Chania masih dalam posisi yang sama. Posisi yang sangat sulit untuk bicara, bahkan bernafas. Ia kesulitan untuk sekedar membela dirinya.
Lehernya terasa begitu sakit, jemari kekar Michael begitu kuat menerkam leher jenjangnya. Hingga rona merah mulai menguar dari kulit putih itu.
Nafas Chania mulai tersengal, dan hanya air mata yang hanya bisa ia keluarkan untuk memberi isyarat pada Michael bahwa ia sudah tidak sanggup lagi untuk menahan nafas.
Atau bahkan nyawa pun sudah di ujung kepalanya, saking sulitnya ia bergerak. Ia pejamkan mata, hingga semakin banyak air mata yang menetes tanpa bersuara.
Amarah tak terbendung masih menguasai sekujur tubuh sang Mafia. Namun sesaat kemudian ia melonggarkan cengkraman tangannya saat air mata Chania mengalir dan jatuh di tangannya.
Merasakan desiran lain di tubuhnya, ia dorong leher Chania ke arah tempat tidur dengan sangat kasar. Hingga Chania jatuh dengan rasa sakit di lehernya. Untunglah tubuhnya jatuh di atas tempat tidur yang empuk.
"Hah..hah..hah!" nafas Chania terengah bersautan dengan isakan lirihnya.
"Katakan, brengsek! kenapa kau membohongi ku!" hardik Michael dengan tatapan yang tajam pada Chania yang masih menunduk tanpa berani melihat ke arahnya.
Chania tidak menjawab, hanya tangis kesakitan yang bisa keluar dari bibirnya. Isakannya menggema di seluruh penjuru ruang kamar yang luas itu.
Michael menghela nafas, dengan sedikit menggelengkan kepalanya mendengar isakan Chania. Dadanya bergerak naik turun, mencoba untuk mengontrol emosi yang menguasai.
Bagaimanapun juga, Michael bukanlah manusia kejam yang bisa dengan mudah membunuh perempuan dan anak - anak. Apalagi Chania bukan musuhnya. Ia marah hanya karena terjebak dengan kebohongan Chania.
Merasa tidak akan mendapat penjelasan dari Chania, Michael memilih untuk menghempaskan tubuhnya di sofa. Sepasang matanya menatap tajam Chania yang masih duduk di atas tempat tidur dengan menangis.
"Siapa yang menyuruhmu!" tanya Michael dengan nada yang tak setinggi sebelumnya. Namun matanya masih setajam pedang yang terhunus.
"Ti..tidak ada, Tu..Tuan.. hiks!" jawab Chania di tengah isakan. "Sa..ya hanya bu..butuh hiks..uang." Lanjutnya masih dengan isakan, namun kali ini ia mencoba melirik Michael di sofa.
Chania kembali menunduk, karena ternyata wajah Michael masih seperti kerasukan iblis. Tak ada wajah persahabatan di sana.
Sepersekian detik kemudian, isakan Chania mulai menghilang dari kamar yang kedap suara itu. Menyisakan keheningan di antara kedua anak manusia itu.
Chania mengusap sisa air mata di pipi mulusnya. Berharap Michael sudah tidak marah lagi.
"F*ck!"
Brak!
Umpat Michael tiba - tiba dengan mendorong meja di depannya menggunakan kaki, membuat Chania sedikit tersentak kaget.
Sedari tadi, Michael hanya duduk sambil mengunci Chania dengan tatapan yang dingin. Membiarkan gadis yang baru saja kehilangan kesuciannya itu menangis.
Chania kembali melirik Michael, ternyata wajah Michael sudah tak semenyeramkan sebelumnya. Kali ini terlihat datar namun dingin.
"Apa saya di pecat, Tuan?" tanya Chania pada Michael.
Belum sempat di jawab Michael, Chania kembali bersuara.
"Kalau saya di pecat, tolong berikan saya gaji, dan berikan saya kompensasi, Tuan. Setidaknya untuk tambahan membayar hutang - hutang peninggalan orang tua saya! Tuan kan kan tau saya menanggung peninggalan hutang milyaran!"
Michael tidak menjawab, tapi ia pun tak menulikan pendengaran. Namun entah kenapa ia sama sekali tidak kunjung berniat menjawab ucapan Chania.
"Tuan? saya di pecat atau tidak?" tanya Chania memberanikan diri.
Michael masih tampak hening. Hanya matanya saja yang masih tertuju pada Chania tanpa berkedip.
Melihat Michael yang seolah mengacuhkan pertanyaannya, Chania yakin jika dirinya telah di pecat.
Ia merangkak turun dari tempat tidur. Meraih ponselnya di meja nakas. Lalu berjalan dengan menahan rasa sakit di bagian intinya menuju pintu walk in closed.
Mata Michael masih terus mengikuti gerak - gerik Chania dengan nafas yang masih kembang kempis.
Beberapa saat kemudian, Chania kembali keluar dengan membawa kopernya dan tas jinjing miliknya.
"Mau kemana kamu?" tanya Michael sedikit shock melihat Chania yang menarik koper.
"Bukankah saya di pecat?" jawab Chania tanpa menoleh pada Michael. "Saya harap Tuan segera mentransfer gaji saya selama satu minggu ini. Jika Tuan berbaik hati, berikan saya kompensasi atas keperawanan saya yang sudah hilang!" ucap Chania dengan hati yang bergemuruh saat mengucap kalimat terakhir.
Ia menarik nafas, dan kembali melangkahkan kakinya ke arah pintu keluar.
"Satu langkah lagi, peluruku akan bersarang di kepalamu!" Michael mengarahkan pistol jenis revolver yang ia simpan di laci samping sofa, dan mengarahkan pada Chania.
Sontak Chania menghentikan langkah kakinya. Ia masih membelakangi Michael, tak cukup punya keberanian untuk menoleh sang bos.
Namun detik berikutnya ia menoleh sekilas pada Michael, dan seketika itu juga jantungnya berpacu. Mana kala melihat Michael yang masih duduk di sofa namun dengan senjata di tangan kiri yang mengarah padanya. Ia tau Michael seorang penembak jitu, tak mungkin ada peluru yang meleset dari bidikannya.
"Bukankah Tuan tidak membutuhkan perawan?" tanya Chania kembali membelakangi Michael.
Hening, tak ada sautan dari Michael. Chania menduga Michael masih duduk dengan senjata yang mengarah pada kepalanya.
"Mentang - mentang bos dan berkuasa. Seenaknya saja mengarahkan senjata! Dasar Mafia! suka sekali membunuh manusia tanpa sebab yang jelas!" gumam Chania lirih, sangat lirih.
Namun Michael memiliki pendengaran yang cukup tajam. Tentu saja ia mendengar gumaman Chania. Ia bahkan pandai bertarung dalam gelap, hanya dengan mengandalkan pendengarannya saja.
Chania menghela nafas, mengeluarkan semua udara yang masuk ke dalam dadanya. Ia memang menyukai dan bahkan sudah jatuh cinta pada Michael. Namun dalam kondisi hendak di buang seperti ini, hanya uang yang ada dalam pikirannya.
Chania memutuskan untuk berangsur duduk di lantai. Melipat kedua kaki, duduk memelas di samping koper miliknya. Wajah cemberut kesal dan pasrah yang ia tunjukkan pada Michael.
"Bunuh saja saya, Tuan! saya sudah bosan hidup seperti ini. Di tinggal sebatang kara, dan justru di beri warisan sebuah hutang yang menggunung. Bekerja susah payah untuk melunasi hutang. Dan baru bekerja satu minggu sudah di buang! Kapan hutang itu akan lunas!" gerutu Chania lagi. Mengomeli nasib dirinya sendiri.
Air matanya kembali menetes, kali ini bukan karena takut pada Michael, melainkan menangisi nasib sialnya.
Ia bahkan hampir lupa akan kehidupan mewah yang pernah ia rasakan. Hidup boros tanpa perlu susah payah mencari uang terlebih dahulu.
Meskipun ia berada dalam pengawasan ketat orang tuanya di masa lalu, tapi Chania bahagia. Itu membawanya pada dirinya yang masih tetap suci di usia 22 tahun.
Namun siapa sangka, ia harus menyerahkan kesuciannya pada pria yang ternyata tak berhati. Padahal ia menyerahkan sepenuh hatinya untuk Michael. Meskipun ada uang di antara mereka.
Michael mendengar semua gerutuan Chania. Namun manusia setengah iblis sepertinya apakah peka?
.
.
🪴🪴🪴
Happy reading 🌹🌹🌹
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 324 Episodes
Comments
Mamah Kekey
ikut sedih mewek...
2024-07-06
0
Elizabeth Yanolivia
bersautan = bersahutan
2024-02-01
0
Devi Handayani
iihhh abang galak.... sini dong deket deket..... kupegang erat erat..... karena ku cinta berat😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂
2023-03-03
1