"Awwww ssshhhh!” keluh Biru lirih ketika tangan kirinya terbentur bangku.
"Lo lagi, lo lagi. Bisa gak sih kalau jalan pake mata, hah!” Bentak Langit hingga membuat seisi Kantin langsung menatap ke arah mereka.
"Ma— maaf."
'Ya tuhan haruskah seperti ini, setiap bertemu dengannya,” gumam Biru dalam hati sambil berusaha mengatur nafas nya.
"Apa dengan maaf, lo bisa balikin seragam gue yang kotor ini hah!” Langit selalu berkata kasar dan tinggi, hingga membuat Biru kini mencoba memberanikan diri untuk menatap wajah cowok arogan itu.
"Kan kan kamu yang nabrak aku, kenapa malah kamu yang marah,” celetuk Biru memanyunkan bibir nya.
"Tari lo gapapa ?" tanya Rina dan Sasa yang sejak tadi diam akhirnya ikut berbicara dan berusaha melerai.
"A—aku gapapa kok,” kata Biru sambil tersenyum kepada Sasa dan Rina agar tidak khawatir, "Udah yuk kita cari bangku." Imbuh nya lalu berniat segera pergi, namun urung saat tangan nya langsung di cekal oleh Langit.
"Heh lo mau kemana!”
"Aauuwww!” pekik Biru meringis karena lengannya lebam tertarik oleh Langit. Seketika Langit melepaskan tangannya dan menatap tajam ke arah Biru.
"Lo harus cuci seragam gue yang kotor karena lo!” ucap Langit seraya melepaskan Seragam sekolahnya, untung dia selalu memakai kaos di balik seragamnya. Langit melemparkan Seragamnya tepat ke wajah Biru . "Cuci yang bersih." ucapnya lalu pergi meninggalkan Kantin di susul Gerry dan Maxim.
“Aku tuh heran, kenapa sih dia selalu bentak bentak aku,” keluh Biru menghela nafas nya berat sambil memegang sebuah seragam milik Langit.
“Udah Ru, jangan di ambil hati. Anak itu emang biang rusuh. Dan sekarang gue nyesel karena pernah ngidolain dia,” cetus Sasa yang langsung di angguki setuju oleh Rina.
****
Sementara itu, Langit yang merasa begitu kesal , memilih pergi ke tempat biasa. Tempat ternyaman nya selama tiga tahun ini di sekolah itu. Dimana lagi kalau bukan istana nya, taman bunga.
"Lo gak ngerasa keterlaluan sama tu anak baru Lang?" tanya gerry tak habis pikir, padahal biasanya Langit tidak pernah mencari gara gara atau menyakiti seorang cewek. Langit memang arogan dan kasar, namun itu ia perlakukan kepada anak cowok. Maka dari itu ia selalu menjadi idola di mata para cewek, tapi kini? Gerry dan Maxim sampai tak habis pikir mengapa Langit bisa begitu kasar kepada Biru, padahal mereka baru kenal beberapa hari.
Langit hanya mengedikan bahu nya kemudian mengambil sebatang rokok dari saku celananya, "Korek." Dengan segera Maxim melemparkan korek yang selalu mengisi kantong nya itu.
"Eh Lang, bulan depan bakal ada pertandingan Basket, lo mau masuk gak?" tanya Gerry, karena setiap kali ada pertandingan Langit selalu kabur karena males padahal permainan basket nya paling jago di antara yang lain.
"Siapa lawannya?" tanya Langit singkat sambil menghembuskan asap rokoknya membentuk beberapa pola abstruk ke udara.
"Garuda," jawab Gerry.
"Cihh, mereka lagi.”
"Gimana ?" tanya Maxim lagi menunggu jawaban dari Langit, “Kalau lo gak ikut bisa bisa kita kalah Lang."
"Lihat nanti aja,” jawab Langit santai atau lebih kepada tak perduli, namun biasanya bila sudah menyangkut tentang SMA Garuda, maka Langit akan turun tangan.
***
Di sebuah ruangan Dokter yang bernuansa putih, seorang Dokter tampan bersama sepasang suami istri sedang membicarakan sesuatu yang sangat serius.
"Jadi bagaimana perkembangan nya Dok ?"
"Begini, pak buk, Keadaan anak bapak semakin memburuk, Satu satunya cara adalah dengan operasi untuk mengangkat sel sel kanker itu, tapi itu juga sangat beresiko, karena operasi ini akan mendapatkan hasil 50:50," jelas Sang Dokter nampak sedikit ragu,"Jadi bagaimana pak, buk ?"
Sang Istri langsung menangis histeris mendengar penuturan dari Dokter, anaknya satu satu nya putri semata wayangnya ada di ambang kematian, bahkan dia tidak bisa membantu apa apa hanya sekedar mengurangi rasa sakitnya.
"Yaahh. hiks hiks Biru, Yah Biru,” gumam Elsa begitu lirih membayangkan nasib anak nya. Iya, dialah Elsa dan Faris, kini keduanya tengah menemui dokter spesialis kanker untuk menanyakan perkembangan Biru.
Saat itu umur Biru baru berusia 1tahun Namum sudah di vonis mengalami kelainan jantung, semua cara sudah di lakukan untuk mendapatkan donor jantung untuk putrinya namun sampai saat ini belum juga di dapatkan.
Tidak sampai disitu, di sat umur Biru sepuluh tahun Biru kembali di vonis terkena Leukimia. Faris dan Elsa terus melakukan pengobatan untuk sang putri sampai saat ini dia masih berusaha menyembuhkan Biru namun Kanker itu kini tengah menyebar ke seluruh tubuh Biru , Biru harus segera mendapatkan donor sumsum tulang belakang namun itu sangat beresiko mengingat keadaan Jantung nya juga sedang tak baik baik saja. maka dari itu Elsa dan Faris tidak menyekolahkan Biru ke sekolah sekolah luar dia lebih memilih Home Schooling untuk anaknya, namun kini dia tidak bisa mencegah keinginan anaknya lagi, mungkin ini yang terbaik, biar Biru juga bisa mengenal dunia luar.
"Ssstt, kita akan segera dapatkan pendonor untuk Biru bun," ucap Faris menenangkan sang istri, walau sebenarnya hatinya juga sedang merasa takut dan khawatir.
"Kami akan melakukan yang terbaik untuk Biru pak, buk, saya sudah menganggap dia seperti adikku sendiri jadi saya juga akan selalu berusaha mencarikan pendonor untuknya," tutur dokter yang bernama Darren.
"Terimakasih Dok." Faris dan Elsa pun pamit untuk pulang karena tak ingin anaknya pulang sekolah tak mendapati dia dan ayahnya tidak ada di rumah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 40 Episodes
Comments
Indonesian ❤️😁
ternyata biru mengidapk kanker.
pantas ortu ny setakut itu utk membiarkan biru d luar rmj
2023-01-22
3
Ririe Handay
aduh sakit parah ternyata biru
2023-01-08
0
Red Velvet
kasihan sekali biru, byk penyakit dlm tubuhnya bahkan dari kecil 🥺
2022-10-29
1