"Iya, Tuan!" Jack sudah berdiri di samping Tuannya.
"Bawa gadis sialan ini ke ruangan ku! jangan biarkan dia mengganggu urusan ku!" titah Michael sembari menarik tangannya dari dinding.
"Baik, Tuan!" jawab Jack. "Silahkan ikuti saya, Nona!" ucap Jack pada Chania.
Chania mengangguk sedikit dan langsung berjalan di samping Jack. Sedangkan Michael menatap kesal pada punggung Chania yang mengikuti langkah Jack.
Kemudian kembali menghampiri James, bersiap melampiaskan amarahnya pada makhluk - makhluk yang tertimpa kesialan siang itu. Ia langsung mendaratkan kaki berlapis sepatu besi ke arah wajah James.
"Aaakh!" teriak James tak berdaya.
Chania kembali di buat kaget. Apalagi saat mendengar suara Michael yang terengah sambil memukul kembali lawannya. Ia hanya bisa mendengar, tanpa tau apa yang sedang di lakukan Michael pada musuhnya di belakang. Sampai akhirnya telinga Chania kembali panas, saat mendengar suara Michael menggelegar.
"Bakar dia!" teriak Michael pada anak buahnya yang berada di sekitar ya.
"Jack!" panggil Chania kemah sembari menghentikan langkahnya.
"Ya, Nona!" Jack ikut berhenti dan berbalik menghadap sekretaris bosnya.
"Kaki ku terasa lemas, Jack!" keluh Chania.
"Saya bantu, Nona" ucap Jack memapah Chania. Ingin rasanya Jack mengangkat tubuh lemas akibat melihat sesuatu yang tak seharusnya di lihat oleh orang awam seperti Chania. Tapi apa daya, dia bisa terkena amukan iblis jika berani menyentuh sekretaris bosnya melampaui batas.
Sampai tibalah Chania di ruangan Michael. Ruangan yang tak terlalu besar dari ruang CEO. Namun nuansa di dalam sana bukan lagi menyeramkan. Melainkan nuansa gold mengisi ruangan berukuran 5 x 6 meter itu.
Terlihat benda - benda yang tak biasa di lihat Chania. patung kepala naga, juga beberapa benda lainnya. Namun yang mengherankan lagi ada almari pakaian. Untuk apa?
Dan matanya menatap takjub pada sebuah lukisan kepala naga yang di ukir indah di atap ruangan itu.
Jack melepaskan tangannya dari lengan Chania setelah mendudukkan Chania di sofa. Jack pindah berdiri di dekat pintu.
"Tuan Michael sangat menyukai naga!" ucap Michael tiba - tiba, karena Chania tak kunjung mengalihkan pandangan matanya dari ukiran naga di atap.
"Benarkah?"
"Ya, Nona! Tuan besar Frederick sejak kecil selalu memanggil Tuan muda dengan sebutan Naga hitam! penerus Black Hold!"
"Tuan Frederick?" Chania memicingkan matanya tidak mengenal nama itu.
"Tuan besar Bastian!" Jack menjelaskan.
"Oh! Papanya Michael?"
"Ya, Nona!"
"Jack, boleh aku bertanya?" tanya Chania setelah melihat Jack ternyata bukan orang yang sedingin dan sekaku Tuannya.
"Silahkan, Nona! saya akan menjawab jika itu masih di batas wajar dan tidak ada hubungannya dengan urusan pribadi Tuan muda maupun Tuan besar!"
"Ehm!" Chania tampak kecewa, namun tak semudah itu dia menyerah. "Apa kalian itu Mafia?"
Jack mengangkat kedua sudut bibirnya. Merasa lucu dengan pertanyaan Chania.
"Jika berdasarkan kesimpulan Nona sampai sekarang, apakah Tuan Michael seorang Mafia?"
"Iya!" jawab Chania singkat.
"Nona benar!" jawab Jack santai. "Tuan Michael atau di luaran sana di kenal sebagai Tuan Xavier, adalah pemimpin Klan Black Hold. Yang menguasai wilayah Italia. Sedangkan Tuan besar Frederick menguasai Klan Black Hold di Amerika Serikat."
"Apa Tuan Michael setiap hari membunuh musuh seperti itu?" tanya Chania.
"Hanya jika ada musuh yang tertangkap saja, Nona! atau juga jika ada pengkhianat di dalam Klan."
Chania mengangguk, dan kemudian memejamkan matanya saat melihat teriakan seseorang yang seperti tengah di siksa.
"Jika Nona bersama Tuan Michael, maka Nona harus membiasakan diri dengan semua ini." ucap Jack melihat ekspresi Chania. "Tapi Nona perlu tau, baru kali ini Tuan menunjukkan jati dirinya pada sekretaris pribadi seperti Nona." lanjut Jack.
"Hah!" pekik Chania tak mengerti.
"Tuan Michael selalu berganti - ganti sekretaris, setahun bisa 2 sampai 4 kali. Tapi baru Nona yang pernah di bawa beliau kemari, padahal Nona baru kerja dua hari!"
Chania mengulum senyum di hatinya. Merasa ada yang berbeda pada keriuhan hatinya. Mendengar jika dirinya satu - satu nya sekretaris yang di tunjukkan pada dunia hitamnya, bukankah itu artinya dia sepesial?
' Tapi bagaimana jika dia tau aku perawan? '
Batin Chania kembali tidak tenang.
Brakk!
Pintu terbuka dengan kasar. Michael masuk dengan raut wajah yang sulit di artikan. Ada banyak noda darah di baju dan tangannya.
Melihat itu Chania segara berdiri. Mendengar dia sekretaris pertama yang di bawa Michael ke markas, membuat Chania tidak peduli lagi dengan dunia hitam sang bos. Ia yakin suatu hari nanti pasti bisa meluluhkan hati iblis yang bersarang di dalam tubuh Michael.
Merasa Tuannya sudah ada yang akan melayani membereskan sisa - sisa penghakiman, Jack keluar setelah berpamitan pada Tuannya.
Michael melepas kancing kemeja yang tadi di pakai untuk menyiksa musuhnya. Chania sigap membantu Michael melepas kancing kemejanya. Ia tak peduli dengan darah yang menempel di baju, bahkan membentuk titik - titik di wajah Michael.
Michael diam menurut saja saat jari - jari lentik tanpa cat kuku itu bergerak lincah di depan dadanya. Sebenarnya ia sedikit heran, bukankah tadi gadis ini mengacau karena ngilu, tapi kenapa sekarang justru membantunya membuka baju seperti ini. Seolah tak peduli bau darah di baju dan tubuhnya. Sampai akhirnya kemeja itu terlepas dari tubuh kekarnya.
"Ambilkan aku ganti!" titah Michael sambil berjalan ke arah kamar mandi.
"Baik, Tuan!" jawab Chania yabg sepersekian detik kemudian matanya di buat kagum saat melihat tato kepala naga di punggung Tuannya.
Chania mendongak ke atas, desain yang persis. Hanya warna saja yang berbeda.
Chania terpaku menatap tato hitam di padu warna merah di beberapa titik. Menyatu sempurna pada punggung putih dan tegap seorang Michael Xavier Sebastian.
Chania tak berkedip sampai pintu kamar mandi yang tertutup membuat pandangannya terputus.
' Kata sempurna sepertinya masih belum bisa mewakili kesempurnaan Tuan Michael! '
Chania tersenyum simpul.
"Sepertinya aku sudah gila! mengagumi seorang iblis yang tampan!" gumam Chania sambil tersenyum kikuk.
Chania segera melakukan tugasnya. Mengambil baju dari sebuah lemari yang ada di ruangan itu.
"Ternyata ini fungsi almari ini? untuk mengganti bajunya yang bersimbah darah!"
Chania mengambil satu kemeja dan celana kerja berwarna hitam.
20 menit berlalu, Michael belum juga keluar dari kamar mandi. Sedangkan jam dinding sudah menunjukkan pukul dua. Padahal jam tiga adalah waktunya untuk bertemu Tuan besar Bastian.
Chania yang duduk di sofa pun akhirnya berdiri, berjalan mendekati pintu, berinisiatif untuk mengetuk pintu kamar mandi Tuannya.
Tok tok tok!
"Tuan, sudah pukul dua siang! bukankah Tuan Michael ada janji dengan Tuan besar?" ucap Chania.
"Masuklah!" titah Michael tanpa menjawab ucapan Chania.
' Hah? bukankah dia sedang mandi? '
"Masuk!" perintah Michael lagi.
"I...iya, Tuan!"
Clekk!
Pintu di buka Chania dengan perlahan. Matanya berkeliling mencari dimana letak Tuannya. Berendam kah? Guyuran di bawah shower kah? lebih sensitifnya lagi, masih pakai celana atau sudah telanjang bulat?
' Aaakkh! '
Teriak Chania dala hati.
Tap! Mata Chania menangkap Michael yang tengah berendam di bathub, dengan busa yang menutupi sebagian tubuhnya. Michael terlihat memejamkan matanya ke arah atap toilet.
' Perfect! '
Seru Chania dalam hati.
"Kemarilah" ucap Michael santai tanpa membuka matanya sedikit pun.
.
.
🪴🪴🪴
Happy Reading 🌹🌹🌹
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 324 Episodes
Comments
Mamah Kekey
chania seperti martabak.. spesial
2024-07-06
0
Elizabeth Yanolivia
sepesial = spesial
2024-01-31
0
Elizabeth Yanolivia
melihat teriakan = mendengarkan teriakan
2024-01-31
0