Juvel tersenyum dalam hatinya karena menerima perlakuan manis dari Keiner, ternyata lelaki itu tidak seangkuh dan sesombong seperti yang dia pikirkan.
Walaupun Keiner melakukan itu demi bayi yang dia kandung, tidak masalah. Setidaknya selama menikah nanti Keiner akan bersikap baik padanya.
Saat ini Juvel dan Keiner dalam perjalanan menuju apartemen pribadi Juvel. Sebelum Keiner ke kantor, dia mengantar Juvel pulang.
"Jangan lupa menghubungiku!" ucap Keiner saat mereka sudah sampai.
Juvel mengangguk. "Aku akan berbicara pada Jullian, dia harus setuju dengan rencana kita karena sebenarnya Jullian yang paling menderita!"
"Menderita?" tanya Keiner yang belum mengerti.
"Aku dan Jullian mempunyai ikatan kembar simpatik. Saat aku sakit, Jullian yang akan merasakan sakitnya begitu juga sebaliknya," jelas Juvel.
"Seharusnya saat ini aku mengalami morning sickness tapi justru Jullian yang merasakannya!"
Keiner agak terkejut mendengarnya, pantas saja Jullian ingin Juvel menggugurkan kandungannya.
"Jullian biar jadi urusanku, sekarang tugas kita adalah meyakinkan orang tuaku," sambung Juvel.
"Baiklah, aku siap menemui orang tuamu." Keiner mendekat ke arah Juvel dan tangannya tiba-tiba mengusap perut rata gadis itu. "Kita juga harus memeriksakan keadaan bayiku!"
Juvel yang mendapat sentuhan mendadak seperti itu jadi gelagapan, dia ingin cepat keluar dari mobil.
"Aku akan menghubungimu!" tangan Juvel membuka pintu mobil dan buru-buru gadis itu turun.
"Jaga bayiku dengan baik!"
Juvel sempat mendengar kalimat itu tapi dia enggan menanggapi. Sekarang yang ada dipikirannya adalah berbicara tentang rencana pernikahannya pada orang tuanya, Gwen dan Trevor.
*****
Sesuai dengan perkataan Juvel, saat ini Jullian mengalami morning sickness dan muntah-muntah hebat di kamar mandi.
Dan Irene selalu ada di dekat pria itu, Irene memijit tengkuk Jullian saat lelaki itu memuntahkan isi perutnya di closet.
"Saya akan membuatkan minuman hangat, Tuan." Irene pamit ingin ke dapur tapi dicegah oleh Jullian.
"Ambil sabun dan shampo yang kau pakai dan bawa kemari!" Jullian justru memberi perintah itu pada Irene.
Irene sebenarnya bingung tapi tanpa banyak protes, dia segera mengambil sabun dan shampo yang biasanya Irene pakai.
Saat kembali ke kamar Jullian, Irene sudah mendapati lelaki itu tengah berendam di bath up.
"Kemari dan tuang sabunnya ke dalam sini!" perintah Jullian.
Irene mendekat perlahan dan matanya membulat saat mendapati Jullian tanpa sehelai benangpun berendam di bath up, air bening yang belum tercampur sabun membuat benda panjang mengambang di dalam air terlihat jelas.
Irene berusaha bersikap senormal mungkin walaupun wajahnya merona sekarang. Dia pura-pura tidak melihat dan tetap menuang sabun hingga air yang sebelumnya bening menjadi keruh.
"Aku suka aroma ini, aku akan mengganti sabunku dengan merk sabun yang biasa kau gunakan," komentar Jullian yang merasa mulai rileks.
"Ka--kalau begitu, saya permisi, Tuan." Irene membalik badannya tapi tanpa dia duga, tangannya ditarik oleh Jullian yang membuat tubuhnya oleng dan jatuh ke dalam bath up.
"Akh!" teriak Irene saat badannya jatuh di atas tubuh Jullian.
"Kau mau ke mana? Kau harus memandikan aku!" tuntut Jullian.
"Ta--tapi..."
"Irene, sejak kapan kau berani menolak perintahku, hem?"
"Ba--baiklah, Tuan."
Irene tidak punya pilihan, dia mengangkat tubuhnya yang membuatnya bertatapan dengan wajah Jullian.
Kemudian tangan mungilnya berusaha menggosok tubuh Jullian yang keras.
"Gosok yang di bawah, Irene!" Jullian mengarahkan tangan kecil Irene untuk memegang benda panjangnya yang menegang.
"Loh, kok berdiri, Tuan," komentar Irene dengan polosnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 112 Episodes
Comments
Warni Arni
Astaga
2025-01-05
0
👏zhendiel🏚️ ²²¹º
🙈🤣🤣🤣🤣
2024-04-27
1
Afika Fika Yesy
kan di sentu
2023-12-23
0