Reflek Chania melingkarkan tangannya di leher Michael. Sepasang mata lentiknya memandang kagum pada wajah sempurna di depan matanya.
Bibirnya terangkat saat melihat mata tajam Michael yang di kelilingi dengan garis wajah yang tegas dan candu.
Bibir seksi sang Mafia membuat Chania ingin sekali mendaratkan kecupan di sana. Reflek Chania mengangkat kepalanya sedikit, mendekatkan wajahnya pada wajah Michael dan tanpa aba - aba mencuri kecupan di pipi Michael.
Membuat laki - laki yang tengah berjalan membawa tubuhnya itu menoleh padanya dengan dahi yang mengkerut dan penuh tanda tanya.
"Hehe! Maaf, Tuan! Tuan sangat tampan! kapan lagi saya bisa mencium Tuan." Chania tersenyum manis, berharap wajah datar itu tidak berubah menjadi wajah iblis yang pernah beberapa kali ia lihat.
Tampaknya Michael tak keberatan dengan ulah berani Chania. Ia kembali fokus pada langkahnya sambil membuka pintu walk in closed dengan satu tangan.
' Andai setiap hari tampangnya seperti ini. Tanpa amarah dan bayangan iblis! '
Batin Chania.
Michael terus membawa tubuh polos itu ke dalam kamar mandi. Tubuh yang dua jam lalu selesai di mandikan itupun, kini harus mengulang mandi dari awal.
Karena sangat tidak mungkin mereka turun untuk makan malam dalam keadaan acak - acakan dan di penuhi keringat. Apalagi banyak sekali tanda merah yang di tinggalkan Michael di tubuh seksi Chania Renata.
Michael meletakkan tubuh Chania di dalam bathub. Ia alirkan air untuk mengisi bathub. Chania tersenyum, karena merasa sangat di perhatikan oleh pujaan hatinya. Pujaan hati yang hanya bisa ia simpan, tanpa mengharap balasan.
Namun saat air itu mulai mulai mengalir, Chania menjingkat kaget.
"Aauh!" seru Chania mengangkat bokongnya reflek.
Bagian intimnya terasa begitu perih dan nyeri saat terkena air yang mengalir. Menyapu permukaan yang baru saja robek oleh sebuah percintaan.
"Kenapa?" tanya Michael.
"E..." Chania kebingungan sendiri. "Perih, Tuan!" jawab Chania tersenyum kikuk dengan menunjukkan semua barisan gigi putihnya.
Sepertinya gadis itu tidak menemukan alasan yang lebih masuk akal lainnya.
"Perih?" pekik Michael.
"Iya, Tuan!"
"Kenapa perih?" Michael menyipitkan mata elangnya.
"Emm... sepertinya Tuan terlalu keras bermainnya." jawab Chania tersenyum manja sambil kembali meletakkan bokongnya, masuk ke dalam air. Menahan rasa perih agar Michael tak curiga.
"Kalau tidak keras, kau tidak akan menikmatinya!" jawab Michael. "Lagian cuma sebentar!"
"Walaupun sebentar, tapi kan per...."
Michael kembali menyipitkan matanya, seolah bertanya kelanjutan kalimat Chania yang di gantung.
"Tapi?"
"Tapi... tapikan pertama kali setelah sekian lama, Tuan! jadi jelas terasa lebih sakit! hehe!" Chania kembali nyengir.
Michael hanya mengangkat sebelah alisnya, tak terlalu menanggapi jawaban Chania.
Sampai akhirnya, Chania terbiasa dengan air yang kini sudah setengah bagian dari bathub. Ia duduk dengan menyatukan kedua pahanya. Berharap air tak terlalu banyak menyapu permukaan inti nya.
Michael masuk dan duduk di belakang Chania, menarik pinggang ramping itu untuk mendekat pada tubuhnya. Sampai akhirnya punggung mulus itu menempel sempurna di perut sixpack dan dada bidang seorang Michael.
Michael semakin leluasa menyentuh bagian - bagian sensitif Chania. Membuat Chania menahan geli. Namun ia sama sekali tak keberatan. Karena Michael memperlakukannya dengan baik dan lembut.
Beberapa menit berlalu, Chania meminta untuk mengakhiri sesi mandinya. Ia sudah cukup kedinginan. Ia memutuskan untuk membilas tubuhnya lebih dulu. Sedangkan Michael masih santai di dalam bathub, sambil menatap tubuh molek yang terguyur derasnya air shower di dalam bilik shower yang transparan. Senyuman nakal terbit dari bibir seksi kemerahan itu.
Chania menarik handuk putih, dan menutup sebagian tubuhnya dengan handuk persegi panjang itu. Setengah pahanya terekspos, juga sebagian dadanya ikut terekspos. Membuat Michael tersenyum miring. Ia berfikir sekretarisnya kali ini sesuai dengan seleranya.
Namun seketika ia beralih pandang, saat ingatannya kembali pada suatu problem, yang sampai saat ini belum ia temukan jalan keluarnya.
' *Mengorbankan seorang gadis yang tak berdosa, demi gadis lainnya?
Kenapa tiba - tiba aku ingin melindunginya*! '
Batin terdalam Michael bertabrakan dengan hati iblisnya.
Chania keluar dari kamar mandi dengan sedikit tertatih. Ia segera memakai dress selutut tanpa lengan. Kemolekan tubuhnya terekspos oleh kerutan di bagian perutnya. Ia gerai rambutnya yang masih lembab. Ia kenakan sendal tipis, namun dengan merek kelas dunia. Michael sudah menyiapkan semua itu sejak Chania tinggal di rumahnya.
Penampilan sederhana, namun sangat kontras dengan karakter Chania yang cantik, anggun dan mandiri.
Ia keluar dari walk in closed, berjalan mendekati ranjang dengan masih menahan rasa nyeri. Ia hendak merapikan tempat tidur yang menjadi saksi bisu terenggutnya kesucian oleh seorang bos Mafia.
Ia menarik selimut tebal untuk di ganti dengan yang baru. Namun saat selimut itu sudah tak menutupi permukaan tempat tidur, mata Chania mendelik.
Warna merah darah berukuran kurang lebih dua sampai tiga senti meter menodai sprei putih itu. Ia ingat betul, itu tempat di mana tadi bagian bokongnya berada.
Chania segera mendekat dan memastikan, apakan itu darah perawan miliknya. Jantung Chania berdegup kencang. Jari Chania meraba dan benar, itu adalah darah sucinya.
Chania membuka mulutnya lebar, dan kontan menutup mulutnya dengan telapak tangan lainnya.
"Jangan sampai Tuan tau!" gumam Chania yang masih berdiri kaku.
"Apanya yang jangan sampai aku tau?" sahut Michael yang baru keluar dari pintu walk in closed, dengan baju casual nya.
Tubuh Chania menegang seolah terpaku, kakinya bergetar, matanya membulat juga jantungnya yang berpacu. Ia tidak berani untuk sekedar menoleh Michael yang mulai berjalan mendekati dirinya.
"Kamu kenapa?" tanya Michael yang sudah berdiri di samping Chania, dengan mengamati ekspresi wajah Chania yang terlihat gugup dan takut.
"Emm... saya hanya mau mengganti sprei, Tuan!"
Cepat - cepat Chania meraih pojokan spring bad, dan menariknya. Namun sial, belum sempurna ia menarik ujung sprei, mata Michael sudah menangkap noda merah di atas ranjang.
Chania mendelik saat mengikuti arah pandang Michael. Cepat - cepat ia menarik sprei putih itu, agar arah pandang Michael segera teralihkan.
Namun siapalah Chania. Di mata Michael ia hanya sebatas kura - kura yang lelet. Tentu saja pergerakannya kalah cepat dari dirinya yang sudah terlatih menghindari serangan musuh.
"Apa ini?" tanya Michael mengusap noda merah yang basah itu.
Michael mengamati jari telunjuknya, dan menyadari sesuatu.
Sempit
Susah di tembus
Respon yang berlebihan
Perih!
Per....
Kesulitan berjalan
Dengan mata elangnya ia menoleh Chania yang sudah tegang, tanpa berani membalas tatapan mengintimidasinya.
"Jawab! apa ini!" hardik Michael sembari berjalan mendekati Chania.
"Emm... kan Chania sudah bilang! tadi Tuan mainnya terlalu keras. Jadi sampai keluar darah!" jawab Chania mencari alasan dengan nada memelas manja.
"Jangan membohongiku Chania Renata!" ucap Michael dengan nada yang sangat dingin di telinga. Sama sekali tidak menghiraukan rengekan yang di buat - buat oleh Chania.
"Saya tidak bohong, Tuan!" Chania memelas.
Tanpa aba - aba Michael mencengkeram leher Chania dengan kuat. Tatapan membunuh, gigi yang mengerat, dan wajah iblis mulai menguasai perangai seorang Michael.
Chania mulai mendelik, nafasnya tersengal. Kedua tangannya memegangi pergelangan tangan kiri Michael. Berharap cengkeraman tangan Michael sedikit mengendur.
Tapi apalah daya, kekuatan dari kedua tangannya bahkan tak sampai seperempat kekuatan tangan kiri seorang Michael Xavier.
"Jika kau tidak jujur, aku akan membunuhmu malam ini juga!" ancam Michael.
"Tu..Tu..Tuan" Chania kesulitan bicara untuk memberi penjelasan.
.
.
🪴🪴🪴
Happy reading 🌹🌹🌹
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 324 Episodes
Comments
Elizabeth Yanolivia
spring bad = spring bed
2024-02-01
0
Elizabeth Yanolivia
sendal = sandal
2024-02-01
0
Elizabeth Yanolivia
menjingkat = berjingkat
2024-02-01
0