Paul terkejut ketika melihat Roger ada di sini.
Dia sama sekali tidak menyadari kedatangan keduanya, sebelumnya dia terlalu sibuk melawan Lin, sampai-sampai dia tidak mempunyai waktu untuk memperhatikan benda alkimia tipe deteksi miliknya.
"Mengapa kamu bisa ada di sini?!" Wajah Paul berubah menjadi pucat.
"Kenapa kau bilang? Tentu saja untuk membantu bawahanku." kata Roger sambil menatap sinis pada Paul.
Mendengar jawaban Roger, Paul memiringkan kepalanya menatap Roger dengan heran, kemudian dia berkata.
"Bawahanmu? Apakah kamu berbicara tentang anak ini?" Paul melirik Lin di sampingnya, saat ini tubuh Lin masih terlindungi oleh lapisan perisai perak-putih.
Roger mengangguk. "Dan bukan itu saja, kali ini kami datang juga untuk menangkapmu!"
Paul mengerutkan kening.
"Vivian."
"Aku mengerti!"
Gadis muda berambut pirang segera menggerakkan tangannya.
Klik!
Vivian menjentikkan jarinya dan kemudian seni rahasia 'Hipnosis' segera berjalan.
Paul yang mendengar suara jentikkan jari di telinganya, tidak lama seluruh tubuhnya membeku, dan akal sehat yang di miliki Paul menghilang seketika, seolah-seolah telah di rebut oleh keberadaan yang tidak di ketahui.
Roger tidak akan menyia-nyiakan kesempatan sebaik ini.
Ketika Roger melihat Paul yang dalam keadaan terhipnotis, Roger dengan cepat segera menggunakan seni rahasianya untuk menggurung Paul ke dalam labirin miliknya.
Retakan Ruang angkasa muncul di samping Paul kemudian daya tarik yang besar muncul dari retakan ruang tersebut, menarik dirinya dengan paksa.
Kesadaran Paul kembali, ketika dia menyadarinya, hisapan yang kuat dari retakan ruang di sampingnya telah menariknya ke dalam.
"Tidak!" Teriak Paul dengan putus asa.
Dia sempat menggunakan seni rahasia 'Tipuan' untuk menghindarinya, tapi kekuatan 'Labirin Luar Angkasa' lebih kuat dari seni rahasia 'Tipuan' miliknya.
Roger adalah Beyonder tingkat 5 sedangkan Paul adalah Beyonder tingkat 2, perbedaan tingkat yang besar membuat Paul tak berdaya.
Tidak membutuhkan waktu yang lama, akhirnya tubuh Paul benar-benar menghilang ke dalam retakan ruang.
.........
..................
..........................
Saat ini di dalam Nightmare.
Keadaan Lin sekarang tidak baik-baik saja, ia terengah-engah, dan air keringat berjatuhan dari bagian dagunya.
Lin menyipitkan matanya menatap rantai yang sudah hancur dan berhamburan di permukaan lantai.
Di iringi dengan Black yang mengitari dirinya.
Selama ini dia hanya memotong dan menebas rantai-rantai yang terus bermunculan dari atas, tapi kali ini rantai-rantai tersebut tidak muncul lagi untuk waktu yang lama.
Hal ini sempat membuat Lin khawatir, dia takut selanjutnya yang datang akan lebih menakutkan.
Tapi pikiran itu segera menghilang, setelah menunggu terlalu lama dia tidak melihat tanda-tanda yang mencurigakan yang bisa mengancam nyawanya.
Kemudian hal ini membuat pertanyaan terlintas di dalam pikirannya.
"Apakah akhirnya selesai?" wajah Lin menatap ke atas yang gelap gulita.
"Apakah ini berarti kapten Roger telah berhasil menjebak Paul ke dalam labirinnya?" Lin melirik Black di bahunya dan bertanya.
Black di bahunya menumbuhkan kedua tangan kecil tanpa jari, kemudian mengangkat tangannya dengan tidak berdaya, seolah-olah dia berkata 'Aku tidak tau?'.
Tiba-tiba sebuah retakan muncul di sekitarnya, membuat suara kaca yang pecah.
Lin dan Black menjadi waspada kembali, tapi kemudian dia menghela nafas lega.
"Sepertinya memang begitu, kapten Roger telah berhasil menggurung Paul ke dalam labirinnya."
Lin duduk di lantai dan beristirahat, mereka berdua menikmati pemandangan lingkungan yang seperti penjara mulai retak dan pecah seperti pecahan kaca secara perlahan.
Kemudian kesadaran Lin tenggelam dalam kegelapan yang sunyi, ketika dia membuka matanya dia melihat wajah Vivian yang tampak khawatir dan Roger yang berdiri di belakang Vivian sambil menatapnya.
"Akhirnya kamu bangun juga Lin." Kata Roger sambil tersenyum tipis.
"Ya, itu cukup buruk tadi." Lin membalasnya dengan senyuman.
"Apakah ada yang terluka?" Vivian bertanya pada Lin dengan wajah yang mengkhawatirkan.
"Tidak apa-apa, itu hanya tulang rusuk yang patah." Lin menyentuh bagian perutnya yang sakit.
Vivian menghela nafas lega. "Lain kali, jangan datang sendirian, Tunggu aku atau kapten Roger untuk menemani, dengan begitu dapat mengurangi kesulitan."
"Aku mengerti, terimakasih telah mengkhawatirkanku."
"Sama-sama, kita adalah rekan di masa depan, sebagai rekan aku harus membantu rekanku yang kesulitan, begitupun sebaliknya."
"Hahaha, masa muda memanglah terbaik." Roger tertawa terbahak-bahak.
Kemudian mereka bertiga turun ke bawah hotel, menemui resepsionis wanita hotel tersebut, sebelumnya Roger telah berkata bahwa mereka adalah detektif yang menyamar untuk menangkap penjahat utama sebelum datang ke ruangan Paul.
Roger menyuruh resepsionis wanita untuk tetap menunggu di bawah dan untuk tidak mencoba pergi ke atas, karena itu akan menganggu operasi mereka.
Roger juga mengatakan bahwa kerusakan yang di sebabkannya akan segera di ganti olehnya, hal ini membuat resepsionis wanita menjadi tenang dan bersedia bekerja sama.
Setelah membayar biaya kerusakan di dalam ruangan Paul, mereka bertiga segera pergi ke markas Biro Pertahanan Kekaisaran Malam untuk membuat laporan ke pusat Biro Utama sampai pagi hari.
Hari berikutnya.
"Kalian berdua akan di liburkan selama seminggu, selama waktu ini, nikmatilah waktu santai kalian dengan beristirahat di rumah."
"Dan juga, jangan lupa untuk membawa alat komunikasi apabila terjadi sesuatu, aku masih ada urusan untuk di lakukan, sampai jumpa minggu depan." kata Roger sambil berjalan menjauh meniggalkan Vivian dan Lin di tempat.
Lin dan Vivian saling menatap.
"Apa yang ingin kamu lakukan selama liburan?" Lin bertanya pada Vivian.
"Apa yang ingin aku lakukan?" Vivian menatap ke bawah dan sedikit merenung.
"Mungkin aku akan mampir ke rumah bibiku dan bermain dengan keponakanku, bagaimana denganmu?" Vivian bertanya balik ke pada Lin.
"Aku? Entahlah, aku belum memikirkannya."
"Adik perempuan ku akan segera pulang dari tempat pembelajaran, dan mungkin ayahku akan menyuruhku menjemputnya nanti." jawab Lin.
"Kalau begitu, titip salam dari ku untuk adikmu." kata Vivian.
"Ya."
Setelah mereka berdua sampai di luar pintu markas Biro, mereka berdua berpisah karena arah tempat tinggal mereka berbeda.
Lin menaiki Kereta Uap Victoria seperti biasa, selama perjalanan ia memandang ke arah jendela untuk melihat pemandangan yang menyejukkan mata.
Sesampainya di stasiun Victoria berikutnya, dia segera berjalan keluar dari kereta, di ikuti beberapa orang juga yang ingin keluar.
Melewati stasiun, Lin sampai di jalanan ber aspal lalu ia melambai ke arah tertentu, dan sebuah mobil uap berhenti di depannya, Lin segera membuka pintu mobil uap dan memasukinya.
Untuk pulang ke kediaman rumah Anston dia menyewa mobil uap untuk mengantarnya.
Akhirnya setelah sekian lama Lin telah sampai di kediaman Rumahnya, di sambut oleh beberapa pelayan, Lin melepaskan mantel hitamnya dan topi Newsboy Cap di kepalanya, lalu menyerahkan kepada pelayannya.
Sesampainya di kamar dia langsung menjatuhkan dirinya ke kasur dengan lemas.
Kemudian dia memanggil panel pribadinya.
[ Nama : Lin Anston
Umur : 21 Tahun.
Tingkat : Beyonder Tingkat 1
Kemampuan : Bayangan.
Seni Rahasia : Shadow Body Cincin 1 ( Dapat di tingkatkan.)
Poin Sumber : 80. ]
Lin menatap Poin Sumbernya dengan puas.
"Panen kali ini sangat banyak."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 31 Episodes
Comments
Jimmy Avolution
Ayo...
2022-10-11
0