Hal aneh bagi Michael, baru pertama kali ini ia memiliki sekretaris berpenampilan sederhana seperti Chania di malam begini.
Apa ini penghinaan? mungkin itulah yang ada dalam pikiran seorang Michael.
Biasanya semua sekretaris yang bermalam di hotel bersamanya tidak akan pernah memakai baju sederhana yang terkesan simple dan murah meriah seperti itu. Sedetikpun akan mereka lalui dengan pakaian seksi dan menggoda. Agar semakin banyak saja pundi - pundi yang mereka dapatkan.
Michael pun tak luput menatap rambut Chania yang di ikat tinggi dan beberapa helai rambutnya menjuntai di pelipis. Bahkan tak ada sedikit pun riasan di wajah Chania. Sepertinya gadis itu hanya menggunakan pelembab bibir saja dan wajah saja.
Michael mengamati sampai ke ujung kaki Chania yang hanya berbalut sendal merek untuk kelas menengah.
Benarkah merasa Michael terhina?
"Kita makan sekarang, Tuan!" ucap Chania yang tak menyadari ketertegunan Michael. "Saya sudah lapar!" ucap Chania mengusap perutnya.
Membuat tubuh ramping Chania yang tertutup kaos oblong sedikit terlihat berbeda. Michael beralih menatap paha mulus Chania yang hanya tertutup setengah saja.
"Tuan?" panggil Chania sedikit menunduk, mensejajarkan wajahnya dengan wajah Michael. Menyadari mata bos nya yang tertuju ke arah kakinya, membuat ia salah tingkah sendiri.
' Adakah yang salah dengan penampilan ku? apa ini terlihat buruk dan memalukan? '
Batin Chania.
Michael tidak menjawab, ia tarik tangan Chania, lalu meraih pinggangnya dan mendudukkan Chania di paha kirinya. Jemari kokohnya merengkuh pinggul Chania dengan sedikit erat. Membuat Chania gelagapan akan aksi instan Michael.
"Kenapa kamu berpenampilan seperti ini saat bersamaku?" tanya Michael kembali mengamati Chania dari wajah hingga ujung kaki Chania yang menjuntai di antara kaki - kakinya.
"Tapi kalau di rumah saya selalu berpakaian seperti ini, Tuan. Apa pakaian ini salah di pakai di rumah Tuan?" tanya Chania dengan polosnya.
Michael menggeleng pelan.
"Lalu?"
"Baru kali ini aku punya sekretaris berpakaian seperti ini."
"Ah! jadi Tuan tidak suka? baiklah saya akan ganti!"
Chania hendak berdiri, namun seketika Michael mengunci pinggangnya. Lalu menggelengkan kepalanya pelan.
"Bukan aku tidak suka. Hanya saja kamu jadi terlihat berbeda dan... lebih natural." ucap Michael dengan tangan kanan yang terangkat untuk mengusap pipi Chania lembut.
Sontak pipi mulus itu berubah menjadi merah merona. Merasa malu karena saat ini Tuannya tengah menatap wajahnya intens dengan jarak yang hanya beberapa senti saja. Dengan jari jemari kokoh yang menjelajahi setiap inchi dari wajah cantik Chania.
Dua pasang mata akhirnya bertemu dalam keheningan yang tercipta. Dengan detak jantung masing - masing yang terus berpacu dalam irama senada, namun saling menepis perasaan aneh yang menjalar melalui urat - urat nadi.
Tangan kanan Michael menyusup melalui celah - celah antara pipi dan rambut yang terjuntai. Menangkup rahang hingga telinga Chania. Menarik wajah itu semakin dekat dengannya.
Hingga akhirnya sebuah kecupan mendarat di bibir tipis Chania.
Jangan di tanya kabar jantung Chania seperti apa sekarang. Ingin rasanya ia membalas kecupan Michael dengan ciuman dalam tanpa mau mengakhirinya.
Namun lagi - lagi ia tersadar, siapa dirinya? berani menyerang Michael duluan. Seorang Mafia berhati iblis. Ingin mati? coba saja! seperti itulah pemikiran polos Chania Renata.
Namun beruntungnya ia malam ini, Michael kembali mendekatkan bibir mereka. Menghilangkan jarak walau hanya satu inchi.
Dua benda kenyal itu kembali bertemu. Menyatu dalam sebuah ciuman yang lembut. Lidah Michael menyisir setiap inchi bibir Chania yang merona.
Chania sedikit bingung dengan ciuman pertamanya itu. Namun ia tetap berusaha mengimbangi Tuanya. Dengan ragu dan kaku ia pun mencoba membuka sedikit bibirnya. Hingga lidah Michael merengsak masuk, melewati celah - celah bibir dengan mata yang tertutup.
Chania mulai kehabisan nafas. Ia mulai kesulitan mengatur nafas. Lebih tepatnya ia belum pandai dalam dunia berciuman. Kelopak matanya beberapa kali berkedip. Seolah memberi tanda bahwa dirinya dalam keadaan kesulitan bernafas.
Michael melepas pautan nya. Memberi jeda agar Chania bisa mengambil nafas dengan baik.
Seolah kehausan, Chania menghirup udara sebanyak mungkin. Ia tak menyangka jika ciuman membutuhkan nafas yang cukup.
"Kenapa kamu sepertinya masih kaku dalam berciuman?" tanya Michael lirih setengah berbisik.
"Emm... karena tidak terbiasa, Tuan!" jawab Chania sekenanya.
"Mulai sekarang kamu harus belajar memberiku ciuman terbaik" bisik Michael.
Chania mengangguk pelan dengan menyungging senyuman manisnya. Yang selalu berhasil membuat Michael berkedip kagum.
Michael kembali mengeratkan dekapan tangannya. Dan mendaratkan kecupan - kecupan di leher Chania yang membuat Chania merasa geli. Namun geli yang aneh, tak seperti geli pada umumnya.
Michael menyisir daun telinga Chania dengan lidahnya, dan berhasil membuat Chania merancau tidak jelas.
"Mmmh!" lenguh Chania meremas kaos Michael.
"Aku tidak sabar bercinta dengan mu, Chania" bisik Michael dengan lembut dan mesra tepat di telinga Chania.
Chania merinding mendengar bisikan yang begitu menggiurkan nuraninya. Ia hanya tersenyum tanpa tau harus berkata apa.
' Bercinta? bagaimana jika setelah itu aku benar mencintai mu, Tuan? apakah cinta ku akan berujung pada sebuah rasa sakit hati karena tak terbalas? Tuan begitu tinggi untuk ku gapai. Sedangkan aku takut kehilangan laki - laki yang aku cintai, Tuan. '
Ucap Chania dalam hati.
"Kapan kamu akan selesai datang bulan?"
"Sepertinya lima hari lagi, Tuan!"
"Lima hari lagi kamu harus benar - benar sudah selesai datang bulan. Aku tidak terbiasa menahan hasrat terlalu lama."
"Em... iya, Tuan!" Chania hanya tersenyum. Takut, bagaimana jika dalam satu minggu datang bulannya belum selesai.
Michael mengangkat kedua alisnya, tanda sangat berharap itu benar terjadi. Sepasang mata Michael mulai berpindah arah ke arah dada Chania yang menyembul di balik kaos oblongnya.
Tangan kanan Michael mulai merambat naik. Dan berhenti tepat di buah dada sebelah kiri. Michael meremasnya beberapa kali. Terasa kenyal dan sangat menggiurkan walau tertutup br* dan kaos.
Chania kembali meremas kaos Michael saat merasakan gelayar aneh di tubuhnya.
"Aku tidak sabar menyesapnya" ucap Michael dengan terus meremas.
Setelah menyudahi aksinya, Michael menarik pelan tangan Chania, untuk membawanya keluar dari kamar mewahnya. Sadar, percuma saja jika mereka saling menarik hasrat. Toh tidak bisa tersalurkan dengan bercinta.
Dua pengawal yang berjaga di depan pintu kamar di buat heran oleh tingkah Tuannya yang berbeda 180 derajat. Mereka saling lirik, lalu mengangkat kedua pundak masing - masing, tanda sama - sama tidak tau.
Apalagi sekretarisnya kali ini berpakaian sederhana seperti itu. Padahal biasanya gadis yang bersama Tuannya itu pasti tak lepas dari baju seksi dan mahal.
Michael dan Chania berjalan beriringan menuruni anak tangga selebar 1,5 meter. Meliuk ke bawah, dengan pagar emas yang mempercantik pesona tangga Istana.
' Ah! ini seperti permaisuri dan pangeran yang sedang menuruni tangga istana. Untuk menemui tamu istana. Atau .... untuk bersiap mengantarkan sang pangeran yang hendak berburu?
Awwwhh! mimpimu terlalu tinggi Chania! dia pangeran, dan kau! hanya dayang tak berharga! '
Chania menatap Michael dari samping dengan tatapan berbinar, namun sesaat kemudian bibirnya mengerucut. Karena menyadari ia tengah menghayal terlalu tinggi.
' Oh, come on Chania! kau mengikutinya untuk mendapatkan uang banyak! jangan buat ill fill dengan mimpi - mimpi mu itu! '
Batin Chania bergemuruh.
.
.
🪴🪴🪴
Happy reading 🌹🌹🌹
Puasa - puasa begini Othor ragu mau bikin adegan hot. Heheh 🤭
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 324 Episodes
Comments
Lia Safitri
🥰
2024-05-13
0
Elizabeth Yanolivia
ill fill = ilfil
2024-02-01
0
Elizabeth Yanolivia
menghayal = mengkhayal
2024-02-01
0