Tamara hari ini ngga masuk sekolah. Katanya ada pertandingan karate yang harus diikuti anggota clubnya.
Sejak peristiwa kemaren, banyak cewe cewe memandangnya aneh. Padahal apa salahnya Kiano menolongnya. Dari pada mereka yang hanya diam saja melihat kejahatan. Batin Aruna mengomel tiada henti. Dia risih mendapat pandangan pandangan seperti itu.
Bukannya Aruna ngga mau bergaul, tapi dia terlalu pendiam. Hanya Tamara yang selaku aktif dengannya. Karena itu mereka jadi sahabat dari kelas sepuluh hingga sekarang, kelas dua belas.
Aruna menyibukkan dirinya dengan buku latihan soalnya. Dia harus berhasil masuk fakultas kedokteran. Walaupun sudah ada jaminan dia di terima, tapi kalo nilainya turun, kesempatan lolos di snmptn bisa gagal. Apalagi yang mau menjadi dokter di snmptn tentu sangat banyak sekali. Kalah koma sekian saja dia bisa gagal.
Bukan orang tuanya ngga sanggup nguliahin dia di universitas swasta, tapi ada kebanggaan tersendiri bisa masuk universitas negeri. Dan dia sudah memendam harapan itu sejak awal masuk SMA.
Akhirnya bel pulang sekolah pun berbunyi. Dengan malas Aruna menggerakkan tubuhnya meninggalkan kelas..Tentu saja dia menunggu sampai teman temannya keluar kelas. Dia malas berdesak desakan dengan tubuhnya yang cukup besar ini.
Tapi begitu dia keluar dari kelasnya, Monika dan dua dayang dayangnya sudah memghadangnya. Sepertinya Monika masih dendam dengan kejadian kemarin.
Aruna sendiri sampai memimpikan Kiano tadi malam, membuat bibirnya selalu tersenyum sampai pagi. Kiano memang tampan, andai saja dia bisa punya kekasih seperti Kiano, dia akan menguruskan badannya agar Kiano ngga malu kalo jalan bersamanya. Aruna begitu menyukai Kiano.
"Heh, gendut. Beraninya Lo merayu calon pacar gue," sarkas Monika dengan nada geram. Citra dan Mega pun menatapnya merendahkan.
"Aku ngga ngerayu siapa siapa," tukas Aruna membela diri. Dia ngga merasa merayu, dia hanya mengucapkan terima kasih.
"Dasar gendut, kepedean banget," hina Citra sambil bertolak pinggamg.
Aruna melirik sekitar kelasnya yang sudah sepi. Tadi mereka ada pelajaran tambahan. Aruna merasa kali ini Monika dan teman temannya akan membullynya secara fisik lagi, seperti kejadian kemarin di kantin.
Selama tiga tahun ini, Aruna memang selalu diejek Monika dan teman temannya karena tubuh besarnya. Beruntung teman teman yang lainnya ngga. Mungkin segan karena Aruna anak kesayangan guru guru, ditambah kepintaran otaknya.
Tapi teman temannya hanya membiarkannya jika Monika cs membullynya. Kecuali Tamara yang selalu membelanya habis habisan.
Sekarang Tamara ngga ada, Aruna hanya sendiri. Kali ini dia ngga boleh terlihat lemah. Dia harus bisa melawan Monika dan teman temannya. Tapi apa bisa? Batin Aruna ngga yakin.
BUKK!
Aruna terdorong ke tembok kelas ketika Monila dan dua temannya mendorongnya samgat keras.
Rasanya sakit pada kedua bahunya. Sial, Aruna ngga boleh nangis, dia ngga boleh terlihat lemah.
"Guru guru kesayangan kamu udah pada pulang. Temanmu yang sok itu juga ngga ada," kata Monika penuh dengan nada intimidasi.
"Kita apain enaknya ya nih si gendut?" tanya Citra sambil meminta saran pada Monika dan Mega. Tapi di wajahnya udah terbaca serangkaian rencana jahatnya.
"Ini rambut kenapa bisa mekar gini," tukas Mega sambil menarik kunciran rambutnya.
"Aduuh," ringis Aruna saat kepalanya ditarik paksa ke arah Mega.
"Mana gunting, dibabat aja. Biar besok ngga bisa dikuncir lagi," ujar Citra menakut nakuti
"Iya, tadi aku bawa gunting," kata Mega sambil mengeluarkan gunting ukuran sedangnya.
Gila, mereka keterlaluan, batin Aruna ngga percaya melihat kelakuan tiga temannya.
"Jangan gerak. Kita ngga jamin loh kalo kena kulit kamu," ancam Monika sambil mengerling pada Citra dan Mega yang langsung ngerti dan menekan bahu Aruna ke dinding.
Aruna menetap ngeri pada gunting yang dipegang Monika di dekat wajahnya.
"Jangan maen maen sama gunting," kata Aruna berusaha menggertak.
Ketiganya malah tertawa.
"Ngga takut dia," kekeh Monika mengejek.
"Udah, langsung babat aja rambutnya," provokasi Mega.
"Kayak hutan ya. Tapi yang ini masih di sisa in," tawa Citra kesenangan melihat wajah takut Aruna.
"Sekarang ya," kata Monika sambil menarik kunciran rambut Aruna lebih keras lagi ke arahnya.
Dengan nekat Aruna menginjakkan kakinya pada Monika dengan sekuat tenaga yang dia punya, membuat gadis itu terpekik dan terhuyung ke belakang.
Citra dan Mega yang melihatnya terkejut, dan berteriak marah melihat apa yang telah dilakukan Aruna.
Aruna ngga peduli. Tanpa membuang kesempatan, dia pun mendorong tubuh Citra dan Mega sampai keduanya pun jatuh hingga menimpa Monika yang masih terduduk di lantai. Ketiganya pun bertindihan sambil mengeluarkan berbagai umpatan.
Aruna pun berlari sekencang kencangnya sambil mendekap tasnya.
"ARUNAAAA!" teriak mereka bertiga kompak marah. Ketiganya pun cepat berdiri dan mengejar Aruna dengan sangat kencang.
Baru kali ini Aruna menyesali bobot tubuhnya yang besar dan terasa berat dibawa kakinya ketika lari.
Aruna semakin lelah dan takut karena jarak mereka semakin dekat. Dia butuh pertolongan Tamara, atau kakaknya atau mama dan papanya. Dia sangat membutuhkannya sekarang. Monika dan teman temannya pasti akan tambah marah padanya dan ngga tau lagi apa yang akan dilakukan mereka padanya.
BUGGHH!
Aruna kaget karena menubruk sesuatu dan hampir jatuh kalo saja tidak ada yang mendekapnya.
HAAAHH
Aruna ngga mendengar suara langkah kaki yang mengejarnya. Suasana terasa hening.
Ketika Aruna menoleh ke belakang, dia kaget melihat ketiga temannya yang berdiri seperti patung dengan wajah pucat seperti habis melihat setan.
Aruna pun memutar kepalanya dan menatap orang yang sudah mendekapnya erat.
Jantung Aruna rasanya hampir copot. Dia pun hampir pingsan. Lagi lagi Kiano yang menolongnya. Tapi kini kapten basket yang digilai Monika sedang memeluknya erat
"Monika, kamu apa apan, sih," ketus Regan ketika melihat gunting di tangan gadis cantik itu.
Reflek Monika melepaskan gunting di tangannya.
Dia masih benar benar terkejut sampai ngga bisa berucap apapun. Begitu juga kedua temannya. Mereka ketangkap basah oleh Kiano dan Regan.
Padahal tadi hampir saja mereka berhasil menangkap Aruna. Saat Aruna berbelok dan jarak semakin dekat, mereka sama menghentikan langkah. Gadis gendut itu menabrak Kiano dan Kiano memeluknya. Memeluknya. Hati Monika sampai mencatatnya dua kali saking kesalnya.
Kiano pasti tambah sulit digapainya. Semua gara gara Aruna gendut itu.
"Kalo lagi lagi kalian ganggu dia, aku sendiri yang akan melaporkan ke kepsek," ancam Kiano dingin.
"I iya. Jangan dilaporkan," pinta Monika ketakutan. Tanpa menunggu reaksi kedua temannya, Monika berlari meninggalkan mereka dengan perasaan takut dan terluka.
"Monika," panggil Citra dan Mega yang juga berlari menyusul Monika.
"Bi bisa dilepaskan," Aruna mengeluarkan suaranya dengan susah payah. Dia mendadak menjadi gagap.
Dengan tenang Kiano melepaskan pelukannya.
"Kamu ngga apa apa?" tanya Kiano sambil menatap lekat sepasang mata yang dilapisi kaca mata tebalnya.
"I iya, nggak pa pa," jawab Aruna sambil mendekap tasnya. Matanya pun balas memandang Kiano. Hatinya sungguh ngga percaya bisa dipeluk Kiano. Sekarang mereka malah sangat dekat.
"Syukurlah." Kiano masih terus menatap Aruna.
Sebenarnya dia cantik juga. Eh, gue kenapa, sih, ralat Kiano dalam hati.
"Te terima kasih. Aku mau pulang dulu," pamit Aruna sambil merutuki mulutnya yang jadi gagap.
Kiano melirik Regan yang menyenggol bahunya. Dia tau kode itu. Kiano pun menghela nafas. Ngga tega juga dia mewujudkan keinginan teman temannya.
"Aku antar kamu pulang. Gimana kalo kamu jadi pacar aku. Biar ngga diganggu sama Monika dan teman temannya."
Kata kata itu meluncur begitu saja dari mulutnya. Regan sampai ternganga, kenapa harus cepat cepat, padahal tenggat waktunya dua minggu. Tadi dia memberi kode agar Kiano mengantar Aruna pulang sebagai langkah awal. Bukan menembaknya.
Aruna terperangah. Antara kaget, ngga percaya dan senang. Apa telinganya ngga salah mendengar? Dan jantungnya pun berdegup semakin kencang.
Kiano pun terkejut mendengar ucapannya sendiri. Kepalang basah. Kiano ingin cepat cepat mengakhiri taruhan ini. Kalo di tolak ya sudah. Kalo di terima, besok besok akan segera dia putuskan. Yang penting Glen akan mencuci motornya selama sebulan dan dia menerima cash lima puluh juta.
Kiano memegang kedua bahu Aruna lembut. Mata Kiano menatap dalam.
"Kamu mau jadi pacarku?" tanyanya perlahan. Aura kegantengannya dia keluarkan maksimal demi taruhan gila ini.
"Tapi .... aku pasti bukan tipe kamu," ucap Aruna ragu. Tapi jantungnya semakin berdebar mendapatkan perlakuan istimewa dari Kiano.
"Tipeku udah ganti," jawab Kiano asal.
Aruna terdiam. Walaupun hatinya melompat lompat kegirangan, tapi logikanya meragukan akan ketulusan Kiano.
"Gimana? Mau jadi pacarku?" tanya Kiano mengulang sekali lagi.
Gila, biasanya cewe cewe yang mengharap jadi pacarnya. Sekarang dia malah menunggu dengan cemas kata 'iya' dari cewe yang jauh dari levelnya.
"Ya, aku mau," jawab Aruna malu malu.
Regan menggelengkan kepalanya kagum dan mengacungkan jempolnya pada Kiano sambil menjauh.
Dia segera mengirimkan pesan pada ketiga temannya.
Siapkan uangnya. Kiano sudah diterima jadi pacar si juara olimpiade itu.
*
*
*
Malamnya Aruna ngga bisa tidur. Bibirnya terus saja tersenyum. Jantungnya masih berdebar mengingat kejadian di sekolah. Sekaramg dia adalah pacar Kiano. Pacar Kiano.
Kata kata itu terus bergema dalam hatinya. Akhirnya Aruna tertidur juga sambil memeluk gulingnya sambil membayangkan hangatnya dekapan Kiano tadi padanya.
Pagi ini, dengan wajah ceria Aruna menghampiri taman belakang sekolah. Kemarin sore mererka sudah janjian akan sarapan bersama. Aruna berjanji akan membawakan sandwich karena menolak ajakan Kiano yang akan mengantarnya pulang. Dia khusus membuatkannya untuk Kiano.
Aruna menghentikan langkahnya ketika mendengat suara tawa beberapa orang.
Bukannya masih terlalu pagi. Kenapa terdengar ramai sekali.
Aruna pun menyandarkan tubuhnya di balik tembok dan heran melihat Kiano bersama teman temannya.
"Ngaapain kalian ke sini?" tanya Kiano kurang suka.
"Jangan marah bro. Kita mau mastiin si gendut datang," kekeh Glen diikuti Alva dan Reno.
DEG
Perasaan Aruna memdadak ngga enak.
"Hebat Lo. Kaget gue dapat pesan dari Regan. Cair uang Lo," ucap Glen lagi dan tertawa lagi.
Uang? Hati Aruna tambah ngga enak.
"Kita salah ngitung. Bukan lima puluh juta. Tapi enam puluh juta. Gue iklas jadi babu nyuciin motor Lo selama sebulan. Lo memang hebat," puji Glen panjang lebar setelah tawanya mereda.
Kiano ngga menjawab apa apa.
"Kapan Lo mau putusin dia. Ngga perlu lama lama. Yang penting Lo udah menang taruhannya," tambah Glen lagi.
"Secepatnya," jawab Kiano ringan.
Kembali ketiga temannya tertawa tergelak gelak tanpa menyadari ada hati yang berdarah.
Aruna memejamkan matanya.
Bodoh! Dia beneran bodoh. Ngga mungkin ngga ada apa apa Kiano mau manjadi pacarnya. Jangan jangan Monika dan teman temannya kemaren hanya setingannya saja untuk memuluskan rencananya.
Aruna membalikkan tubuhnya dan akan berjalan ke kelas dengan lunglai. Dia terkejut melihat Regan berdiri di depannya dan menatapnya ......
Kasihan?
Tanpa mempedulikan Regan, Aruna berjalan pergi dengan mata yang sudah berubah menjadi telaga.
Dia memang pantas mendapat tatapan kasihan. Dia bodoh menganggap Kiano tulus padanya.
Aruna menghapus air matanya yang mengalir. Memang ngga ada cowo cowo yang tulus karena fisiknya. Kakaknya benar. Seandainya dia menurut, pasti kejadian ini ngga akan terjadi.
Seleksi SNMPTN ngga lama lagi. Dia harus secepatnya move on dari si brengksek Kiano. Dia harus fokus dengan cita citanya menjadi dokter. Seandainya ada dokter spesialis mengobati luka di hatinya, pasti akan di pilihnya jurusan itu.
Hatinya perlu dibersihan dengan antibiotik biar jauh dari bakteri Kiano. Di obati dan di perban agar darahnya berhenti mengalir.
Aruna benar benar patah hati.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 225 Episodes
Comments
Sita Sit
kasian Aruna,aku harap ntar kiano bucin sama aruna ,tp gantian dicuekin
2024-11-24
2
Yustika PAMBUDI
ceritanya bagus Thor,, tapi tulisan/kata ngga jadi malah mengganggu coba diganti dengan kata baku "tidak".
2024-05-25
2
liberty
jujur gak nih ato dari lubuk hati yg terdalam😅
2024-05-21
1