Michael belum membuka matanya, ia seolah tengah menimbang sesuatu yang sulit untuk di tentukan. Kepalanya masih bersandar nyaman di sandaran kursi depan meja kerja sang Papa.
"Kamu tau, Michael?" ucap Frederick kemudian. "Membuat wanita jatuh cinta kepadamu itu adalah hal termudah yang bisa kau lakukan! kau memiliki wajah yang tampan, kedudukan yang tinggi dan harta yang berlimpah. Mana mungkin ada wanita yang menolak dirimu!" jelas Papa. "Kau hanya perlu menghilangkan satu hal!" lanjut Papa.
"Apa?" tanya Michael melihat Frederick menunggu jawaban dari pria yang 60% berwajah mirip dengannya itu.
"Sembunyikan kekejaman yang mendarah daging pada dirimu itu!"
"Bagaimana caranya? dunia ku ada di sana! Papa sendiri yang membuat mataku buta akan dunia yang kata orang indah ini! Papa yang mengantarkan aku ke dalam dunia hitam yang banyak di benci oleh semua orang! bahkan para sekretaris ku, jika saja mereka semua tau!" ucap Michael.
"Kalau begitu kau hanya perlu tunjukkan sisi lembut mu padanya! Tak peduli sekejam apa dirimu di luaran, kau harus bersikap lembut padanya!"
"Bersikap lembut? Pada wanita?" tanya Michael mengerutkan keningnya dengan tatapan tak percaya pada saran Papanya. "Hah!" tersenyum sinis kemudian. "Wanita di mata Michael itu hanya untuk memuaskan hasrat, Pa! Dengan aku yang seperti iblis ini, mana bisa bersikap lembut pada wanita!"
"Perlakukan mereka seperti kau memperlakukan Mama mu, Michael!"
Michael menggelengkan kepalanya, menolak kalimat Papanya.
"Mereka berbeda kedudukan di mata dan hati Michael, Pa!"
"Papa tidak peduli Michael! Deborah hanya memberimu dua pilihan! sembuhkan Selena, atau nikahi Oliver!"
Michael membuang mukanya kesal, mendengar kata menikah saja sudah membuatnya muak. Apalagi jika dirinya yang harus menikah.
Terikat pada satu wanita, pasti membosankan, belum lagi kecerewetan seorang wanita yang merepotkan. Itulah yang ada dalam pikiran seorang Michael Xavier Sebastian.
Tapi dia adalah seorang laki - laki yang sangat mencintai Mamanya.
"Bagaimana jika aku menolak dua pilihan itu?" setelah sekian lama akhirnya kalimat itu keluar juga dari mulutnya.
"Deborah pasti mengincar Mama mu!"
"Papa sangat berkuasa! kenapa Papa tidak membunuh saja wanita itu!" kesal Michael dengan nada tinggi.
"Jaga ucapan mu, Michael!" hardik Frederick. "Semua akan berantakan, dan giliran kuta yang akan di benci Mama mu!"
Michael menghela nafas, kecewa dengan sang Papa yang selalu menolak mengibarkan bendera perang pada Deborah. Wanita yang berlaku seperti seorang siluman berhati iblis.
Tapi jika saja mereka berperang, Michael yakin Black Hold pasti menang. Karena Deborah tidak memiliki pasukan yang kuat. Wanita itu hanya pandai bersilat lidah dan memasuki kehidupan seseorang dengan cara yang tak lazim.
Jika saja perang itu terjadi, dia tidak perlu lagi menghadapi situasi seperti saat ini. Menyelamatkan Selena atau menikahi Oliver.
[ Siapa dua nama itu? waktu yang akan menjawab! ]
Beberapa saat berlalu Frederick keluar dari ruang kerjanya. Dan Michael mengikuti langkah Papanya itu. Jack yang berjaga di depan pintu pun ikut tergerak mengikuti Tuannya, Michael Xavier.
Saat melewati ruang tamu, mata Frederick menangkap sosok gadis yang duduk sopan dan cantik di sofa single.
Frederick berhenti saat Chania menoleh padanya dan menunduk sambil tersenyum ramah ke arah Frederick. Alih - alih menggubris sapaan Chania, Frederick justru berbisik pada Michael yang juga ikut berhenti di sampingnya.
"Siapa gadis itu?"
"Chania!" jawab Michael.
"Oh!" muka datar Frederick mengarah pada Chania. "Kau harus ingat pesan Papa, Michael! Jangan sampai kau jatuh cinta pada gadis itu. Kau harus menyelamatkan nyawa Selena jika tidak ingin menikahi Oliver!" lanjut Frederick yang kemudian berlalu dari sana dan menghilang dari ruangan itu.
' Jatuh Cinta? '
Kalimat asing yang keluar dari dalam hati Michael.
Ia menatap Chania yang masih tersenyum. Jika saja senyum itu tidak terarah padanya, Michael pasti sudah menikam wajah cantik itu.
Sementara Chania dihinggapi perasaan kagum, ia seperti melihat kakak beradik. Meskipun Papa Michael sudah berusia 60 tahun, nyatanya pria itu masih terlihat tampan dan gagah.
Chania merasakan kembali jantungnya yang berdegup, saat Michael mulai melangkahkan kakinya ke arah sofa. Reflek ia berdiri untuk menyambut satu - satunya pria yang mulai sedikit mencuri hatinya.
***
Michael dan rombongan meninggalkan istana Frederick Sebastian saat hari menjelang malam. Kini Michael dan Chania berada di kursi belakang dengan berdampingan.
Michael membaringkan tubuhnya di kursi panjang, dan menjadikan paha Chania sebagai bantal kepalanya. Dengan ponsel yang berada 25 cm di atas wajahnya.
Ya! dia adalah bosnya! jadi suka - suka dia mau bertingkah bagimana.
Sebenarnya Chania sedikit gugup dengan posisi seperti itu. Apalagi beberapa kali bagian belakang kepala Michael menyentuh pahanya yang tidak tertutup dress mininya.
Chania bahkan bingung meletakkan tangannya dimana. Ia takut salah menyentuh bagian tubuh Tuannya.
Namun untungnya, tangan kanan Chania yang mengelus rambut hitam Michael di biarkan begitu saja oleh Michael. Sepertinya pria iblis itu tidak keberatan sama sekali tangan Chania yang berayun di sana.
"Dimana rumahmu?" tanya Michael tanpa mengalihkan pandangannya dai ponsel.
"Jalan Del Portico, Tuan!" jawab Chania.
Sontak Michael menatap wajah Chania, sedang yang di tatap bingung. Apa jawabannya salah.
"Dimana itu?" tanya Michael memicingkan matanya merasa asing dengan nama jalan itu.
"Heheh!" Chania tersenyum kikuk. "Itu jalan gang sempit, Tuan!" jawab Chania yang paham jika Tuan muda kaya raya seperti Michael tidak akan pernah mengenal jalan sempit seperti itu.
"Jalan gang sempit?" ulang Michael.
"Iya!"
"Jack! kita ke jalan Del Portico!" ucap Michael pada Jack.
"Baik, Tuan!" jawab Jack yang duduk di samping kemudi.
"Tuan, saya bisa pulang sendiri!" ucap Chania. "Mobil ini tidak akan bisa masuk kesana!"
"Diam lah, aku tidak suka di bantah!" jawab Michael memejamkan mata di pangkuan Chania.
"Baiklah, Tuan!" jawab Chania pasrah.
Ia kembali menikmati wajah tampan yang tengah memejamkan mata itu. Gurat wajah maskulin dan mempesona sangat kentara di sana.
' Seindah nama mu, Tuan! '
Puji Chania dalam hati.
***
"Maaf, Tuan! mobil hanya bisa berhenti sampai di sini" ucap Jack membuat Michael spontan bangkit dari baringnya.
"Boleh saya turun sekarang, Tuan?" tanya Chania.
Michael tidak menjawab, matanya sibuk menyusuri segala arah di luar jendela kaca mobil.
Ia meraba sabuk di balik jas. Memastikan pistol kesayangannya masih berada di sana. Dan hal itu membuat Chania memicingkan matanya. Ia baru sadar jika Tuannya selalu menyimpan senjata di sana.
Kemudian beralih pada pisau kecil berlapis emas, yang juga selalu menggantung di pinggang sebelah kiri.
Chania semakin membulatkan matanya melihat semua itu.
"Aku antar!" ucap Michael menarik tangan Chania keluar dari mobil tanpa sadar.
"Tapi, Tuan! kita harus berjalan cukup jauh!"
"Jangan berisik!" pungkas Michael. "Cepat tunjukkan arah ke rumah mu!"
"Em..."
.
.
🪴🪴🪴
Happy reading 🌹🌹🌹
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 324 Episodes
Comments
Elizabeth Yanolivia
tergerak = bergerak
2024-01-31
0
Ning Ning
seharusnya cahania jangan terlalu mencintai Michel takut 3ntar sangat patah hati
2023-03-04
2
dina firara
apa Michael butuh organ dalam seseorg utk kesembuhan mama nya?
2022-10-31
1