William tiba di Virginia setelah terbang kurang lebih 15 jam dengan transit ke Paris menjemput agen Catherine dan Jack yang sedang bertugas disana menggunakan pesawat pribadi milik CIA. Mereka bertiga langsung menuju ke kantor CIA di Langley, Virginia, Amerika. Mereka tiba pagi buta dalam keadaan lelah.
Sesampainya di kantor, terlihat Rika duduk seorang diri di ruang kerjanya. Ia mempersilahkan William dan yang lainnya duduk. Mereka pun segera memposisikan diri.
Mereka berbicara dengan bahasa Inggris.
"Good William. Kerjamu bagus. Kini ambil kepercayaan Rio. Sekarang targetmu selanjutnya adalah keluarga Konstantine. Kami tahu kau punya hubungan dengan Selena selama ini." Ucap Rika tenang.
William terlihat kesal.
"Tidak bisakah kalian tak mencampuri urusan pribadiku. Apakah kalian juga mengintip apa yang kulakukan dengan Selena?" Tanya William curiga.
Ia menatap Rika, Catherine dan Jack. Mereka memalingkan muka bahkan Jack bersiul. William sudah paham dari gelagat mereka. Dia menghembuskan nafas kasar.
"Dengar. Jangan ungkit hal ini lagi. Aku tidak suka." Jawabnya sebal.
"Baiklah. Tangkap Konstantine dan Selena, karena ku yakin itu juga ada dipikiran Rio. Begitulah mafia muda. Penuh dengan ambisi akan kekuasaan." Ucapnya sembari memberikan kode pada Jack.
William menoleh pada Jack. Ia memberikan kunci mobil pada William. Ia menatapnya seksama.
"Kau sudah memperbaiki mobilku?" Tanya William dengan wajah gembira.
"Yup. Sesuai dengan permintaanmu. Ditambah, stelan khusus dan baru untukmu." Ucap Jack sambil berjinjit.
William melihat gaya Jack yang unik itu sambil tertawa.
"Thank you, Jack." jawabnya sembari tersenyum.
"What? What did you say? Thank you? Oh.. i can't believe it. You say thank you. Apa gadis mafia itu yang mengajarimu?" Ucap Jack meledek.
"Aku juga merasa dia sedikit lebih lembut dan gampang tersenyum." Ucap Catherine menambahkan.
"Damn you guys?" jawab William kesal.
Rika hanya menaikkan bola matanya sekilas. Dia menghembuskan nafas pelan. Rika akhirnya menutup pertemuan hari itu. William akhirnya kembali ke apartment mewah yang sangat ia rindukan. William terlihat senang. Ia pun segera merebahkan tubuhnya yang terasa sangat lelah.
Dengan cepat haripun sudah berganti. Pagi sudah menjelang dan mataharipun sudah bersinar terang. William masih menutup tirainya rapat dan terlelap dalam kegelapan. Tiba-tiba ponselnya bergetar, ia menonaktifkan nada deringnya.
DRETTT.. DRETTT..
William terbangun. Dengan malas ia menggapai ponselnya diatas meja. Ia pun mengangkatnya tanpa melihat siapa yang meneleponnya.
Mereka berbicara bahasa Inggris.
"Yes."
"William. Ku dengar kau sudah kembali ke Virginia. Kenapa kau tak ke mansionku? Apa kau ingin mengambil apa yang menjadi milikku?" Ucap Rio mengancam.
William langsung terbangun. Ia terkejut ternyata Rio lah yang meneleponnya. Ia langsung duduk dan memijat tengkuknya. Ia mencoba mengatur suaranya yang masih serak.
"Amm.. ahh, maaf Rio. Aku tiba larut malam. Aku tak mau mengganggu istirahatmu. Aku akan segera mengantarkannya padamu." Ucap William masih memejamkan mata.
"Baiklah. Awas jika kau sampai kabur dengan surat-surat berharga itu. Aku akan memotongmu."
"Baik baik. Aku mengerti."
KLEK. Rio menutup panggilannya. William melemparkan ponsel ke sampingnya. Ia masih begitu lelah. Ia malah merebahkan tubuhnya lagi. Ia mencoba membuka matanya perlahan. William diam sejenak dan menatap langit-langit.
"Kenapa aku sangat merindukan Sia ya?" Ucapnya lirih.
William tersenyum tipis. Ia pun segera bangun dan kembali bersemangat karena akan bertemu Sia hari itu. Ia bergegas mandi dan berdandan dengan rapi. Terlihat ia begitu gembira pagi itu.
Ia sudah menyiapkan koper berisi surat-surat berharga Roberto. Ia kembali mengecek isinya karena penasaran apa saja asetnya. Dirasa cukup melihat informasi milik Roberto, ia segera menutupnya dan bergegas menuju ke mansion Rio.
Sesampainya disana, William sudah ditunggu Rio di ruang kerjanya. Ia tak melihat Sia di mansion itu. William tetap fokus pada tujuannya. Ia menemui Rio. Terlihat Igor sudah berdiri disamping Rio dengan menyilangkan kedua tangan di depan dadanya yang membuat ia terlihat makin garang. William berjalan menenteng koper ditangannya ke arah Rio. William meletakkan koper itu di mejanya. Rio langsung menarik koper itu.
Rio membuka kopernya dan mengecek semua isi berkasnya. William berdiri diam memandangi Rio. Tiba-tiba Sia datang dan sudah memakai gaun hitam. William menoleh ke arahnya dan tersenyum tipis. Sia hanya berdiri diam mematung. Rio melirik Sia.
"Kau sudah bersiap?" Tanya Rio padanya.
Sia mengangguk pelan. William bingung.
"Kalian akan pergi kemana?" Tanya William penasaran.
"Pemakaman Tomy." Jawab Rio singkat.
Rio menutup koper itu dan menyerahkan pada Igor untuk menyimpannya.
"Kerja bagus William. Aku penasaran, bagaimana kau menaklukkan Yena? Aku cukup yakin Yena tak mungkin menyerahkannya begitu saja. Apa kau.. tidur dengannya?" Ucapnya tersenyum sinis.
William tertegun. Sia memalingkan wajahnya, ia takut Sia akan salah paham.
"Tidak. Aku tak perlu melakukannya. Aku hanya cukup mengancamnya saja." Ucapnya berdalih.
"Oh. Kau mengancamnya? Hemm.. bagus juga. Kau punya nyali ternyata. Aku cukup yakin Yena kesal setengah mati dengan sikapmu. Lalu.. dimana dia sekarang?"
William tertegun. Tak mungkin ia mengatakan bahwa Yena dibawa oleh CIA. William kembali berakting.
"Mm.. dia mengatakan ingin menenangkan diri dulu. Ia pergi keluar negeri entah kemana. Ia tak ingin terlibat dengan dunia mafia lagi. Begitu, ya begitulah katanya kira-kira." Ucapnya mengarang.
Rio menganggukkan kepalanya dan mengerutkan bibirnya. Ia pun segera berdiri dan mengambil jasnya. Rio bersiap.
"Baiklah William. Aku suka cara kerjamu. Cepat dan rapi. Aku ingin kau melakukan hal ini juga pada Selena. Jika dia menolak, bunuh saja." Ucapnya sembari merangkul pinggul Sia.
Sia diam tertunduk. William mengangguk mengiyakan. Rio pun berjalan disamping Sia memegang erat pinggulnya. Terlihat William cemburu dengan sikap Rio padanya. Ia kesal dan memalingkan wajah tapi ia malah terkejut setengah mati karena Igor menatapnya seksama. William langsung berpaling dan tertunduk entah apa yang mereka berdua pikirkan.
Mereka berempat pun segera pergi ke pemakaman Tomy siang itu di pemakaman khusus di daerah Virginia. Terlihat banyak yang datang termasuk teman-teman cheerleader Sia. Mereka terlihat sedih.
Bahkan mantan pacar Tomy pun datang dan menangis. Sia terlihat biasa saja. Selena menangis sedih kehilangan adik kesayangannya. Rio memberi kode pada William untuk mendekati Selena. Ia pun mengangguk paham. Sia hanya menatapnya seksama.
William perlahan berjalan mendatangi Selena yang berdiri disamping ayahnya, Konstantine. Mafia Amerika - Inggris yang perjanjiannya batal dengan keluarga Julius karena kematian Tomy. Mereka berdua kini berselisih. Terlihat Julius ikut hadir dipemakaman itu dan berdiri diseberangnya. Mereka saling bertatapan tajam.
Para bodyguard masing-masing mafia elit ini berjaga disekeliling bosnya dan area pemakaman. Terasa hawa perselisihan dipemakaman itu. William mendekati Selena dan kembali berakting.
Mereka berbicara bahasa Inggris.
"Selena. I'm sorry to hear that about your brother." Ucapnya pelan.
Selena menghapus air matanya dan menegapkan tubuhnya. Ia berusaha tegar dengan pandangan lurus kedepan.
"Thank you, Will." Ucapnya lirih tak meliriknya sama sekali.
William merasa sikap Selena berubah padanya. Terlihat ia mengacuhkan dan seperti tak tertarik lagi padanya. William bingung. William bisa saja menggunakan pesonanya tapi ada Sia disana. Dari kejauhan tampak Rio sudah tak sabar melihat aksi William. William tertekan. Ia menghembuskan nafas pelan.
"Mau ku antar pulang? Kau tak pernah naik mobil bersamaku kan?" Ucapnya mulai merayu.
Selena tersenyum miring.
"Kenapa? Apa karena kau kasihan padaku karena telah kehilangan adik kesayanganku?" Ucapnya sinis.
"Hmm. Bisa dibilang begitu. Bagaimana jika ditambah makan malam. Aku tahu tempat yang bagus disini." Ucapnya lagi.
Selena pun termakan rayuannya. Ia menoleh ke arah William dan menatapnya seksama. Ia mengangguk pelan. Para pelayat pun pamit mohon izin kepada Konstantine dan ikut menyalami Julius juga. Mereka pun kembali ke mobil masing-masing dan pergi meninggalkan pemakaman. Terlihat Sia cemburu atas kedekatan William dan Selena.
Selena melingkarkan tangannya di lengan William. Sia tahu William terpaksa melakukannya karena Rio menyuruhnya tapi tetap saja pemandangan itu membuat Sia terbakar. Teman-teman Sia menatapnya seksama. Mereka bingung.
"Kau kenapa Sia? Kau melihat siapa?" Tanya Bella teman cheerleadernya.
Sia diam saja tertunduk dan memalingkan wajah. Ia terlihat kesal. Teman-teman Sia saling memandang, mereka menyadari sesuatu. Mereka pun saling memberi kode tanpa sepengetahuan Sia.
"Ehem.. bagaimana jika kita ke Club. Aku barusaja dapat tiket masuk dan layanan VIP disana dari pacar ibuku. Bagaimana?" Ucap Sarah sembari menaikkan kedua alisnya.
"Wuhuu.. ayo Sia. Sudahlah jangan sedih. Sudah lama kita tak bersenang-senang." Ucap Chyntia memegang kedua tangan Sia erat sambil melompat kegirangan.
Sia merasa bahwa ajakan teman-temannya ini sangat pas disaat hatinya sedang berkecamuk. Ia pun mengangguk dengan senyum merekah. Sia pun akhirnya pergi bersama teman-temannya mengendarai mobil milik Bella. William menatap kepergian Sia dari kejauhan. Ia hanya bisa pasrah saja. Ia tahu pasti Sia cemburu dan marah padanya.
Selena pun tak sabar segera pergi dengan William. Merekapun segera melaju dengan mobil Mustangnya. William mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Ia masih memikirkan Sia. Ingin rasanya ia menelepon Sia dan menanyakan ia berada dimana. William ingin menyusulnya tapi misinya pada Selena adalah prioritas utama dalam pekerjaannya untuk CIA dan Rio. William pun menahan perasaannya.
***
Terlihat Sia begitu bersenang-senang malam itu. Dia asik berjoget melampiaskan semua perasaannya dalam tarian dan botol vodka nya. Ia menari sambil mabuk. Tentu saja, Sia yang cantik dan masih muda menjadi sasaran empuk para lelaki hidung belang di club malam itu. Teman-teman Sia sudah melarangnya agar tak minum terlalu banyak, tapi Sia malah marah dan mendorong teman-temannya agar tak mengganggunya.
Mereka pun memilih untuk duduk saja dan mengawasi Sia dari kejauhan. Tampak lelaki-lelaki muda mendekati teman-teman Sia dan mengajak bencengkrama bersama. Tentu saja mereka tak menolak ajakan mereka untuk minum bersama. Sia terabaikan. Ia menari sendirian dalam keadaan mabuk dan pikiran yang kalut.
Dua orang lelaki berumur 40 tahunan mendekati Sia yang tampak menggiurkan bagi mereka. Sia pun di dekati perlahan dengan mereka ikut menari disampingnya. Sia masih tak menyadarinya. Ia sibuk menari dan minum hingga vodka-nya habis. Salah seorang lelaki itu memberi kode pada kawannya untuk memulai aksinya.
"Nona, sepertinya kau suka sekali minum. Bagaimana jika ku traktir 1 botol lagi. Kau tak keberatan kan? Temanku sedang berulang tahun, tak baik jika menolak kan?" Ucap lelaki itu yang terlihat mirip William baginya.
Sia yang mabuk pun menerima tawarannya. Tampak seringai muncul diwajah para lelaki itu. Ia menggandeng Sia ke meja bar dan mentraktirnya minum. Sia tak banyak bicara. Dua lelaki itu terus menuangkan vodka di gelas Sia bahkan bisa dibilang memaksanya untuk menghabiskan minuman itu. Sia yang kuat minum pun sampai mau muntah karena tak sanggup lagi.
Melihat Sia sudah tak berdaya, mereka berdua membawa Sia keluar dari club. Mereka tahu Sia akan muntah. Mereka pun membawanya ke belakang club. Dan benar, Sia muntah banyak sekali.
Dua lelaki ini tersenyum penuh kemenangan. Sia lemas dan kepalanya pusing. Badannya berkeringat dingin dan perutnya mual. Dengan rayuan akan diantarkan pulang, Sia pun menganggukkan kepala. Sia pun dibawa mereka berdua entah kemana.
Disisi lain, terlihat William sedang makan malam mewah dengan Selena. Terlihat Selena begitu terpukau akan ketampanan William malam itu. Tak jemu-jemunya ia menopang dagunya saat William sibuk mengiris daging steaknya. William meliriknya, ia sadar jika diperhatikan.
"Jika kau terus menatapku seperti itu, aku tak bisa menelan makananku dengan baik." Ucapnya cuek sembari memasukkan daging steak ke mulutnya.
Selena tersenyum merekah sembari mengambil gelas wine nya. Ia kembali menatap William sembari menggoyangkan gelas wine nya.
"William. Ajak aku ke rumahmu. Aku belum pernah kesana." Ucap Selena dengan tatapan menggoda.
William diam sejenak.
"Baiklah." Jawabnya santai.
Selena tersenyum senang. Ia kembali memakan steaknya dan cepat-cepat menghabiskannya. Ia ingin segera mengunjungi rumah William dan menghabiskan malam ini bersamanya. Tak lama merekapun selesai makan. William membayar tagihannya dan mengajak Selena masuk ke mobilnya.
Ia mengajak Selena ke apartment mewahnya. Terlihat Selena begitu terpukau dengan rumah William. Ia mengamati sekitar. William merasa ia sudah terlalu lama memanjakan Selena, ia pun melakukan aksinya. William mendekati Selena yang sedang memandangi jendela kaca apartment di lantai 10 itu.
"Hmm.. Selena. Aku penasaran dengan usaha ayahmu, Konstantine. Tomy sudah tiada. Lalu apa yang ia berikan padamu?" Tanya William sembari menyingkirkan rambut Selena yang kini dicet putih, panjang sebahu.
Selena terbuai akan sentuhan lembut William. Ia tersenyum tipis.
"Kenapa? Aku akan memberitahukannya jika kau menjadi milikku. Bagaimana?" Ucap Selena mesra tak bisa menahan gairahnya karena William mulai memijat lembut bahunya.
"Kau ingin aku menikah denganmu, begitu?" Tanya William mulai meraba kedua lengan Selena lembut.
"Ehem. Kau bisa mendapatkan milik Tomy jika kau menjadi suamiku. Ayahku tak akan keberatan." Ucapnya dengan mata terpejam tak kuasa menahan gairahnya.
"Begitu ya. Memang apa usaha ayahmu? Roberto seorang mafia narkoba dan ganja. Bagaimana dengan ayahmu atau Julius?" Tanyanya sambil memegang pinggul dan mendekatkan wajah di leher Selena.
"Ayahku.. dia mafia dalam bidang senjata api ilegal. Dia mengirimkannya ke seluruh mafia yang terlibat bisnis dengannya. Entah digunakan untuk perang dalam suatu negara atau hanya perang antar geng, dia yang menguasainya." Ucapnya dengan nafas menderu karena hidung William mulai menyentuh leher dan pipinya.
"Kalau Julius?" Ucapnya sembari memegang kepala Selena dan mengikat rambutnya seperti ekor kuda.
"Julius, dia emm.. ahh~ penjual organ ilegal yang dikirmkan ke seluruh pelosok dunia." Ucapnya sembari membalik badannya yang kini saling berhadapan dengan William.
Selena melingkarkan kedua tangan dileher William dan perlahan turun ke dadanya.
"Lalu?" Tanya William menatapnya tajam.
"Ia menggunakan mayat yang tak berorgan itu untuk menyelundupkan narkoba di dalamnya. Tentu saja narkoba milik Roberto. Ia juga memiliki tempat pencucian uang palsu di sebuah kasino di Las Vegas." Ucapnya sembari membuka jas William perlahan.
"Hanya itu?" Tanya William lagi.
"Kau ini banyak maunya. Mm.. oke, cium aku. Akan ku beri tahu sisanya." Ucap Selena mengujinya.
Dengan berat hati William pun mencium pipi Selena. Selena merasa William sangat aneh dan kikuk. Ia menatap William seksama.
"Kenapa kau menanyakan semua hal ini?" Tanya Selena curiga.
William tersenyum menyeringai. Perlahan tangannya merayap naik keatas tubuh Selena dari pinggul hingga ke lehernya dan "AGH, Ahh.." William mencekik Selena! Kedua tangan Selena memegang kuat cengkraman kuat William di lehernya. Selena tak bisa bernafas. William menatapnya keji.
---------
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 235 Episodes
Comments
Isna Vania
visual Selena cantik , wanita penggoda, nasib sia gimna Thor /Slight/
2025-01-01
0
Wulan Wulan
selena cantik
2021-06-21
0
Marconah💕
yg ini udah dibaca,lanjut like lagi💃💃💃💃
2021-06-02
1