup III
183
179 - Tetua Widya
184
180 - Penginapan
185
181 - Transaksi
186
182 - Melanjutkan Perjalanan
187
183 - Desa Igir
188
184 - Melawan Orang-orang Aliran Hitam
189
185 - Penyerangan
190
186 - Misi Selesai
191
187 - Mencari Informasi
192
188 - Seluring Putih
193
189 - Bocah Pengemis
194
190 - Bocah Pengemis (2)
195
191 - Negosiasi
196
192 - Transaksi II
197
193 - Penginapan II
198
194 - Raja Roh Hitam
199
195 - Raja Roh Hitam II
200
196 - Lima Belas Bintang Malam
201
197 - Pengendali Jiwa Makhluk II
202
198 - Irama Ketenangan II
203
199 - Dark World II
204
200 - Pengungkapan
205
201 - Penyerangan
206
202 - Penyerangan II
207
203 - Penyerangan III
208
204 - Yang Tidak Terduga
209
205 - Perasaan Sesal
210
206 - Pertemuan Teman Lama
211
207 - Yang Tidak Pernah Diharapkan
212
208 - Sesuatu Yang Tidak Terduga
213
209 - Aura Tidak Biasa
214
210 - Pertanyaan
215
211 - Tabir II
216
212 - Kita Teman
217
213 - Kita Teman II
218
214 - Sebuah Ikatan Erat
219
215 - Menuju Klan Ang
220
216 - Serangan Kejutan
221
217 - Sesepuh Klan Ang
222
218 - Kekuatan Klan Ang
223
219 - Kekuatan Mengerikan
224
220 - Kedatangan Tetua Haki
225
221 - Kesedihan Amdara
226
222 - Kepergian
227
223 - Kepergian II
228
224 - Dalam Perjalanan
229
225 - Sesuatu yang Tidak Terduga II
230
226 - Mimpi
231
227 - Melanjutkan Perjalanan
232
228 - Melewati Gunung
233
229 - Melewati Gunung II
234
230 - Melewati Gunung III
235
231 - Bukan Sosoknya
236
232 - Menyeberangi Laut Hitam
237
233 - Menyeberangi Laut Hitam II
238
234 - Siluman Naga Air
239
235 - Siluman Naga Air II
240
236 - Siapa Kau Sebenarnya?
241
237 - Sebuah Kabar
242
238 - Cerita Dari Naga Air
243
239 - Bukan Tanpa Alasan
244
240 - Mengambil Masalah III
245
241 - Sampai di Tempat Tujuan
246
242 - Kota Ujung Bumi
247
243 - Cerita dari Amdara
248
244 - Gadis Berambut Merah
249
245 - Serangan Tidak Terduga
250
246 - Pertandingan Dadakan
251
247 - Pertarungan
252
248 - Pertarungan II
253
249 - Pertarungan III
254
250 - Pertarungan IV
255
251 - Perubahan III
256
252 - Serangan Bayang Pencakar Jiwa
257
253 - Kekuatan Asing II
258
254 - Keberadaan Amdara
259
255 - Ketu
260
256 - Kekhawatiran
261
257 - Syarat
262
258 - Roh Hitam V
263
259 - Air Terjun
264
260 - Ai
265
261 - Ungkapan
266
262 - Kita Sama
267
263 - Permata Air
268
264 - Pencabutan Benang Merah
269
265 - Pencabutan Benang Merah
270
266 - Rencana Mereka
271
267 - Pencabutan Benang Merah III
272
268 - Aura Kegelapan
273
269 - Awal Mula
274
270 - Perang Dunia
275
271 - Perang Dunia II
276
272 - Perang Dunia III
277
273 - Perang Dunia IV
278
274 - Penyebab Kebangkitan Roh Hitam
279
275 - Dunia Manusia dalam Kehancuran
280
276 - Bentang Alam Mimpi Amdara III
281
277 - Kebahagian Sesaat
282
278 - Gadis Berambut Putih
283
279 - Ketidaktahuan Amdara
284
280 - Aura Mengerikan
285
281 - Aray II
286
282 - Pertemuan Tidak Terduga
287
283 - Pertanyaan
288
284 - Anak Iblis
289
285 - Pertemuan
290
286 - Jati Diri
291
287 - Bukan Luffy
292
288 - Serangan
293
289 - Hubungan
294
290 - Identitas
295
291 - Akhir
296
292 - Tidak Ada Kata Teman
297
293 - Cahaya Merah
298
294 - Kebenaran
299
295 - Dua Pilihan
300
296 - Hubungan
301
297 - Fakta
302
298 - Diluluhlantakkan
303
299 - Kehancuran
304
300 - Dunia Roh Hitam
305
301 - Dunia Roh Hitam II
306
302 - Berakhir

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!