kartu nama

"Va...ini pesanannya sudah....gak nambah apa-apa lagi nih..."

"Hehe enggak mbak...itu aja...kalo banyak-banyak nanti mbak cepet kaya lagi..."

sahut Eva di iringi dengan gelak tawa.

"Yee..nambah ayam 1 aja gak bakal nambah kekayaan kali...kalo nambah satu truk baru saya kaya..."

Lita menimpali dengan tawa yang mulai pecah.

"Hahaha....mbak Lita ini bisa aja...lagian siapa yang mau makan ayam satu truk...bisa diare saya...."

sahut Eva masih tertawa dan mulai berdiri dari tempatnya, menyahut bungkusan nasi yang sudah di siapkan oleh Lita.

"Ya sudah berapa ini mbak..."

"Seperti biasa...masak lupa..."

Eva mengeluarkan uang pecahan 10ribu dari sakunya.

"Ini mbak makasih ya...."

"Ya hati-hati di jalan Va....besok mampir lagi ya..." Lita melambaikan tangannya setelah menerima uang Eva.

Eva pun tak menjawab Lita, ia hanya mengacungkan jempolnya dan berlalu pergi dari warung Lita.

Toni yang sedari tadi memperhatikan Eva dengan penasaran bertanya pada Lita.

"Perempuan tadi siapa mbak.."

"Eh itu mas...namanya Eva...kenapa mas naksir ya..."

"Eeh enggak mbak...penasaran aja...sepertinya dia anak yang periang dan suka bercanda..."

"Oooh...memang sih mas...dia anaknya ceria banget...dan suka bercanda...baik lagi..."

"Emmm...dia tinggal dimana mbak...?"

"Dia ngekost disini mas...dia anak rantau...gak tau darimana aslinya...kost nya saya juga gak tau...yang saya tau dia kerja di swalayan perempatan jalan tuh...swalayan besar itu..."

"Loh anak rantau..."

jawab Toni sedikit terkaget.

"Iya....kasian dia mas...katanya sih dia kerja disini untuk membantu orangtuanya menghidupi adik-adiknya di kampung..."

"Pantas saja dia kelihatan seperti anak yang mandiri ya mbak....teryata anak rantau juga..."

"Iya mas....kasian...dia punya tekad keras menjadi orang yang sukses tapi ya memang kehidupan di jakarta ini keras mas...susah untuk kaya kalau tak ada jalan yang terbuka...ya kan..."

"Bener banget tuh mbak...saya juga sudah 5 tahun merantau di jakarta....ya kehidupan saya ya gini-gini aja mbak...gak berubah sama sekali...padahal kerja juga udah tiap hari..."

"Hehe sabar aja mas...nanti klo udah nemuin jalan pasti berubah kok...contohnya kayak saya nih....warung ini sudah jalan saya...saya bisa menghidupi anak saya lewat berjualan disini...bahkan saya juga baru membangun rumah baru saya..."

"Waaah....bener-bener patut di contoh tuh mbak..."

"Iya mas yang penting kita harus yakin dan terus kerja dan kerja..."

"Mbak jadi buat saya semangat lagi nih mbak....buat bekerja lebih giat lagi..."

"Harus donk mas...kalo gak kerja kapan kayanya..."

"Salah mbak...kalo saya disini trus kapan kerjanya...itu yang bener..."

Toni berdiri dari kursinya dan merogoh saku di celananya.

"Berapa semuanya mbak...nasi ayam teh dan krupuknya.."

"Hehe iya mas bener juga....eh iya semua 17 ribu mas.."

Toni pun membayarnya dan berlalu pergi dari warung itu, terburu-buru menuju kembali ke proyek tempat kerjanya karna waktu istirahat sudah hampir habis.

Di tengah pekerjaan, Toni yang sedang membawa beberapa tumpuk kayu untuk di bawa ke lantai atas menggunakan katrol buatan tengah berfikir tentang Eva.

Mungkin dia wanita yang tepat...dia memiliki tekat kuat untuk mencari uang...dan dia juga anak rantau...dia sendirian...aku akan bicara padanya....siapa namanya tadi...Eva...ya Eva...tapi aku tak begitu jelas dengan wajahnya...

Bayangan Toni kembali teringat kejadian 2 minggu yang lalu, saat Toni di minta oleh sang mandor untuk membawa gambar proyek hotel yang akan di kerjakan di lantai 15. Toni di minta pergi ke kantor yang berada di sebelah bangunan proyek tersebut. Kantor yang di masuki oleh Toni jauh berbeda dengan tempat dia bekerja yang panas dengan banyak debu dimana-mana.

Kantor itu sangat bersih, bahkan di pasang AC di setiap ruangannya. Kabarnya kantor itu adalah milik seorang yang memimpin proyek tersebut. Pengusaha properti terbesar di negaranya.

Cukup gemetar Toni mengantarkan berkas yang ada di tangannya, walau hanya beberapa lembar Toni membawanya dengan hati-hati.

Baru saja masuk Toni sudah di hadang oleh seorang satpam.

"Ada perlu apa..."

"Saya mau mengantarkan berkas ini kepada bos besar atas perintah dari mandor..."

"Apakah sudah ada janji..."

"Saya tidak tahu saya hanya di minta untuk mengantarkan ini...kalau tidak boleh...tolong berikan saja ini padanya.."

Toni sudah menyodorkan berkas itu pada sang satpam dengan wajah kesal.

Sang satpam malah mendengus kesal dan memberikan isyarat untuk mengikuti langkahnya.

Toni pun mengikuti langkah satpam itu yang membawanya semakin masuk ke dalam kantor itu.

"Itu ruangan Boss...pintu berwarna putih..."

satpam menunjukkan ruangan yang akan di tuju oleh Toni.

Toni hanya menjawab dengan anggukan, dia segera melangkah menuju pintu berwarna putih yang sudah di tunjjuk tadi.

Ketika sampai pintu itu terlihat setengah terbuka, Toni melihat ada 2 orang pria yang sedang berbicara.

"Aku akan membayar wanita mana pun yang mau mengandung anakku dan Arsana..."

"Tapi Boss...sulit untuk mencari wanita seperti itu di sini..."

"Tidak akan sulit jika kau mengatakan jumlah yang akan aku bayarkan untuk semua itu..."

"Memangnya berapa yang akan boss berikan pada wanita yang mau mengandung anak boss dan nyonya Arsana..."

" 3 Miliar...tapi uang itu akan aku berikan setelah anakku terlahir....dan aku juga akan memberikan fasilitas privat selama kehamilannnya.....dan aku akan memberikan tip untuk siapa saja yang bisa membawa wanita yang sanggup melakukannya untuk kami sebesar 1 miliar....bagaimana kau tertarik mencarikannya untukku..."

"Waah Boss...itu sungguh angka yang fantastis...aku akan segera mencari wanita yang mau melakukannya..."

"Tapi kau ingat ya aku tak mau sembarang wanita....dan aku tak mau wanita yang sudah bersuami atau seorang janda...aku ingin seorang yang masih muda dengan rahim yang sehat dan subur tentunya...."

"Baik boss saya faham...saya akan segera mencarinya..."

"Jika kau sudah menemukannya bawa dia ke rumahku....istriku sendiri yang akan menyeleksi apakah dia wanita yang pantas atau tidak....ini alamat baru rumahku...kau bisa datang kesana..."

Toni melihat seorang itu menaruh sebuah kartu nama di pojok meja. Lalu segera keluar dari ruangan, sementara seorang yang ada di hadapannya hanya mengangguk penuh hormat.

Toni berpapasan dengan orang tersebut, karna posisi Toni yang ada di depan pintu. Toni tak berani menatapnya karna sepertinya dia adalah orang yang berkuasa, Toni hanya menundukkan kepalanya sampai orang tersebut hilang dari pandangan.

Sementara orang yang ada di dalam ruangan setengah berteriak memanggil Toni.

"Hey...kau siapa..ada perlu apa kemari..."

"eh...ini maaf pak saya di suruh mengantarkan berkas ini pada bapak..."

Toni masuk dan menyodorkan berkas itu, ia melirik kartu nama yang sempat di taruh oleh orang tadi .

Toni membaca dengan jelas alamat yang ada di atasnya.

perum cempaka putih jl. anggrek no 52

Bersambung.....

Terpopuler

Comments

Dayana utari

Dayana utari

next Thor

2022-07-10

0

NADIRAH

NADIRAH

wah agak nya Eva akan jadi sasaran Toni. demi 1 milyar

2022-05-21

1

lihat semua
Episodes
1 Pengenalan tokoh
2 kartu nama
3 1 Miliar
4 Setuju
5 Perum Elite
6 Arsana
7 Sari Husada
8 Kepala gudang
9 Resign
10 Kamar kost
11 Villa privat
12 Serba mewah
13 Bayi tabung
14 Sifat yang sama
15 1 minggu lagi
16 Masa kelam
17 Ruang Program
18 Inseminasi
19 Test kehamilan
20 Berhasil
21 Konferensi pers
22 Kerak telor
23 Mulai nyaman
24 USG
25 Taman Rekreasi
26 Roller coaster
27 Keanehan
28 Diluar rencana
29 Bonus
30 Menghilang
31 Berubah
32 Tagihan
33 Disita
34 Kamar kost
35 Siaran langsung
36 Makan malam
37 Berita
38 Jurnalis
39 Ancaman
40 Hilang
41 Sakit
42 Mengalah
43 Pasar
44 Pengumuman
45 Dua puluh lima ribu
46 Kerja keras
47 Berbanding terbalik
48 Tak pulang
49 Di tinggalkan
50 Pemberi misterius
51 Terusir lagi
52 Pulang
53 Terminal
54 Terminal (part 2)
55 Orangtua Eva
56 Menikah
57 Di maafkan
58 Kembali
59 Melahirkan
60 Sempurna
61 Jualan online
62 Muncul kembali
63 Ketakutan Eva
64 Menukar
65 Negosiasi
66 Persidangan.
67 Sidang kedua
68 Keadilan
69 Kehidupan baru
70 Semalaman
71 Hanya rindu
72 Kembali
73 Tersenyum kembali
74 Liburan
75 Keadaan berbeda
76 Ulang tahun Tama
77 Wanita lain
78 Perceraian
79 Serangan stroke
80 Kamar baru
81 Panggilan mama
82 End
83 novel baru
84 "Kisah rumit Tamara sang Wanita malam"
Episodes

Updated 84 Episodes

1
Pengenalan tokoh
2
kartu nama
3
1 Miliar
4
Setuju
5
Perum Elite
6
Arsana
7
Sari Husada
8
Kepala gudang
9
Resign
10
Kamar kost
11
Villa privat
12
Serba mewah
13
Bayi tabung
14
Sifat yang sama
15
1 minggu lagi
16
Masa kelam
17
Ruang Program
18
Inseminasi
19
Test kehamilan
20
Berhasil
21
Konferensi pers
22
Kerak telor
23
Mulai nyaman
24
USG
25
Taman Rekreasi
26
Roller coaster
27
Keanehan
28
Diluar rencana
29
Bonus
30
Menghilang
31
Berubah
32
Tagihan
33
Disita
34
Kamar kost
35
Siaran langsung
36
Makan malam
37
Berita
38
Jurnalis
39
Ancaman
40
Hilang
41
Sakit
42
Mengalah
43
Pasar
44
Pengumuman
45
Dua puluh lima ribu
46
Kerja keras
47
Berbanding terbalik
48
Tak pulang
49
Di tinggalkan
50
Pemberi misterius
51
Terusir lagi
52
Pulang
53
Terminal
54
Terminal (part 2)
55
Orangtua Eva
56
Menikah
57
Di maafkan
58
Kembali
59
Melahirkan
60
Sempurna
61
Jualan online
62
Muncul kembali
63
Ketakutan Eva
64
Menukar
65
Negosiasi
66
Persidangan.
67
Sidang kedua
68
Keadilan
69
Kehidupan baru
70
Semalaman
71
Hanya rindu
72
Kembali
73
Tersenyum kembali
74
Liburan
75
Keadaan berbeda
76
Ulang tahun Tama
77
Wanita lain
78
Perceraian
79
Serangan stroke
80
Kamar baru
81
Panggilan mama
82
End
83
novel baru
84
"Kisah rumit Tamara sang Wanita malam"

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!