"Tentu saja, tentu saja kita akan buat foto keluarga lagi. Arkan, Mama dan Papa," jawab Elma dengan suara yang dia buat seolah yakin.
Meski tidak tahu, apakah ucapannya itu akan terwujud atau tidak.
"Sekarang Arkan fokus saja pada ujian, papa juga akan fokus pada pekerjaannya. Sementara Mama akan mendukung kalian berdua," jelas Elma lagi, dia mengelus puncak kepala sang anak. Lalu memeluk Arkan yang kini duduk di kursi meja belajar, sementara dia berdiri disamping.
Elma memeluk erat Arkan, pelukan paling erat yang pernah Arkan rasakan. Arkan tahu, di pelukan ibunya kali ini ada luka yang coba ibunya sembunyikan.
Arkan tahu jika ayah dan ibunya terus bersama hanya akan menambah banyaknya pertengkaran.
Arkan tahu bahwa ayah dan ibunya pun lelah menjalani kehidupan seperti ini.
Hanya satu yang Arkan takutkan dari banyaknya pikiran di dalam kepalanya, Arkan takut bahwa dia menjadi beban bagi ayah dan ibu.
Karena itulah dia memilih diam, memilih pura-pura tidak tahu dan tak banyak menuntut. Apapun keputusan ayah dan ibunya dia akan ikuti.
Tapi andai Arkan diminta memilih untuk ikut dengan siapa? Arkan tidak akan pilih kedua nya.
Arkan akan pilih tinggal disini, bersama dengan oma dan opa.
"Arkan! Elma! sini!" teriak Lusi, sebuah panggilan yang membuat Elma melepaskan pelukannya pada sang anak.
"Oma pasti meminta kita untuk makan dulu, sekarang ganti baju mu."
Arkan mengangguk.
Dan Elma langsung keluar dari dalam kamar itu, dia mendatangi sumber suara. Sang ibu dan ayah yang kini duduk di meja makan dapur.
"Kok belum ganti celana, itu basah El. Sana ambil baju ganti di kamar oma. Kalau malu ganti disana ya ganti di kamar mu sendiri." jelas Lusi.
Rumah ini adalah rumah tua, banyak kamar guna berkumpul anak-anak. Danu dan Elma juga punya kamar sendiri saat menginap disini, kamar Elma saat dulu masih gadis.
"Tidak usah ganti Oma, nanti juga kering sendiri. Ini basahnya juga tidak terlalu banyak." Tolak Elma, sengaja menolak karena dia tidak ingin lama-lama disini. Setelah makan dia bahkan berniat langsung mengajak Arkan pulang.
Meski ini rumah kedua orang tuanya sendiri, namun tetap saja Elma merasa asing. Sudah merasa seperti orang lain.
"Ya sudah teeserah mu saja," pungkas Lusi.
Setelahnya Arkan ikut bergabung bersama mereka.
"Duduk dekat Oma sayang," ucap Lusi, dia menarik Arkan dan mendudukkan sang cucu disebelahnya. Lusi juga menyiapkan makanan untuk Arkan, meletakkan banyak lauk di dalam piring.
"Makan yang banyak, harus kuat dan sehat agar bisa berpikir saat ujian," ucap Lusi, dia sangat menyayangi Arkan.
Semenjak ada Arkan di dalam rumah tangga Danu dan Elma, dia dan Herman mulai merestui pernikahan itu.
"Ini banyak sekali Oma."
"Tidak Apa, nanti kalau tidak habis biar Oma yang makan."
Melihat interaksi itu Elma hanya diam saja, tiap kali mereka datang ke rumah ini memang banyak makanan enak yang tersaji.
"Kamu makanlah juga El," ucap Herman, membuat lamunan Elma buyar dan akhirnya mengangguk kecil.
Mereka semua makan bersama, hanya Herman yang tidak makan. Tadi sebelum menjemput Arkan, dia sudah makan.
Tapi Herman tetap duduk disana, menemani semua keluarganya. Sesekali dia menatap sang anak, melihat Elma yang sedang makan dengan mata seperti berembun.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 86 Episodes
Comments
Alanna Th
Itu sbbny aq tetap brtahan, walau swami mndua hati; demi ktenangan k 2 anak kami
2024-07-29
2
himmy pratama
tetep anak lah yg JD korban akibat sebuah perceraian
2024-03-31
1
himmy pratama
crt mu membuat HT GK nyaman ae thor. prihatin tenan..JD nya GK menghibur dech malah nyesek rasanya..mmg dlm rumah tangga sll ada masalah sikapi lah dgn kedewasaan penuh kern kt Uda menikah dgn segala resiko nya
2024-03-31
0