Setelah sarapan, Michael dan Chania berjalan keluar di ikuti oleh Jack yang mengekor di belakang Tuannya, dengan telpon genggam yang tersalur pada sebuah panggilan di telinganya. Namun sesaat kemudian panggilan itu berakhir setelah ia mengucap kata hemm.
"Kami sudah menemukan pelakunya, Tuan!" ucap Jack setelah memasukkan kembali ponselnya.
"Siapa?" tanya Michael tanpa menoleh Jack di belakang.
"Sekutu James, Tuan!"
Michael mengeratkan giginya mendengar nama pria yang saat ini tengah di salib di penjara bawah tanah markasnya. Dengan air yang menggenangi separuh tubuhnya. Di tambah luka yang berdarah - darah. Wajah yang sudah tak berbentuk. Juga tanpa makan dan minum. Atau bahkan mungkin, pria itu sekarang sudah mati. Mana mungkin bisa bertahan dengan keadaan seperti itu di ruang pengap dan gelap.
"Mereka sepakat melakukan sabotase pada barang Tuan sejak satu bulan lalu!"
"Satu bulan lalu?"
"Ya, Tuan! dan itu sangat aneh. Kita bahkan meeting gelap untuk barang ini!"
Ia semakin geram mengingat sekutu James sejak satu bulan lalu. Itu artinya ada sesuatu yang lolos dari pengintaiannya.
"Jack, buat jebakan! aku rasa salah satu anak buah ku ada yang berkhianat!"
"Tapi siapa, Tuan?"
"Cari saja! termasuk di rumah ini!" ucap Michael sambil terus berjalan ke mobil Limousine yang sudah ada Dimitri berdiri di samping pintu.
"Rumah ini, Tuan?"
"Ya! aku merasakan hawa pengkhianat di rumah ini!"
"Siap, Tuan!" jawab Jack tanpa banyak bertanya lagi.
Sama - samar Chania yang berjalan di samping Michael mendengar pembicaraan Michael dan Jack.
Ia merasa ngeri sendiri, bagaimana bisa di rumah iblis ada pengkhianat? apa tidak takut mati mendadak? Atau tidak takut mulutnya di robek ala joker?
Michael masuk ke dalam mobil di ikuti oleh Chania yang selalu setia berada di sampingnya.
"Emm... Tuan?" panggil Chania ragu, karena Michael terlihat menahan emosi menatap keluar jendela dengan tangan yang terkepal.
"Hemm?" jawab Michael tanpa menoleh.
"Apa Tuan mencurigai saya sebagai pengkhianat atau penyusup?" tanya Chania lirih tanpa berani melihat ekspresi Michael.
"Hah!" seketika Michael menoleh dan menatap tajam pada Chania yang menunduk dalam. "Sepertinya benar apa yang di ucapkan Oliver! kau memang seorang penyusup!" tanya Michael dengan nada yang sangat dingin di telinga Chania.
"Bukan Tuan!" jawab Chania cepat. "Sungguh saya datang untuk bekerja dan mendapatkan uang untuk melunasi hutang!" ucap Chania berusaha memperlihatkan wajah tulus dan jujurnya.
Chania menatap ngeri pada mata Michael yang menatapnya dengan tatapan membunuh.
"Percayalah, Tuan!" Chania mengatupkan kedua tangannya di depan dada sembari menundukkan kepalanya. "Saya tidak berbohong!"
Sangat terlihat jika Chania ketakutan. Ia menyesal mengeluarkan pertanyaan bodoh seperti itu.
"Saya mohon, Tuan! jangan bunuh saya! saya bertanya hanya karena saya takut di bunuh tanpa saya tau apa kesalahan yang saya lakukan!" ucap Chania masih dengan menunduk dalam.
Sontak Michael menghela nafas. Ia tarik tangan Chania yang mengatup lalu menangkup rahang Chania dan mengangkatnya sedikit.
"Tatap mataku!" ucap Michael lirih.
Pelan - pelan Chania mengangkat kepalanya, dengan memberanikan diri menatap mata Michael.
Michael menatap dalam mata murni seorang Chania yang berwarna kecoklatan. Kemudian ia kembali menghela nafas. Dan melepaskan tangannya dari rahang Chania.
Pikirannya berkelana. Dan hanya Michael yang tau apa yang tengah ia pikirkan. Sesuatu yang sulit ternyata. Semakin ia menatap mata Chania semakin aneh rasanya.
# # # # # #
🍄 Hari - hari berlalu . . .
Sebuah nama pengkhianat sudah berada di genggaman Michael Xavier Sebastian. Ia terus mengatur siasat untuk menyingkirkan musuh dalam selimut, tanpa api bahkan asap sekalipun. Karena suatu hal yang masih harus berlanjut.
"Beri dia pengawas khusus!" titah Michael melalui saluran telponnya. Dia tengah berdiri di samping jendela kamarnya.
Sedangkan saat ini Chania tengah berada di dalam kamar mandi Michael. Ia mengguyur tubuhnya di bawah shower. Melepaskan semua rasa lelah karena seharian berada di kantor.
Selain untuk mengerjakan pekerjaan kantor, juga untuk mainan Tuannya. Apalagi yang di mainkan Michael saat suntuk di kantor, kalau bukan buah kenyal yang hanya di miliki oleh wanita.
Masa datang bulannya telah berakhir. Namun Michael belum mengetahuinya. Chania pun lupa jika Tuannya sangat menunggu masa itu berakhir. Untuk melepas hasrat membuncah sang Tuan muda Xavier.
Ia hanya fokus untuk selalu siap jika sewaktu - waktu Tuannya meminta untuk bermain - main dengan dadanya. Tak peduli dimana pun dan kapanpun. Karena bagi Chania Michael itu seperti bayi besar selalu kehausan.
Chania memejamkan matanya di bawah air yang mengguyur kepalanya. Ia kembali mengingat setiap Michael menghisap puncak dadanya di kantor. Ia duduk di meja dan Michael dengan bebas menguasai dadanya dari singgasana CEO.
Chania selalu suka menatap wajah tampan itu saat sedang melakukan aksinya. Apalagi saat Michael menghisap sambil memejamkan matanya, kemudian memberinya gerakan - gerakan kecil dari jari - jemari kokoh di puncak satunya.
Namun saat mengingat uang yang ia dapat setiap kali keluar dari ruang kerja bosnya dalam keadaan bekas - bekas merak di balik baju, membuatnya merasa sangat murahan. Tapi mau bagaimana lagi, dia memang bersedia melakukan itu untuk mendapatkan uang.
Chania tersenyum tipis, seolah kembali merasakan sentuhan Michael di tubuhnya. Matanya terbuka, kemudian segera menyadarkan diri dari lamunan dan mengakhiri sesi mandinya.
Ia keluar dengan handuk putih yang melilit tubuhnya. Berjalan santai ke almari yang sudah seminggu ini berisi baju - baju miliknya. Ia ambil dress santai berwarna merah. Lalu mengambil pakaian dalam dengan warna senada.
Setelah lengkap, ia letakkan di atas kursi panjang. Langsung saja ia lepas handuk, satu - satunya kain yang menutup tubuh polosnya. Dan meletakkan di kursi samping bajunya.
Ia ambil CD dan memakainya dengan anggun. Lalu mengambil br* berwarna senada. Ia masukkan tangan kanan ke dalam tali, lalu tangan kiri. Setelah memastikan posisi dadanya pas, ia bawa kedua pengait ke belakang untuk di satukan.
Namun tiba - tiba tangan seseorang merebut dan mencegahnya untuk menyatukan pengaitnya.
"Akh!" teriak Chania spontan yang langsung bergerak berbalik menghadap siapa yang merebut.
Dan sudah di pastikan, Michael lah yang melakukannya. Satu - satunya pria yang berani memainkan ***********. Ia berdiri dengan baju santai, yang membuatnya terlihat jauh lebih muda dari usianya.
"Tuan!" pekik Chania, menatap wajah tampan itu tengah tersenyum tipis.
"Sejak kapan kamu selesai datang bulan?" tanya Michael.
"Hah!" Chania mengerutkan keningnya. "A.. e... ta..tadi pagi, Tuan!"
"Kenapa tidak bilang?"
"Memangnya kenapa, Tuan?" tanya Chania yang masih melindungi *********** dengan br* yang bahkan belum terkait.
"Chania?" panggil Michael lirih.
"I..iya, Tuan?" Chania tergagap melihat ekspresi Michael yang tak biasa.
Michael berjalan pelan mendekati Chania, menatap wajah cantik Chania dengan seringai memukau ala Michael Xavier.
"Itu artinya, sudah saatnya kamu melayani ku!" ucap Michael.
"Melayani Tuan?"
"Ya!" jawab Michael santai.
Tangan Michael menarik br* Chania dari tengah. Dan melemparnya ke segala arah.
"Tu.. Tuan!"
"Jangan membantah!" ucap Michael santai namun tak terbantahkan.
Michael mengangkat tubuh Chania yang hanya memakai CD itu. Dan membawanya keluar dari walk ini closed.
Michael meletakkan tubuh Chania pelan di atas ranjang. Kemudian ia menyusul merangkak naik. Mengungkung tubuh Chania yang menegang karena gugup.
"Kau begitu menggoda sejak keluar dari kamar mandi, Chania!" bisik Michael menatap dalam sepasang manik mata Chania yang bergerak ke kanan dan kiri karena gugup.
"Tuan di dalam sejak tadi?" tanya Chania gugup, ia baru ingat jika Tuannya menanti hubungan intim itu.
' Apakah semua akan terbongkar? apa artinya ATM berjalan ku akan berlalu? '
Tanya Chania dalam hati.
"Hemm" jawab Michael santai. "Beri aku yang terbaik malam ini, Chania Renata" ucap Michael mendaratkan kecupan di bibir Chania.
' Bukan hanya yang terbaik, Tuan! tapi ini adalah mahkotaku! tapi entah kenapa Tuan tidak menyukai mahkota? '
Batin Chania. Ia merasa gugup sekaligus takut.
.
.
🪴🪴🪴
Maaf ya, Kakak! Puasa gini Othor males banget buat buka HP. Apalagi nulis 🙏🙏
Happy reading . . .
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 324 Episodes
Comments
Eva Rubani
ayoo ayooo...
2023-03-01
1
Chandra Dollores
sialannnn
bab ini q baca saat suami q lagi tidur nyenyak
terangsang tp tersiksa neh judulnya tp udah terlanjur rugi klo sampe terlewatkan
gas tuntas semalam suntuk
2022-05-09
3
Lee
Astaga kau msih mmikirkn atm brjlan chania
2022-04-17
2