"Eh, Lo Aruna, si gendut itu," seru Monika dengan suaranya yang cukup keras membuat perhatian orang orang di situ sempat teralihkan.
Aruna menahan bahu Tamara yang sudah akan berdiri, siap menghajar Monika.
Udah lama ngga bertemu, mulutmu tetep bodoh ya, maki Tamara marah dalam hati.
Dia tau Aruna menahannya agar ngga menimbulkan keributan. Tapi Tamara ngga terima dengan apa yang dikatakan Tamara.
"Lo lumayan juga kalo kurus ya. Kenapa ngga dari dulu aja," kekeh Citra menyindir membuat Monika dan Mega, cs nya sejak SMA juga ikut tertawa mengejek.
"Pergi ngga Lo!" usir Tamara galak. Dia mulai risih karena beberapa teman mulai memperhatikan pertengkaran mereka.
"Lo ngusir?" tantang Monika makin menjadi membuat hati Tamara tambah panas.
Tamara sadar, inilah penyebabnya Aruna enggan datang ke acara reuni dan menolak keras dimasukin ke grup angkatan.
"Ya!" tegas Tamara galak. Dia sudah berdiri berhadapan dengan Monika dan cs abadinya.
Monika hampir saja menyemburkan sumpah serapahnya jika saja Monika ngga mendengar suara kesal Kiano. Pujaan hatinya sejak dulu.
"Kalian kenapa?"
Sejenak Aruna bersitatap dengan Kiano. Aruna tidak bisa membohongi hatinya. Perasaan sukanya masih ada walau tertutup rasa bencinya. Ada percikan rindu ketika dia menatap Kiano yang semakin tampan dan bertambah dewasa setelah tujuh tahun ngga pernah berjumpa.
"Eh, Kiano, ngga apa apa," ucap Monika gugup. Dia juga terkesima dengan Kiano yang semakin tampan.
"Tolong jangan bertengkar," ucapnya kemudian mengalihkan pandangannya pada Tamara dan Monika.
"Sorry. Bukan kita yang mulai," kata Tamara sambil melirik Monika sebal.
Monika melototkan matanya kesal pada Tamara.
"Meja kamu bukan di sini, kan, Monika?" tukas Regan yang juga sudah berada di samping Kiano.
"I... iya. Aku pergi," pamit Monika sambil menjauh bersama Citra dan Mega.
Tanpa kata Kiano melangkah pergi juga meninggalkan Aruna dan Tamara. Regan tersenyum sekilas pada keduanya sebelum pergi.
"Kiano sama Regan aneh," kata Tamara sambil menggelengkan kepala dan kembali duduk.
Aruna menatap dongkol pada punggung Kiano.
Kamu hutang maaf sama aku, batin Aruna masih kesal.
"Dulu Kiano juga pernah nolongin kamu, kan?" usik Tamara masih melihat kepergian keduanya.
Aruna ngga menjawab. Dia malah membaca pesan di hpnya yang baru saja masuk
Dokter Farel
Gimana reuninya? Ketemu mantan?🏃♂️🏃♂️
Aruna hanya tersenyum sekilas sebelum menyimpan hpnya ke dalam tas. Tadi dia bermaksud menanyakan tentang operasi cesar pasiennya. Soalnya pasiennya mempunyai keluhan darah tinggi. Itu sangat berbahaya terutama bagi ibu hamil yang akan melahirkan.Tapi sepertinya lancar. Aruna menduga begitu karena dokter Farel ngga mengeluh padanya.
Baru saja Aruna akan menutup tasnya, hpnya bergetar lagi.
Dokter Farel menelponnya.Tamara menatapnya penuh selidik
"Siapa?" tanyanya pelan.
"Dokter Farel," jawab Aruna lirih kemudian mengangkat telponnya.
"Pesan saya kok ngga dijawab?" tanya sang dokter kemudian tertawa.
Aruna ngga sadar menghembuskan nafas kesal di dekat hpnya membuat dokter Farel makin tergelak mendengarnya.
"Saya tutup loh dokter," ancam Aruna sebal.
"Oke oke, ngga nanya mantan. Tapi nanya pacar kamu aja," tahannya dengan tawa yang berderai derai.
"Baik baik aja," tukas Aruna malas.
Tamara menatapnya denan wajah jahilnya. Dia sudah pernah melihat dokter Farel walau belum sempat berkenalan. Tampan, pujinya waktu itu pada Aruna. Tapi kata Aruna, pacarnya banyak, membuat Tamara hanya tertawa waktu itu.
Jaman gini kalo laki laki tampan, sukses, kaya raya pasti hobi maen perempuan. Susah mencari yang setia. Apalagi seorang dokter, anak tunggal pemilik rumah sakit lagi. Pasti banyak perawat, bidan, sesama dokter bahkan pasien yang bisa dikencaninya.
Tamara pun sama seperti Aruna, belum punya pacar. Hanya saja sekarang ini orang tuanya sudah ribut agar dia cepat nikah karena umurnya yang sudah mendekati dua puluh lima tahun.
"Di video dong. Saya mau lihat. Lebih tampan mana sama saya," ucap sang dokter dengan penuh percaya diri.
Aruna jadi tersenyum.
"Pasien tadi gimana, dokter?" Aruna mengalihlkan ttopik pembicaraan
"Alhamdulillah lancar. Babynya lucu banget, rambutnya hitam dan tebal," cerita dokter Farel dengan perasaan senang.
"Syukurlah," balas Aruna lega.
"Ibu dan babynya kirim salam ke kamu. Katanya kapan kita nikah," canda dokter Farel kemudian tergelak lagi.
Aruna tertawa mendengarnya.
Dokter tukang tipu. Pasti dia nambahin narasi sendiri, batin Aruna tertawa.
"Cepat pulang. Ngga ada yang bantuin aku observasi pasien," katanya bak perintah.
"Iya, besok juga pulang," balas Aruna patuh.
"jangan bohong."
"Nggak, dokter. Udah ya dokter, ngga enak sama pacar saya," katanya sambil melitrik Tamara yang menahan tawanya.
"Iya iya. Selamat berpacaran," tandas sang dokter kemudian menutup telponnya.
"Jeruk makan jeruk dong," sembur Tamara kemudian terkekeh bersama Aruna.
Tanpa keduanya sadari, Kiano dari tadi memperhatikan gerak gerik Aruna saat dia sedang menelpon.
Kamu telpon siapa? Pacar kamu ya, batin Kiano ngga tenang.
Setelah taruhan mereka diketahui Aruna, gadis itu menghindarinya tanpa sepatah kata pun. Seakan akan ngga ada apa pun yang pernah terjadi diantara mereka.
Padahal Kiano ingin Aruna memakinya bahkan menamparnya. Tapi ngga juga dilakukannya. Aruna malah menganggapnya ngga ada. Ngga mempedulikannya sama sekali. Membuat harga diri Kiano seperti dihempaskan, ngga berharga.
Bukannya Kiano ngga mau meminta maaf, tapi sikap Aruna membuatnya mati kutu. Akhirnya Kiano membiarkannya saja, sampai mereka akhirnya lulus dan berpisah. Aruna pun menganggapnya begitu, sebagai orang asing yang ngga pernah saling mengenal.
*
*
*
Glen menunggu di ruang tunggu rumah sakit. Dokter spesialis penyakit dalam yang cukup terkenal. Mumpung ada proyek di salah satu metropolitan ini. Sesuai rekomendasi temannya, dia pun berada di sini dengan nomer urut yang ngga akan lama lagi dipanggil.
Hanya satu yang mengganggu pikirannya, nama dokter itu dokter Aruna. Glen lupa menanyakan di rumah sakit mana Aruna temannya itu bekerja sekarang.
Tapi informasi tentang Aruna memang sulit di dapat. Ngga ada yang tau nomer hpnya selain Tamara, teman dekatnya. Dan pasti ngga akan diberikan Tamara pada siapapun.
"Pak Glen, silakan masuk," panggil suster Uci membuat Glen membuang pikiran ngga pentingnya dan bergegas masuk.
Kaki Glen lemas saat beradu tatap dengan Aruna.
"Aruna," ucapnya ngga percaya.
Aruna menatapnya malas.
"Suster, ngga ada pasien yang lain?" dengus Aruna sedikit kesal. Kata kata Glen dulu membuat hatinya masih diliputi hawa marah.
"Tapi ini juga pasien, dokter," cetus suster Uci heran.
Glen terdiam mendengar penolakan Aruna. Masih ngga nyangka kalo Aruna dokter yamg direkomendasikan temannya.
"Sakit apa?' tanya Aruna agak judes.
Glen menatap suster Uci yang sudah berada di luar dan menutup pintu sebelum menjawab.
"Aku benar benar minta maaf. Kiano ngga salah. Aku yang mengajaknya. Kiano bahkan mengembalikan uang taruhan kita," ucap Glen dengan mimik muka bersalah.
Dia juga berharap Aruna mau mengobatinya. Secara Aruna dulu waktu SMA sangat pintar. Tentu diagnosanya sangat bisa dipercaya.
"Bukan urusan saya. Lebih baik kamu mencari dokter lain?" Aruna tetap judes walau hatinya berdesir hangat mendengar kata kata Glen.
Sudah terlambat.
"Tolong jangan tolak aku. Kata temanku kamu dokter yang hebat," pinta Glen memelas.
"Masih banyak dokter di rumah sakit ini," pungkas Aruna tetap menolak.
Glen terdiam. Perutnya mulai terasa sakit hingga terasa panas di dadanya. Satu tangannya memegang dadanya. Kening Aruna brrkerut melihat Glen sedang menahan sakit.
"Aku menderita asam lambung akut. Aku sudah berobat ke mana mana, tapi belum juga bisa sembuh," keluhnya jujur.
Satu pikiran jahat muncul di kepalanya.
"Apa kamu menderita kanker lambung. Tanda tandanya mirip," kata Aruna menakuti.
Sepertinya berhasil karema wajah Glen berubah pias.
"Kalo terkena kanker, umur seseorang ngga akan lama lagi."
Glen terduduk ke lantai.
Tidak. Dia belum mau mati muda.
"Yah, kalo itu beneran kanker lambung. Bisa juga kanker hati. Karena tanda tanda mereka hampir sama," sambung Aruna puas karena telah membuat Glen ketakutan.
Apa bedanya? Sama sama kanker juga, kan? batin Glen kesal tambah semakin kalut.
"Sekarang apa yang harus aku lakukan?" tanya Glen dengan wajah pias dan keringat dingin mulai mengalir.
YESS! sorak Aruna dalam hati.
"Kamu bisa meminta maaf pada orang orang yang pernah kamu sakiti. Pengobatan akan lebih mudah dilakukan jika hatimu sudah bersih," tandas Aruna tajam.
"Baiklah. Tapi kamu bisa jadi dokterku, kan?" pinta Glen penuh harap.
"Bisa."
"Baiklah. Aku pergi dulu. Besok aku akan kembali ke sini."
"Aku tunggu," pungkas Aruna datar membuat Glen terpaksa menurutinya. Perasaan takut masih mendominasi pikirannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 225 Episodes
Comments
Sita Sit
di sinopsis kayaknya kiano yg sakit kan y
2024-11-24
1
kriwil
bukanya yg penyakitan kiano ya knpa berubah jadi glen
2024-08-22
1
Wini Hilal
eh di awal prolog nye keano yg kena lambung akut ini kok jd glen
2024-06-17
4