"Sudah seribu. Aku membantumu buka toko, ya." Kana bergerak menuju pintu dan membalikkan plat kecil menjadi Buka.
"Apa kau tidak bekerja?" Tanya Krishan.
"Bekerja. Aku shift malam hari ini." Jawabnya sambil merangkai bunga. "Apa ada toilet di dalam?"
"Ada, masuk saja."
Kana masuk ke dalam dan menuju toilet sementara samar-samar dia mendengar suara lonceng tanda pintu terbuka, sepertinya ada pembeli.
"Apakah sudah selesai?" Suara laki-laki yang kana kenal terdengar.
Kana keluar dan terkejut melihat Noah memeluk satu bucket besar mawar di tangannya.
"Noah?"
"Sayang, kau disini?" Noah tak kalah kaget melihat Kana yang keluar dari dalam toko.
"Sayang, katamu?"
"Sayang, aku sudah minta maaf, kali ini aku membeli seribu mawar, kesukaanmu. Sebagai permintaan maafku padamu." Ungkap Noah lalu memberikan mawar itu pada Kana.
"Aku tidak mau, sudah kukatakan aku tidak mau kembali padamu!" Pekik Kana.
"Sayang. Aku janji padamu.."
"Stop, Noah. Kau membuatku muak. Aku sudah menemukan penggantimu. Jauh lebih baik dan lebih tampan darimu!" Ucap Kana tiba-tiba, supaya Noah berhenti mengganggunya.
"Sayang, ayolah. Aku tahu kau hanya memanasiku. Kau takkan mungkin secepat itu berpaling dariku." Kata Noah dengan percaya diri.
Kana membuang napas dengan kasar, lalu dia melihat Krishan yang terpaku mendengar perdebatan sepasang kekasih di depannya.
"Kau salah, Noah. Justru aku dengan cepat melupakanmu karena kutemukan laki-laki yang jauh lebih baik darimu." Kana lalu menggaet lengan Krishan yang berdiri diantara mereka.
"Maksudmu dia?" Noah tertawa meledek. Dia sama sekali tidak percaya Kana memilih laki-laki buta sebagai kekasih pura-pura. "Are you kidding me, Honey?"
Kana menjadi sedikit ragu karena Noah meledeknya. Dia melonggarkan genggamannya.
Krishan yang menyadari itu, langsung mengeratkan tangan Kana yang melingkar di lengannya.
"Ya, dia kekasihku. Apa ada masalah?"
Kana tercengang, sementara Noah menggeleng tak percaya. "Sudahlah, dia tidak mungkin memilihmu. Kau seharusnya cukup tahu diri."
Krishan membentangkan tongkat yang terlipat dan menghentakkannya ke tembok kaca tepat di sebelah leher Noah.
"Pergi". Kata Krishan dengan penuh penekanan.
Noah tersentak, ujung tongkat itu hampir saja mengenai lehernya.
"Jangan buat aku bicara dua kali".
Walau buta, entah mengapa lelaki itu berbicara dengan aura yang mengerikan hingga membuat Noah sedikit merasa takut.
Noah langsung mencampakkan bucket mawar itu dan keluar begitu saja.
Kana masih terdiam dengan apa yang dia lihat. Bagaimana Krishan bisa semenakutkan itu dengan aura seperti pembunuh.
"Kau baik-baik saja?"
Kana tersadar, dia segera melepas tangannya dari Krishan.
"I-iya. Maaf, aku.."
"Tidak apa-apa. Aku mengerti". Krishan melipat tongkatnya, dia berjongkok dan mulai mengutip mawar-mawar yang berserak tadi.
Kana membantunya mengutip mawar-mawar itu sambil menahan tangisnya, bagaimanapun, dia belum bisa melupakan Noah.
Krishan mendengar samar suara isakan dari perempuan di depannya.
"Diakah pacarmu itu?" Tanyanya memastikan.
Kana mengangguk seolah Krishan bisa melihatnya.
"Kau bisa menggunakanku jika kau mau, maksudku supaya dia tidak mengganggumu lagi". Ucap Krishan. Dia lalu berdiri, meletakkan tangkai-tangkai mawar di atas meja.
"Baiklah". Jawab Kana dengan suara parau.
Krishan tersenyum, dia lalu mengambil spayer dan menyemprotkan bunga-bunga di depannya.
"Mungkin sekarang sedang berat, tapi nanti kau akan merasa lebih baik." Kata Krishan menghibur.
"Kau benar. Hariku sungguh berat sekarang. Aku bersyukur bisa datang kesini dan sedikit tenang karena tanaman dan bunga-bungamu". Kana mengumpulkan mawar-mawar itu dan memasukkannya ke dalam vas besar.
"Datang saja sesukamu, kau sangat diterima disini".
Kana tersenyum cerah.
"Kau berusia berapa, Jia?" Tanya Krishan lagi.
"23, kalau kau?"
Krishan tertawa. "30. Kau jauh dibawahku ternyata, ya".
"Apa aku harus memanggil kakak? Atau Mas?" Ucap Kana lalu dia tertawa.
"Panggil saja senyamanmu". Sahutnya lagi.
TRING!
Pintu terbuka, seorang perempuan paruh baya masuk.
"Selamat datang, ada yang bisa dibantu?" Sambut Kana dengan ramah, membuat Krishan tersenyum.
"Apakah ada bibit bunga lili?"
"Ada disana". Krishan menunjuk satu sudut, dengan cepat Kana berjalan ke arah telunjuk Krishan. Dia melihat satu pot bibit bunga yang sama dengan miliknya.
"Ini, Nyonya". Kana menyerahkan satu pot kecil berwarna putih.
"Berapa harganya?"
Kana melirik Krishan. "Hei, berapa harganya."
"120.000" Jawabnya.
Wanita itu menyerahkan uang dan pergi membawa pot bunga lili.
"Ini duitnya".
"Taruh saja di dalam laci". Ucap Krishan masih terus menyemprot bunga-bunga yang berderet di atas meja.
"Apa kau tidak takut ditipu?" Tanya kana saat setelah memasukkan uang ke dalam laci.
"Apa maksudnya dari pembeli?"
"Apa kau juga mencurigaiku?"
Krishan kembali tersenyum. "Tidak, aku tidak mencium aroma penipu dari dirimu".
Kana tergelak. "Baiklah, tuan penciuman tajam, kau harus benar-benar berhati-hati padaku."
TRING!
Seorang laki-laki masuk, dia memesan bucket bunga mawar putih. Dengan cepat Krishan memberikan pesanannya dan lelaki itu memberikan uangnya dan melangkah pergi. Saat lelaki itu membuka pintu, Krishan menahannya.
"Tunggu, ini bukan uang seratusan".
Mendengar itu, Kana yang tengah membersihkan rumput kecil di pot-pot bunga segera mendekat.
"Aku memberikanmu uang seratusan dua lembar." Ucap lelaki itu.
"Tapi ini bukan seratusan dua lembar." Krisan terus mengelus dan membolak-balikkan uang kertas itu. "Ini sepuluh ribuan dua lembar".
"Benar tuan, itu sepuluh ribu dua lembar". Sambung kana.
"Kau mencoba menipuku, ya!" Lelaki itu membentak dengan suara menggelegar membuat Kana tersentak dan merinding.
"Menipu? Justru saya yang tengah ditipu". Balas Krishan dengan tenang.
"Aku memberimu uang yang pas. Lalu kau menukarnya dari sakumu, kan! Kau buta sialan, beraninya kau berbohong!" Bentak Lelaki itu.
Krishan lalu merogoh seluruh kantong celananya hingga mengeluarkan kain dalamnya.
"Lihat, tidak ada apa-apa di kantongku. Kau memang memberi dua puluh ribu".
Laki-laki itu tampak berang, "Kurang ajar, kau!"
Dia lalu melayangkan pukulan ke arah Krishan lalu dengan cepat Krishan menahan tangan laki-laki itu hingga membuat Kana maupun lelaki itu tercengang.
Krishan menajamkan matanya. "Berikan saja dua ratus ribu dengan benar, tanpa perlu mengotori tanganmu". Tukas Krishan dengan aura yang mengerikan lagi.
Lelaki itu gelagap, dia langsung mengeluarkan uangnya dan berjalan keluar dengan cepat.
"Tunggu, ini uang dua puluh ribumu".
Lelaki itu langsung pergi saja tanpa menoleh.
"Ini kelebihan dua puluh". Ucap Krishan lagi lalu berjalan pelan sambil meraba menuju laci dan menyimpan uangnya disana.
"Jia?"
"Ah, iya?" Kana terdiam sejak tadi melihat aura yang berbeda dari Krishan. Dia sedikit takut pada lelaki itu.
"Kau melamun?"
"Ti-tidak." Kana memulai lagi pekerjaannya yang tertunda.
"Apa kau takut padaku?"
Kana memicingkan matanya, dia melihat Krishan dengan teliti. Lelaki itu masih memakai kacamata hitamnya, apakah dia pura-pura buta? Batin Kana.
"Kau benar-benar buta, kan?" Tanya kana dengan ragu.
Krishan malah tertawa. Dia membuka kacamatanya.
"Kau masih tidak percaya?"
"Jadi, bagaimana kau tahu dia akan memukulmu?"
Krishan duduk di kursinya lagi. "Aku bisa merasakannya. Ada seperti bayang yang lebih hitam mengarah dengan cepat, lalu aku hanya berusaha menggenggam bayang itu. Ternyata itu tangan lelaki tadi". Jelasnya pada Kana dengan tenang.
Kana hanya manggut-manggut. Dia juga merasa lelaki di depannya jujur, lagipula buat apa dia berpura-pura buta?
"Kau tinggal dengan siapa?" Tanya Kana. Dia mulai penasaran dengan Krishan.
"Sendirian."
"Kau bisa melakukan semua sendirian?"
Krishan tersenyum, "Dulu bisa, sekarang sepertinya sulit karena telah mendengar suaramu".
Kana tergelak. "Kau ternyata pandai berbicara ya, tuan Krishan".
Tbc
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
🌛Dee🌜
digombalin dg🤣
2023-06-29
0
🌛Dee🌜
🥰👍Krishan..
2023-06-29
0
momnaz
Bagus cerita nya.. menarik
2023-03-03
1