Bab 14

“Langit, lepasin!” Biru langsung menghempaskan tangan Langit saat keduanya sudah sampai di taman bunga mawar, “Kenapa kamu bicara seperti itu hah? Kamu mabuk? Atau kamu belum minum obat anti waras?” kata Biru memanyunkan bibir nya dengan begitu kesal.

“Gue gak mau tahu, pokok nya mulai hari ini, lo pacar gue dan  lo gak boleh deket sama cowok lain kecuali gue.” Kata langit membuat Biru semakin berdecak.

“Jujur deh, kamu suka sama aku?” tanya Biru menatap Langit dengan sedikit tersenyum, “Tapi, kalau boleh aku saranin, kamu jangan sampai jatuh cinta sama aku.”

“Cih, jangan besar kepala lo! Gue bilang kaya gitu, biar gue bisa lepas dari Sisil, gue – gue Cuma mau buat dia minggat aja! Selain itu gak ada lagi! Jadi jangan ke GR-an.” 

“Ohh, syukurlah,” kata Biru sedikit kecewa namun ia masih bisa tersenyum, “kalau begitu, kamu gak berhak ngatur ngatur aku. Dan untuk membuat Sisil jauh, nanti aku bantu, tapi tidak dengan hubungan berpacaran. Aku gak mau!”

“Lo gak ada hak apapun untuk menolak atau membantah ucapan gue!”

“Iks, kalau begitu ngapain ngomong begitu. Kamu menyebalkan!” Biru kembali berdecak, “Baiklah, ayo kita pacaran. Meski berpura pura, aku akan meranin jadi pacar kamu sesuai pacar pacar lain.” 

“Apa maksud lo?” tanya Langit mengerutkan dhai nya menatap Biru.

“Entah! ” Biru mengangkat kedua bahu nya, “Aku ke kelas dulu. Kalau kamu sudah bosen disini, nanti susul aku ke kelas!” imbuh nya lalu ia segera berjalan pergi kembali ke kelas.

Tidak ada salahnya memanfaatkan keadaan bukan? Biru berfikir dengan status nya yang sekarang, mungkin bisa membuatnya lebih tenang karena tidak akan ada yang mengusik nya. Dan juga, ini pacar pertama Biru, jadi setidaknya dirinya pernah merasakan bagaimana memiliki pacar, walau hanya settingan. Pikir Biru.

Pulang sekolah ini, Biru tak lekas pulang ke rumah nya. Tadi dia sudah izin kepada bunda nya bahwa dirinya akan pergi ke toko buku bersama Rina dan Sasa. Untuk sesaat, Rina dan Sasa di buat menganga saat melihat Biru video call dengan bunda nya, tentu saja mereka tidak ada yang menyangka bahwa bunda nya masih sangat muda.

Bahkan sempat terfikir oleh Rina dan Sasa bahwa bunda Elsa, adalah bunda sambung nya Biru. Namun keduanya tidak ada yang berani bertanya pada Biru karena takut menyinggung nya.

“Mau kemana?” langkah kaki Biru dan dua teman nya langsung terhenti saat  di cegat oleh Langit di tempat parkiran.

“Toko buku.” Jawab Biru singkat, wajah nya seperti biasa terlihat teduh dan menenangkan hati, tidak pernah sekalipun Langit melihat gadis itu marah meski selalu tertindas.

“Baiklah, buruan masuk, aku akan mengantarkan mu.” Langit membuka pintu mobil nya dan menyuruh Biru untuk masuk.

“Kami mau naik taxi Lang,” kata Biru menolak tawaran Langit.

“Apa lo lupa siapa gue? Gue gak terima penolakan, buruan masuk!” Langit menatap tajam pada Biru, ia paling tidak suka di bantah, namun gadis di depannya ini selalu membantah ucapan nya.

“Udah lah Ru, gapapa ayo kita masuk. Lumayan ongkos taxi nya bisa buat beli buku lain,” kata Rina terkekeh dan hendak masuk ke dalam mobil belakang.

“Siapa yang suruh lo masuk! Jangan coba coba!” seru Langit membuat Rina urung membuka pintu belakang.

“Kan, lo sendiri yang bilang mau anterin!” kata Sasa kesal.

“Kuping lo budek, harus ke THT sono. Gue bilang nganterin cewek gue, bukan lo berdua!” cetus Langit sinis.

“Lang, mereka teman teman ku, kalau aku pergi mereka juga akan pergi. Gak mungkin aku pisah dari mereka!” kata Biru menghela nafas nya berat.

“Mereka naik mobil Maxim!” Langit menunjuk ke arah mobil yang tak jauh dari mereka dengan dagu nya. Sambil berdecak malas dan kesal, akhirnya Rina dan Sasa segera berjalan menuju mobil Maxim, mereka tidak ingin berlama lama berdebat dengan Langit. Begitu pun dengan Biru yang memilih menurut.

****

Setelah sampai di Mall, niat Biru dan teman teman nya ingin berjelajah dan bersantai di toko buku, nyatanya urung. Karena sosok Langit yang terus mengekor dan tidak membiarkan Biru seorang diri.

"Lang, inget kita hanya pura-pura. Dan disini tidak ada Sisil, kenapa kamu harus seperti ini terus sih!"

"Meskipun dia gak ada, tapi dayang mu dan pengawal ku melihat kita. Jadi nikmati saja peran mu. Kapan lagi coba punya pacar setampan gue," jawab Langit sambil menyugarkan rambut nya.

Biru akui Langit memang tampan, di balik sosok nya yang arogan dan menyebalkan, dia memiliki paras yang begitu menawan. Andaikan Biru gadis normal, tentu dirinya akan jatuh cinta dan bahagia bisa mempunyai pacar seperti Langit, tapi Biru? dirinya tidak menyukai itu, dirinya berusaha sekuat tenaga untuk membentengi diri, agar tidak membuat semakin banyak orang yang terluka nantinya.

Dan akhirnya, jalan jalan ala Biru dan teman teman nya berantakan. Langit berhasil mengacaukan semuanya, setelah mendapatkan barang yang ia inginkan, akhirnya Biru pulang dengan di jemput oleh supir. Awalnya Langit menolak, namun Biru tetap bersikeras dan mengancam kalau ia tidak suka privasi nya di ganggu.

Terpopuler

Comments

Enik Della

Enik Della

kenapa g,jujur saja sich langit

2023-02-15

1

Indonesian ❤️😁

Indonesian ❤️😁

modusnya pacar boongan. tapi posesif ya Bambang

2023-01-23

0

Ririe Handay

Ririe Handay

cie yg suka tapi ga mau ngaku

2023-01-14

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!