Kana terbangun saat suara petir menyentakkannya.
"Astaga, aku ketiduran." Hujan sangat deras, hingga Kana langsung bergerak menutup jendela yang sejak tadi masih ia buka.
Kana melirik jam dan ternyata sudah pukul 10 malam.
Dia memilih keluar untuk mengisi perutnya. Berbohong pada Krishan tak membuatnya benar-benar kenyang.
Ruangan sudah tampak sedikit redup, hanya beberapa lampu yang masih menyala. Kana segera menuju dapur, mencari apa yang masih tersisa di kulkas.
Dia memanaskan makanan sambil bernyanyi mengisi kesunyian. Sesekali dia melirik kamar Krishan. Tadi pria itu pamit pergi, apa dia sudah kembali? Kana mengangkat bahu, mencoba untuk tidak peduli sebab lelaki itu pun lebih bisa menjaga dirinya walau buta.
Kana duduk dan menyantap makanan sambil memainkan ponselnya.
Tak lama, Mary muncul dan terlihat menengok kesana kemari.
"Nyonya, apa tuan sudah kembali?"
Kana menggelengkan kepalanya. "Tidak tahu, Bi. Aku baru keluar dari kamar."
Mendengar jawaban Kana, Mary mengetuk kamar Krishan lalu membukanya.
"Nyonya, apa saya bisa minta tolong?"
"Bisa, asal Bibi berhenti memanggilku Nyonya. Memangnya aku terlihat tua?" Kana menggerutu lalu menyantap makanannya lagi.
"Tapi.."
"Kalau tidak bisa memanggilku dengan nama, panggil saja Nona."
"Baiklah, Nona. Tolong tunggu tuan Krishan. Saya khawatir, dia pasti terjebak hujan."
Kana meletakkan sendoknya. "Dia belum pulang?"
"Belum, Nona. Kepala saya sedang sakit, saya minta tolong Nona untuk menunggunya pulang."
Kana terlihat berpikir sejenak. Dia masih tidak enak perasaan pada Krishan, tapi jika menolak...
"Ya, baiklah akan kutunggu." Jawabnya lalu menyesap tehnya.
"Terima kasih, Nona. Saya permisi."
Kana menyelesaikan makanannya dan mencuci piring bekas makannya. Dia mengintip keluar, hujan masih deras dan Krishan belum juga muncul.
Ada sedikit kekhawatiran dalam hati Kana, mengingat Krishan yang bisa saja nyasar entah kemana karena hujan deras mungkin tak membuatnya mendengar dan mengerti sekitar. Lalu Kana menepisnya. Mana mungkin Krishan nyasar, dia laki-laki yang amat peka pada sekitarnya. Tapi, mau sampai jam berapa dia menunggu?
Kana menyibakkan gorden lagi dan mendapati Krishan muncul dari pagar. Dia berjalan perlahan tanpa payung. Tubuhnya sudah basah kuyup.
"Dia tidak membawa payung?" Kana bergumam sambil memperhatikan Krishan berjalan yang kemudian terpeleset dan jatuh di atas jalan setapak.
"Astaga! Krishan!" Teriak Kana dan langsung membuka pintu, mengejar Krishan yang berusaha bangkit.
Kana membantu Krishan, memegang tangan dan merangkulkan ke pundaknya. Krishan tampak terkejut dengan kemunculan Kana yang tiba-tiba.
"Jia, apa yang kau lakukan?" Suara Krishan sedikit mengeras untuk menyaingi suara derasnya hujan.
"Ayo, cepat masuk." Kana memapah Krishan dan mendudukkannya di ruang tengah.
"Tunggu sebentar, aku akan memasakkanmu air." Tanpa menunggu jawaban, Kana langsung menuju dapur dan memasak air.
Kana membuatkan Krishan teh hangat lalu dengan cepat menuju ruang tengah.
"Ini, pegang ini supaya hangat. Minumlah" Kana menggenggamkan kedua tangan Krishan pada gelas yang berisi teh.
"Jia, aku.."
Kana tak mendengarkan Krishan, dia berlari kecil menuju kamar pria itu untuk mengambil handuk.
Kana membentangkan handuk di punggung Krishan lalu mengelap kepala pria itu dengan perlahan.
"Apa kau dingin? Aku sedang memasakkanmu air untuk mandi. Tunggulah sebentar." Ucapnya sambil terus mengelap wajah Krishan.
Krishan meletakkan tehnya diatas meja sebelah kursinya dan menggenggam tangan Kana yang sibuk mengelap tubuhnya.
"Jia, aku tidak kedinginan. Justru kaulah yang kedinginan." Krishan bisa merasakan suara Kana yang mulai bergetar.
"Tidak, aku.." Ucapan Kana terhenti saat dia mendengar suara air yang mendidih dari teko. Kana langsung berlari mengambil air dan mengisinya di bak Krishan.
"Krish, aku sudah menyiapkan air mandimu. Ayo, aku antar ke kamarmu." Kana menarik perlahan lengan Krishan supaya pria itu berdiri. Tetapi Krishan malah menarik tangan Kana hingga gadis itu terduduk di pangkuannya.
"Krish, apa yang..." Krishan menahan tubuh Kana yang akan berdiri, dia memegang pinggang gadis itu supaya tidak bergerak.
"Tidak perlu repot, Jia. Aku tidak apa-apa." Suara berat Krishan membuat jantung Kana bergetar. Posisi duduknya mengingatkan dirinya akan malam itu.
"A-aku hanya.. supaya kau tidak sakit." Jawabnya terbata. Kana merasakan detak jantungnya yang luar biasa kencang.
"Aku tidak akan sakit hanya karena hujan."
Kana menelan ludahnya. Dia merasa canggung dengan posisinya saat ini.
Krishan meletakkan telapak tangan Kana di pipinya. Dia merasakan tangan Kana yang dingin.
"Terima kasih, sudah memperhatikanku." Bisik Krishan hingga membuat Kana terus menatap ke wajahnya. Dia memperhatikan detail wajah Krishan, wajah yang tidak pernah membuatnya bosan memandang.
Dia beralih pada bibir Krishan. Tanpa ia sadari, ibu jarinya mengelus lembut rahang tegas pria itu. Ingin rasanya ia mengulangi ciuman yang membuatnya candu.
Kana menatap lagi mata indah Krishan, laki-laki itu hanya diam, seperti menikmati sentuhan Kana. Dia seperti memberikan gadis itu ruang untuk melakukan apapun yang ia mau pada tubuhnya.
Kana menyadari respon Krishan yang seperti menunggu tindakannya. Diapun mendekatkan bibirnya hingga bisa merasakan hangatnya napas Krishan. Kana memejamkan matanya, dia menyukai itu, kehangatan dari Krishan disaat tubuhnya yang mulai menggigil, dia sangat menyukainya. Kana ingin merasakan kehangatan yang lebih dari pria itu, dia semakin mendekatkan bibirnya pada bibir Krishan. Namun dia teringat sesuatu, dia sedang tidak mabuk. Dia sangat sadar sekarang, lalu jika Kana menciumnya...
Kana langsung membuka matanya dan bangkit dari pangkuan Krishan.
"A-aku akan kembali.. ke kamarku." Kana dengan cepat menuju kamarnya. Dia berhenti sebentar, menoleh pada Krishan yang belum juga bergerak di tempatnya. Laki-laki itu hanya diam tanpa pergerakan apapun.
Kana masuk ke dalam kamar, memukul-mukul dadanya yang tidak bisa berdetak dengan normal sejak tadi. "Sialan. Kenapa kau begitu, ha?" Ucapnya sambil terus memukul letak jantungnya berdetak. Kana terduduk di tempatnya, lututnya lemas. Dia hampir kehilangan akal saat menatap wajah Krishan.
"Syukurlah otakmu masih sedikit bekerja, Jia. Untunglah kau tidak menciumnya. Kalau tidak, betapa malunya dirimu..." Gumamnya lalu berdiri menuju kamar mandi.
Sementara Krishan masih diam di tempatnya. Dia sedikit kecewa karena istrinya pergi begitu saja. Padahal dia sempat merasakan napas Kana berada di pipinya, begitu dekat. Juga kelembutan jari Kana yang mengelus lembut di pipi, membuat Krishan berharap perempuan itu akan melakukannya lagi, cumbuan yang kemarin membuatnya menginginkannya lagi sekarang.
Krishan menghela napasnya saat mengingat dirinya yang hampir saja menarik tengkuk leher gadis itu dan mencium bibirnya. Dia nyaris melakukannya. Untunglah dia masih bisa menahannya. Kalau tidak, dia takkan memaafkan dirinya sendiri jika Kana sampai marah dan meninggalkannya.
Krishan masuk ke dalam kamarnya, dia akhirnya mandi dengan air hangat yang baru dibuatkan istrinya. Krishan berendam, membaringkan tubuhnya yang lelah setelah mengurus beberapa hal tentang pekerjaannya.
Dia merebahkan kepalanya sembari memikirkan istrinya. Kanazya, istri yang ia tidak tahu wajahnya, namun pesona dari suara dan aroma parfum sensual yang beradu dengan aroma tubuh Kana, membuat Krishan frustrasi jika satu hari saja tidak menghirup aroma wanita itu. Jia, sudah sangat merasuki tubuhnya, namun dia harus lebih bersabar karena perjanjian sejak awal dirinya dan istrinya membuat Krishan harus bisa menahan diri.
"Aku tidak sabar ingin melihatmu.." Gumamnya lalu memejamkan mata, menikmati air hangat pertama yang istrinya buatkan untuknya.
TBC
(Krishan)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
Mystera11
suka sama visualnya...bener2 cocok😍
2023-02-15
1
Royani Arofat
tajir melintir masih butuh merebus air panas u tuk nandi thor??? g punya water heater
2022-12-16
0
Sandrie
huuu suka banget visual nya Thor🥰🥰
2022-09-19
2