Juvel dan Jullian berbicara berdua setelah selesai makan, Jullian ingin memperjelas rencana adiknya.
"Apa kau yakin? Setelah bayi itu lahir kalian akan berpisah? Kau akan menjadi janda dan semua selesai begitu saja?"
"Come on, kau tahu tidak akan semudah itu! Daddy tidak akan melepasmu!"
Jullian mencoba memberi peringatan keras jika rencana Juvel akan berakhir sia-sia.
"Tapi setidaknya aku mencoba dulu, Jullian!" sahut Juvel yang masih kukuh dengan pendiriannya.
Decakan keluar dari mulut Jullian, dia mendekati Juvel dan meraih tengkuk adiknya. Dia ingin mencoba menyadarkan Juvel.
"Kita keturunan mafia, Juvel. Mau kau mengelak seperti apapun, darah kita adalah darah mafia. Kau pergi jauh pun, kau tetap seorang mafia! Tidak ada yang bisa merubah itu semua!" geram Jullian.
Juvel mendesaah pelan. "Aku terus bermimpi buruk, Jullian. Suara itu tidak pernah hilang!"
Tentu Jullian tahu apa yang dimaksud Juvel, semua berawal saat mereka melakukan misi di New York. Saat mereka selesai melakukan misi terjadi sebuah kebakaran di tempat kejadian, Juvel mencoba melarikan diri dan mencari jalan keluar. Saat Juvel sudah menemukan jalan keluar, Juvel mendengar suara teriakan anak kecil. Seharusnya Juvel kembali dan menyelamatkan anak itu tapi Jullian terus meminta Juvel untuk cepat keluar karena akan terjadi ledakan di tempat itu.
Juvel keluar dan tak lama tempat itu meledak, setelah kejadian itu Juvel lebih banyak diam. Dia terus menyesal karena tidak bisa menyelamatkan anak itu dan setiap malam tidurnya gelisah, tangisan dan teriakan anak yang Juvel tinggal terus menjadi bayang-bayang yang mengerikan.
"Aku tidak bisa melupakannya," lirih Juvel yang meneteskan air matanya.
"Oh God!" Jullian memeluk adiknya, dia tidak bisa berkata-kata jika menyinggung masalah itu. Juvel memang mempunyai sisi yang lembut dan itu adalah kelemahannya.
"Bantu aku, Jullian. Daddy sebentar lagi pasti akan meminta kita melakukan misi lagi, sebentar lagi musim dingin," ucap Juvel yang selalu menghabiskan musim dingin dengan misi penting.
"Aku akan diam, hanya itu yang bisa aku lakukan untuk sekarang!" sahut Jullian kemudian.
"Walaupun kau menyebalkan, kau selalu bisa diandalkan, Jullian!"
*****
Keesokan harinya, Keiner menjemput Juvel untuk memeriksakan kandungan sebelum bertemu dengan orang tua gadis itu. Keiner sengaja mengosongkan jadwalnya hari ini.
Juvel memakai dress pemberian Keiner yang membuat penampilan gadis itu tampak lebih cantik dari biasanya. Rambut cokelat Juvel terurai dan Juvel juga memakai riasan tipis hari ini supaya menunjang penampilannya.
"Lumayan," komentar Keiner dalam hati saat Juvel masuk ke dalam mobil.
Saat Juvel akan mengangkat satu kakinya, Keiner menepuk paha gadis itu.
"Harus elegan, jangan bergaya serampangan!" seru Keiner.
Juvel memutar bola matanya malas, dia mencoba menuruti permintaan Keiner supaya menjadi gadis elegan.
"Kita akan ke rumah sakit dan aku sudah membayar dokter kandungan yang terbaik untuk memeriksa bayiku," jelas Keiner kemudian.
"Baiklah, tapi setelah itu kita harus menemui orang tuaku!" ucap Juvel memberi peringatan, mereka harus bisa meraih tujuan masing-masing. "Kita harus menikah sebelum musim dingin tiba!"
"Kita harus berlatih untuk bersentuhan supaya orang tuaku percaya kita saling mencintai!"
Keiner berdehem kuat saat mendengar itu, dia tidak bisa menanggapi yang membuat Juvel berinisiatif menyentuh Keiner duluan.
"Seperti ini!" Juvel menautkan tangannya dengan tangan Keiner. Setelah itu Juvel merapatkan duduknya, kebetulan mereka duduk di kursi belakang mobil. Juvel menatap Keiner lalu memberanikan diri mengecup pipi lelaki itu. "Kita harus sering kontak fisik!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 112 Episodes
Comments
Warni Arni
Agak susah yaaa
2025-01-05
0
Warni Arni
🤣
2025-01-05
0
Kardi Kardi
SIKATTT kang REIIIII
2024-05-05
2