GUBRAK
Amanda membuka laci nakas di samping tempat tidurnya, namun sesuatu yang dia cari tidak juga dia temukan.
"Astaga, obatku, ternyata obatku sudah habis, apa Mas Abi lupa belum membelikan obat untukku?" kata Amanda disertai nafas yang tersengal-sengal menahan rasa sakit yang ada di dadanya. Dengan sekuat tenaga akhirnya dia bangkit dari tempat tidurnya lalu berjalan ke arah pintu kamarnya.
"Mama... Papa....!" rintih Amanda.
Tertatih-tatih Amanda berjalan keluar dari kamarnya dengan memegang dada sebelah kirinya. Perutnya yang sudah membesar pun semakin mempersulit langkahnya.
"Astaga, kenapa aku lupa bukankah hari ini mama pergi menemani papa kontrol ke rumah sakit?" kata Amanda saat keluar dari kamarnya. Dia kemudian mengutak-atik ponselnya, namun setelah beberapa kali melakukan panggilan, ponsel yang dihubunginya tidaklah aktif.
"Ah, sudahlah Amanda kau tidak boleh menjadi wanita lemah yang selalu bergantung pada orang lain. Kau harus kuat Amanda, aku pasti bisa. Aku pasti bisa melakukannya sendiri. Aku tidak mau terus menerus merepotkan Mama, Papa, dan Mas Abi. Mas Abi saat ini tidak bisa dihubungi juga pasti karena sedang sibuk menangani urusan kantor."
Amanda lalu berjalan keluar dari rumah, meskipun dengan menahan rasa sakit yang teramat sangat, dia mencoba untuk tenang, menunggu kedatangan taksi online yang dipesannya di depan rumahnya. Beberapa saat kemudian, taksi online tersebut pun datang. Bergegas Amanda bangkit dari tempat duduknya lalu masuk ke dalam taksi online tersebut.
"Ke rumah sakit ya Pak."
"Iya Nyonya."
Setengah jam kemudian, setelah melewati padatnya jalanan ibu kota, Amanda pun sampai di rumah sakit. Melihat Amanda yang kini begitu kesakitan, beberapa petugas medis pun mendekat ke arahnya, mereka lalu membantu Amanda masuk ke dalam UGD. Saat berada di UGD, Amanda pun terlihat sudah setengah sadar hingga tiba-tiba seorang dokter pun mendekat padanya.
"Permisi Nyonya Amanda, jadi anda pasien Dokter Anwar?"
"Iya Dokter."
"Perkenalkan saya Dokter David, saya sebenarnya sudah tidak pernah memeriksa pasien kecuali beberapa dokter spesialis jantung sedang berhalangan, dan dua dokter spesialis jantung di rumah sakit ini kebetulan sedang sibuk jadi hari ini saya yang akan memeriksa keadaan anda. Anda pasien Dokter Anwar kan? Dokter Anwar hari ini ada tugas keluar kota, sedangkan Dokter Imam juga sedang mengoperasi pasien jantung, jadi saya menggantikan mereka disini sementara untuk memeriksa keadaan anda."
"Silahkan Dok." jawab Amanda sambil meringis, matanya pun hampir terpejam menahan rasa sakit yang ada di dadanya. David pun dengan cekatan memeriksa Amanda yang kini terlihat begitu tidak berdaya.
"Jantung anda lemah sekali, menurut catatan medis, anda mengalami sakit jantung bawaan sejak kecil kan?"
Amanda pun mengangguk.
"Apakah anda tidak pernah meminum obat-obatan dari dokter? Kenapa anda terlihat begitu parah seperti ini?" kata David sambil melihat catatan medis Amanda yang ada di rumah sakit tersebut selama menjadi pasien Dokter Anwar.
"Saya selalu rutin meminum obat-obatan yang diberikan oleh Dokter Anwar, Dok."
"Tapi kenapa kondisi anda seperti ini?"
Amanda pun kemudian menggelengkan kepalanya.
'Tuhan, apa yang sebenarnya telah terjadi? Bukankah aku selalu meminum obat yang diberikan oleh Mas Abi? Tapi kenapa dokter ini mengatakan jika kondisiku begitu parah? Bahkan seperti tidak pernah meminum obat.' gumam Amanda yang sambil melirik David yang masih sibuk memeriksanya.
"Nyonya Amanda, saya akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut pada anda, saya juga akan melakukan tes laboratorium untuk mengetahui perihal obat-obatan yang anda konsumsi karena anda mengatakan jika anda selalu meminum obat yang dokter berikan. Karena sebenarnya ini sangat berbanding terbalik dengan apa yang saya temukan setelah melihat kondisi anda."
"Baik Dokter David, silahkan. Lakukan apa saja yang terbaik menurut anda."
"Iya Nyonya Amanda." jawab David kemudian keluar dari ruang UGD tersebut. Beberapa saat kemudian seorang perawat pun masuk ke bilik UGD tempat Amanda dirawat untuk mengambil sample darahnya.
Perasaan Amanda kini pun kian tak menentu. 'Astaga, sebenarnya apa yang telah terjadi di hidupku? Jika Dokter David mengatakan kondisiku seperti tidak pernah memakan obat jadi selama ini obat-obatan apa yang kukonsumsi? Mas Abi, sebenarnya apa yang telah terjadi? Apa kau melakukan sesuatu pada hidupku?' gumam Amanda sambil menatap langit-langit kamar, air mata pun mulai menetes di wajahnya, namun hatinya kini kian sesak jika mengingat perkataan dari Dokter David mengenai kondisinya saat ini. Dia kemudian mengambil ponselnya yang ada di sampingnya lalu melihat sebuah pesan yang masuk ke ponselnya.
"Dari mama."
Amanda, keadaan papa memburuk. Mungkin malam ini mama tidur di rumah sakit untuk menemani papa. Kau dan Abi jaga diri baik-baik di rumah ya Nak.
Membaca pesan dari Vera, perasaan Amanda kini pun kian tak menentu.
'Mas Abi, sekarang entah dimana ma.' gumam Amanda sambil meneteskan air matanya kembali.
Sementara David yang keluar dari ruang UGD tampak begitu sibuk mengotak-atik ponselnya.
"Disaat seperti ini kenapa ponselmu tidak aktif Vallen, ini pasien yang tidak mudah, selain penyakit jantung dia juga sedang hamil, aku hanya ingin menanyakan sesuatu padamu tapi ponselmu saja jarang kau aktifkan." gerutu David sambil mengusap kasar wajahnya.
"Mungkin Dokter Vallen sedang pergi dengan pacarnya Dok." kata salah seorang perawat yang ada di belakangnya.
"Apa katamu Hani? Pacar? Adikku sudah memiliki pacar lagi? Apakah dia laki-laki yang sering memberikan bunga untuk Vallen?"
"Iya Dok, pangeran bermotor itu." kata Hani sambil terkekeh, kemudian pergi meninggalkan David yang masih terlihat kesal.
'Awas kau Vallen, setelah kau pulang aku akan langsung memberikan pekerjaan yang tidak mudah padamu.' gumam David sambil tersenyum kecut.
🖤🖤🖤🖤🖤
Ghea meletakkan seorang bayi perempuan yang ada di gendongannya ke sebuah box bayi di kamar apartemen mereka.
"Abi, saat ini Sharen sudah hampir satu bulan. Saat kau membawanya ke rumahmu apa orang tuamu tidak curiga jika bayi yang kau bawa seperti bukan bayi yang baru saja lahir? Lalu bagaimana caranya agar mamamu tidak pergi ke rumah sakit saat Amanda melahirkan? Bukankah dia sangat menyayangi Amanda? Pasti dia akan mendampingi proses kelahiran cucunya yang dilahirkan oleh Amanda."
"Kau tenang saja sayang, itu semua sudah kupikirkan. Aku sudah mengatur semuanya, mama tidak akan mencurigai Sharen karena dia pasti akan sibuk mengurus papa. Perhatian mama akan tercurah pada papa dibandingkan pada Amanda, dia pasti akan menyerahkan segala urusan Amanda padaku. Setelah Amanda melahirkan, aku akan bisa leluasa mengambil bayi itu lalu membuangnya kemudian aku membawa Sharen pulang ke rumahku, hahahaha. Kau tenang saja Ghea, kita tinggal menunggu waktu beberapa saat lagi pasti putri kecil kita akan menjadi pemilik perusahaan itu. Hahahaha."
"Kau memang pintar sayang." bisik Ghea di telinga Abimana.
"Semua ini kulakukan hanya untukmu dan anak kita." jawab Abimana kemudian mencium bibir merah Ghea.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 96 Episodes
Comments
Muhammad Aufa
lagi lagi harta mampu membuat seseorang menjadi sangat licik
2023-11-28
0
Makin Patricia
jadi emosi
2023-11-17
0
Dandelion
emosi jiwa tp klo gk di baca bikin penasaran..
2023-02-15
2