Kana tersenyum saat mendapat ID Card miliknya. Ada foto dan namanya disana. Lalu di atasnya Logo dan nama perusahaan tempatnya bekerja, Shanprise.
Dia mengingat ucapan Rachel bahwa ID Card sangat penting dan wajib dibawa kemana-mana. Naik lift juga pakai IDC, jadi harus terus tergantung di leher.
Kana mengeluarkan ponsel. Memotret dirinya dan mengetik sesuatu untuk Alana.
'Lihat siapa ini..' Kana mengirim foto dirinya dengan IDC barunya.
'OMG!! Are you kidding me?? Editannya keren!'
Kana tergelak membaca pesan Alana.
'Temani aku belanja sore ini, ya. Kau harus bisa luangkan waktumu.' Balasnya lagi.
'Ayo, aku juga sedang suntuk. Kita cari cowok tampan seperti dulu lagi yuk🥺 Aku rindu Kana yang dulu. Hiks'
Kana menggelengkan kepalanya membaca pesan Alana.
'Boleh juga tuh, Yuk!'
'Yeaayy!! Cari pacaarrr lagiii, we'll comeee!!'
Kana tertawa pelan lalu menyimpan ponselnya saat Rachel datang dan menjelaskan tugas untuknya.
...♧♣︎♧♣︎...
"Kanaaaaa.."
Alana berlari kecil sambil merentangkan tangannya. Kana yang melihat Alana datang langsung memeluknya.
"Heh, apa ini!!" Alana menarik benda kecil yang menggantung di leher Kana.
"Astaga! Kau serius bekerja di Shanprise??" Mata Alana melotot tak percaya menatap IDC Kana.
Kana mengangguk. "Iya, baru kemarin daftar dan langsung diterima pagi tadi."
"Eh?" Alis Alana mengerut. "Langsung diterima begitu saja?"
"Iya. Aku juga sama sepertimu, bingung. Tapi ternyata benar." Jawab Kana sembari melihat IDC nya.
"Aneh sih, tapi karena itu kau, aku senang saja." Ucapnya lalu memeluk Kana lagi. Mereka naik taksi menuju Mall terbesar di kota itu.
Alana memilih beberapa untuk Kana. Bekerja di perusahaan terkenal harus cantik dan bergaya, apalagi wajah Kana yang cantik sangat mendukung penampilannya.
"Kana, dari mana kau mendapatkan duit sebanyak ini?" Alana mengangkat belanjaan di tangannya. Hari ini dia kebagian beberapa potong, Kana membelikannya.
"Dari Krishan. Itu uang yang dia berikan padaku setiap bulan."
Mata Alana melotot. "Berapa memangnya?" Tanyanya penasaran, pasti besar hingga bisa membeli banyak baju, sepatu, juga tas untuk Kana.
"Haha, rahasiaaa.." Jawabnya, lalu Alana manyun tak dapat jawaban dari Kana.
"Walaupun begitu, aku ikut senang akhirnya kau bahagia. Sebenarnya kau tidak perlu bekerja jika suamimu itu memberi banyak uang begini. Aahh jadi iri.." Alana menghentakkan kakinya.
"Pernikahan kami bukan seperti pernikahan pada umumnya. Kami punya kesepakatan, Alan. Dia mau menopang hidupku dan aku hanya perlu menjadi temannya di rumah." Jawab Kana sambil memilih-milih baju lagi.
"Apa? Kau serius?"
Kana mengangguk. "Kemarin aku melihatnya bersama mantan calon istrinya. Aku merasa mungkin suatu hari jika dia memilih perempuan lain, aku harus siap dan untungnya aku diterima bekerja di Shanprise."
Alana mengerutkan dahinya. "Menurutku, dia bukan laki-laki yang seperti itu. Dia terlihat baik."
"Aku juga berpikir begitu. Hanya saja, aku perlu berpikir panjang. Aku tidak mungkin terus ditopang olehnya, kan?"
"Begitu, ya. Sayang sekali, padahal dia tampan. Cobalah cicip sekali sebelum berpisah."
Kana mendelik tajam pada Alana yang lalu terkekeh.
"Bagaimana kalau dia jatuh cinta padamu?" Tanya Alana tiba-tiba dan berhasil membuat Kana berhenti dari aktifitasnya.
"Ya, kan? Bisa saja dia tiba-tiba jatuh cinta padamu."
Kana tak menjawab, tapi dia memang bisa merasakan itu. Krishan menyukainya, dia menyadari itu. Tetapi untuk ke tahap cinta, Kana ragu.
"Atau kau yang mencintainya? Hahaa" tawa Alana mengingat Kana selalu mengatakan Krishan sangat mempesona. "Bukankah kau pecinta laki-laki seksi, uh? Krishan itu sangat tipemu."
"Aku cukup tahu diri. Dia mau menampungku saja, sudah membuatku bersyukur."
Alana memeluk lengan Kana dan meletakkan kepalanya di bahu Kana. "Kau selalu saja begitu. Padahal akupun akan selalu ada untukmu."
Kana mengelus lembut rambut Alana. "Iya, aku tahu. Cup cup.. cepatlah menikah supaya tidak sendirian terus."
Alana langsung mengangkat kepalanya. "No! Aku masih mau bebas dan menikmati hidup."
"Memangnya aku tidak terlihat bebas?" Tanya Kana.
"Hei, aku ingin pernikahan normal, tahu. Bukan sepertimu." Ucapnya lalu berjalan melihat-lihat baju.
Mendengar jawaban Alana, Kana sedikit tertohok. Memang benar, pernikahan dirinya dan Krishan tidak normal.
Beberapa jam kemudian, Kana pulang dengan membawa beberapa kantong belanjaan.
Krishan yang menyadari kedatangan Kana, tersenyum manis duduk di ruang tengah dengan kopinya sambil mendengarkan musik.
Sejak tadi dia mendapat telepon dari orang kepercayaannya, bahwa Kana sudah memakai uang yang ia berikan. Mendengar itu Krishan tersenyum. Istrinya itu bukan perempuan yang boros karena dari pernyataan orang kepercayaannya, Kana hanya menghabiskan 15% dari semua yang Krishan beri padanya.
"Jia, sudah pulang?"
"Iya."
"Sudah makan malam?"
"Belum, aku akan memanaskan makanan nanti. Aku mandi dulu, ya." Kana membawa barang-barangnya lalu masuk ke dalam kamar.
Tak berapa lama, Kana keluar dengan memakai singlet tipis dan celana pendek. Dia mendapati banyak makanan di atas meja.
"Krish, dari mana ini?"
"Aku memesannya dari restoran depan. Ayo, makan." Krishan duduk dan Kana duduk disebelahnya.
"Kau juga belum makan?"
"Belum."
"Kau mau apa? Biar aku ambilkan." Kana melihat semua makanan di depannya, terlihat sangat enak dan membangkitkan seleranya.
"Apa saja asal bisa dimakan." Jawabnya ringan.
Kana meletakkan beberapa potong steak di piring krishan.
"Jia, ini.."
"Steak. Kau bisa memakannya, kan?"
Krishan tak menyahut dan Kana mulai makan sambil bermain ponsel.
Tak terdengar suara sendok, Kana mengerti kalau Krishan tidak bisa memakannya sendiri.
Kana lalu memotong-motong daging di piring Krishan. "Kenapa berat sekali untuk minta bantuan?" Ucapnya.
Krishan tersenyum. "Aku tidak ingin merepotkanmu."
"Aku tidak pernah merasa direpotkan." Kana mengangkat satu potongan daging. "Buka mulut, Aaaa..."
Krishan menurut, dia membuka mulut lalu mengunyah makanannya. Satu hal yang Krishan ingat adalah selama bersama Sherly, dia tidak pernah dimanjakan seperti Kana yang memperhatikannya. Yang ada, Krishanlah yang selalu memanjakannya. Hanya saja, Krishan tidak bisa membedakan perasaan Kana padanya, apakah gadis itu memang menyukainya mengingat Kana sering memuji ketampanannya atau merasa kasihan karena dirinya yang buta.
"Bagaimana pekerjaanmu?"
"Aku sangat suka. Rasanya bersyukur bisa bekerja disana."
Krishan mendengar nada yang gembira dari istrinya.
"Apa perlu kita rayakan?"
Kana tertawa, "Boleh, kau mau aku traktir?"
"Traktir aku digaji pertamamu. Untuk kali ini, aku yang akan mentraktir atas pekerjaan barumu. Kau mau apa, atau sesuatu yang ingin dikunjungi? Katakan saja, aku akan mengabulkannya."
"Wah, kau semangat sekali, Krish. Haha." Kana mengaduk makanannya. "Sejujurnya aku ingin pergi ke pantai."
"Baik, kita kesana akhir pekan."
"Benarkah?" Kana mulai kegirangan.
"Iya, aku akan menemanimu kesana." Jawab Krishan penuh senyuman. Mendengar permintaan Jia membuatnya sangat senang. Dia berharap wanita itu mau mengatakan apapun yang dia inginkan supaya dirinya bisa mengabulkannya satu persatu.
"Janji, ya. Aku sudah sangat ingin kesana."
"Iya. Aku janji." Ucap Krishan dengan senyuman lebar, diapun ikut senang akhirnya bisa pergi bersama istrinya.
Lelaki itu mulai memasukkan lagi makanan ke mulutnya. Kana menatap Krishan disebelahnya. Dia sudah hapal wajah lelaki itu, bentuk hidung, mata, bibir, hingga wajah Krishan yang bingung, Kana sudah mengenalnya dengan jelas.
Lihat, gurat bingung itu muncul di wajahnya. "Jia, ada apa?"
Kana tersenyum. Lelaki itu peka sekali, bertanya karena tidak mendengar suara apapun disebelahnya. "Tidak ada. Aku hanya..." Kana mencari jawaban.
"Aku hanya merasa bersyukur bisa mengenalmu." Kata-kata itu keluar begitu saja. Dia memang merasa beruntung karena mengenal Krishan. Laki-laki ini sungguh baik. Dia juga sangat menghargai Kana. Hal itu menjadi pikiran Kana semenjak dia mabuk malam itu. Walau terjadi malam yang sempat panas, namun Krishan memang tidak melakukan hal lain. Padahal bisa saja Krishan melakukan itu karena Kana pun pasti tidak menolak karena mabuk. Tetapi Krishan benar-benar menahan dirinya.
"Aku pasti merepotkanmu kan, Krish. Aku akan berusaha dan bekerja keras supaya bisa menabung untuk hidupku."
Krishan mengerutkan dahinya. Apa maksud Kana?
Pikiran Kana mulai terbuka saat melihat Krishan bersama mantan kekasihnya. Pada awalnya memang Krishan yang memintanya menikah hanya supaya ia punya teman. Begitu juga Kana yang merasa hidupnya terus ditopang oleh Alana.
"Suatu hari nanti, aku akan bisa menanggung hidupku sendiri. Jadi, kau tidak perlu repot memikirkanku."
Krishan tak langsung menjawab, dia sedang memikirkan ucapan Kana yang terdengar ingin lepas dari dirinya.
"Jia, aku sama sekali tidak keberatan dengan itu. Bukankah perjanjian awal menikah memang begitu?"
"Iya, benar. Hanya saja aku merasa perlu berkembang. Bukan berarti aku diam saja karena hidupku ditanggung olehmu. Memangnya mau sampai kapan?"
Krishan ingin sekali mengatakan bahwa ia akan memberikan apapun asal Kana mau terus bersamanya. Namun, Kana belum seharusnya tahu semuanya.
"Ah, haha. Suasananya jadi serius. Sini, aku sulangi." Kana menarik piring Krishan lalu menyulanginya makan. Pelan-pelan dia membersihkan sisa yang menempel di sudut bibir Krishan. Lelaki itu tidak bicara lagi, seperti tengah berpikir.
"Jia.."
"Hm?"
"Kau tidak berpikir untuk pergi, kan?"
Kana tertegun dengan pertanyaan Krishan. Pergi? Dia tidak pernah berpikir begitu, hanya saja jika Krishan yang berubah, dia pasti akan pergi.
"Tidak. Sama sekali."
Senyum tipis terulas di wajah Krishan. Setidaknya jawaban Kana membuatnya lebih baik.
"Kecuali jika kau yang sudah tidak ingin aku disini." Lanjut Kana.
"Itu tidak mungkin. Aku selalu berharap kau ada di rumah saat aku pulang. Aku suka mendengar suara dan harummu disekitarku. Jadi, jangan berpikir aku akan meninggalkanmu. Tidak, karena aku sangat membutuhkanmu untuk terus ada disampingku. Kau harus ingat itu."
Kalimat Krishan penuh menegasan, membuat hati Kana bergetar. Dia lalu tersenyum seperti menyadari sesuatu, apakah seseorang telah menaruh hati padanya?
"Maaf mengganggu, tuan. Ada tamu di depan. Katanya perlu berbicara dengan tuan." Ucap Marry yang tiba-tiba datang.
"Suruh masuk saja." Jawab Krishan yang mengenal siapa tamunya.
"Eh, tunggu. Aku masuk saja karena tidak pakai baju." Sahut Kana dan langsung bergerak ke kamarnya.
"Apa?" mata Krishan membulat saat mengetahui ternyata Kana tidak pakai baju sejak tadi?
"Jiaaaa." Teriaknya berang pada Kana yang tertawa terbahak-bahak dalam kamarnya.
TBC
(Yohan-Krishan)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
ummi rama
ya ampun ckep nya... mkanya blm bs move on dri krishan dan tuan yohan ini.... 😘😘😘
2023-10-08
0
🌛Dee🌜
😂😂a
2023-06-29
0
Rima Ferika
ya ampun ganteng e,, bojo ne sopo iku
2022-11-16
0