Ketika mendengar ucapan dan saran ayahnya, mataku mulai berkaca kaca. Tapi entah kenapa dihatiku masih ada rasa takut menjadi sosok seorang ayah. "Bolehkah aku memanggil om dengan sebutan ayah" (Ucapku),
"Bolehhh, silakan dengan senang hati. Ayah melihat kamu adalah sosok seseorang yang selalu mau belajar dari orang orang yang engkau jumpai. Dari sifat keraguanmu, engkau seperti tumbuhan, Tumbuhan di siram air, dirawat dengan baik, akan memunculkan bunga yang indah. Begitu pun kamu, selalu belajar dari mana pun, mangkanya ayah ingin sekali engkau menjadi teman hidup anak saya, yang bernama TASYA OLIVIA PUTRI Dan ayah yakin engkau bisa menjalaninya dan membahagiakannya." (Ucap Ayahnya),
"Trima kasih yah atas motivasinya dan saran ayah" (Ucapku), Tasya tersenyum ceria, terlihat di wajahnya yang menerima sosok Ceo dekat dengannya.
"Jadi kapan Ceo mau menikahi Tasya?" (Ucap ibunya)
"Ehhmmm nanti ya ma, Ceo jalanin dulu sama Tasya, kalo memang Tuhan berkhendak, Tasya menjadi teman hidup Ceo, Ceo bakal nikahin kok. Mama jangan khawatir ya dan jangan terlalu memaksakan, takut Ceo gagal menjadi kepala rumah tangga untuk anak mama." (Ucapku),
"Iyaaaa dehhh, soalnya entah kenapa dihati mama, kamu cocok banget buat anak mama." (Ucap ibunya),
"Yaudah maa, Ceo pamit pulang dulu" (Ucapku),
"Nanti kita makan dulu, bentar lagi bude selesai masak" (Ucap ibunya), seseorang yang bekerja dirumah ibu nya sebagai pembantu.
"Buru buru aja kamu ini, sini aja dulu nyantai disini" (Ucap ayahnya),
"Hmm iyaaa nyaaa, mau nemuin siapa sih emangnya" (Ucap Tasya)
"Gak nemuin siapa siapa Syaaa, yaudehh kaga jadi pulang, aku disini kok" (Ucapku sambil memegang tangan kanan Tasya), tidak lama kemudian. Masakan sudah matang dan kami menyantap nya dengan nikmat masak kan bude Darmi. Ketika selesai menyantap aku berbicara pada Tasya empat mata di teras lantai dua, sambil memandang gunung gunung dan pepohonan yang sangat indah di halaman belakang rumah Tasya. Tidak lama kemudian, dibawakan teh oleh ibunya Tasya. untuk menikmati susana sore hari dan teh hangat buatan ibuunya.
"Nak Ceo nih biar enak ngbrolnya, sambil nikmatin teh buatan ibu" (Ucap ibunya),
"Yallah bu..., repot repot amat" (Ucapku),
"Ga papa namanya juga buat calon mantu" (Ucap ibunya sambil tersenyum),
"Makasih ya bu" (Ucapku),
"Bisaaa aja mama ini, makasih ya ma" (Ucap Tasya),
"Yaudah mama turun dulu ya kebawah, biar enak kelonannya (Ucap ibunya Tasya sambil tersenyum)
"ihhh mama apa sihh.." (Ucap Tasya sambil tersenyum malu), disaat lagi duduk berdua dan suasana sangat sejuk. Tidak panas dan tidak juga hujan, sambil mendengarkan sedikit lantunan musik indie yang berjudul banda neira-Sampai jadi debu.
"Tasyaa, aku jadi ga enak segini nya aku dihargain sama orang tua kamu" (Ucapku),
"Ga papa kok, mama memang begitu orang nya, gak pernah pandang bulu kalau menghargai seseorang, apalagi kamu mau jadi mantunya" (Ucap Tasya sambil tersenyum),
"ehemmm, kok jadi begini ya" (Ucapku),
"Emang kamu gak mau menikah sama aku?" (Ucap Tasya sambil dengan wajah datar),
"iyaaa mau Tasyaa, cuman belum saatnya. Aku sayang banget sama kamu, apalagi orang tua kamu segini nya sama aku. Cuman aku merasa kaya ga pantes aja sama kamu, kamu orang yang sangat terpandang, sedangkan aku tidak Tasya" (Ucapku),
"Ceo juga terpandang kok dari Tindakan dan kata bermakna kamu. Aku suka sama kamu, aku berharap sih kamu jadi teman hidup aku selamanya. kita sama kok Ceo ga ada bedanya, harta juga yang punya orang tua aku, bukan aku!" (Ucap Tasya),
"Yaudah jangan emosi" (Ucapku),
"iyaaa kamu nya ihh" (Ucap Tasya dengan cemberut)
"Kamu tau ga kisah paku dan kayu?" (Ucapku),
"Ga, kisah apa itu?" (Ucap Tasya)
"Kayu berkata kepada paku. Kamu melukaiku, paku. lalu paku menjawab, seandainya kamu melihat pukulan keras di kepalaku, kamu pasti memaafkanku kayu" (Ucapku sambil memegang tanganya Tasya),
"Iyaaaa iya Ceooku aku maafin kamu" (Ucap Tasya dengan bergegas mengigit lenganku),
"aduhh sakit syaa(Ucpaku sambil tersenyum), tapi sabarrr ya belum waktunya aku untuk menikahi kamu..., masih banyak tujuan yang belum aku capai di masa bujang aku" (Ucapku),
"Kalo aku boleh tau, tujuan apa sih yang belum kakak capai? keknya harus banget (Ucap Tasya),
"aku ngerasa kaya gagal aja menjalani hidup di masa aku sekarang, aku belum bisa membuat bahagia orang tua aku" (Ucapku),
"Gak papa sih Ceoo, kalo kamu masih ngerasa gagal menjalani hidup. Gak papa kalo kamu gak bisa handle diri kamu, gak papa untuk menerima setiap emosi yang hadir dalam hidupmu, it's oky to cry. Ceo juga kan pernah ngomong sama aku, itu artinya kamu manusia, masih merasakan sakit. emosional pada diri kamu sendiri (Ucap Tasya sambil memegang tanganku dan berkata). Tapi satu hal yang harus Ceo ingat, bahwa kamu itu tidak seburuk yang kamu pikirkan, kamu pernah membantu banyak orang dari hal hal kecil yang kamu lakukakan. Kamu tetap berharga didunia ini, kamu tetap pantas mendapatakan kenikmatan hidup, kebahagiaan dan kebaikan dari dunia ini. Walaupun kamu gak pernah menilai bahwa kebahagian itu ada di dunia ini. Kamu harus mampu menerima diri kamu terlebih dahulu, sebelum kamu ingin diterima oleh manusia lain. Ingat, kamu sudah sejauh ini, sudah melewati banyak badai dalam hidup kamu, aku yakin kamu mampu melewati ini lagi. (Ucap Tasya lalu memeluk ku), Ucapan Tasya yang begitu dalam dan sebuah tindakannya yang diberikan terhadapku. Aku merasakan kasih sayang yang sangat tulus di berikan padanya dan suatu perhatianya terhadapku. Aku memeluknya dengan erat, merasakan detak jantungnya yang berdenyut, hela nafasnya dan wanginya.
"Trimakasih banyak ya Tasya sudah mau menerima aku dalam hidup kamu" (Ucapku mencium keningnya),
"Sama sama Ceo ku" (Ucap Tasya), Ketika selesai berpelukan kami mencicipi teh ternyata rasanya pahit.
"Emm punya kamu manis ga" (Ucap Tasya),
"Pahittt" (Ucapku sambil tersenyum),
"ihhh mama ini pasti ngerjain" (Ucap Tasya sambil tersenyum),
"hehe yaudah gih ga papa" (Ucapku),
"Emm ga enak diminum nya, sebentar aku ambil gula dulu" (Ucap Tasya), Tidak lama kemudian.
"Ceo mau pake gula brapa sendok?" (Ucap Tasya)
"Satu setengah sendok aja" (Ucapku sambil tersenyum), ketika Tasya menuangkan gula di kopi ku dan mengaduknya, wajahnya terlihat sangat indah, bentuk matanya, hidungnya, senyumannya, dan rambutnya. membuat ku semakin takut kehilanganya.
"Kamu tau gak Tasya kenapa seseorang itu bisa berubah?" (Ucapku),
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 33 Episodes
Comments