"Sebuah ucapan trimakasih sama diri sendiri, sudah mau melewati banyak hal sampai di titik ini dalam segi musibah atau masalah. Jangan lupa Ucapan terimakasih terlebih dahulu kepada tuhan yang memberi kita kehidupan, pelajaran, supaya menjadi manusia yang sangat kuat " (Ucapku sambil memegang dada),
"Iyaaa itu pasti (Ucao Tasya dengan mata berkaca kaca). Apakah kamu benar benar mencintaiku Ceo atau berpura pura?, jika benar benar kamu mencintaiku apakah masih ada rasa cintamu itu sekarang ini?" (Ucap Tasya), Mataku berkaca kaca ketika mendengar ucapan Tasya seperti itu, kaget sekali mendengar ucapan yang tak terlintas sama sekali di benakku.
"Kok bisa kamu bicara seperti itu?!, bagaimana bisa aku berhenti mencintaimu. Aku tersenyum menatapmu sambil berkali menyeka air mata, bagaimana bisa aku berhenti untuk mencinta, ketika berdiri, duduk, jua lelapku, hadirnya bayanganmu!. Aku tak ingin kau jatuh, aku tak ingin kau rapuh, aku mencintaimu dari hatiku dan aku menyayangimu dengan sisa hidupku. Sungguh jika tuhan memperkenankan kita bersama akulah manusia paling berbahagia, namun kuharap kamu rasakan itu juga." (Ucapku pada Tasya),
Tasya memelukku dengan erat. Aku merasakan sebuah peluk hangat yang sangat tulus diberikan kepadaku.
"Tasya (Ucapku dengan sangat lembut), dalam hidup, menurut kamu mana yang lebih penting perjalanannya atau tujuannya? (Ucapku),
"Menurut aku bukan perjalanannya atau tujuannya sih ceo, tapi tentang orang orang yang ada di perjalanan itu" (Ucap Tasya),
"Kenapa? (Ucapku),
"Karna dari orang orang yang ada diperjalanan itu lah, yang kita dapet pelajaran dalam hidup" (Ucap Tasya),
"Hmm iya iya" (Ucapku sambil mengangguk Tersenyum),
"Kamu tahu Ceo?, di dunia ini ada orang orang tersenyum karena mereka harus, bukan karena mereka ingin. Jadi pada setiap orang kamu temui, jangan sekedar melihat, tapi juga cobalah rasakan, jangan sekedar menatap ekspresi wajah mereka, tapi juga cobalah selami lebih dalam bola matanya. ( Ucap Tasya tangan kanannya sambil memegang dada ku),
"Perhatikan, amati, dan sayangi seperti aku menyayangi kamu. (Ucapku sambil mengecup keningnya), Tuhan aku menitip satu nama untuk kau restui langkahnya, aku tak selalu bisa ada untuk merangkulnya. Ia sangat ramah pada semua orang, ia periang dan selalu semangat. Dia selalu baik bahkan saat dirinya ada pada situasi yang tidak baik. Dia selalu berusaha untuk keluarga dan masa depannya. Aku berdoa atas perjuanganya membahagiakan orang yang ia sayangi. Tuhan, semoga doa yang ku punya mampu merawat perasaannya untuk tidak berpindah, "(Ucapku dalam hati"),
"Ceoo, kenapa ya orang orang kalo lagi banyak beban ngga cerita kepasangannya atau keluarga?(Ucap Tasya),
"Kalo aku pribadi misalkan punya beban berattt banget, aku ga pengen mencertikan bebanku tapi aku pengen lebih di mengerti" (Ucapku),
"Gimana mau ngerti kalo kamu ga cerita?" (ucap Tasya)
"Gini ya..., sayangkuuu yang kepoan. Kamu tuh ngga perlu ngertiin permasalahanku, kamu cukup ngertiin aku. Kalo aku lagi butuh refresing, yaudah kasih waktu. Jangan malah dikejar kejar, kalo kaya gitu rasanya tuh makin capek" (Ucapku)
(Ketika Tasya sedang memeluk ku air matanya mengalir dari pipinya),
"Kamu kenapa nangis?" (Ucapku sambil mengelap air matanya yang mengalir),
"Aku pengen permasalah kamu adalah permasalahan aku juga dan kebahagiaan kamu adalah kebahagiaan aku juga" (Ucap Tasya sambil menangis dan mengelus pipiku),
"Aku adalah kamu, adalah mereka, adalah kita semua. Ketika aku melakukan sesuatu yang baik atau merasakan senang, kamu adalah aku. Ketika melakukan kejahatan atau dosa, tidak sepenuh nya kamu juga merasakan. Kamu boleh saja memiliki ku, tapi tidak sepenuhnya dengan semua yang aku miliki. Karna kamu hanya meneteskan air mata saja, jika merasakan nya juga Tasyaa, aku tidak ingin orang yang bersamaku meneteskan air mata." (Ucapku),
"Tapi aku selalu ingin bersamamu" (Ucap Tasya sambil meneteskan air mata), Lalu aku mencium pipi Tasya dan mengajaknya pulang, karna hari ini sudah menjelang siang.
"Tasyaaa, hari ini ibu sama ayah kamu kan mau ketemu sama aku, sekalian ya aku anter kamu pulang" (Ucapku dengan nada lembut),
"Iyaaaa Ceoo" (Ucap Tasya), tidak lama kemudian, sampai di rumah ku. Tasya beberes untuk membawa pakaian kotornya.
"Aku beberes sebentar ya" (Ucap Tasya Sambil membereskan baju kotornya),
"Iyaaa..." (Ucapku), ketika selesai beberes aku mengantarkan Tasya pulang. Sampai di rumahnya, aku bertemu dengan kedua orang tuanya, dengan prasaan yang sangat grogi.
"Assalamulaikumm maaa..." (Ucap Tasya)
"wa'alikumsallam..., ehhh anak mama udah mulai berani iya ga pulang!" (Ucap ibunya Tasya sambil Tersenyum dan memeluk Tasya),
"Ihhh kan mama yang suru minep" (Ucap Tasya dengan manja)
"iyaaa, tapi kamu ga di apa-apain kan" (Ucap ibunya Tasya)
"Gak kok maaa. Nih ma..., kenalin yang namanya kak rio yang aku sering cerita ke mama dan ini mama aku kak namanya GITA SAPUTRI " (Ucap Tasya sambil memegang tangan ku),
"Siangg buuu.." (Ucapku dengan agak sedikit grogi),
"Iyaaa, ini yang namanya Rio..., yaudah masuk gih ibu udah ga sabar mau nanya-nanya sama kamu" (Ucap Ibunya Tasya), aku melirik Ke Tasya dengan senyum bingung mau menjawab apa.
"Ayuk kak masuk" (Ucap Tasya),
"ihhh aku mau jawab apa ini" (Ucapku pada Tasya sambil tersenyum bingung),
"Iyaaa jawab aja mama ga galak banget kok, kan ada aku juga" (Ucap Tasya),
"iyaaa cuman grogi Syaa" (Ucapku),
"Hallo paaa..." (Ucap Tasya sambil menghampiri ayahnya dan memeluk nya diruang tamu),
"Iyaaaa nak, wuuhhhh udah besar anak papa ini ya (Ucap seorang ayah yang sangat sayang sekali dengan anak bungsunya),
"Hehehe Tapi aku tetep masih anak-anak di mata papa sama mama. Karna aku kan anaknya kalian" (Ucap Tasya sambil duduk dipangkuan ayahnya dan memeluknya),
"iyaaa, ini siapaaa Tasya?" (Ucap ayahnya Tasya sambil melihatku),
"Ohh iyaa ini kak rio pa yang biasa di panggil Ceo" (Ucap Tasya),
"Hmm pacar kamu?" (Ucap ayahnya Tasya),
"Gak tau pa, tapi aku deket banget sama dia ini. semoga saja kedepanya bisa sama sama terus" (Ucap Tasya sambil tersenyum dan melirikku),
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 33 Episodes
Comments