Pengakuan Kiano

Haruskah aku menurutinya? batin Kiano sambil melangkah pelan begitu keluar dari ruang periksa Aruna.

Kiano memperhatikan banyaknya pasien yang mengantri dibandingkan di bagian dokter spesialis penyakit dalam lain.

Dari yang Kiano lihat, ada dua dokter spesialis penyakit dalam. Tapi mengapa pasien pasien itu lebih memilih cara pengobatan Aruna yang terbilang cukup aneh. Apa hanya dirimya dan Glen saja yang mengalami kejanggalan itu.

Akhirnya Kiano memilih duduk di samping seorang bapak yang mendapat antrian terakhir.

Empat pasien terakhir, batinnya dalam hati. Aruna sampai ngga break. Padahal dia dokter, harusnya dia lebih menjaga kesehatan dirinya sebelum mengobati pasiennya. Terutama mencela pasien yang dilakukannya seperti pada dirinya dan Glen. Kiano tanpa sadar menaikkan sedikit sudut bibirnya.

"Sakit apa, pak?" tanya Kiano sopan.

"Darah tinggi, nak. Kamu tadi dari ruang periksa dokter Aruna?" sang bapak balik bertanya.

"Iya pak," aku Kiano jujur.

"Kamu masih muda dan terlihat sehat. Kamu sakit apa?" si bapak melihat Kiano serius.

Kiano melebarkan senyumnya.

"Asam lambung."

"Ooo," si bapak manggut manggut.

"Kenapa bapak ngga ke dokter sebelah. Kan sama aja," pancing Kiano.

Si bapak ganti tersenyum lebar.

"Udah cocok berobat sama dokter Aruna. Saya malas pindah ke yang lain."

"Ooo," ganti Kiano yang manggut manggut.

"Sudah sejak tiga bulan yang lalu saya rutin berobat dengan dokter Aruna. Sebelumnya saya menderita stroke ringan. Banyak dokter mengatakan saya komplikasi penyakit gula, kolesterol dan syaraf. Dan sudah cukup parah. Tensi saya memang tinggi," cerita si bapak kemudian mengambil nafas pelan.

"Banyak obat yang sudah saya minum, tapi tangan kanan saya masih sudah digerakkan. Kemudian saya bertemu dokter Aruna. Dokter yang benar benar tulus," katanya dengan mata berkaca kaca.

Kiano semakin ngga sabar menunggu kelanjutan cerita si bapak dengan debaran ngga menentu di dadanya. Tentu saja dengan hati masih tetap ngga bisa percaya.

"Dokter Aruna rutin ke rumah saya, mengecek tensi dan mengatur pola makan saya. Ketika kami akan membayar, dia menolak. Katanya dia punya banyak waktu senggang. Ngga nyampe dua minggu, tangan saya mulai sembuh. Dan sekarang saya melakukan kontrol, tiap seminggu sekali," jelas si bapak tampak begitu membanggakan kebaikan dokter Aruna.

Kiano ngga bisa berkata kata lagi ketika mendengarnya.

"Rata rata pasien di sini, hanya melakukan kontrol kesehatan ke dokter Aruna," tambah si bapak lagi.

"Berobat dengan dokter Aruna sangat menyenangkan," kata seorang wanita paruh baya seusia mamanya yang berdandan sangat fasionable. Beliau turut mendengar apa yang dibicarakan pasien di sebelahnya.

Kiano mengalihkan pandangannya pada ibu itu.

"Dokter Aruna ngga membuka praktek. Tapi dia akan ada di sini sampai sore. Dia favorit loh. Kalo kamu suka dengannya, kamu harus bersaing dengan para dokter di sini. Terutama dokter Farel, yang punya rumah sakit ini," tambah ibu itu penuh semangat.

Kiano tersenyum tipis.

"Tapi dokter Farel patah hati, karena dokter Aruna sudah punya kekasih," imbuh ibu itu kemudian terkekeh.

"Padahal saya ingin menjodohkannya dengan putra saya. Walau tidak setampan kamu anak muda," kekeh si bapak menimpali.

Kiano tersenyum kecut. Pernyataan Aruna memiliki pacar sangat mengganggunya.

"Tapi kata perawat di rumah sakit, pacarnya ngga pernah datang ke sini," cetus si bapak lagi.

"Benar, kita ngga tau setampan dan sekaya apa pacarnya. Sampai dokter Farel yang jadi idola pun di tolaknya," sambut sang ibu masih terkekeh bersama bapak bapak tadi.

Kiano yang ngga begitu mempedulikan nama dokter Farel yang disebutkan. Tapi hati dan pikirannya terganggu dengan kata pacar Aruna yang disebutkan dua pasien ini.

*

*

*

"Aruna, ayo kita pulang," ajak dokter Farel ketika membuka pintu ruangannya.

Aruna yang sudah bersiap akan pulang bersama suster Uci tersenyum dengan perhatian dokter player ini.

"Ayo dokter," sahut suster Uci genit membuat Aruna dan dokter Farel tertawa. Sudah terbiasa dengan sikap suster Uci yang selalu genit.

Ketiganya pun berjalan beriringan keluar dari ruangan Aruna.

"Dokter Aruna, laki laki tadi siapa sih, kelihatannya seperti mantan dokter ya," cetus suster Uci ngga bisa memendam lama rasa penasarannya.

"Laki laki? Mantan? Siapa?" tanya dokter Farel beruntun sambil menatap dokter Aruna heran.

Aruna menghembuskan nafas kesal.

Suster Uci, batin Aruna gedek.

Tapi suster Uci ngga ngerti dengan kekesalan Aruna. Dia pun dengan lancar bercerita.

"Iya, dokter. Tapi ada pasien, laki laki, gantengnya sama kayak dokter. Tapi lebih ganteng laki laki tadi dikit. Eh, maaf ya dokter, dokter jangan marah."

Dokter Farel menyatukan kedua alisnya, baru kali ini ada yang mengatakan dia kalah ganteng, walau hanya sedikit. Tetap membuatnya ngga terima.

"Eh, maaf dokter. Dokter lebih ganteng," ralat suster Uci salah tingkah, apalagi melihat ekspresi horor sang dokter

Bisa dipecat ini, ratapnya menyesali kelemesan mulutnya.

"Lanjutkan," perintah dokter Farel mulai galak membuat Aruna membuang muka untuk menyembunyikan senyumnya. Dia jadi kasian melihat wajah suster Uci yang pucat pasi ketakutan.

"Emm.... ya dokter. Pasien itu ngajak dokter Aruna makan siang, tapi dokter Aruna seperti biasa menolaknya. Tapi pasien itu sepertinya ngga nyerah loh dokter. Dia akan nunggu sampai dokter Aruna menerima ajakannya," cicit suster Uci mulai lancar lagi seperti jalan tol.

Dokter Farel mengalihkan pandangannya ke Aruna seakan meminta jawaban secepatnya. Tapi Aruna balik menatapnya dengan heran.

"Apa kalian sedang bertengkar?" tanya dokter Farel akhirnya setelah ngga ada pembelaan dari Aruna.

"Jadi itu pacar dokter Aruna? Saya kirain mantan," kaget suster Uci sambil membesarkan kedua matanya ngga percaya.

Tapi kalo iya, wajar sih sekelas dokter Farel ditolak, batin suster Uci mulai beragumentasi.

Dokter Farel rasanya ingin memplester mulut suster Uci agar dia diam saja, ngga ngoceh sembarangan.

"Dokter Aruna?" tanya dokter Farel menuntut jawaban sambil mendelikkan matanya ketika suster Uci akan membuka mulutnya lagi. Suster Uci pun terpaksa mingkem.

"Bukan pacar saya," tegas Aruna, tapi dalam hati juga berkata tegas.

Mantan!

Dokter Farel tersenyum lega.

"Tapi dokter Aruna agak aneh akhir akhir ini," cetus suster Uci membuat keduanya menoleh.

"Aneh?" Dokter Farel menatap heran. Dia jadi ingin tau, apa aja yang sudah diamati suster Uci selama bekerja di ruang dokter Aruna.

"Iya. Ada beberapa pasien yang sempat ditolak dokter Aruna, tapi ngga jadi," adu suster Uci tanpa rasa bersalah.

Aruna menghembuskan nafas kesal.

Haruskah dipecat saja suster ini agar ngga ember kesana kemari ?

Awalnya Aruna senang dengan cara kerja sang suster yang cepat tanggap akan situasi yang dihadapi. Tapi kekepoannya yang luar biasa sangat meresahkan.

"Siapa pasien itu? Kamu ingat?" tanya dokter Farel dengan tatapan serius pada suster Uci.

"Laki laki tampan juga, tapi kalo sama yang ini, dokter lebih tampan," puji suster Uci jujur.

Tapi karena udah ilfeel, dokter Farel ngga tersanjung, malah jatuhnya jadi kesal.

"Ada lagi?"

"Yang model itu loh dokter. Dokter Aruna kelihatannya kesal sama mereka," lanjut suster Uci bersemangat.

"Kamu kenal?" tanya dokter Farel sambil menatap Aruna dengan netra tajamnya.

"Ngga penting dokter. Biasa suster Uci suka ngaco," elak Aruna sambil melototkan matanya pada suster Uci yang mulai menyadari kesalahannya.

Mati aku, mati, batin suster Uci ketakutan. Saat ini mereka sudah sampai di basemen rumah sakit.

"Aruna."

Aruna bergeming.

Kenapa dia masih ada di sini? batin Aruna sambil melirik suster Uci. Dan benar saja, suster Uci yang sangat pintar itu langsung excited wajahnya.

"Loh, tuan tampan, anda masih nunggu dokter Aruna?" seru suster Uci girang. Seakan nyawanya terselamatkan.

Dokter Farel memicingkan matanya pada laki laki yang sepertinya seusia dengannya.

Tidak, kelihatannya lebih muda darinya. Kalo tampan sama, tapi memang dia kalah tinggi. Kalah muda juga? Dokter Farel membandingkan dalam hati dengan kesal.

Kiano juga menatap dokter Farel dengan dengan tajam.

Ini dokter Farel? batinnya menduga.

Tapi kemudian dia mengalihkan tatapannya pada Aruna yang menatap ke arah lain.

"Aruna, kita bicara sebentar saja," kata Kiano setengah memohon tanpa mempedulikan sapaan suster Uci yang super ramah.

Kenapa dia belum pergi? Apa dia menunggu dari siang tadi sampai sore ini? batin Aruna agak kasian.

Dia mempermainkan kamu, Aruna, hatinya kembali mengingatkan membuat Aruna tersadar.

"Ada hubungan apa kamu dengan Aruna?" Dokter Farel yang menjawab.

"Gue?" tanya Kiano sambil menunjukkan jempol kanan ke dadanya sendiri.

"Ya," sahut dokter Farel kesal.

"Pacarnya," jawab Kiano pede membuat dokter Farel dan suster Uci kaget.

"Mantan," tandas Aruna kesal, tapi kemudian dia menyesali kejujuran mulutnya.

"Kita belum putus, Aruna," ucap Kiano merasa senang karena Aruna mengakuimya sebagai mantan. Artinya pernah jadi pacar.

Mantan terindah, maybe, batin Kiano merasa konyol.

"Jadi ini pacar dokter yang ngga pernah datang ke rumah sakit," kaget suster Uci shock.

Pantas. Pantas aja dokter Aruna menolak semua laki laki tampan dan tajir yang mendekatinya. Laki laki ini sangat tampan dan perlente, batin suster Uci memuji.

"Jangan sembarangan. Pacar dokter Aruna bukan anda," bantah dokter Farel ngga terima, merasa dikalahkan.

Aruna reflek memijat keningnya. Dia ingin marah dengan Kiano.

Kenapa baru sekarang dia diakui jadi pacarnya. Setelah kurus dan cantik?!

Tanpa kata Aruna bergegas meninggalkan ketiganya.

"Tunggu Aruna," kata kedua laki laki itu kompak, kemudian saling pandang dengan netra saling menyorot marah.

"Don't disturb me!" tegas Aruna marah membuat keduanya terdiam. Begitu juga suster Uci yang biasa menumpang, ngga berani menggerakkan kaki dan bibirnya.

Dengan cepat Aruna memasuki mobilnya dan melajukannya meninggalkan mereka.

Kiano pun tanpa kata masuk ke mobilnya, melajukan mobilnya menyusul Aruna.

Tinggal dokter Farel berdua dengan sang suster.

"Ceritakan dengan lengkap pasien pasien itu, atau kamu saya pecat," sentak dokter Farel murka.

"I iya, dokter. Ja jangan pe pecat saya," kata suster Uci tergagap. Saat ini tubuh terasa bergetar takut, karena baru kali ini melihat kemarahan dokter Farel.

Terpopuler

Comments

Alanna Th

Alanna Th

Mirip dgq; dulu aq dianggap pcr seseorang idola bnyk wnt, tapi yg benar kami ga prnh pcrn

2024-08-09

1

liberty

liberty

kalian pacaran belum 24 jam...terus diem²an selama 7th gak ketemuan lost kontak....pacaran macam apaan coba ini 😅🤣🤣🤣

2024-05-22

4

liberty

liberty

you nomer 2 berarti dr segi tampan 🤣🤣🤣

2024-05-22

1

lihat semua
Episodes
1 Tentang Aruna
2 Menjadi Objek Taruhan
3 Ketahuan
4 Ingin Kurus
5 Berusaha Move On
6 Trauma Aruna
7 Reuni SMA
8 Sakit Hati yang belum Hilang
9 Untung jadi Dokter
10 Membalas Kiano
11 Pengakuan Kiano
12 Lanjut Reuni
13 Tetap Menolak
14 Penyesalan Kiano
15 Saat Saat Menegangkan
16 Kiano patah hati
17 Kiano sudah menyerah
18 Balasan Kiano
19 Rasa yang belum hilang
20 Kakek Kiano yang rewel
21 Membingungkan
22 Galau
23 Masih Galau
24 SHOCK
25 Ancaman Kiano
26 Laki laki high quality
27 Kondisi Kiano
28 Hati Aruna yang resah
29 Kekesalan Aruna
30 Masih bersama Kiano
31 Rencana yang Berhasil
32 Sikap Manis Kiano
33 Masih saja Cemburu
34 Masih Cemburu
35 Kemarahan Tante Bela(mama Kiano)
36 Dilema Aruna
37 Kebimbangan Aruna
38 Kembali Mesra
39 Penyesalan Aruna
40 Terlalu Berprasangka
41 Pingsan
42 Laki laki Mengerikan
43 Menuju Hari H
44 Dua Sahabat
45 Hari Patah Hati
46 SAH
47 Uhuk Uhuk Uhuk
48 Misi
49 Yang Pertama
50 Tendangan Super
51 Malu
52 Tiada Henti
53 Pasangan Baru
54 Jadi Bucin
55 Kembali Beraktivitas
56 Obrolan Receh
57 Curhat
58 Belum Jodoh
59 Si Dingin yang Romantis
60 Istri Kiano Artha Mahendra.
61 Menyelidiki Aruna
62 Menggoda Aruna
63 Aksi Cllaudia
64 Masih Baik Baik Saja
65 Diperhatikan Januar
66 Trauma
67 Tensi Rendah
68 Sulit Jujur
69 Takut Kehilangan
70 Kebahagiaan Suster Uci
71 Mencari Tersangka
72 Reno Yang Mundur
73 Akhirnya Curiga
74 Pertemuan Yang Menyebalkan
75 Bukti?
76 Panas
77 Dihajar
78 Tamara Dalam Bahaya
79 Antisipasi
80 Mencari Alva
81 Menolong Alva
82 Interogasi
83 Eksekusi
84 Rumit
85 Bertemu Tamara
86 Apesnya Tamara
87 Menunggu Keputusan Tamara
88 Hasil Yang Ngga Di harapkan
89 OTW nikah
90 Menyalahkan
91 Nasib Malang Alva
92 Cemas Yang Berlebihan
93 Hati Yang Cukup Menegangkan
94 Rencana Jahat
95 Terlambat?
96 Memulai pengeroyokan
97 Babak Belur
98 Bantuan Yang Berdatangan
99 Masih Misi Penyelamatan
100 Misi Selesai
101 Berita Bahagia
102 Kekesalan Meti
103 Meti dan Tingkahnya
104 Tamara dan Keluarganya
105 Duka Melvin
106 Perasaan Yang Sebenarnya
107 Menipu Meti
108 Masalah Regan
109 Regan dan Masalah Alva yang belum Selesai
110 Pesta Regan
111 Rencana Regan
112 Reaksi Alva
113 Sadar Sudah Dibully
114 Tamara dan Alva Kabur
115 Udah
116 Tentang Arga
117 Syukuran Kiano Aruna
118 Sugar Dady yang sangat Berkualitas
119 Sedikit Nakal
120 Luka Hati
121 Sedikit Rasa
122 Lima Persen
123 Malas Nikah
124 Kencan
125 Laki laki Kurang Ajar
126 Tamara dan Perasaannya
127 Gagal Nikung
128 Saling Curhat
129 Kesalnya Qonita
130 Menaklukan dosen nakal
131 Kepribadian Ganda
132 Obrolan Sugar Baby
133 Pertolongan.ngga terduga
134 Kentang
135 Tingkah Menyebalkan Arga
136 Kekesalan Reno yang belum hilang
137 Glen yang Memukau
138 Glen yang masih Marah
139 Ganti Alva yang ngamuk
140 Marah
141 Kita Sama?
142 Calon Suami Tamara
143 Fitting baju pengantin
144 Pencuri yang jadi Pengemis
145 Jodo, Pertemua, sudah diatur
146 Jodoh?
147 Cerita Qonita
148 Blank Memory
149 Lega
150 Move on?
151 Inginnya Reno
152 Tangis Rain
153 Reno yang Kejam
154 Menyesal?
155 Sedikit Hiburan
156 Kumpul Lagi
157 Masih di kafe
158 Sedikit Tentang Reno
159 Hari Yang Berganti
160 Cerita Regan
161 Sesak
162 Glen Mulai Curiga
163 Dinda yang galau
164 Menggoda Dinda
165 Kekesalan Alva
166 Tamara dan teman temannya
167 Mengerjai Alva
168 Undangan Nikah
169 Reno yang Cemburu?
170 Preewed Arga
171 Beda Situasi
172 Pilihan Jodoh
173 Reno yang SHOCK
174 Panas
175 Harusnya Aku
176 Menjaga Jodoh Orang Lain
177 Akhir Pesta Alva
178 Ada apa dengan Glen?
179 SHOCK
180 Keputusan Meti
181 Ulah Reno
182 Ngga Tenang
183 Dubai
184 Dugaan yang Salah
185 Penyelesaian
186 Keputusan Reno
187 Serius sama Bocil
188 Diperkenalkan sebagai Pacar
189 Debat Mami dan Glen
190 Hukuman Glen
191 Reno yang Viral
192 Melamar Dinda
193 Melamar Dinda. Part 2
194 Melamar Dinda part 3
195 Tentang lamaran Regan
196 Konspirasi?
197 Membebaskan Riko
198 Fatal
199 Yang Terjadi
200 Sudah Lebih Baik
201 Nikah di Rumah Sakit
202 Jadi Pengintip
203 Uang Tutup Mulut
204 Tanu yang ngga diundang
205 Antisipasi Reno
206 Misi Reno
207 Dua Bucin
208 Nagih oleh oleh
209 Sang penakluk
210 Masa lalu Alva
211 Dunia yang terbalik
212 Bye, istri
213 Salah Pilih Lawan
214 Alva dan Tamara
215 Arga dan Perjuangannya
216 Masih Perjuangan Arga
217 Glen si kucing garong
218 Ke GAP
219 Harapan
220 Akhirnya Arga Menikah
221 Aisha dan Melvin
222 Announce
223 Announce
224 part spesial
225 cosplay
Episodes

Updated 225 Episodes

1
Tentang Aruna
2
Menjadi Objek Taruhan
3
Ketahuan
4
Ingin Kurus
5
Berusaha Move On
6
Trauma Aruna
7
Reuni SMA
8
Sakit Hati yang belum Hilang
9
Untung jadi Dokter
10
Membalas Kiano
11
Pengakuan Kiano
12
Lanjut Reuni
13
Tetap Menolak
14
Penyesalan Kiano
15
Saat Saat Menegangkan
16
Kiano patah hati
17
Kiano sudah menyerah
18
Balasan Kiano
19
Rasa yang belum hilang
20
Kakek Kiano yang rewel
21
Membingungkan
22
Galau
23
Masih Galau
24
SHOCK
25
Ancaman Kiano
26
Laki laki high quality
27
Kondisi Kiano
28
Hati Aruna yang resah
29
Kekesalan Aruna
30
Masih bersama Kiano
31
Rencana yang Berhasil
32
Sikap Manis Kiano
33
Masih saja Cemburu
34
Masih Cemburu
35
Kemarahan Tante Bela(mama Kiano)
36
Dilema Aruna
37
Kebimbangan Aruna
38
Kembali Mesra
39
Penyesalan Aruna
40
Terlalu Berprasangka
41
Pingsan
42
Laki laki Mengerikan
43
Menuju Hari H
44
Dua Sahabat
45
Hari Patah Hati
46
SAH
47
Uhuk Uhuk Uhuk
48
Misi
49
Yang Pertama
50
Tendangan Super
51
Malu
52
Tiada Henti
53
Pasangan Baru
54
Jadi Bucin
55
Kembali Beraktivitas
56
Obrolan Receh
57
Curhat
58
Belum Jodoh
59
Si Dingin yang Romantis
60
Istri Kiano Artha Mahendra.
61
Menyelidiki Aruna
62
Menggoda Aruna
63
Aksi Cllaudia
64
Masih Baik Baik Saja
65
Diperhatikan Januar
66
Trauma
67
Tensi Rendah
68
Sulit Jujur
69
Takut Kehilangan
70
Kebahagiaan Suster Uci
71
Mencari Tersangka
72
Reno Yang Mundur
73
Akhirnya Curiga
74
Pertemuan Yang Menyebalkan
75
Bukti?
76
Panas
77
Dihajar
78
Tamara Dalam Bahaya
79
Antisipasi
80
Mencari Alva
81
Menolong Alva
82
Interogasi
83
Eksekusi
84
Rumit
85
Bertemu Tamara
86
Apesnya Tamara
87
Menunggu Keputusan Tamara
88
Hasil Yang Ngga Di harapkan
89
OTW nikah
90
Menyalahkan
91
Nasib Malang Alva
92
Cemas Yang Berlebihan
93
Hati Yang Cukup Menegangkan
94
Rencana Jahat
95
Terlambat?
96
Memulai pengeroyokan
97
Babak Belur
98
Bantuan Yang Berdatangan
99
Masih Misi Penyelamatan
100
Misi Selesai
101
Berita Bahagia
102
Kekesalan Meti
103
Meti dan Tingkahnya
104
Tamara dan Keluarganya
105
Duka Melvin
106
Perasaan Yang Sebenarnya
107
Menipu Meti
108
Masalah Regan
109
Regan dan Masalah Alva yang belum Selesai
110
Pesta Regan
111
Rencana Regan
112
Reaksi Alva
113
Sadar Sudah Dibully
114
Tamara dan Alva Kabur
115
Udah
116
Tentang Arga
117
Syukuran Kiano Aruna
118
Sugar Dady yang sangat Berkualitas
119
Sedikit Nakal
120
Luka Hati
121
Sedikit Rasa
122
Lima Persen
123
Malas Nikah
124
Kencan
125
Laki laki Kurang Ajar
126
Tamara dan Perasaannya
127
Gagal Nikung
128
Saling Curhat
129
Kesalnya Qonita
130
Menaklukan dosen nakal
131
Kepribadian Ganda
132
Obrolan Sugar Baby
133
Pertolongan.ngga terduga
134
Kentang
135
Tingkah Menyebalkan Arga
136
Kekesalan Reno yang belum hilang
137
Glen yang Memukau
138
Glen yang masih Marah
139
Ganti Alva yang ngamuk
140
Marah
141
Kita Sama?
142
Calon Suami Tamara
143
Fitting baju pengantin
144
Pencuri yang jadi Pengemis
145
Jodo, Pertemua, sudah diatur
146
Jodoh?
147
Cerita Qonita
148
Blank Memory
149
Lega
150
Move on?
151
Inginnya Reno
152
Tangis Rain
153
Reno yang Kejam
154
Menyesal?
155
Sedikit Hiburan
156
Kumpul Lagi
157
Masih di kafe
158
Sedikit Tentang Reno
159
Hari Yang Berganti
160
Cerita Regan
161
Sesak
162
Glen Mulai Curiga
163
Dinda yang galau
164
Menggoda Dinda
165
Kekesalan Alva
166
Tamara dan teman temannya
167
Mengerjai Alva
168
Undangan Nikah
169
Reno yang Cemburu?
170
Preewed Arga
171
Beda Situasi
172
Pilihan Jodoh
173
Reno yang SHOCK
174
Panas
175
Harusnya Aku
176
Menjaga Jodoh Orang Lain
177
Akhir Pesta Alva
178
Ada apa dengan Glen?
179
SHOCK
180
Keputusan Meti
181
Ulah Reno
182
Ngga Tenang
183
Dubai
184
Dugaan yang Salah
185
Penyelesaian
186
Keputusan Reno
187
Serius sama Bocil
188
Diperkenalkan sebagai Pacar
189
Debat Mami dan Glen
190
Hukuman Glen
191
Reno yang Viral
192
Melamar Dinda
193
Melamar Dinda. Part 2
194
Melamar Dinda part 3
195
Tentang lamaran Regan
196
Konspirasi?
197
Membebaskan Riko
198
Fatal
199
Yang Terjadi
200
Sudah Lebih Baik
201
Nikah di Rumah Sakit
202
Jadi Pengintip
203
Uang Tutup Mulut
204
Tanu yang ngga diundang
205
Antisipasi Reno
206
Misi Reno
207
Dua Bucin
208
Nagih oleh oleh
209
Sang penakluk
210
Masa lalu Alva
211
Dunia yang terbalik
212
Bye, istri
213
Salah Pilih Lawan
214
Alva dan Tamara
215
Arga dan Perjuangannya
216
Masih Perjuangan Arga
217
Glen si kucing garong
218
Ke GAP
219
Harapan
220
Akhirnya Arga Menikah
221
Aisha dan Melvin
222
Announce
223
Announce
224
part spesial
225
cosplay

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!